tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.
Pagi hari di mansion Grayson...
Kavian sedang bersiap-siap dengan pakaian rapinya. Perasaannya begitu buncah dan senang karena siang ini dia akan bertemu dengan Elvian di kafe milik Tian. Namun, saat Kavian baru saja hendak melangkah keluar melewati pintu utama mansion, sebuah suara berat yang teramat familier memanggilnya dengan nada menuntut.
"Mau ke mana kamu?" tanya Kakek Johan yang mendadak muncul di koridor.
Kavian menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa berbalik, dia menjawab dengan nada yang teramat dingin, "Bukan urusan Anda."
"Kavian!" bentak Kakek Johan memberikan penekanan kuat pada setiap suku kata nama cucunya.
Namun, Kavian sama sekali tidak memedulikan gertakan tersebut. Dia tetap melangkah lebar keluar dari mansion, mengabaikan tatapan tegang dari anggota keluarga lainnya yang sedang berada di ruang tengah.
"Haaaa... anak itu benar-benar mulai berani melawan saya!" geram Kakek Johan sembari memukul tongkatnya ke lantai.
"Biarkan saja, Dad. Mungkin Kavian sedang ada urusan kantor yang sangat mendesak," ucap Martin mencoba menenangkan sang ayah.
"Ini semua karena ulahmu sendiri, Martin! Kamu terlalu memanjakan anak-anakmu! Lihat sekarang, mereka jadi berani melawan dan tidak menghormati saya lagi!" tuduh Kakek Johan seraya mengarahkan tatapan tajamnya pada Martin.
Brak!
Suara hantaman keras tiba-tiba menggema di ruang makan. Semua orang yang ada di sana tersentak kaget karena Martin baru saja menggebrak meja makan dengan sangat kuat.
"Cukup, Dad! Mereka semua sudah dewasa dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri! Saya tidak akan membiarkan Daddy mengekang mereka terus-menerus, seperti cara Daddy mengekang hidup saya dan Mike dulu!" ucap Martin dengan emosi yang akhirnya meledak setelah sekian lama dipendam.
Kakek Johan terbelalak, wajah tua itu memerah padam karena murka. "Kamu benci dan berani melawan saya, hah?!"
"Saya berani bersuara karena Daddy memang salah! Daddy selalu mengekang anak-anak saya! Daddy selalu melakukan apa pun yang Daddy mau tanpa pernah sudi mendengar atau merasakan bagaimana perasaan saya dan anak-anak saya! Di kepala Daddy hanya ada keuntungan, kekuasaan, dan kekayaan!" sembur Martin, menumpahkan segala kepedihannya sebagai seorang ayah yang tak berdaya.
"Saya melakukan semua ini demi kebaikan masa depan perusahaan dan anak-anakmu juga, Martin!" bela Kakek Johan tetap keras kepala dengan ego besarnya.
Martin tertawa sumbang, matanya mulai berkaca-kaca. "Keuntungan apa yang Daddy maksud?! Keuntungan yang hanya Daddy nikmati sendiri, sedangkan kami semua menderita?! Kami sengsara, Dad! Tidak ada kebahagiaan sama sekali dalam setiap keputusan yang Daddy ambil!"
Martin menjeda kalimatnya dengan napas yang memburu. "Gara-gara keegoisan Daddy, saya harus kehilangan anak-anak saya yang sekarang perlahan mulai menjauh! Dan gara-gara keserakahan Daddy akan kekuasaan, Mike memilih pergi dari mansion ini! Cukup, Dad! Cukup Mike saja yang Daddy buat pergi dari rumah ini! Jangan sampai anak-anak saya harus merasakan penderitaan yang sama seperti yang saya dan Mike rasakan! Daddy bahkan lebih menyayangi Kak Mutia dan terlalu pilih kasih!"
Setelah meluapkan seluruh isi hatinya, Martin langsung berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan amarah yang masih membakar dada.
"Mas! Mas Martin! Mau ke mana?!" teriak Maria panik mencoba mengejar suaminya.
"Duh, kenapa suasananya jadi berantakan begini sih?" keluh Luna sembari memegangi kepalanya yang mendadak pening.
"Ini pasti gara-gara Elvian! Kakek dan Daddy jadi ribut begini. Dasarnya dia pembawa sial, orangnya gak ada di sini saja masih bisa menyusahkan kita semua!" cibir Elvia—kembaran Elvian—dengan nada yang penuh dengan kebencian.
"Bisa diam tidak, Elvia?! Kamu itu masih kecil, tidak usah ikut campur urusan orang tua!" bentak Luna dengan tatapan mata yang sangat tajam ke arah adik perempuannya.
Elvia langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, terdiam seribu bahasa setelah mendapat teguran keras dari kakak perempuannya itu.
Sementara itu, di kafe milik Tian...
