NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 Ujian Petir

Blaarrr!

Petir besar itu menghantam bebatuan tempat mereka bersembunyi. Debu mengepul di langit, pecahan batu-batu berjatuhan dari langit selayaknya hujan meteor yang membawa asap hitam.

Kael melirik Rayn, meneguk saliva dalam-dalam. Seandainya pemuda itu masih berpura-pura lemah, yang akan hancur adalah mereka. Beruntung, Rayn membuat aray tepat waktu. Jubah berwarna merah keemasan itu tetap utuh setelah petir menghantamnya.

BOOM!

Mereka serentak menoleh saat suara yang lebih dahsyat menggema di langit, menggetarkan bumi tempat mereka berpijak, menciptakan gempa yang cukup kencang.

Gemuruh di langit Dataran Badai itu, bukan lagi sekadar suara, melainkan getaran yang menghantam dada. Udara di sekitar mereka terasa asin dan dipenuhi aroma ozon yang menyengat, pertanda bahwa listrik statis telah jenuh di atmosfer.

"Apa itu?" Kael bertanya dengan perasaan ngeri.

"Inti petir," jawa Eliya pelan.

Di depan mereka, di puncak bukit meratap, inti badai berdiri dengan megah sekaligus mengerikan tepat di tengah dataran. Di sana, sebuah menara batu hitam menjulang, terus-menerus ditusuk oleh pilar-pilar petir raksasa yang turun dari awan sehitam tinta. Setiap kali kilatan cahaya itu menghantam puncak menara, tanah di bawah kaki mereka seolah-olah ikut memekik.

"Yang bisa sampai di sana, dia yang akan mendapatkan Petir," kata Rayn pelan. Suaranya hampir tenggelam di antara dentuman langit, tapi matanya yang tenang menatap lurus ke arah menara batu di puncak meratap.

"Tapi tempat itu dijaga binatang sihir tingkat tinggi," ujar Kael teringat akan penjaga bukit meratap.

"Kau benar. Tidak akan mudah bagi kita mendapatkan inti petir itu," sahut Eliya terdengar seperti bisikan.

Matanya lurus menatap puncak bukit, di mana raungan binatang sihir penjaga petir seolah-olah mencium bau makhluk asing yang menginjak tanahnya.

Keberadaan binatang sihir penjahat inti elemen petir di puncak bukit itu, bukan lagi rahasia, tapi mencapainya adalah perkara hidup dan mati.

Kael, dengan kesombongan khasnya yang mengakar sampai ke tulang, tidak sabar menunggu rencana.

"Biar aku pergi lebih dulu. Kalian lihat saja, aku pasti bisa menaklukan binatang sihir itu. Dia akan menjadi tungganganku," serunya penuh tekad.

Dia melompat maju, memadukan energi murni ke kakinya. Sihir angin menggumpal, menyerupai awan. Ia melesat secepat anak panah. Baru tiga langkah memasuki zona merah, langit langsung merespons. Seberkas cahaya biru keperakan menyambar lurus dari awan.

DUARRR!

Kael bahkan tidak sempat berteriak sebelum tubuhnya tersambar petir dan terpental belasan meter ke belakang. Dia berguling di atas tanah berbatu, bajunya compang-camping dengan ujung yang hangus.

"Argh! Sial! Ini menyakitkan sekali!!" umpatnya sambil terbatuk, berusaha duduk dengan rambut yang kini berdiri tegak ke segala arah seperti landak.

Padahal yang dia hadapi hanyalah petir biasa. Apalagi saat nanti berhadapan dengan binatang sihir petir dan inti petir itu sendiri.

Rayn menggelengkan kepala melihat kekonyolan Kael, sementara Eliya menarik napas dalam-dalam. Gadis itu menatap puncak menara, merasakan raungan binatang sihir penjaga inti petir.

"Sekarang giliranku. Berlari buta seperti Kael sama saja dengan bunuh diri," gumamnya pelan sembari menganalisa.

Otak kecilnya mulai bekerja secara mekanis, memilah informasi.

"Petir selalu mencari konduktor terbaik untuk melepaskan muatan energinya ke bumi."

Suara Zharvion menggema, persis dengan analisanya. Eliya menganggukkan kepala mengerti.

"Baiklah. Kesimpulan sederhannya adalah jika aku ingin selamat, jangan menjadi konduktor." Eliya menyahut lewat pikiran.

"Anak pintar," puji Zharvion mengiang di telinganya.

Eliya memejamkan mata sesaat, memanggil energi sihir yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia mulai melapisi seluruh tubuhnya dengan elemen tanah tipis. Lapisan debu dan batuan halus membungkus kulit gadis itu, bertindak sebagai isolator alami untuk menahan arus listrik agar tidak membakar organ dalamnya.

Tidak cukup sampai di situ, Eliya juga memanipulasi elemen angin di sekitarnya, membentuk pusaran tipis yang membungkus lapisan tanah tersebut. Angin itu bukan untuk perlindungan fisik, melainkan untuk membelokkan arah sambaran udara, menciptakan distorsi medan magnet di sekitar jalan yang akan dilaluinya.

