6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. KAIN KAFAN SELVI
BAB 15. KAIN KAFAN SELVI
Aku mengira semuanya sudah selesai ketika sumur itu menutup. Aku mengira bunga putih yang diberikan kakek penjaga masjid itu adalah akhir dari semua teror. Tapi aku salah besar.
Sudah tiga hari aku dan Farhan kembali ke posko KKN utama di balai desa. Kami berdua adalah satu-satunya yang selamat. Atau begitulah yang dipikirkan warga.
Pak Kades menyambut kami dengan wajah pucat. Dia tidak bertanya di mana Bima, Riko, Sinta, dan Maya. Dia seolah sudah tahu. Dia hanya menyuruh kami beristirahat dan tidak keluar malam hari. Balai desa dikunci rapat-rapat setiap jam 6 sore.
Malam ketiga, tepat jam 12 malam, aku terbangun karena merasa gatal di seluruh tubuh. Sangat gatal. Seperti ada ribuan semut yang berjalan di bawah kulitku.
Aku menggaruk lenganku, dan saat aku menyalakan lampu senter hp ku, aku menjerit tertahan.
Di lenganku, muncul tulisan. Tulisan yang terbuat dari benjolan-benjolan kecil seperti jahitan. Tulisan itu membentuk sebuah nama.
M-A-Y-A
Aku menggaruknya lebih keras sampai berdarah, tapi tulisan itu tidak hilang. Malah semakin jelas. Dan bukan hanya di lenganku. Di perutku, di pahaku, di punggungku. Semua muncul nama-nama teman-temanku yang sudah meninggal.
Di perutku tertulis BIMA.
Di paha kiriku tertulis RIKO.
Di punggungku tertulis SINTA.
Di tengkukku, aku meraba, tertulis MBOK DARMI.
Dan di dadaku, tepat di atas jantungku, tertulis nama yang paling besar, dengan jahitan yang paling dalam dan paling perih.
SELVI
Aku berlari ke kamar mandi balai desa, melihat ke cermin kecil yang retak.
Wajahku pucat. Tapi yang membuatku hampir pingsan adalah, aku tidak punya bayangan. Sama seperti warga Desa Karangjati.
Aku keluar dari kamar mandi dan membangunkan Farhan yang tidur di ruangan sebelah.
"Farhan! Farhan bangun!"
Farhan terbangun dengan kaget. Saat dia melihatku, dia mundur.
"Selvi... tubuhmu..."
Aku melihat tubuh Farhan. Tubuhnya juga sama. Penuh dengan jahitan nama-nama. Di dahinya tertulis FARHAN, tapi tulisannya terbalik, seperti tulisan cermin.
"Apa yang terjadi sama kita, Farhan? Bukannya sumur sudah tertutup? Bukannya mereka sudah bebas?"
Farhan memegang kepalanya, dia juga merasa gatal yang luar biasa.
"Aku mimpi, Selvi... aku mimpi Mbok Darmi datang... dia bilang... kain kafan itu belum selesai ditenun... kain kafan yang kita bakar di sumur itu cuma kain pembuka... kain yang asli masih ada di balai desa... di bawah balai desa ini..."
Ucapan Farhan membuat bulu kudukku merinding. Di bawah balai desa?
Tiba-tiba, lantai kayu balai desa tempat kami berpijak berderit. Sangat keras.
KRETEKKKK...
Papan kayu di tengah ruangan terbuka dengan sendirinya. Membuka sebuah lubang tangga yang mengarah ke bawah tanah. Gelap, dan dari dalam lubang itu, terdengar suara alat tenun kayu yang berderak.
TAK... TAK... TAK... TAK...
Suara yang sama persis seperti suara tenun Mbok Darmi di hutan.
Dari dalam lubang itu, muncul cahaya remang-remang. Dan aroma kain kafan lapuk yang basah tercium sangat kuat.
Aku dan Farhan saling pandang. Kami tahu, kami harus turun. Kalau tidak, nama-nama di kulit kami akan semakin dalam dan kami akan menjadi bagian dari kain itu selamanya.