Seorang pemuda manis tampak duduk di dekat jendela sembari terus melirik ke arah pintu masuk. Dia mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja dengan cemas. "Abang kok lama banget ya? Apa Bang Kavian gak jadi datang ke sini ya?" tanyanya cemas pada diri sendiri.
Puk.
Sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya. "Abang elo belum datang juga, El?" tanya Revangga yang baru saja datang dari balik meja barista.
Elvian menoleh lalu menggelengkan kepalanya lemas. "Belum."
"Mungkin jalanan sedang macet. Tunggu saja sebentar lagi, pasti dia datang," hibur Revangga mencoba menenangkan sahabatnya.
"Hmm," dehem Elvian pelan.
Tian kemudian ikut berjalan mendekat lalu duduk di kursi sebelah Elvian yang terlihat begitu gelisah. "Apa yang sedang kamu tunggu dengan wajah cemas begitu, El?" tanya Tian lembut.
"Sedang menunggu Abang aku, Kak," jawab Elvian pendek.
Tak berselang lama setelah ucapan Elvian, lonceng di atas pintu kafe berdenting lembut. Seorang pria dengan setelan jas rapi melangkah masuk ke dalam kafe.
"Dek..." panggil pria itu lembut.
Mata Elvian langsung berbinar cerah. "Abang...!" seru Elvian bahagia. Dia langsung bangkit dari kursinya dan berlari kencang menerjang tubuh sang kakak, memeluk erat tubuh Kavian yang memiliki tinggi hampir setara dengannya. "Abang, El kangen banget sama Abang!"
Kavian tersenyum tulus, rasa lelahnya seolah menguap begitu saja. Dia membalas pelukan adiknya dengan tak kalah erat. "Abang juga kangen sekali sama kamu, Dek."
"Ayo, Bang, kita ke sana! El mau kenalkan Abang sama sahabat-sahabat terbaik El," ucap Elvian riang sembari menarik lembut tangan Kavian menuju meja tempat Tian dan yang lainnya berkumpul. "Silakan duduk, Bang."
Setelah Kavian duduk dengan nyaman, Elvian mulai memperkenalkan satu per satu orang di dekatnya. "Nah, Bang, kenalkan ini sahabat-sahabat El. Yang ini Kak Tian, pemilik kafe ini. Terus yang berambut putih panjang menawan ini namanya Revangga. Dan yang terakhir, yang berbadan kekar mirip gorila tapi otaknya agak sedikit geser ini namanya Brian," ucap Elvian tanpa saringan.
"Heh! Sembarangan elo kalau ngomong ya, Bahrul!" protes Brian tidak terima karena diejek di depan orang asing.
"Lah, emang kenyataan begitu kok," ledek Elvian menjulurkan lidahnya.
"Iya, tapi jangan diperjelas di depan Abang elo juga dong, El! Malu tahu!" gerutu Brian sembari mengusap wajahnya yang mendadak memerah.
Kavian hanya menatap tingkah polos adiknya dengan pandangan datar namun penuh kasih sayang. "Dek."
"Hehehe, maaf, Bang," sahut Elvian menyengir tanpa dosa. Dia kembali menatap kakaknya dengan lekat. "Abang sehat, kan?"
Belum sempat Kavian menjawab, Brian sudah menyela dengan nada bercanda. "Dia mah bukan sehat lagi, Bro! Lihat saja tuh pipi si El, makin gembrot kayak sapi yang sebentar lagi mau dikurbankan! Hahaha!"
"Bangke elo, Bri!" umpat Elvian melempar tisu ke arah Brian.
"Jangan seperti itu, Brian. Tidak sopan," tegur Tian menahan tawa, mencoba menjaga wibawa kafenya.
Kavian tersenyum tipis melihat interaksi hangat tersebut. "Kamu ternyata tumbuh dengan sangat baik dan sehat ya, Dek. Abang benar-benar bersyukur melihatnya."
"Abang benar. Setelah pergi dari mansion terkutuk itu, El bisa hidup jauh lebih bahagia dan tenang tanpa beban pikiran apa pun. Apalagi sekarang ada sahabat-sahabat El yang selalu setia menemani dan menjaga El di sini," tutur Elvian dengan senyum tulus.
"Abang senang sekali mendengarnya. Abang tenang kalau kamu dikelilingi oleh orang-orang baik seperti mereka, El," ucap Kavian tulus.
Namun, saat menatap wajah kakaknya lebih dekat, senyum Elvian perlahan memudar. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada fisik sang kakak. Kantung mata Kavian terlihat menghitam pekat, dan tubuh pria itu tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.
"Kenapa kantung mata Abang bisa sehitam itu? Apa Abang belakangan ini kurang tidur?" tanya Elvian khawatir.
