NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Kepercayaan yang Tumbuh

Setelah hari kontrak itu, meja Liana di lantai eksekutif tidak lagi hanya berisi jadwal makan, daftar obat, dan catatan preferensi kopi Edwin.

Di sisi kanan laptopnya, mulai ada folder baru: ringkasan dokumen luar negeri.

Arman tidak langsung membanjirinya pekerjaan. Setiap kali ada dokumen masuk, ia bertanya dulu, "Bu Liana, jadwal Boss hari ini memungkinkan?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Liana beberapa kali terdiam. Di rumah Phua, tidak ada yang pernah bertanya apakah waktunya memungkinkan. Kalau perlu, berarti ia harus bisa.

Di Loh Group, ia masih bekerja keras. Bedanya, kerja keras itu punya batas yang diakui.

Minggu keempat berlalu cepat. Liana mulai bisa membaca ritme Edwin dari hal-hal kecil. Kalau ia meminta kopi hitam kedua sebelum pukul sepuluh, berarti ada negosiasi berat. Kalau ia menunda makan siang lebih dari tiga puluh menit, biasanya Arman akan mengirim pesan singkat ke Liana: mohon bantu.

Liana tidak banyak bicara. Ia hanya menaruh kotak makan hangat di meja samping, menyiapkan air mineral, lalu keluar sebelum Edwin perlu mengucapkan terima kasih.

Namun hari Jumat sore, Edwin sendiri memanggilnya.

"Ada private dinner di rumah saya besok malam," katanya.

Liana berdiri di depan meja, buku catatan terbuka. "Untuk berapa orang, Pak Edwin?"

"Enam. Dua partner dari Jepang, satu konsultan legal, Arman, saya, dan satu anggota komisaris."

Liana mencatat cepat. "Pantangan makanan?"

"Arman akan kirim datanya." Edwin berhenti sebentar. "Saya ingin kamu datang ke rumah besok siang. Cek dapur, susun menu, koordinasi dengan chef luar. Bisa?"

Pena Liana berhenti.

Ke rumah Edwin.

Ia segera menunduk agar wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan berlebihan. "Bisa, Pak Edwin."

Edwin menatapnya seperti menangkap jeda kecil itu, tetapi ia tidak mengomentari. "The One Residence, Menteng. Driver akan menjemput."

Sabtu siang, mobil kantor berhenti di depan sebuah hunian yang tidak memamerkan kemewahan dengan keras. Dari luar, The One Residence tampak tenang, dengan dinding batu alam, pagar tinggi, dan pohon rindang yang membuat jalan Menteng terasa lebih teduh.

Di dalam, kemewahan itu justru terasa dari ketiadaan yang berlebihan.

Tidak ada pajangan emas mencolok. Tidak ada lampu kristal raksasa. Lantainya marmer lembut, sofa abu-abu tua, lukisan abstrak dalam warna tenang, dan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk tanpa membuat ruangan panas. Setiap benda seolah dipilih bukan untuk dipamerkan, melainkan karena tahu tempatnya.

Liana berdiri di foyer beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Arman yang menunggunya di ruang tengah tersenyum tipis. "Bu Liana?"

"Maaf. Rumahnya... rapi sekali."

"Karena jarang dipakai untuk hidup," jawab Arman tanpa sadar.

Kalimat itu membuat Liana menoleh.

Arman tampak baru menyadari ucapannya, lalu berdeham. "Maksud saya, Boss lebih sering di kantor."

Liana tidak bertanya lebih jauh. Ia masuk ke dapur bersama chef luar yang sudah datang. Dapur itu besar, bersih, dan nyaris terlalu kosong. Semua alat lengkap, dari oven tanam sampai mesin kopi profesional. Tetapi ketika Liana membuka kulkas, ia hanya menemukan air mineral, beberapa kotak buah potong, telur, yogurt, dan obat lambung di rak kecil.

"Beliau makan di rumah?" tanya Liana pelan.

Chef mengangkat bahu. "Kalau ada acara. Kalau tidak, biasanya pesan makanan atau makan di kantor."

Liana menutup kulkas dengan hati-hati.

