Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Ledakan dahsyat dari hantaman meriam plasma melubangi pintu baja tebal sektor dapur bawah tahanan. Kepulan asap putih pekat dan bau belerang yang menyesakkan dada langsung membubung tinggi, menyelimuti ruangan dalam sekejap. Di tengah hujan peluru panas yang menghantam meja-meja baja dan menghancurkan wadah bumbu bertekanan tinggi, Ren dan Soju masih bergeming di balik bayangan kontainer logistik, mengamati kekacauan yang terjadi dengan mata terbelalak penuh ketertarikan.
Sejak awal huru-hara itu meletus, kedua orang itu memang sengaja menahan diri, berdiri di garis belakang untuk menguping setiap patah kata dan menyaksikan bagaimana sang koki tahanan melumpuhkan para penjaga korporasi hanya dengan menggunakan sepasang kaki jenjangnya. Ada rasa takjub yang murni di balik tatapan Soju, sementara di dalam dada Ren, denyut irama The Core Engine berdetak kencang, merespons intensitas insting bertahan hidup yang begitu tajam dari gadis tersebut.
Namun, ketika selusin pasukan khusus berzirah lengkap dari Korporasi Aether merangsek masuk melalui celah pintu yang hancur, mengarahkan laras senapan serbu mereka lurus ke arah Yuna, situasi berubah dari sekadar tontonan menarik menjadi garis batas keputusan hidup atau mati.
"Hei, Kapten," bisik Soju cepat, jemarinya secara refleks sudah menarik tali busur balistiknya, melirik Ren dengan sebelah alis terangkat. "Pasukan elit sektor alpha itu jumlahnya terlalu banyak untuk ditangani sendirian oleh seorang koki, seberapa hebat pun tendangan mautnya. Kau tidak benar-benar berencana membiarkan gadis itu menjadi saringan peluru, kan?"
Ren tidak menjawab dengan kata-kata. Wajah datarnya mengeras, dan tanpa memberikan aba-aba verbal apa pun kepada Soju, pemuda itu melangkah keluar dari balik bayangan. Pendaran cahaya biru dari The Core Engine di balik mantelnya menyala terang, memancarkan gelombang panas termal yang membuat udara di sekitar telapak tangannya bergetar hebat. Ren mencabut Rust-Bite Blade dari pinggangnya, bilah pedang berkarat itu berdengung rendah, memercikkan kilat oranye kemerahan yang membelah kegelapan ruangan.
"Tunggu, Ren! Jangan terburu-buru—!" gerutu Soju setengah berbisik, merasa kesal karena kaptennya selalu bergerak mendahului rencana.
Namun, nasihat itu sudah terlambat. Melihat Ren melesat maju menerjang barisan pasukan khusus, Soju tidak punya pilihan lain. Dengan helaan napas berat penuh kepasrahan, ia melepaskan anak panah soniknya untuk melumpuhkan senapan musuh di sisi kiri, lalu melompat menyusul ke tengah medan pertempuran.
Bum! Clank!
Pertempuran jarak dekat meledak dengan dahsyat. Ren mengayunkan pedangnya menepis rentetan peluru plasma, memercikkan bunga api yang menyilaukan mata di lantai baja. Di sisinya, Soju bergerak lincah, melepaskan tembakan panah beruntun yang merusak sistem bidikan helm pasukan khusus.
Yuna, yang awalnya sempat terkejut melihat kemunculan dua orang asing yang tiba-tiba ikut campur dalam kekacauan hidupnya, langsung membaca situasi dengan cepat. Tanpa membuang waktu, ia memutar tubuhnya, melayangkan tendangan putar tinggi—Roundhouse Kick—yang menghantam helm komandan pasukan elit hingga terpental menabrak dinding beton.
Dengan koordinasi taktis yang tercipta secara instan, barisan pasukan khusus Aether berhasil dipukul mundur dalam hitungan menit. Asap tebal dan desis peluru yang mendingin perlahan menggantikan suara teriakan perang.
"Lewat sini! Cepat!" seru Soju sambil menunjuk jalur ventilasi pemeliharaan darurat yang terhubung langsung ke rel bawah tanah.
Tanpa banyak tanya, ketiganya melompat masuk ke dalam lorong gelap tersebut, merayap cepat meninggalkan reruntuhan dapur penahanan yang kini membara di ambang kehancuran total.
Beberapa saat kemudian, di dalam perut gerbong Vanguard yang terparkir aman di ujung terowongan rel rahasia Sektor 7, suasana mendadak terasa jauh lebih hangat.
Bau harum uap mesin reaktor berpadu dengan aroma pembersih logam. Di bagian depan lokomotif, Leo sedang mengelap pelipisnya yang berkeringat setelah merampungkan pekerjaan terbesarnya hari ini: memasang lapisan pelindung baja titanium ganda di seluruh moncong gerbong, disempurnakan dengan sisa serpihan Cryo-Core Fragment.
Di sudut ruangan server, Gavin mengetuk-ngetukkan jarinya di atas keyboard, memastikan radar pemindai militer Aether benar-benar bersih dari ekor pelacak.