Kavian menghela napas lelah. "Abang memang sedang agak kurang tidur, Dek. Banyak pekerjaan di kantor."
"Apa benar karena pekerjaan kantor? Atau... ada hal lain yang mengganggu pikiran Abang? Soal... pacar Abang itu?" tanya Elvian hati-hati namun penuh selidik.
Kavian seketika tersentak kaget mendengar pertanyaan adiknya. Matanya membelalak sempurna. "Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu soal itu, Dek?" tanya Kavian bingung, karena seingatnya dia tidak pernah menceritakan masalah romansanya pada siapa pun.
"Itu karena waktu itu..." Elvian menggantung kalimatnya, ingatannya langsung berputar kembali ke kejadian beberapa minggu yang lalu.
Flashback On
Di sebuah restoran bernuansa hangat, Elvian yang perutnya sudah keroncongan memutuskan untuk mencari makan di restoran terdekat dari apartemennya.
"Haaaa... si buto ijo sama yang lain tidak ada yang mau ikut. Terpaksa deh gue pergi sendirian buat cari makan," gerutu Elvian sembari mendudukkan diri di salah satu kursi kosong. "Mbaaaak! Mau pesan dong!" teriak Elvian memanggil pelayan.
Seorang pelayan wanita dengan ramah segera menghampiri mejanya. "Iya, mau pesan apa, Dek?"
"Pesan nasi goreng pedas satu ya, Mbak. Sama es teh hangatnya satu," ucap Elvian polos, membuat pelayan itu langsung mengernyitkan dahi kebingungan.
"Ha? Gimana maksudnya, Dek? Es teh hangat itu es teh atau teh hangat?" tanya sang pelayan bingung.
Elvian menepuk jidatnya sendiri saat menyadari ucapannya yang ngawur. "Eh, maksud gue, es teh manisnya satu sama teh hangatnya satu gitu, Mbak. Maaf, ya."
"Hooo, baik. Tunggu sebentar ya, Dek," ucap pelayan itu sembari tersenyum lalu melangkah pergi.
Sembari menunggu pesanannya datang, netra Elvian tidak sengaja menangkap dua sosok yang sangat dia kenali baru saja memasuki restoran dan duduk di area yang agak mojok.
"Loh, itu kan si Ferdy? Kok dia bisa sedang berduaan sama Silvy, pacarnya Bang Kavian?" gumam Elvian mengernyit curiga.
Kebetulan, posisi meja Ferdy dan Silvy berada di sebelah kanan dan posisinya cukup dekat dengan tempat duduk Elvian yang terhalang sekat tanaman hias.
"Gue rekam diam-diam aja deh dari sini. Biar nanti gue punya bukti akurat buat dikasih ke Bang Kavian," batin Elvian licik. Dia segera mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan kamera, dan mulai merekam interaksi mesra kedua orang tersebut.
Di dalam rekaman, tampak Silvy sedang bergelayut manja di lengan kekar Ferdy. "Sayang, kapan sih kita beneran menikah? Aku sudah tidak sabar deh mau sah jadi istri kamu," ucap Silvy dengan suara yang dibuat-buat manja.
Ferdy terkekeh pelan sembari mengacak rambut Silvy. "Sabar dulu, Sayang. Kakek dan keluargaku saat ini sedang mengatur rencana untuk menentukan perjodohan kita ke keluargamu."
"Terus, gimana dengan hubungan kamu sama Kavian? Apa kamu sampai sekarang masih berhubungan dengan dia?" tanya Ferdy memastikan.
Silvy mendecih pelan dengan ekspresi wajah yang meremehkan. "Iya, tentu saja masih. Yaaa... sebenarnya sih aku pacaran sama dia itu cuma mengincar hartanya doang! Kamu kan tahu sendiri kalau Kavian itu kaya raya, jadi aku manfaatkan saja uangnya buat belanja. Kalau soal cinta, aku tidak pernah sekalipun cinta sama Kavian! Di hati aku cuma ada kamu, Ferdy."
Ferdy tersenyum puas mendengar jawaban tersebut. "Kamu benar. Kavian itu kalau soal mengurus perusahaan memang pintar, tapi kalau soal urusan percintaan, dia itu bodoh sekali. Makanya dia mudah sekali dimanfaatkan oleh perempuan."
"Makanya kenapa aku lebih memilih sama kamu, Sayang. Selain kamu romantis, kamu juga jauh lebih jago di ranjang," bisik Silvy sensual yang langsung disambut tawa puas dari Ferdy.
Di balik tanaman hias, Elvian mengepalkan kedua tangannya dengan kuat menahan amarah yang membakar dada. "Kurang ajar banget mereka berdua! Berani-beraninya mengkhianati Bang Kavian! Gue harus kasih tahu hal ini ke Abang sekarang juga!" rutuk Elvian dalam hati.
Flashback End