Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.
Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.
Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.
"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: DENDAM YAN GE
Xuan Chen dapat merasakan hawa membunuh yang sangat pekat menyergap dari balik kegelapan dahan.
Niat membunuh itu tidak datang dari sembarang orang, melainkan dari seorang pemangsa berpengalaman yang telah mengunci posisinya sejak pertama ia mendarat di Alam Rahasia Kuno. Angin berdesing nyaring, membawa desiran maut yang membelah keheningan hutan.
Pada saat kritis tersebut, Xuan Chen langsung mengaktifkan Mata Misteriusnya.
Bzzzt!
Di balik kelopak matanya, pendaran bening keabu-abuan meledak dalam keheningan. Seluruh warna di sekitarnya meredup seketika, dan dunia bergerak dalam ritme yang amat lambat. Xuan Chen bisa melihat lintasan belati beracun itu secara mendetail—tiap titik energi yang terkumpul di ujung bilah, hingga desiran angin yang membelah dedaunan di sekitarnya.
Meskipun Xuan Chen bergerak cepat memiringkan kepalanya untuk menghindar, kecepatan belati yang diluncurkan oleh praktisi Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima Puncak tetaplah sangat mengerikan.
Sret!
Bilah hitam beracun itu meleset dari tenggorokannya, namun ujungnya yang tajam masih sempat menggores sedikit dagu Xuan Chen. Setitik darah segar merembes keluar dari sayatan tipis tersebut, menyisakan sensasi dingin yang menyengat di kulitnya.
Syuuk!
Sebuah bayangan melompat turun dari atas dahan pohon tinggi, mendarat dengan tumpuan dua kaki yang sangat stabil di atas tanah basah.
Yan Ge berdiri tegap di hadapan Xuan Chen. Kain penutup wajahnya sedikit bergoyang ditiup angin, sementara mata tunggalnya memancarkan pendaran kebencian yang mendalam.
"Kau satu-satunya orang di antara murid luar yang bisa menghindar dari teknik sergapanku... Hehe," ujar Yan Ge seraya menyunggingkan seringai licik dari balik kain penutup wajahnya.
Yan Ge memutar pergelangan tangannya, menarik kembali belati beracun kedua dari balik lipatan jubahnya.
"Tapi hari ini di tahun depan... aku sendiri yang akan memperingati hari kematianmu, Junior," lanjut Yan Ge dengan suara serak yang memuakkan.
Xuan Chen tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Ia mengusap tetesan darah di dagunya menggunakan punggung lengan baju hitamnya, lalu menatap Yan Ge dengan sepasang mata yang sedingin telaga es.
"Sudah banyak orang yang berkata seperti itu kepadaku," sahut Xuan Chen datar, suaranya tenang tanpa ada riak emosi berlebihan. "Dan mereka semua selalu berakhir dengan kematian di tanganku, Senior Yan."
"Termasuk kau hari ini," tambah Xuan Chen dengan nada yang kian dingin.
Sejak dalam perjalanan menuju tempat ini, Xuan Chen telah mengantisipasi kemungkinan terbesar bahwa Yan Ge akan mengincarnya. Dendam akibat kekalahan taktik di Ngarai Tengkorak Hutan Bayangan bukanlah sesuatu yang akan dilupakan begitu saja oleh seorang senior di Lapisan Lima Puncak.
Mendengar tanggapan dingin dari seorang murid Lapisan Tiga, tawa terkekeh yang serak meledak dari tenggorokan Yan Ge.
"Hehe... Mulutmu sangat besar, Junior! Tapi sayangnya, besarnya mulutmu tidak sebanding dengan kekuatan fisikmu yang dangkal!" ejek Yan Ge.
Yan Ge melangkah maju satu tapak, membiarkan aura fisik murni dari puncak Lapisan Lima menekan udara di sekitar mereka hingga daun-daun kering bergetar hebat.
