NovelToon NovelToon
RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anime / Game / Slice of Life
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: webnakama

Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.

Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).

Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 — Titik Balik

Mereka nyampe lagi di Tokyo begitu malem udah turun sepenuhnya, langit gelap dihiasin lampu-lampu kota yang mulai nyala satu-satu. Di kereta lokal menuju apartemen masing-masing, Kaito ngecek HP-nya, ngeliat grup guild udah penuh sama pesan dari Souma, Mei, dan Amagi yang nanyain gimana hasilnya.

Souma: Gimana?? Ketemu Kazenagi?

Mei: Aku deg-degan dari tadi nungguin kabar

Kaito ngetik balasan panjang, ngerangkum semua yang kejadian, reaksi awal Kazenagi yang marah, penjelasan mereka, sampe momen kue gratis yang bikin mereka semua curiga.

Souma: Anjir, berat juga ya prosesnya. Tapi seenggaknya dia mau tetep kontak, kan?

Kaito: Iya. Dia bilang butuh waktu, tapi nggak nolak kita.

Amagi: Menarik. Kalo emang efeknya mulai berubah, itu data penting. Kita perlu pantau perkembangannya.

Souma: Yang penting Kazenagi mau tetep kontak. Itu progress besar.

Mei: Aku terharu banget bacanya huhu. Kalian keren banget udah berani ke sana.

Souma: Btw kalian pulangnya bareng kan? Gimana perjalanannya?

Kaito natap pesan terakhir itu, ngerasa muka merah sendiri, tapi mutusin buat nggak jawab detail dulu, cukup bales pake emoji tersenyum simpel.

Kaito senyum natap balesan-balesan itu, ngerasa hangat dikelilingi orang-orang yang selalu peduli, walau mereka nggak ikut langsung ke Osaka.

Rin yang duduk di sampingnya, natap layar HP-nya sendiri, ikut baca reaksi mereka. "Mereka semua baik banget, gue nggak pernah nyangka bakal punya orang-orang sepeduli ini di hidup gue lagi." gumamnya.

"Sekarang lo punya kita semua." kata Kaito.

Stasiun turun mereka ternyata sama, dan Kaito tanpa mikir panjang, nawarin buat nganterin Rin sampe deket apartemennya, walau itu berarti dia harus jalan lebih jauh dari rutenya sendiri.

"Nggak usah repot-repot," kata Rin, walau nadanya nggak sepenuhnya nolak.

"Nggak repot, lagian malem-malem gini enakan jalan berdua." kata Kaito.

Mereka jalan bareng lewat jalanan kecil yang mulai sepi, cuma diterangin lampu jalan yang berjejer rapi, suara langkah kaki mereka jadi satu-satunya suara yang jelas kedengeran selain angin malem yang sesekali lewat. Udara malem itu sejuk, sisa-sisa panas siang udah lama ilang, digantiin sama kesejukan yang bikin langkah mereka jadi lebih santai, nggak buru-buru.

Sesekali mereka lewatin toko-toko kecil yang udah tutup, lampu neonnya masih nyala meski nggak ada pelanggan, dan beberapa kali kucing liar lewat di seberang jalan, ngeliatin mereka sebentar sebelum ngilang lagi ke gang gelap.

"Hari ini berat banget, tapi entah kenapa, gue ngerasa lebih ringan sekarang. Kayak ada beban yang udah gue pikul dua tahun, akhirnya bisa gue taro dikit." kata Rin, akhirnya buka suara setelah beberapa menit diem.

"Lo hebat banget hari ini, gue tau itu nggak gampang." kata Kaito tulus.

"Gue nggak bakal bisa ngelakuinnya tanpa lo, serius Kaito. Lo udah banyak banget ngebantu gue, dari awal kita ketemu sampe sekarang." kata Rin sambil natap dia sekilas sebelum balik natap jalanan di depan,

"Lo juga banyak bantu gue, lo yang pertama kali percaya sama gue waktu semua orang masih curiga. Lo yang ngajarin gue cara bertarung, cara mikir strategi, cara... jadi orang yang lebih baik, jujur aja." kata Kaito.

