Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: DI BALIK RUANG MEDIS
"Ngomong-ngomong," ujar Raina sambil membuka pintu kelas yang masih sepi, "sore ini jadwal les Fisika tetap jalan, ya. Kamu gak boleh leha-leha cuma gara-gara udah jadi pahlawan Kejurnas."
Devan melotot berpura-pura kaget, lalu menepuk dadanya dramatis. "Aduh, Bu Wakil... siku gua mendadak kram lagi nih."
"Alasan basi, Devan Adhitama," sahut Raina dingin khas gayanya, namun menyunggingkan senyum hangat yang amat tulus.
Devan tertawa lepas. Ia melangkah mendekat, menatap mata Raina lekat-lekat dengan binar kasih sayang yang tak lagi disembunyikan.
"Siap, Ratu Disiplin. Apapun buat kamu," bisik Devan lembut.
Pertemuan yang diawali dari insiden bola basket nyasar dan kacamata patah itu kini telah menemukan muara indahnya. Mereka bukan lagi dua kutub berseberangan yang saling menolak, melainkan dua hati yang saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain.
EPILOG
Sore harinya, di bawah naungan pohon beringin pinggir lapangan basket, dua cangkir es teh manis dan dua tumpukan buku latihan Fisika tertata rapi di atas meja kayu.
Devan fokus mencoret-coret lembar jawaban dengan rumus yang diajarkan Raina, sementara Raina duduk di sampingnya sambil tersenyum memperhatikan. Gantungan kunci kayu berbentuk bola basket dan kacamata bulat bergoyang pelan tersapu angin sore di tas mereka yang berdampingan menjadi saksi bisu kisah manis yang baru saja dimulai.
BAB 30: JANJI DI BAWAH POHON BERINGIN
Sinar matahari sore menembus celah dedaunan pohon beringin di sudut lapangan basket, menciptakan pola cahaya keemasan di atas meja kayu tempat Devan dan Raina biasa belajar. Ujian Akhir Semester tingkat kelas 11 baru saja usai tadi siang, meninggalkan atmosfer lega yang berembus pelan bersama angin sore.
Devan menyandarkan punggungnya di kursi kayu, merentangkan kedua tangannya ke atas sambil menghembuskan napas panjang.
"Akhirnya... kelar juga penderitaan materi Fisika semester ini!" seru Devan lega. "Na, gua yakin kali ini nilai gua gak cuma 85, tapi bisa nembus angka 90!"
Raina yang sedang merapikan lembar-lembar kertas catatan di atas meja hanya menggelengkan kepala pelan, menahan senyum di balik kacamata tipisnya. "Jangan keburu percaya diri dulu, Devan. Soal hukum Termodinamika nomor lima tadi kamu ingat pakai rumus elastisitas atau konduksi?"
Devan mendadak membeku. Matanya berkedip beberapa kali sebelum meringis canggung. "E-eh... yang ada huruf delta T-nya itu kan?"
"Devan..." tegur Raina menggeleng-gelengkan kepala, namun nada suaranya sangat hangat.
Devan terkekeh pelan, lalu bergeser duduk lebih dekat ke arah Raina. Pandangannya berganti menatap lekat-lekat wajah Raina dari samping—menatap mata jernih gadis itu yang kini tak lagi memancarkan ketegangan seperti saat pertama kali mereka bertemu di tempat ini.
"Makasih ya, Na," bisik Devan mendadak, membuat pergerakan tangan Raina yang sedang mengancingkan tasnya terhenti.
"Buat apa lagi?" tanya Raina pelan, memutar tubuhnya menghadap Devan.
Buat semuanya," jawab Devan tulus. "Buat kacamata patah yang membawa gua ke kamu, buat sabarnya kamu ngajarin pengacau kayak gua, dan buat cara kamu bikin gua percaya kalau gua punya masa depan."
Raina terdiam sejenak. Ia menyentuh gagang kacamata baru pemberian Devan yang bertengger manis di wajahnya, meresapi setiap kenangan beberapa bulan terakhir—mulai dari pertengkaran rapat OSIS, sesi les Fisika yang melelahkan, insiden cedera bahu di GOR, hingga kemenangan piala Kejurnas.
"Aku juga makasih sama kamu, Dev," bisik Raina, menyunggingkan senyum paling manis yang pernah Devan lihat. "Kamu ngajarin aku kalau hidup itu gak harus selalu kaku dan berjalan sesuai aturan di atas kertas. Kadang... hal terbaik justru datang dari ketidak sengajaan."