"Menyerahlah. Jika kau berlutut sekarang, aku akan membunuhmu dengan jauh lebih cepat tanpa menyisakan rasa sakit!" ucap Yan Ge dengan nada meremehkan.
"Menyerah?" ulang Xuan Chen pelan.
"Itu tidak ada dalam kamusku."
Xuan Chen tidak membuang waktu lagi untuk bersilat kata. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menghentakkan kakinya dan langsung melesat lurus ke arah Yan Ge!
"Seekor domba yang terdesak selalu bertindak bodoh! Mati kau, Bocah!" raung Yan Ge seraya mengayunkan belati beracunnya secara mendatar dengan kecepatan penuh.
Wuuuushhhh!
Tebasan mematikan itu meluncur deras membelah udara, mengincar leher Xuan Chen.
Namun, dengan gerakan yang amat presisi, Xuan Chen merendahkan tumpuan badannya, membiarkan bilah tajam itu lewat menyapu udara kosong di atas kepalanya.
Yan Ge yang melihat serangannya luput seketika terkesiap. Matanya membelalak tak percaya dari balik kain penutup wajahnya.
Ini bukan lagi sekadar kebetulan. Pertama, pemuda ini sanggup lolos dari sergapan tersembunyinya di atas pohon, dan sekarang ia kembali menghindar dari tebasan jarak dekatnya tanpa celah sedikit pun.
Yan Ge sama sekali tidak menyadari bahwa penglihatan misterius Xuan Chen sedang bekerja—membaca setiap lekuk otot, alur napas, dan lintasan serangannya dalam ritme yang jauh lebih lambat dibanding realitas sebenarnya.
Xuan Chen yang berhasil menembus jarak tembak musuh tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia memutar poros pinggangnya, mengepalkan tangan kanannya erat-erat, lalu memusatkan seluruh daya tahan dan kekuatan fisik murni Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Tiga tepat di kepalan lengannya!
"Terima ini!"
BOOOOOOMMMMM!
Dentuman keras bergema saat tinju Xuan Chen menghantam telak lengan kiri Yan Ge yang mencoba memasang pertahanan!
"Ugh!"
Yan Ge terdorong mundur dua tapak, erangan tertahan lolos dari tenggorokannya. Ia dapat merasakan bahwa pukulan tersebut bukan sekadar kepalan tangan Lapisan Tiga biasa. Getaran daya hancurnya begitu padat hingga menyisakan rasa ngilu yang menusuk di sepanjang tulang lengannya.
Namun, Yan Ge bukanlah praktisi amatir yang mengandalkan emosi mentah seperti Xiong Wei. Sebagai seorang pembantai senior, insting bertahannya bekerja secara instan di tengah keterkejutan.
Srebbbbb!
Tanpa ragu sedikit pun, Yan Ge memanfaatkan momen terbukanya pertahanan Xuan Chen usai memukul. Tangan kanan Yan Ge mengayunkan belati beracun kedua dari arah samping, menancapkannya lurus dan dalam ke rusuk kiri Xuan Chen!
"Khhh...!"
Xuan Chen merasakan rasa sakit yang luar biasa mendadak meledak di bagian dadanya. Hawa dingin dari racun hitam pekat pada bilah belati itu seketika merayap cepat, menyebar masuk ke dalam aliran darah dan merobek jaringan ototnya.
Darah segar berwarna kehitaman perlahan merembes keluar dari celah jubah hitamnya, membasahi lantai tanah di bawah kaki mereka.
Yan Ge menyunggingkan seringai kejam dari balik penutup wajahnya, menarik kembali belatinya seraya melompat mundur dua tapak untuk menjaga jarak.
"Aku sudah katakan, Junior... nekat saja tidak akan cukup untuk menutupi jurang perbedaan ranah kita!" kekeh Yan Ge dingin, menatap Xuan Chen yang mulai terengah-engah menahan laju racun di rusuknya.
tapi so cerita nya menarik.