Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.23 Luka masa lalu
Setiba di mansion usai insiden di pesta, suasana di antara Leon dan Luna sempat terasa kaku akibat luapan kecemburuan Leon. Namun, alih-alih tidur, Luna justru terlihat gelisah dan menyendiri di balkon kamar, tampak tertekan oleh bayang-bayang trauma masa lalu yang kembali terungkit usai pertemuannya dengan keluarga angkatnya beberapa waktu lalu itu.
Luna berdiri di balkon kamar dan menatap ke arah langit yang mulai gelap segelap masa lalunya yang meninggalkan banyak luka di hatinya. Luna ingat saat kedua orang tua angkatnya mengambil dirinya dari panti asuhan untuk di jadikan anak angkat oleh mereka, waktu itu Luna kecil sangat bahagia karena akhirnya dia menemukan orang tua angkat yang akan membawanya pulang ke sebuah rumah yang akan memberinya kasih sayang penuh yang sangat di dambakannya selama ini dan akhirnya juga dia akan punya seseorang yang bisa dia panggil ayah dan ibu.
Luna kecil melangkah dengan riang saat di gandeng oleh kedua orang tua angkatnya itu, dia masuk ke dalam sebuah mobil tua milik orang tua angkatnya yang membawanya pulang ke rumah mereka.
"Nah...sayang, mulai hari ini kamu akan tinggal di sini bersama kami," ucap ibu angkat Luna dengan lembut dan penuh kasih sayang tapi itu semua hanya berlangsung beberapa bulan saja, saat Luna sudah masuk kelas satu sekolah dasar kedua orang tua angkatnya sudah bersikap tidak baik padanya dengan menyuruh dia mencuci piring yang sangat banyak sekali setiap sepulang sekolah "Luna lapar ibu, Luna mau makan dulu," ucap Luna kecil sambil memegangi perutnya yang melilit sejak tadi. "Tidak bisa!, kamu harus cuci piring dulu setelah itu baru makan! Di rumah ini tidak ada yang gratis kamu tahu!!" ucap ibu angkat Luna mendelik pada Luna.
Dengan menahan perut yang lapar Luna bergegas ke dapur untuk mencuci piring yang sudah menumpuk sejak pagi itu. Dan hal itu terus berlangsung sampai dia tumbuh dewasa dan bisa bekerja mencari uang sendiri orang tua angkatnya semakin menjadi menyiksa batinnya dengan mengambil semua gaji yang dia dapat dari hasil bekerja selama satu bulan. Luna hanya bisa pasrah dengan perlakuan orang tua angkatnya, dia tahu mereka sudah merawatnya sedari kecil sampai dewasa tapi saat kesabarannya sudah menemui titik akhir dia pun mulai memberontak dan tidak mau lagi berhubungan dengan ayah dan ibu angkatnya lagi sampai dia berada di titik saat ini menerima tawaran seorang mafia untuk menjadi istri kontraknya hanya untuk mendapatkan rasa aman atas keselamatan dirinya. Luna menarik napas dalam-dalam dadanya terasa sesak dan sakit sekali mengingat semua kepahitan yang dia lalui selama ini.
Leon yang masuk ke dalam kamar utama dan dia melihat Luna yang sedang berdiri sambil melamun di balkon kamar itu, Leon memperhatikan Luna yang terlihat sedang gelisah itu.
Leon yang menyadari kegelisahan Luna menghampirinya tanpa suara. Menanggalkan aura dingin dan intimidatifnya, Leon menawarkan keheningan yang tenang. Sikap lembut Leon yang tak biasa ini akhirnya membendung pertahanan diri Luna, membuatnya memberanikan diri untuk terbuka pada Leon.
"Kenapa belum tidur?" tanya Leon lembut pada Luna saat sudah berdiri di belakang punggung Luna.
Luna tersentak dari lamunannya dia tidak mengira kalau Leon datang menghampirinya "A aku tidak bisa tidur," ucap Luna tergagap.
