VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)
Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.
Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.
Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
File 7 : Menyusun Rencana
Di sebuah restoran siap saji.
"KENCAN? Uhuk...uhukkk!!!" Ken spontan tersedak hingga terbatuk parah. Makanan yang baru saja ditelsnnya termuntahkan kembali.
"Sshh! Kak Ken! Jorok sekali! bersihkan dulu wajahmu! Belepotan sekali!" Sahut Billie sambil membantu melap wajah Ken dengan tissue. Mereka berdua tengah duduk berhadapan di sebuah restoran siap saji untuk menyantap makan malam. Teriakan histeris dan suara batuk Ken yang keras membuat pengunjung restoran yang duduk disebelah meja menoleh ke arahnya, terganggu oleh suara berisiknya.
"Kau diajak kencan? Sama siapa?!" Tanya Ken lagi setelah batuknya reda.
"Dengar Billie! Ayahmu menyuruhmu untuk menyelidiki kasus misterius bukannya untuk pacaran. Lagipula aneh, kau kan sedang menyamar jadi murid di sekolah khusus pria! Lalu siapa yang mengajakmu kencan?" Ken membombardir Billie dengan pertanyaan.
"Seniorku di sekolah." Jawab Billie sambil mengedikkan bahunya. Dia kembali menyeruput minuman sodanya tanpa peduli perubahan ekspresi di wajah Ke.
"SENIORMU??! Billie, jangan bilang kalau penyamaranmu di sekolah sudah terbongkar?! Kau ini bodoh sekali!!!" Bentak Ken sambil menggebrak meja. Sekali lagi tatapan seluruh pengunjung restoran yang terganggu menoleh padanya.
"Ssst Kak Ken! Jangan bicara keras-keras!!!" Billie melotot sambil membekap mulut Ken yang masih belepotan.
"Siapa bilang penyamaranku sudah terbongkar? Dia tidak tahu kalau aku perempuan! Dia itu seorang gay!" Tegas Billie berusaha meyakinkan.
"Gay? Heh... Billie kau jangan bercanda!" Ken tersenyum sinis dan menatap Billie tak percaya.
"Aku tidak bercanda, Kak Ken! Namanya juga sekolah khusus para selebriti bukan sekolah militer! Terlalu banyak murid tampan disana! Jadi wajar saja jika ada murid yang tertarik ke sesama jenis!"
"Ooh, jadi kau langsung mengiyakannya, huh? Apa kau sudah gila, Billie?! Kau mau berkencan dengan pemuda gay?!?" Bentak Ken mendadak emosi. Entah kenapa dadanya serasa panas mendengar kabar ini. Ken sudah mengenal gadis ini sejak kecil, dia sadar Billie tumbuh menjadi gadis yang cantik yang mungkin akan menarik perhatian remaja laki-laki seumurannya. Dia hanya tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi begitu cepat.
"Tenanglah Kak Ken, ini semua hanya demi penyelidikan! Terus terang sampai sekarang sulit sekali bagiku untuk berbaur dengan para siswa disana. Mungkin saja dengan mengencani Kak Joshua aku bisa sedikit menggali informasi darinya." Jelas Billie panjang lebar.
"Ooh, jadi namanya Joshua, huh? Baiklah kalau itu memang tujuanmu terserah kau saja... Tapi jika terjadi sesuatu padamu, lihat saja akan kupatahkan tulang-tulang ditubuhnya!" Ancam Ken sambil mengepalkan tangannya erat.
"Yaah, tidak perlu seperti itu Kak! Aku ini sudah besar, aku bisa jaga diri!"
"Ya, tapi tetap saja! Jika Ayahmu tahu soal ini, dia yang akan mencincangku! Aku ditugaskan untuk menjagamu agar kau tetap utuh, Billie! Dengar, pokoknya kalau ada apa-apa kau harus memanggilku! Mengerti!" Tegas Ken. Dia sadar Billie memang bukan gadis biasa. Selain tangguh dalam hal bela diri, Billie juga gadis yang cerdas tapi dimata Ken gadis ini masih terlalu naif soal percintaan.
"Dengar ya, Kak Ken! Kakak itu Detektif Ken bukan Clark Kent Superman! Memangnya jika aku minta tolong dan panggil namamu, Kakak akan datang dengan baju ketat dan ****** ***** di luar untuk menolongku? Eh?!" Canda Billie dengan senyuman meledek.
"BLETAKKK!!!"
"Dasar gadis keras kepala! Apa yang aku bilang turuti saja!" Bentak Ken sambil menjitak kepala Billie kesal.
"Aduuh! Sakit Kak!" Billie mengaduh sambil mengusap bagian kepalanya yang sakit.
"Pokoknya ingat Billie! Kau harus jual mahal! Jangan mau dipegang-pegang! Jangan mau ciuman dan jangan sampai kau mau melakukan 'itu' di kencan pertama! Mengerti!" Cerewet Ken.
"Itu? Itu apa? Aku tidak mengerti..." Billie, menggelengkan kepalanya, dan mimik polosnya itu membuat Ken semakin darah tinggi.
"BILLIE!!! Kau tidak tahu apa 'itu', huh? Apa aku harus mengajarimu dulu, huh!?"
"Mengajariku apa?" Billie mengerjap sebelum mengkerutkan keningnya bingung.