Rin berhenti jalan natap dia lama, ekspresinya campuran antara terharu dan sesuatu yang lebih dalam lagi. Lampu jalan di atas mereka berkedip pelan, nyorotin wajah mereka berdua dengan cahaya kuning hangat yang bikin suasana malam itu kerasa lebih intim dari biasanya.

"Kaito, boleh gue jujur sama lo soal sesuatu?" katanya pelan.

"Boleh," kata Kaito, berhenti juga sambil natap dia balik.

Rin diem sebentar, kayak lagi ngumpulin keberanian. "Gue... nggak tau gimana cara bilang ini tanpa kedengeran aneh. Tapi belakangan ini, gue sadar, perasaan gue ke lo udah beda dari sekadar rekan tim atau temen."

Jantung Kaito berdegup kenceng, ngerasa udara di sekitarnya berubah jadi lebih berat, lebih penting. "Beda gimana?"

"Gue... gue suka sama lo Kaito, bukan cuma karena lo kuat atau punya kekuatan aneh. Tapi karena caranya lo, cara lo peduli sama orang lain, cara lo nggak pernah nyerah walau hidup lo dulu penuh kesialan, cara lo bikin gue ngerasa aman buat pertama kalinya dalam waktu yang lama." kata Rin akhirnya, suaranya gemeteran tapi jujur.

Kaito diem, jantungnya berdegup begitu kenceng sampe dia bisa denger sendiri, kata-kata yang mau dia ucapin kerasa kesangkut di tenggorokan.

"Gue juga, gue juga suka sama lo Rin. Udah lama sebenernya. Gue cuma... nggak yakin harus bilang gimana, atau kapan waktu yang tepat." kata Kaito akhirnya, suaranya nggak kalah gemeteran.

Rin senyum, senyum yang paling tulus yang pernah Kaito liat dari dia, matanya berkaca-kaca tapi kali ini karena bahagia, bukan sedih.

"Sekarang waktu yang tepat," katanya pelan.

Mereka berdiri berhadapan di bawah lampu jalan yang redup, jarak di antara mereka perlahan makin deket, sampe akhirnya Kaito ngangkat tangannya pelan, ngelus pipi Rin dengan hati-hati, kayak takut ngerusak momen itu.

"Boleh?" tanya Kaito pelan.

Rin ngangguk, matanya udah merem duluan.

Kaito nunduk pelan, dan bibir mereka ketemu dalam ciuman yang lembut, penuh sama semua perasaan yang selama ini mereka tahan, rasa syukur, rasa percaya, dan sesuatu yang lebih dalam dari itu semua.

Ciuman itu nggak lama, tapi kerasa penuh, kayak semua hal yang nggak sempet mereka ucapin lewat kata-kata akhirnya tersampaikan lewat momen itu.

Begitu mereka lepas, Rin ketawa kecil, agak malu, nyender dahinya ke dahi Kaito. "Gue nggak nyangka bakal kejadian di tengah jalan kayak gini."

"Gue juga, tapi gue nggak komplain." Kaito ketawa.

"Gue kira bakal kejadian di momen yang lebih... dramatis, kayak abis ngalahin boss besar atau semacamnya." kata Rin, masih ketawa kecil.

"Ternyata di jalanan sepi sambil pulang dari stasiun juga nggak kalah bagus," kata Kaito, nyengir.

"Nggak kalah bagus," Rin ngangguk setuju, matanya masih berbinar.

Mereka jalan lagi, kali ini tangan mereka udah saling gandeng, nggak ada yang perlu diomongin lagi buat sekarang, cukup dinikmatin aja momennya. Sesekali Rin ngelirik ke arah Kaito, senyum kecil yang nggak bisa dia sembunyiin nempel terus di wajahnya, dan Kaito ngerasa hal yang sama, dada penuh sama kehangatan yang belum pernah dia rasain sebelumnya.

