NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : Drama Kamis & Si Tukang Kabur

 Semua bermula dari pengumuman Bu Linda—guru Sosiologi paling perfeksionis se-SMA Cahaya Permata—beberapa hari lalu.

​"Tugas kali ini dilakukan secara berkelompok. Tugas kalian adalah mewawancarai seorang wirausahawan dan mendokumentasikannya dalam bentuk video. Narasumber dan topik wawancara bebas. Ingat, SEMUA anggota wajib muncul di dalam video, gak ada yang cuma merangkap jadi kameramen sembunyi di balik layar. Nilai plus bakal Ibu ambil dari tingkat kreativitas editing. Jadi, jangan bikin yang asal-asalan!"

​Saat itu, Dinda sempat mengangkat tangan mewakili kecemasan seisi kelas. "Bu, kelompoknya boleh pilih sendiri nggak?"

​"Ibu yang tentukan biar adil. Kelas ini dibagi jadi empat kelompok."

​"Nggak sesuai nomor absen kan, Bu?" celetuk Rian berharap cemas.

​Bu Linda tampak berpikir sejenak. "Sesuai urutan absen aja ya, biar Ibu nggak ribet pas ngerekap nilai."

​Koor desahan kecewa langsung bergema di kelas XI IPS 2.

​"Deadlinenya kapan, Bu?" tanya Rian lagi.

​"Ibu kasih kelonggaran dua minggu dari sekarang. Semua kelompok harus sudah mengumpulkan."

Bu Linda mulai membacakan daftar anggota. "Kelompok dua terdiri dari enam orang: Khafi, Kiara, Fathir, Maira, Nisya, dan Okta."

​Seketika itu juga Kiara langsung menyandarkan punggungnya ke kursi dengan helaan napas berat. Neona yang duduk di sebelahnya cuma bisa menatap prihatin sambil mengelus bahu Kiara sabar. Sekelompok sama Khafi Mahendra? Fix, cobaan hidup.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Jam baru menunjukkan pukul 06.15 WIB, suasana kelas masih sunyi dan sepi, sesekali suara derap langkah terdengar di koridor. Hari kamis adalah hari sibuk untuk Kiara, dimulai dengan piket pagi dan jadwal mata pelajaran hari ini yang akan membuat kepalanya panas.

Dengan rambut sepunggungnya yang terurai karena baru saja dikeramas dan belum sempat untuk dikeringkan, Kiara masih sibuk menyapu lantai kelas.

"Eh anjir, kaget gue!" Pekik Rian saat melihat siluet Kiara dari belakang sedang mengambil sampah yang terdapat di kolong meja bagian pojok belakang.

Kiara yang tadi ikut terperanjat sekarang tertawa pelan. "Sumpah, gue ikut kaget juga!"

Rian mengusap dadanya. "Ini baru jam berapa Kiara," ia mengalihkan tatapannya ke jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. "Setengah tujuh kurang?!" Ucapnya berlebihan.

Kiara memutar bola matanya lalu lanjut menyapu. "Kenapa sih, Pak KM? Lagi piket gue tuh."

"Lagian pagi banget, lo rajin atau niat?" Rian sedikit menyingkir saat Kiara lewat di hadapannya.

"Emang niat dari kemarin sore," Kiara menjawab dengan malas.

Rian tertawa mendengarnya sembari menyimpan tas di meja. "Semangat deh piketnya. Eh, semangat juga mengejar-ngejar anggota piket yang lain hari ini!"

Seketika, Kiara menghela napas berat sambil menganggukkan kepalanya lemah, lalu melambaikan tangan kepada Rian yang pergi melangkah keluar kelas.

Ketika murid-murid lain mulai berdatangan, Kiara sudah menyelesaikan bagian tugas piketnya.

"Kia, sorry banget gue dateng agak siangan. Lo udah piket?" Ujar Nisya yang baru sampai, langsung menghampiri Kiara yang sedang minum di bangkunya.

"Gue udah nyapu barusan, tinggal barisan kiri aja yang belum Nis."

Nisya mengangguk. "Oke deh. Yang cowoknya belum pada datang?"

Kiara menyimpan botol Tupperware di pinggir meja seraya menggelengkan kepalanya. "Boro-boro."

Nisya ikut menggelengkan kepalanya. "Hadeuh... Ya udah deh gue nyapu dulu."