Kael memperhatikan dalam diam, cara Eliya menangani badai petir itu. Ia ingin melihat apa yang akan terjadi padanya.

Setelah semuanya siap, Eliya langsung lari. Langkahnya seringan angin dan tetap mantap berkat pijakan elemen tanah. Beberapa kilatan petir menyambar di kiri dan kanannya, tapi berkat manipulasi angin, jalurnya sedikit berbelok, hanya menyisakan hawa panas yang membakar pipi.

Kael menganga tak percaya, Rayn menatap dingin sosok yang saat ini melompat-lompat di antara petir-petir yang menyambar dengan lincah dan ringan.

Ia semakin dekat dengan menara batu itu. Kakinya telah menapak di atas tanah bukit meratap. Raungan binatang sihir penjaga petir semakin terdengar jelas, memekakkan telinga, menggetarkan dasa.

"Lima puluh meter ... tiga puluh meter."

Ia bergumam pelan, matanya menatap Inti petir legendaris yang berkedip di depan sana. Eliya melirik binatang penjaga petir, itu mirip serigala berbulu putih-biru yang berputar mengikuti gerakan Eliya.

Blaarr!

Ia melempar sihir petir, tapi meleset. Eliya dengan mudah menghindarinya.

"Hampir sampai ...." Dia kembali bergumam, jaraknya semakin dekat dengan puncak menara batu.

Namun, alam seolah tahu ada penyusup yang mencoba mencurangi hukumnya. Langit di atas menara mendadak memerah. Eliya mendongak cemas.

BRAKKK!

Sebuah sambaran raksasa, tiga kali lebih besar dari sebelumnya, turun tanpa peringatan. Kecepatannya terlalu ekstrem, melampaui kalkulasi dan batas reaksi tubuh gadis itu.

Perlindungan angin dan tanah di tubuhnya hancur dalam sekejap mata. Rasa sakit yang luar biasa menghantam, membuat saraf-sarafnya seolah mati rasa. Tubuhnya terdorong ke belakang dengan hebat. Pandangannya mengabur, memutih, lalu perlahan menggelap saat kesadarannya mulai tersengat kritis.

"Apa aku akan mati?" tanyanya pada diri sendiri.

"Tidak sekarang, Eliya!" Suara Zharvion terdengar panik dan lemah.

Di ambang kegelapan, dalam hitungan sepersekian detik sebelum tubuh itu menghantam tanah untuk kedua kalinya oleh sambaran susulan, sebuah tangan kuat menarik kerah baju Eliya dan merangkulnya dengan cepat.

'Rayn?' Hati Eliya bergumam lirih.

Dengan gerakan yang luar biasa cepat, dia tidak hanya menarik dan memeluk tubuh itu, tetapi juga memutar tubuhnya sendiri. Ryan mendorong Eliya menjauh dari titik jatuhnya petir, sementara dirinya sendiri dengan sengaja mengajukan diri untuk menerima sambaran raksasa berikutnya yang menyusul dari langit.

BLAAAM!

Ugh!

Tak ada jeritan, tak ada teriakan. Kael terpaku di tempatnya, tak berani beranjak walau selangkah.

Cahaya menyilaukan membutakan mata mereka sesaat. Saat Eliya berhasil membuka mata dengan napas terengah di atas tanah, ia melihat Rayn. Dia jatuh berlutut tepat di tempat yang seharusnya Eliya berada. Asap abu-abu mengepul tebal dari bahu kiri dan punggungnya. Jubah sihirnya robek parah, memperlihatkan kulitnya yang memerah akibat suhu ekstrem.

Eliya bangkit dengan panik dan hendak berteriak, tetapi gerakannya terhenti saat dia menoleh ke arah mereka. Senyumnya ... luar biasa santai. Sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang baru saja dijadikan penangkal petir berjalan.

"Tidak apa-apa," bisiknya dengan suara yang sedikit parau, tapi dia masih sempat mengedipkan sebelah matanya. "Aku baik-baik saja. Aku tahan banting."

Eliya dan Kael melongo menatapnya, rasa cemas di dada mereka mendadak menguap dan berganti menjadi kekesalan yang luar biasa. Mereka tahu dia punya kemampuan regenerasi atau semacam sihir pelindung rahasia yang belum dia ceritakan.

'Sial. Aktingnya bagus sekali. Dia sengaja pamer di depan kami agar terlihat seperti pahlawan yang tragis. Cih!' Eliya mencibir di dalam hati, kesal dengan sikap Rayn yang seolah baik-baik saja.

Lalu, dia terjatuh begitu saja.

"Rayn!"

1
beybi T.Halim
kok yaa kasihan,kan ada 4 kerajaan apakah tak ikut bertempur?? atau malah sdh mati semua🙈
Aisy Hilyah: nah itu, udah ngilang semua itu
total 1 replies
beybi T.Halim
ceritanya sungguh bagus,sepanjang episode nahan nafas terus,karakter eliya sang badai benar2 tangguh,kuat dan tentunya ada sisi melow nya ,dikelilingi pangeran tampan dari 4 kerajaan, tak sabar untuk episode berikutnya👍👍👍👍👍semangat
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 😍😍
total 1 replies
beybi T.Halim
keren👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Pena Quality
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!