Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Nama "Sinta" terus menghantui pikiran Anyara sepanjang beberapa hari berikutnya. Ia tidak memiliki informasi apa pun tentang wanita itu selain namanya, dan tanpa foto atau petunjuk lain, pencariannya di media sosial menjadi jauh lebih sulit dibanding saat ia mencari Melia sebelumnya.
Suatu sore, saat sedang beristirahat di sela jam kerja di butik, ia memutuskan untuk menghubungi Melia lagi, berharap mendapat informasi lebih lanjut.
"Melia, kamu tau nggak nama lengkap Sinta, atau posisi kerjanya di kantor?"
Balasan datang setelah beberapa saat.
"Setau aku, dia karyawan baru di divisi marketing, masuk sekitar dua bulan lalu. Nama lengkapnya aku kurang tau, tapi kalau nggak salah nama panggilannya emang Sinta beneran, bukan nama samaran."
"Kamu tau ciri-cirinya?"
"Kalau dari foto yang pernah aku liat sekilas di media sosial temen kantor, orangnya berhijab, kalem penampilannya, beda banget sama gaya aku atau Dinda."
Anyara mencatat informasi itu, menyadari betapa berbedanya tipe masing-masing wanita yang pernah dekat dengan Juned—seolah menunjukkan bahwa manipulasi yang dilakukan suaminya tidak terbatas pada satu jenis kepribadian atau penampilan tertentu, melainkan memanfaatkan kesempatan apa pun yang ada di depannya.
Dengan informasi terbatas itu, Anyara mencoba mencari akun media sosial karyawan baru di perusahaan tempat Juned bekerja, menyaring berdasarkan nama depan "Sinta" dan lokasi kerja yang sesuai. Setelah beberapa waktu menelusuri, ia akhirnya menemukan sebuah akun yang sesuai dengan deskripsi Melia—seorang wanita berhijab dengan foto profil yang menunjukkan suasana kantor yang familiar baginya, karena beberapa kali Juned pernah menunjukkan foto kantornya.
Ia menelusuri unggahan-unggahan di akun itu, mencari petunjuk lebih lanjut. Tidak ada foto berdua dengan Juned secara eksplisit, tapi ada beberapa unggahan yang menunjukkan lokasi kafe yang sama dengan yang pernah dikunjungi Melia sebelumnya, dengan rentang waktu yang berbeda—menunjukkan pola bahwa Juned mungkin menggunakan tempat yang sama untuk mendekati wanita-wanita berbeda secara bergantian.
Anyara menyimpan semua temuan itu, merasa semakin yakin dengan pola yang mulai terlihat jelas—bahwa perselingkuhan Juned bukan sekadar kecelakaan emosional sesaat, melainkan sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung lama dan terstruktur, memanfaatkan berbagai kesempatan yang muncul di lingkungan kerjanya.
Malam itu, ia menceritakan temuan barunya kepada Hans, sambil duduk di teras belakang rumah seperti kebiasaannya.
"Pak, saya nemu akun yang kemungkinan Sinta. Tapi belum ada bukti langsung yang nunjukin dia deket sama Mas Juned."
"Nggak apa-apa, Mbak. Kadang bukti langsung emang susah didapet, tapi pola yang udah Mbak kumpulin sejauh ini—Dinda, Melia, dan sekarang kemungkinan Sinta—itu sendiri udah jadi bukti kuat soal karakter suami Mbak."
"Iya sih, Pak. Tapi saya jadi mikir, apa saya perlu coba hubungin Sinta juga, kayak yang saya lakuin ke Melia?"
"Menurut saya, Mbak nggak perlu buru-buru ke sana. Fokus dulu aja ke bukti-bukti yang udah Mbak punya, karena itu udah lebih dari cukup buat langkah hukum yang Mbak rencanain sama Pak Bram. Kalau Mbak terus-terusan nyari lebih banyak bukti, malah bisa bikin Mbak keburu emosional lagi dan waktu Mbak abis buat hal yang sebenernya udah nggak perlu dibuktiin lebih jauh."
Anyara merenungkan saran itu, menyadari kebenaran di baliknya. Ia sudah memiliki cukup bukti untuk mendukung keputusannya, dan mengejar informasi lebih jauh soal Sinta mungkin hanya akan menambah beban emosional yang tidak perlu.
"Bener juga, Pak. Saya rasa udah waktunya saya fokus ke langkah selanjutnya, bukan terus nyari bukti baru."
"Itu keputusan yang bijak, Mbak. Kapan Mbak rencana buat ketemu Pak Bram lagi?"
"Mungkin minggu depan, Pak. Saya masih mau atur waktu sama jadwal kerja saya di butik."
Keesokan harinya, saat makan malam bersama keluarga, suasana terasa lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir. Juned tampak berusaha keras menunjukkan perubahan sikap—membantu membereskan meja, menanyakan hari kerja Anyara dengan antusias yang terasa dipaksakan, dan sesekali memuji masakan yang disiapkan istrinya.
"Ra, gimana kerjaan hari ini? Lancar?" tanya Juned, mencoba terdengar peduli.
"Lancar, Mas. Tadi ada pelanggan yang puas banget sama rekomendasi saya," jawab Anyara, tersenyum tipis, meski dalam hati ia tahu, kehangatan yang ditunjukkan Juned belakangan ini terasa semakin seperti usaha terakhir untuk mempertahankan sesuatu yang sudah tidak bisa lagi diselamatkan.
Ratih yang duduk di sebelahnya, menimpali dengan semangat. "Bagus, Anyara! Ibu seneng liat kamu makin percaya diri sekarang."
"Makasih, Bu," jawab Anyara, merasa haru dengan dukungan tulus mertuanya yang kini jauh berbeda dari sosok yang dulu selalu mencela setiap gerak-geriknya.
Selesai makan malam, saat Anyara sedang mencuci piring, Ratih mendekat dengan wajah serius. "Anyara, boleh Ibu tanya sesuatu? Kamu udah ketemu lagi sama pengacara yang kamu ceritain kemarin?"
Anyara terkejut mendengar pertanyaan itu, tidak menyangka Ratih sudah mengetahui soal pertemuannya dengan Pak Bram. "Ibu tau dari mana soal itu, Bu?"
"Ibu nggak sengaja liat kartu nama di dompet kamu waktu bantuin beresin baju kotor. Ibu nggak marah kok, Nak. Ibu cuma pengen mastiin, apa pun keputusan kamu, Ibu bisa bantu apa aja."
Anyara menatap mertuanya, merasakan campuran haru dan lega karena akhirnya bisa lebih terbuka soal langkah-langkah yang selama ini ia rahasiakan. "Bu, saya emang udah mulai mikirin langkah hukum, tapi saya belum ambil keputusan final. Saya cuma mau siap-siap aja, apa pun yang terjadi nanti."
"Ibu ngerti, Nak. Dan Ibu mau bilang, apa pun keputusan kamu nanti, Ibu bakal tetap anggap kamu keluarga Ibu, terlepas dari kamu masih jadi istri Juned atau nggak."
Kalimat itu membuat mata Anyara berkaca-kaca, merasakan dukungan yang tulus dari sosok yang dulu menjadi salah satu sumber tekanan terbesar dalam hidupnya, kini justru menjadi salah satu pendukung terkuatnya dalam menghadapi babak baru yang akan datang.