Begitu mereka nyampe di depan apartemen Rin, mereka berhenti sebentar, nggak buru-buru pisah.

"Besok kita ketemu lagi? di game, maksud gue. Atau... di dunia nyata juga boleh." tanya Kaito.

Rin ketawa. "Dua-duanya boleh."

"Oke, sampai besok Rin." Kaito senyum lebar.

"Sampai besok Kaito."

Kaito jalan pulang sendirian malem itu, tapi langkahnya kerasa jauh lebih ringan dari biasanya, kepalanya penuh sama momen-momen hari itu yang berputar berulang-ulang, senyum yang nggak mau ilang dari wajahnya.

Begitu dia sampe di apartemen dan rebahan di sofa, sebuah panel kecil muncul di sudut pandangannya, walau dia nggak lagi login ke game, sesuatu yang belum pernah kejadian sebelumnya.

Resonansi terdeteksi: 91%

Kaito berkedip natap angka itu ngerasa jantungnya berdegup kenceng lagi, kali ini karena alasan yang beda sama sekali. Dia sempet mikir bakal ngeliat notifikasi itu lagi pas login berikutnya, tapi ternyata muncul begitu aja di dunia nyata, tanpa dia minta sama sekali.

Sembilan puluh satu persen. Lompatan besar, jauh lebih besar dari pencapaian apa pun yang pernah dia raih di dalam game, lebih besar dari dungeon tersulit, lebih besar dari pertandingan melawan Ren, bahkan lebih besar dari World Event yang ngelibatin ratusan pemain sekaligus.

Dia natap panel itu lama, mikirin kata-kata si entitas dulu "keselarasan sempurna, bukan hanya angka, tapi juga hati."

Buat pertama kalinya, dia ngerti apa maksud kalimat itu sepenuhnya.

Semua pencapaian yang mereka raih sepanjang perjalanan ini, dungeon yang mereka taklukin, pertandingan yang mereka menangin, World Event yang mereka bantu selesaikan, semua itu penting, tapi ternyata bukan itu inti dari "keselarasan" yang dimaksud si entitas.

Yang bikin resonansi melompat sejauh itu bukan kekuatan atau pencapaian, tapi keberanian buat jujur soal perasaan, buat percaya sama orang lain, buat ngebiarin diri sendiri dicintai setelah bertahun-tahun ngerasa nggak pantas buat itu.

Kaito rebahan di sofanya, natap langit-langit kamar dengan senyum yang nggak mau ilang, pikirannya penuh sama Rin, sama Kazenagi, sama semua orang yang udah jadi bagian dari perjalanannya. Dia ngirim satu pesan terakhir sebelum bener-bener merem malam itu.

Kaito: Malem ini spesial banget. Makasih Rin.

Balasan dateng nggak lama kemudian, singkat tapi cukup buat bikin dia tidur dengan senyum yang masih nempel di wajahnya.

Rin: Makasih juga. Mimpi indah Kaito.

1
Tio Buki
Semangat ya💪💪💪💪
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Oke, aku coba
Tio Buki
Mikir gue. Untuk apa?
Tio Buki
Emang
Tio Buki
Aku ngak tau, soalnya ngak pernah main
Tio Buki
Iya
Tio Buki
Kesal dia
Tio Buki
Lah, itu kan barang bawaan😄
Tio Buki
Oh begitu ya
Zyren Vale
ikut meramaikan 🔥
Nandan Waluya: Terimakasih thor 🔥
total 1 replies
Zyren Vale
kena kutukan nih
Zyren Vale
inti bumi kah
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya thor🙏👍💪
Tio Buki
Lanjut
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Mampir gan👍👍👍👍
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Ngak tau saya, yang hanya buang buang waktu saja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!