Di puncak kejayaannya, Ye Xuan — dijuluki Dewa Pedang Sembilan Langit — nyaris mencapai keabadian sejati setelah tiga abad menempa jalan pedang tanpa tanding. Namun pada malam pendakiannya, saudara seperguruan yang paling ia percaya menikamnya dari belakang, bersekongkol dengan kekuatan tersembunyi yang selama ini bergerak dalam bayangan. Jiwanya tercerai-berai, terlempar melintasi ruang dan waktu selama tiga ratus tahun.
Kini, jiwa itu terbangun di dalam tubuh Lin Mu, putra bungsu Klan Lin yang dianggap sampah — pemuda tujuh belas tahun dengan meridian yang rusak parah, sasaran hinaan seluruh kota kecil di Perbatasan Utara, dan baru saja dipukuli setengah mati oleh tunangannya sendiri dari Klan Zhao di depan umum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Pertempuran di Inti Labirin
"Kita tidak bisa mengabaikan itu," Lin Mu berkata cepat, sudah melangkah menuju sumber suara sebelum sempat ada yang membantah. "Tim, tetap berkelompok. Kita selidiki, tapi jangan berpisah."
Kesembilan rekannya mengangguk serempak, mengikuti langkah Lin Mu menyusuri lorong yang tak tercantum dalam peta resmi labirin—jelas bagian dari lapisan qi asing yang baru saja mereka rasakan, tersembunyi rapi di balik struktur formasi asli.
Lorong itu membawa mereka ke sebuah ruangan tersembunyi yang jauh lebih luas dari perkiraan, diterangi lentera-lentera redup yang tergantung di dinding batu. Di tengah ruangan, lima murid dari berbagai sekte kecil—yang tampaknya juga terjebak dalam labirin sebagai peserta ujian—tergeletak lemah, tangan mereka diborgol dengan penekan qi yang sama seperti yang pernah Lin Mu temukan di gua tersembunyi beberapa hari sebelumnya.
Berdiri di antara mereka, tiga sosok berjubah abu-abu dengan topeng logam sederhana, dan di tengah mereka, seorang wanita berpakaian ketat hitam pekat yang langsung dikenali Lin Mu dengan seketika.
"Mo Yin," ia bergumam, rahangnya mengeras.
"Kita bertemu lagi, Lin Mu," Mo Yin berkata, senyum tipisnya sama dingin seperti pertemuan pertama mereka di kebun obat Klan Lin. "Aku sudah menduga kau akan cukup peka untuk menemukan tempat ini. Sayangnya kali ini, aku tidak sendirian."
Han Zhengyu dan sembilan rekan setim lainnya segera membentuk formasi siaga di sekitar Lin Mu, menyadari situasi yang jauh lebih berbahaya dari sekadar rintangan labirin biasa.
"Kalian benar-benar berani, menyusup ke acara sebesar ini dua kali dalam satu minggu," Lin Mu berkata, pecahan Penakluk Fajar sudah tergenggam siap di tangannya.
"Keberanian, atau keputusasaan," Mo Yin menjawab, nada suaranya berubah sedikit lebih serius. "Tuan Bayangan menginginkan bukti konkret tentang kebangkitanmu sebelum mengambil tindakan lebih jauh. Lima murid ini hanyalah bonus tambahan—target sesungguhnya tetap dirimu, Ye Xuan."
Ia mengangkat tangannya, memberi sinyal pada ketiga sosok bertopeng di sekelilingnya. Mereka menyerang serempak, masing-masing menargetkan anggota tim yang berbeda, jelas strategi yang telah direncanakan matang untuk memecah konsentrasi tim Awan Putih.
"Bai Yu, formasi pertahanan sekarang!" Lin Mu berseru, mengingat kembali latihan tim mereka selama dua bulan terakhir.
Bai Yu segera merapal formasi pertahanan yang telah mereka latih berulang kali, menciptakan lapisan pelindung sementara yang membagi ruangan menjadi zona-zona lebih kecil, memaksa ketiga penyerang bertopeng itu menghadapi kombinasi serangan tim alih-alih menyerang individu yang terisolasi.
Deng Rui melepaskan gelombang api yang mengarah pada salah satu penyerang, memaksa sosok bertopeng itu mundur menghindar, sementara Su Wan mengaktifkan ilusi cahayanya untuk mengecoh penyerang kedua, membuat sosok itu menyerang bayangan kosong berulang kali sambil kebingungan mencari target sesungguhnya.