Kami turun perlahan dengan senter hp.
Di bawah balai desa, ada sebuah ruangan yang sangat besar. Lebih besar dari balai desa itu sendiri. Ruangan itu penuh dengan alat tenun. Puluhan alat tenun. Dan di setiap alat tenun, duduk sosok-sosok tanpa bayangan. Mereka menenun dengan sangat cepat. Wajah mereka semua menunduk, rambut mereka panjang menutupi wajah.
Di tengah ruangan, ada satu alat tenun yang paling besar. Dan di sana duduk Mbok Darmi. Tapi kali ini, dia tidak sendiri. Di pangkuannya, ada sosok yang sangat aku kenal.
Maya. Maya duduk di pangkuan Mbok Darmi, ikut menenun.
Maya melihatku dan tersenyum. Senyum yang robek sampai ke telinga.
"Akhirnya kak Selvi datang juga... giliran kakak yang nerusin tenunannya..."
Mbok Darmi mengangkat wajahnya. Wajahnya sudah bukan wajah nenek-nenek lagi. Wajahnya adalah tengkorak yang masih memiliki sedikit daging.
"Kain kafan terakhir belum selesai, Nduk... kain kafan untuk yang masih hidup..."
Aku melihat kain yang sedang ditenun di alat tenun besar itu. Kain putih yang sangat panjang. Di kain itu, sudah tertulis nama-nama dengan benang hitam.
BIMA - RIKO - SINTA - MAYA - MBOK DARMI - FARHAN
Hanya satu nama yang belum selesai. Nama terakhir di ujung kain.
S E L V...
Benang hitam itu berhenti di huruf V. Tinggal huruf I saja yang belum ditenun.
Farhan di sampingku menjerit kesakitan. Jahitan nama di dahinya, FARHAN, mulai berdarah. Darahnya menetes ke kain putih itu.
"Kain itu butuh darah terakhir untuk selesai, Nduk... darah perawan yang masih hidup dan sudah masuk ke desa ini..."
Mbok Darmi berdiri, berjalan mendekatiku. Di tangannya ada jarum tenun yang sangat besar dan berkarat.
"Kalau namamu sudah lengkap di kain, kamu akan jadi penenun baru di sini, menggantikan Mbok Darmi... kamu akan jaga Desa Karangjati selamanya..."
Aku mundur, tapi punggungku menabrak alat tenun lain. Para penenun tanpa bayangan itu kini berdiri semua, mengelilingi aku dan Farhan.
Aku tidak punya pilihan. Aku melihat ke sekeliling. Di dinding ruangan bawah tanah itu, aku melihat sesuatu yang membuatku mendapat ide.
Di dinding, tergantung ratusan kain kafan lain. Kain kafan yang sudah jadi. Dan di setiap kain, ada nama yang berbeda-beda. Itu adalah nama-nama korban KKN tahun-tahun sebelumnya.
Aku ingat kata-kata kakek penjaga masjid. Kain penutup harus ditutup dengan nama yang bukan namanya. Tipu sumurnya.
Aku teringat teka-teki yang selalu dikatakan Mbok Darmi dulu saat kami masih di posko pertama.
"NAMA BISA DITUKAR, TAPI DARAH TIDAK BISA DITUKAR."
Aku harus menukar nama di kain itu.
Aku berlari menerobos kepungan penenun tanpa bayangan, menuju alat tenun besar itu. Aku mengambil benang hitam yang ada di sana.
Farhan mengerti maksudku. Dia menahan Mbok Darmi dan Maya yang mencoba mengejarku.
"CEPAT SELVI! GANTI NAMANYA!"
Tanganku gemetar. Aku menarik benang yang membentuk huruf-huruf S E L V di kain itu. Aku mencabutnya dengan gigi, dengan kuku.
Kain itu menjerit setiap kali aku mencabut benangnya. Darah keluar dari kain itu.
Setelah huruf SELV tercabut, aku harus menenun nama baru. Nama yang bukan namaku. Nama yang bisa menipu sumur dan penenun itu.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