Rumah sebesar ini, tetapi tidak ada jejak orang yang menunggu makan malam. Tidak ada bumbu yang sering dipakai. Tidak ada kotak camilan setengah terbuka. Tidak ada tanda bahwa seseorang pernah berdiri lama di dapur sambil memikirkan apa yang enak untuk penghuni rumah.

Ia segera menegur dirinya sendiri. Ini pekerjaan.

Namun tangan Liana tetap bergerak lebih teliti. Ia menyusun menu yang aman, tidak terlalu berat, cukup formal untuk tamu bisnis tetapi tetap hangat. Sup bening seafood untuk pembuka, ikan kukus jahe, ayam panggang madu, tumis sayur tanpa rasa terlalu kuat, dan dessert ringan.

Saat memeriksa bahan di pantry, ia menemukan kacang merah kering dalam toples kaca. Mungkin sisa dari acara lama. Entah kenapa, benda kecil itu membuatnya teringat masa mudanya, ketika ibunya membuat sup kacang merah hangat saat hujan.

Sore menjelang, sebelum tamu datang, Edwin turun dari lantai atas dengan kemeja biru gelap. Ia berhenti di dekat pintu dapur.

"Semua siap?"

"Siap, Pak Edwin. Chef tinggal finishing satu jam sebelum dinner."

Edwin mengangguk. Matanya jatuh pada panci kecil di kompor samping. "Itu bukan menu dinner."

Liana sedikit kaget. "Bukan. Saya... membuat sup kacang merah hangat. Untuk sebelum acara, kalau Bapak belum sempat makan."

Arman yang berdiri di belakang Edwin pura-pura membaca ponsel, tetapi telinganya jelas menyala.

Edwin menatap panci itu lebih lama dari yang Liana kira.

"Saya tidak meminta."

"Saya tahu." Liana langsung merasa tindakannya terlalu jauh. "Maaf, kalau tidak berkenan saya bisa simpan."

"Tidak perlu."

Edwin masuk ke ruang makan kecil, bukan ruang makan formal untuk tamu. Liana menuang sup kacang merah hangat ke mangkuk putih. Aromanya lembut, manisnya tipis, tidak membuat enek. Ia meletakkannya di depan Edwin, lalu berdiri satu langkah di samping.

Edwin mengambil sendok pertama.

Liana menahan napas tanpa sadar.

Pria itu tidak banyak bereaksi. Ia hanya makan pelan. Namun pada sendok ketiga, gerakannya berhenti. Wajahnya tetap tenang, tetapi sesuatu di matanya melunak, sangat singkat, seperti cahaya di balik tirai yang terbuka sedikit.

"Sudah lama," katanya.

Liana menunggu.

"Sudah lama tidak ada yang membuatkan saya sesuatu seperti ini."

Kalimat itu pelan, hampir tenggelam oleh suara pendingin ruangan. Tetapi bagi Liana, kalimat itu terasa terlalu dekat.

Ia segera menunduk. "Saya hanya melihat ada kacang merah di pantry."

"Kamu selalu memperhatikan hal kecil."

Dada Liana bergetar halus. Ia memaksa dirinya tersenyum profesional. "Itu bagian dari pekerjaan saya."

Edwin menatapnya. Ada jeda pendek yang membuat Liana merasa ia sedang dibaca, bukan sebagai pegawai, melainkan sebagai manusia.

"Begitu?"

Satu kata itu membuat ujung jari Liana menghangat.

Untung Arman masuk membawa tablet. "Boss, data tamu sudah final."

Liana mundur dengan cepat. "Saya cek meja lagi."

Makan malam berjalan tanpa masalah. Para tamu memuji menu, terutama karena tidak ada rasa yang terlalu agresif. Liana bekerja di belakang, memastikan minuman diganti, obat lambung Edwin tersedia kalau dibutuhkan, dan chef tahu kapan harus mengeluarkan hidangan berikutnya.

Pukul sepuluh malam, setelah tamu pulang, Liana hendak merapikan catatan di dapur ketika Arman menghampiri Edwin di dekat koridor ruang kerja.