Han Zhengyu, dengan Jurus Awan Bergulung yang telah disempurnakan, menghadapi penyerang ketiga secara langsung, pertarungan yang ketat namun cukup seimbang untuk menahan lawannya sementara sisa tim menangani ancaman lainnya.
Lin Mu sendiri melangkah maju menghadapi Mo Yin secara langsung, mengingat pertarungan sengit mereka sebelumnya di kebun obat Klan Lin.
"Kau lebih kuat dari terakhir kali kita bertemu," Mo Yin berkata, mengeluarkan sepasang pisau lengkungnya, kali ini bergerak dengan kewaspadaan yang jauh lebih besar dibanding pertemuan pertama mereka.
"Dan kau masih mengandalkan kecepatan dan kelicikan dibanding kekuatan sejati," Lin Mu menjawab, menangkis serangan pertamanya dengan mudah, jauh lebih siap dibanding pertemuan pertama mereka yang hampir menguras seluruh qi-nya.
Pertarungan berlangsung sengit di seluruh ruangan, masing-masing bagian tim Awan Putih menghadapi lawan mereka dengan koordinasi yang semakin matang berkat latihan intensif mereka. Satu per satu, penyerang bertopeng mulai kewalahan menghadapi kombinasi serangan tim yang jauh lebih terkoordinasi dibanding perkiraan mereka.
Pada akhirnya, hanya Mo Yin yang masih bertahan, ketiga bawahannya telah dilumpuhkan oleh kombinasi serangan Deng Rui, Su Wan, dan Han Zhengyu yang dibantu beberapa rekan lain.
Mo Yin menyadari situasinya kini sangat tidak menguntungkan, mundur beberapa langkah sambil menilai keadaan dengan cepat.
"Sepertinya aku meremehkan seberapa jauh timmu telah berkembang," ia berkata, suaranya kini kehilangan nada percaya diri sebelumnya. "Tapi jangan terlalu bangga, Lin Mu. Ini hanya permulaan kecil dari apa yang sesungguhnya direncanakan Tuan Bayangan."
Ia melemparkan sebuah kapsul asap yang sama seperti yang digunakan bawahannya sebelumnya, namun kali ini, Lin Mu sudah menduga trik itu—ia melompat maju secepat mungkin sebelum asap sepenuhnya menyelimuti ruangan, berhasil menyentuh sedikit bagian lengan Mo Yin dengan ujung pecahan pedangnya sebelum wanita itu benar-benar menghilang ke dalam kegelapan asap.
Ketika asap itu memudar, Mo Yin sudah lenyap, meninggalkan hanya jejak darah tipis di lantai batu—bukti bahwa serangan terakhir Lin Mu berhasil melukainya, meski tidak cukup untuk mencegah pelariannya.
"Tim, periksa kondisi para tawanan," Lin Mu memerintahkan, segera berlutut memeriksa borgol penekan qi pada lima murid yang masih lemah namun mulai sadar setelah pertarungan berakhir.
Dengan bantuan seluruh tim, mereka berhasil membebaskan kelima tawanan itu, membawa mereka keluar dari ruangan tersembunyi itu menuju jalur utama labirin yang telah kembali normal begitu formasi asing itu terganggu oleh pertarungan yang baru berlangsung.
Mereka berhasil mencapai inti labirin sesaat sebelum waktu enam jam berakhir, mengambil Kristal Elemen Pusat sambil membawa serta kelima korban penculikan yang berhasil diselamatkan—sebuah pencapaian ganda yang membuat tim Awan Putih disambut sebagai pahlawan ganda begitu mereka keluar dari gerbang labirin, bukan hanya sebagai pemenang cabang terakhir kompetisi, tapi juga sebagai penyelamat nyata dari ancaman tersembunyi yang telah mengintai seluruh acara sejak awal.
Malam itu, dalam pertemuan darurat lanjutan antara tetua ketiga sekte, Lin Mu menyerahkan informasi tambahan tentang identitas Mo Yin dan konfirmasi keterlibatan langsung sosok misterius bernama Tuan Bayangan di balik seluruh operasi itu.
"Ini bukan lagi masalah satu sekte semata," tetua tertua Sekte Lembah Naga berkata dengan wajah serius, "Aula Bayangan telah menunjukkan keberanian untuk menyusup dua kali ke dalam acara seaman ini. Ketiga sekte kita harus mulai mempertimbangkan kerja sama yang lebih erat untuk menghadapi ancaman ini ke depannya."
Lin Mu mendengarkan diskusi itu dengan seksama.
semngat thor/Determined/