"Kamu sedang memikirkan sesuatu? Ceritakan padaku kalau kamu mau berbagi aku akan mendengarkan," ucap Leon dengan suara yang menenangkan.
Dengan suara bergetar, Luna menceritakan masa kecilnya yang kelam rasa kesepian di panti asuhan, siksaan emosional, serta pengkhianatan dari keluarga angkatnya yang memperlakukannya tak lebih dari sekadar barang dagangan pelunas utang. Luna membeberkan ketakutan terbesarnya bahwa ia tidak pernah pantas untuk dicintai atau memiliki keluarga yang utuh.
"Dulu aku hidup di panti asuhan tidak punya orang tua yang memberiku kasih sayang aku selalu merasa kesepian di sana, setiap hari aku merindukan orang tuaku dan aku berharap suatu hari nanti mereka akan datang untuk menjemput ku keluar dari panti itu tapi harapanku sia-sia karena mereka tidak pernah datang sampai pada akhirnya datang orang tua angkat yang mau mengadopsi aku, aku sangat bahagia sekali waktu itu karena akhirnya aku punya keluarga yang akan merawat dan menyayangi aku, awal masuk ke rumah orang tua angkatku semuanya baik-baik saja mereka memperlakukan aku dengan baik tapi setelah aku memasuki sekolah dasar mereka mulai memberlakukan aku dengan semena-mena, aku di suruh mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari dan kalau belum selesai aku tidak di kasih makan, mereka menjadikan aku sebagai pembantu di rumah yang aku sebut keluarga dan setelah aku dewasa sudah bisa bekerja mereka semakin brutal memerasku bukan hanya tenaga yang mereka peras dariku tapi juga semua uang yang aku hasilkan mereka ambil, aku hanya di jadikan sebagai mesin penghasil uang buat mereka, mereka tidak memperdulikan batinku tang tersiksa yang mereka tahu hanya uang saja. Aku sadar kalau aku memang terlahir tidak untuk di cintai oleh siapapun sebab orang tua kandungku sendiri saja sudah tidak menginginkan aku apalagi orang lain," Luna terisak tidak mampu menahan luapan emosinya.
Mendengar setiap penderitaan yang pernah dialami Luna, dada Leon bergemuruh oleh amarah mendalam pada mereka yang telah menyakiti istrinya. Leon merengkuh Luna ke dalam pelukannya, menghapus air matanya, dan berbisik penuh penekanan bahwa tidak akan ada lagi yang boleh menyentuhnya. Di dalam hatinya, Leon bersumpah akan mencabut dan memusnahkan setiap sumber penderitaan masa lalu Luna sampai ke akar-akarnya.
"Kamu jangan bersedih lagi, sekarang kamu aman di sini aku akan selalu ada di sampingmu dan aku pastikan selama aku bersama kamu tidak akan ada yang bisa menyentuh kamu apalagi menyiksa kamu dan aku akan pastikan kalau mereka berani menyentuh kamu barang sedetik pun aku tidak akan membiarkan mereka menghirup udara segar lagi, kamu aman bersama aku Luna, di sini kamu punya keluarga yang akan selalu menyayangimu, aku dan Emily akan selalu menyayangi kamu dengan sepenuh hati," ucap Leon sambil mengusap lembut rambut Luna yang masih dalam pelukannya itu.
Luna merasa sangat terharu sekali mendengar ucapan Leon, dia sangat bersyukur pada Tuhan bisa bertemu dengan orang seperti Leon "Terimakasih Leon," ucap Luna sambil menenggelamkan kepalanya di leher Leon, Leon mencium kepala Luna dengan penuh kasih sayang.
Malam itu menjadi titik balik paling krusial dalam hubungan mereka. Luna merasa untuk pertama kalinya ada sosok yang benar-benar menjadi pelindungnya, sementara Leon menyadari bahwa keinginannya untuk melindungi Luna telah melampaui sekat-sekat kesepakatan kontrak.