Sementara itu, di dekat pintu palka utama, Yuna berdiri membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Ia melakukannya berulang kali, gestur hormat yang tulus dari seseorang yang baru saja ditarik keluar dari neraka keputusasaan.
"Terima kasih..." ucap Yuna lirih, suaranya sedikit bergetar namun sarat akan kelegaan yang mendalam. Ia menegakkan tubuhnya, menatap satu per satu orang yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya. "Terima kasih banyak karena telah mengeluarkannya dari tempat terkutuk itu. Aku... aku tidak tahu apa jadinya nasibku jika kalian terlambat sepersekian detik saja."
Leo menghentikan pekerjaannya, melipat kedua tangannya di dada sambil menyeringai ramah. Gavin mengangguk sekilas dari balik kacamata tebalnya, sementara Soju tersenyum tipis sambil bersandar di dinding gerbong.
Ren berdiri paling dekat dengan Yuna. Pemuda itu menatap sang koki lurus-lurus dengan ekspresi datarnya yang khas, sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Namaku Ren," ucap Ren dengan suara parau namun berwibawa. Ia menunjuk rekan-rekannya satu persatu. "Ini Leo, mekanik kita. Itu Gavin, peretas data. Dan gadis berambut kuning di sana adalah Soju, navigator kita."
Yuna mendengarkan dengan seksama, merekam setiap nama di dalam kepalanya. Ia menarik napas dalam-dalam, merapikan sedikit kerah apron putihnya yang kumal, lalu menatap Ren tepat di matanya.
"Dan aku... Yuna," ucap sang koki memperkenalkan dirinya dengan penuh wibawa. Ia menarik napas panjang, seolah membuang seluruh sisa ketakutan masa lalunya. "Aku adalah koki... dan jika kalian butuhkan, aku juga memahami dasar-dasar medis serta pertolongan pertama dari ramuan herbal darurat."
Suasana di dalam gerbong mendadak hening sejenak. Leo melirik ke arah Ren, lalu menatap Yuna dengan sebelah alis terangkat tinggi. Seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh sang mekanik, Yuna tidak menunggu lama untuk menjelaskan tujuannya.
"Setelah apa yang kualami di fasilitas korporasi itu, aku menyadari satu hal," lanjut Yuna dengan nada suara yang mantap dan berbinar-binar penuh tekad. "Aku tidak mau lagi menjadi budak yang memasak hanya untuk memuaskan nafsu makan para petinggi korporasi yang kejam. Impianku yang sesungguhnya... adalah menjelajahi dunia es ini, mencicipi bahan-bahan langka dari berbagai stasiun terpencil, dan meracik serta mencoba resep-resep legendaris peninggalan leluhur dari berbagai belahan dunia yang belum pernah terjamah."
Yuna menatap Ren lekat-lekat, menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan tulus.
"Karena kalian telah menyelamatkanku dari kematian, dan karena aku melihat gerbong kereta ini adalah satu-satunya tempat di dunia es ini yang memiliki kebebasan... izinkan aku resmi bergabung dengan kru kalian. Aku akan menjadi Koki sekaligus Dokter di kereta ini. Aku berjanji, lambung Kapten tidak akan pernah kelaparan lagi."
Mendengar kata-kata 'tidak akan pernah kelaparan lagi', mata Ren mendadak berbinar sangat tajam—perubahan ekspresi paling dramatis yang pernah diperlihatkan oleh sang kapten sejak awal perjalanan. Leo dan Gavin spontan menepuk jidat mereka secara bersamaan, merasa bahwa alasan Ren menerima anggota baru ini benar-benar tidak bisa ditebak logika normal.
"Baiklah," ucap Ren tanpa ragu sedikit pun, mengangguk mantap. "Selamat datang di kru, Yuna."
Soju tertawa renyah, menyambut kehadiran sang koki dengan tepukan tangan kecil. "Bagus! Setidaknya sekarang ada seseorang di kereta ini yang bisa mengendalikan nafsu makan Kapten yang mengerikan itu."
Namun, di saat suasana kehangatan dan kelegaan menyelimuti interior gerbong Vanguard, tiba-tiba suara alarm sistem navigasi darurat berderak keras. Gavin yang tadinya duduk santai langsung melonjak berdiri dari kursinya, wajahnya memucat pasi saat melihat layar monitor utama mendadak menyala merah menyala.
Bukan lagi sinyal militer biasa. Grafik seismik di layar menunjukkan getaran tanah skala masif yang bergerak sangat cepat dari arah luar terowongan—mengejar tepat di belakang jalur rel konduktor lama yang mereka lewati.
"Sial...!" teriak Gavin dengan suara panik gemetar, menatap layar utama dengan mata melotot. "Pintu gerbang pos perbatasan di depan kita sudah ditutup total oleh sistem pertahanan otomatis... dan dari belakang, The Juggernaut telah mendobrak terowongan dengan kecepatan penuh, mengunci jalur kita tanpa ada jalan keluar!"