Ia tidak berniat mendengar, tetapi rumah itu terlalu sunyi.

"Boss, hasil awal background check Bu Liana sudah masuk."

Langkah Liana berhenti di balik pintu dapur. Ia tahu seharusnya ia tidak mendengarkan. Namun namanya menahan tubuhnya di tempat.

Edwin berkata, "Bicaralah."

"Ayah dan ibunya bukan orang biasa. Keduanya pernah terlibat penelitian penting di lingkungan akademik nasional. Banyak publikasi lama. Setelah mereka meninggal, Liana sempat diterima di universitas top, tapi tidak melanjutkan."

Sunyi.

"Kenapa?"

"Tidak tertulis jelas. Tapi tahun itu juga dia menikah dengan Albert Phua."

Liana menutup mata.

Bukan karena marah Edwin menyelidikinya. Anehnya, yang menusuk justru cara fakta itu terdengar begitu telanjang. Hidupnya yang dulu luas, diringkas menjadi satu kalimat: tidak melanjutkan karena menikah.

Ia perlahan mengambil tasnya, memilih keluar lewat sisi dapur setelah berpamitan pada staf rumah. Ia tidak ingin Edwin melihat wajahnya malam itu.

Di ruang kerja, Edwin tidak segera menjawab Arman. Setelah asistennya pergi, ia membuka laci meja paling bawah.

Di sana, tersimpan sebuah foto lama.

Foto tiga puluh tahun lalu. Seorang pria muda berdiri di antara beberapa mahasiswa dan dosen. Di ujung kiri, seorang gadis berwajah cerah menunduk sedikit, seolah malu difoto. Rambutnya sebahu, matanya jernih, dan senyumnya kecil.

Edwin mengangkat foto itu lebih dekat ke lampu meja.

Wajah muda itu bertumpuk dengan wajah Liana yang tadi menunduk di dapur, membawa mangkuk sup kacang merah hangat.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, nama yang terlambat ia kenali keluar dari bibirnya.

"Liana... apakah itu kamu?"

1
Yusnani Siregar
👍
Yusnani Siregar
👍👍
Lulu kartika Mediani
aduuh beneran yaah..pantesan Albert sifat nya gitu..licik dan manipulatif ternyata nurun dr emak nya...Kim hwa ,buah jatuh tak jauh dr pohon nya.. 😄😄..parraaahh..dasar ratu drama...😌
Lia Aulia
tapi yang ini menantu mode badas
Lia Aulia
kok aku ketemunya mertua laknat semua ya
Lulu kartika Mediani
si Albert licik nya kebangetan yah...suhu nya manipulatif ..😮‍💨😮‍💨
Lulu kartika Mediani
Bagus sekali cerita ini...tidak bertele2..tapi konflik nya seru dan tak mudah ditebak.....dan masih relate dgn dunia nyata...cuman duuh yg jahat ,jahat nya kebangetan..kayak si Yuni itu ..udah mah merebut tpi masih ada niat juga buat nyelakain ,fitnah istri sah .. dunia jetset itu penuh duri tajam yah... kejahatan pun bisa datang dr keluarga sendiri,, apalagi klo bukan soal harta... bnerr lah ..harus bermental baja masuk kedunia org2 kaya raya mah...
Lulu kartika Mediani
Liana apa kamu lupa...Dede punya tanda lahir bentuj bulan sabit berwarna coklat kan di bahu nya..knp ga di cek...😌😮‍💨
Aprilinda
novel nya keren
EMINEM Resi
lanjut baca,
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Soraya Febriyanti
thor.. berarti Kevin dan Isha nikah beda agama yah..??
Yusnani Siregar
siapa yg bocor rahasia klrg loh
Yusnani Siregar
👍👍👍
Soraya Febriyanti
apa apa an ini..baru satu kali nyangkul..kok langsung garis dua.. ngapain nyimpen teks pack. di tas Kalu gk pernah maen sama cowok.. author ini bikin pusing pembaca aja
Yusnani Siregar
yes
/Pray/
Yusnani Siregar
ok
Yusnani Siregar
👍👍
Yusnani Siregar
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!