"Ya itu... S-E-X... " Senyuman mesum menghiasi wajah Ken saat dia mengeja kata itu. Telinga dan wajah Billie spontan memerah saat mendengarnya dan dengan refleks dia mengangkat gelasnya.
"Splashhhh!"
"Whaa! Kenapa?!?" Ken mengerjap dan terkesiap saat wajahnya tiba-tiba saja tersiram oleh air soda minuman Billie. Baju kemeja yang dipakainya mendadak basah.
"Tidak terima kasih!" Ucap Billie ketus.
...----------------...
Di dalam sebuah kamar inap Rumah Sakit.
Bunyi mesin monitor pacu jantung terdengar samar di ruangan yang sunyi senyap. Ice terduduk diam, menatap pemuda yang terbaring lemah di tempat tidur. Rambutnya yang hitam legam begitu kontras dengan kulit putihnya yang pucat. Semakin hari pemuda ini terlihat semakin kurus, pipinya semakin tirus berbeda dengan wajah ceria yang diingatnya.
Seikat bunga aster putih segar ditangannya dia masukkan ke dalam vas bunga kosong. Ice menatap kalender yang terletak di atas meja. Foto kucing yang tercetak di kalender membuat Ice tersenyum. Kenangan lama 5 tahun lalu tiba-tiba terlintas dalam ingatannya.
...----------------...
FLASHBACK
"Meoong!" Anak kucing yang dipegang Ice mengeong dan meronta hebat. Cakarnya yang tajam menggores tangan Ice hingga berdarah.
Hari itu musim panas, suara serangga nyaring bersahutan diantara rimbunnya pohon dan semak-semak pekarangan rumah keluarga Ice yang luas dan mewah. Ice berlari dengan anak kucing ditangannya, hendak mencari kardus untuk membuangnya.
"Kak Ezra! Jangan dibuang anak kucingnya, tolonglah! Aku sayang padanya! Please! Hiks!" Seorang bocah kecil merengek dan menangis memelas pada Ice.
Saat itu usia Ice baru menginjak 12 tahun sedangkan bocah didepannya hanya berusia dua tahun lebih muda darinya. Devian, bocah bertubuh kecil kurus dan cengeng. Ice waktu itu sangat benci dan kesal dengan sifatnya.
"Kucing ini kotor, bau dan penyakitan! Dia suka buang air besar sembarangan! Dia juga sudah merusak PR-ku!"
"Ta-tapi Kak! Devian janji akan merawatnya! Devian juga mau mengerjakan PR mu!"
"HAH! Memangnya anak bodoh sepertimu bisa mengerjakan PR ku? Haha! Kau ingin merawat kucing? Mengurus diri sendiri saja kau tidak becus!"
"Anak kucing ini sudah tidak punya ibu, sama sepertiku... Apa Kakak juga akan membuangku jika aku kotor?"
Pertanyaan itu mungkin sederhana, tapi sungguh dalam dan bermakna bagi Ice. Baru sebulan bocah ini kehilangan Ibunya, seorang aktris yang meninggal karena kecelakaan tragis saat syuting. Devian, bocah yang kehadirannya Ice benci karena sudah merebut kebahagiaan keluarganya. Alasannya tidak lain karena bocah ini adalah anak dari wanita simpanan sang Ayah. Wanita yang sudah merusak rumah tangga Ayah dan Ibunya hingga mereka bercerai. Walaupun wanita itu sudah mati, hati kecil Ice masih belum bisa memaafkan bagaimana wanita itu dan putranya sudah merebut kasih sayang sang Ayah darinya.
"Ya, tentu saja! Aku akan membuang kucing ini dan juga membuangmu! Dengar Devian! Berterimakasihlah karena Ayahku mau menampungmu! Tapi jangan harap aku mau menganggapmu sebagai adik! Kau ini bukan siapa-siapa! Kau hanya menumpang di rumah ini! Mengerti?!"
...----------------...
Kembali ke rumah sakit
Ingatan lama yang tiba-tiba muncul membuat Ice yang biasanya selalu menunjukkan ekspresi dingin tanpa sadar meneteskan air mata. Sudah hampir 3 bulan lamanya pemuda ini terbaring koma dan hingga saat ini belum ada tanda dia akan bangun lagi. Melihat keadaan Devian seperti ini membuat hati Ice mencelos sekaligus geram. Tangannya yang sedang memegangi selimut Devian mengepal erat dan gemetar oleh emosi. Hingga kini Ice masih belum percaya dengan langkah nekat yang dipilih oleh Devian. Dia belum bisa melupakan hari di saat pemuda itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
"Apakah ini semua salahku? Apa kau sengaja ingin menghukum ku?" Batin Ice meringis menyadari betapa dirinya selama ini selalu bersikap acuh padanya. Dia tak pernah berusaha memahami apalagi peduli dengan kehidupan Devian ataupun kondisi kejiwaannya. Ice sadar penyesalan adalah percuma, yang perlu dia lakukan saat ini adalah membayarkan semua kesalahan yang pernah dilakukannya.
"Cepatlah bangun, Devian! Sebentar lagi semuanya akan berakhir..." Ucap Ice lirih sambil menyibak rambut Devian dan mengecup keningnya dengan lembut.
TBC
(AN : Visual Character Devian, diperankan oleh Poom Decathron, aktor Thailand yang cute & imut)
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh