Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: MENJUAL SAYUR DI PASAR DAN BELAJAR DAGANG
Kemenangan dalam lomba menggambar membawa angin segar bagi Rangga dan Nenek Saroh. Nama Rangga mulai dikenal di desa—bukan sebagai anak buangan, tetapi sebagai anak berbakat yang dirawat oleh Nenek Saroh. Warga desa mulai lebih ramah, sering memberi hadiah kecil: sayuran segar, telur ayam, atau sekadar senyuman hangat saat berpapasan di jalan.
Namun kehidupan di desa tetap keras. Nenek Saroh semakin tua, dan hasil ladangnya semakin berkurang karena tenaganya menurun. Rangga melihat neneknya sering mengeluh sakit pinggang, dan kadang-kadang mereka hanya makan nasi dengan garam karena sayuran di kebun belum panen. Rangga tahu ia harus membantu lebih banyak.
Suatu malam, saat mereka duduk di teras, Nenek Saroh berkata, "Nak, Nenek mau bicara serius. Hasil kebun kita tidak cukup untuk biaya sekolahmu dan kebutuhan makan kita. Nenek pikir, mulai minggu depan, kita harus menjual sayuran di pasar kecamatan. Nenek sudah tua, tidak kuat lagi berjalan jauh. Tapi kau masih muda. Kau bisa belajar berdagang."
Rangga mengangguk tanpa ragu. "Aku mau, Nek. Aku bisa membantu."
Keesokan harinya, Rangga bangun lebih awal—pukul tiga pagi. Nenek Saroh sudah menyiapkan beberapa ikat kacang panjang, bayam, cabai, dan tomat yang dipetik dari kebun. Semua sayuran itu dibersihkan dan diikat rapi dengan tali serat. Nenek mengajari Rangga cara mengikat sayuran agar terlihat menarik, cara menawar harga, dan cara melayani pembeli dengan ramah.
"Nak, di pasar, kau harus bersikap sopan. Tersenyumlah pada setiap pembeli, meski mereka tidak membeli. Katakan 'terima kasih' setiap kali ada yang membeli. Dan jangan terlalu tinggi memasang harga, tapi jangan terlalu rendah juga. Kerja kerasmu harus dihargai," kata Nenek sambil mengikat bayam dengan telaten.
Rangga berangkat ke pasar kecamatan dengan berjalan kaki, membawa dua keranjang bambu berisi sayuran di pundaknya. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam, melewati jalan tanah yang berbatu dan menanjak. Tangannya lecet, bahunya pegal, tetapi ia terus berjalan. Sesampainya di pasar, ia membentangkan tikar plastik bekas di sudut yang agak sepi, lalu menata sayuran dengan rapi.
Pasar kecamatan pada pagi hari sangat ramai. Suara tawar-menawar bergema di antara kios-kios: "Berapa ini, Bu? Seribu saja!" "Wah, mahal, Le! Turunin dong!" Pedagang sayur lainnya, kebanyakan ibu-ibu paruh baya, menatap Rangga dengan heran. Mereka tidak terbiasa melihat anak kecil berdagang sendiri.
"Hei, Nak, siapa namamu?" tanya seorang ibu gemuk dengan keranjang besar di sebelahnya.
"Nama saya Rangga, Bu. Saya anak Nenek Saroh dari Sumbermulyo," jawab Rangga sopan.
"Ooh, anak yang ditemukan di hutan itu ya? Kukira kau masih kecil. Ternyata sudah bisa berdagang," ibu itu tersenyum. "Nanti kalau sayurmu habis, mampir ke warungku. Aku jual gorengan. Kau boleh makan gratis."
Rangga tersenyum lebar. Kebaikan orang desa selalu membuatnya terharu. Ia mulai berjualan dengan semangat. Awalnya, pembeli jarang yang mendekati kiosnya karena letaknya agak tersembunyi. Tetapi Rangga tidak menyerah. Ia berteriak dengan suara lantang, "Sayuran segar! Petik pagi ini! Kacang panjang, bayam, cabai, tomat! Murah dan segar!"
Teriakannya menarik perhatian beberapa ibu-ibu. Mereka mendekat, memeriksa sayuran Rangga. "Wah, segar sekali ini. Berapa harga kacang panjangnya, Nak?" tanya seorang ibu muda.
"Seribu dua ratus satu ikat, Bu. Kalau ambil tiga, tiga ribu saja," jawab Rangga dengan percaya diri, mengingat harga yang diajarkan Nenek.
"Iya, murah. Aku ambil tiga," kata ibu itu, mengeluarkan uang receh.
Rangga melayani pembeli pertama dengan senyum. "Terima kasih, Bu! Semoga berkah!"
Dari situ, pembeli mulai berdatangan. Dalam waktu dua jam, semua sayurannya habis. Rangga menghitung uang yang ia peroleh—total dua puluh tiga ribu rupiah. Jumlah yang sangat besar baginya, cukup untuk membeli beras dan kebutuhan pokok selama seminggu. Ia menggenggam uang itu erat, merasakan keringat dan kerja keras yang telah ia curahkan.
Namun ada satu kejadian yang membuatnya belajar banyak. Di sela-sela dagangannya, seorang pembeli yang sudah memilih cabai dan tomat tiba-tiba berkata, "Ini cabainya sudah layu!" dengan nada kesal. Rangga terkejut—ia yakin cabai itu segar karena baru dipetik pagi tadi. Tetapi pembeli itu bersikukuh dan menuntut potongan harga. Rangga yang masih hijau dalam berdagang menjadi bingung dan gugup.
"Maaf, Bu… mungkin saya kurang periksa. Baik, saya potong seratus," katanya ragu-ragu.
Setelah pembeli itu pergi, ibu pedagang di sebelahnya berkata, "Le, kau jangan gampang kalah. Tadi cabaimu segar, aku lihat sendiri. Itu pembeli nakal, suka cari-cari alasan biar dapat harga murah. Kau harus tegas. Bilang, 'Bu, sayuran ini segar, baru petik pagi. Kalau Bapak/Ibu mau, silakan beli. Kalau tidak, tidak apa.'"
Rangga mengangguk, menyerap pelajaran. "Terima kasih, Bu. Aku akan belajar."
Sepulangnya ke desa, Rangga menceritakan semua kejadian di pasar kepada Nenek Saroh. Nenek tertawa mendengar cerita tentang pembeli nakal, lalu memeluknya. "Bagus, Nak. Kau belajar dagang dan belajar menghadapi orang. Itu pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah. Besok kau akan lebih pintar."
Rangga menyerahkan uang hasil jualannya. "Ini, Nek. Untuk beras dan kebutuhan."
Nenek Saroh menatap uang itu, lalu matanya berkaca-kaca. "Nak, kau sungguh anak yang berbakti. Nenek tidak salah memilihmu."
Malamnya, Rangga duduk di teras dengan perasaan bangga. Ia, anak konglomerat yang dulu tidak pernah menyentuh uang karena semuanya dilayani, kini telah mendapatkan uang dengan keringatnya sendiri. Ia merasakan kemandirian yang belum pernah ia rasakan. Ia merasakan bahwa ia bisa bertahan hidup, bahwa ia tidak bergantung pada nama atau harta warisan.
Sepanjang minggu itu, Rangga terus berdagang. Setiap kali ia ke pasar, ia bertemu orang-orang baru dan belajar hal-hal baru. Ia belajar mengenali harga pasaran, belajar menimbang sayuran dengan akurat, belajar menghitung kembalian dengan cepat, dan belajar membaca karakter pembeli—siapa yang tulus dan siapa yang hanya ingin menipu. Ia juga belajar bahwa kejujuran adalah kunci: sayurannya selalu segar, timbangannya selalu pas, dan uang kembalian selalu ia hitung dengan teliti. Akibatnya, banyak pembeli yang menjadi langganan tetapnya.
"Rangga, besok bawain kacang panjang lebih banyak, ya. Aku mau bikin sayur asem," kata seorang langganan.
"Siap, Bu! Saya ingat," jawab Rangga dengan senyum.
Dalam hati, Rangga bersyukur. Kehidupannya di desa mungkin jauh dari kemewahan, tetapi ia memiliki tujuan. Ia membantu neneknya, ia menabung untuk biaya sekolah, dan ia belajar menjadi manusia yang mandiri. Dan di sela-sela kesibukan itu, ia masih sempat bermain dengan teman-temannya, bertukar cerita, dan tertawa di bawah pohon beringin.
---
[Bersambung..]
---