"Semangat..." ucap Kiara yang dibalas acungan jempol dari Nisya.

sebagian murid yang memang datang agak pagian, termasuk Geng Pojok yang lupa mengerjakan tugas atau memang niat untuk 'berdiskusi' bersama mulai rusuh di kejar waktu, kecuali Pandu yang sudah duduk anteng di mejanya sendiri memainkan game. Kiara yang tangannya sedang sibuk mengikat rambut setelah dirasa kering terganggu saat sebuah lengan menghalangi pandangan cermin di depannya untuk menggapai tempat alat tulisnya yang memang dipakai senderan.

"Apa sih! Orang mah bilang dulu kalau mau minjem. Di kata punya lo apa ini tempat pensil." ucapnya sewot kepada Khafi, tangannya mulai merebut tempat pensil miliknya yang masih di genggaman Khafi.

Khafi terganggu dengan tangan Kiara yang menghalanginya untuk mencari benda yang ingin ia pinjam, dengan berdecak ia menahan tangan Kiara yang mengganggu. "Bentar doang, elah. Penggaris lo mana sih?"

Kiara mengibaskan tangan Khafi sebal, lalu ia merebut tempat pensil tersebut sambil merogoh sebentar mengambilkan benda yang yang diinginkan Khafi.

"Makannya pekerjaan rumah tuh dikerjain di rumah, bukan di sekolahan, Khafii!" Omelnya sambil memberikan penggaris tersebut.

Dengan raut malas, Khafi langsung mengambilnya. "Panas banget ini kuping pagi-pagi," ucapnya, lalu sebelum beranjak pergi Ia menyempatkan menarik kunciran rambut Kiara yang sudah rapi menjadi berantakan lagi.

Kiara menjerit kesal, ia lantas bangkit dan mengejar Ghibran yang otomatis lari berkeliling mengitari kelas.

"Ni dua anak ayam kandangin dulu deh, masih pagi udah aktif aja," Kata Neona yang baru saja datang dan menyimpan tasnya.

"Geura cicing kalian teh!" Ferdi yang bahunya terdorong Khafi mengomel karena gambar kubusnya melonceng dari garis.

Pagi hari yang indah bukan?

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   "Lo udah ngerjain tugas sosio?" dengan suara yang agak keras karena suasana kantin yang ramai, Kiara bertanya kepada Neona.

Neona yang sedang mengantre mie ayam di depannya menggeleng. "Baru diskusi aja sih, sama nyari narasumbernya."

"Kelompok lo udah sampe mana, Ki, ngerjainnya?"

Kiara ikut maju selangkah. "Belum ada progres apa-apa. Baru bikin grup WhatsApp, itu pun si Khafi belum muncul," ucapnya sedikit ngedumel.

Neona berdecak prihatin. "ish ish ish, harus makan hati mulu sih kalau sekelompok sama dia."

Kiara memelas lalu memajukan langkahnya menjadi sejajar dengan Neona "Ibu, mie ayamnya dua ya. Yang satu nggak pake bawang goreng sama seledri."

"Oke, Neng,"

Selagi menunggu pesanannya, Neona memilih tempat duduk terlebih dahulu. Kiara masih anteng melihat mie yang baru ditiriskan lalu dimasukkan ke dalam mangkuk untuk dicampur dengan bumbu.

"Bu, empat ya. Biasa."

Kiara terperanjat kala suara bariton khas pemuda delapan belas tahun menyapa inderanya.

"Kiw, Kuntil! Sendirian aja," siulan dan wajah tengil Khafi terdengar saat Kiara menolehkan kepalanya.

Kiara bergidik, "Geli banget, salah minum obat lo?"

"Diem-diem lo suka kan gue godain? Jujur aja, nggak papa kok, santai. Emang udah biasa cewek-cewek kaya lo tuh."

"Idih, kepedean!"

Khafi tertawa melihat raut wajah Kiara yang menekuk seraya berdecih.

"Karena mood lo lagi bagus, pulang sekolah jangan lupa piket ya, Khafi."

Raut wajah Khafi ikut menekuk. "Ogah." Ucapnya pongah.

Kiara memutar badannya berhadapan dengan Khafi lalu mulai menunjukkan taringnya. "Enak aja! Nggak ada ya ogah-ogahan. Awas aja pulang sekolah gue jagain lo di pintu kelas. Nggak ada alasan juga buat mabal, karena kemarin lo udah ketauan sama Bu Beyin." Kiara menunjukkan senyum penuh kemenangan.

Khafi mengerutkan keningnya. "Gua pulangnya lewat jendela,"

"Terus lo mati karena jatuh dari lantai tiga kena gegarr otak."

Khafi menggelengkan kepala seraya menunjukkan wajah nelangsa. "Bu, dengar tuh Bu, temen Saya ngedoain celaka."

"Dih, emang lo temen gue?" Kiara berucap dengan nada nyolot

Khafi menaikkan satu alisnya. "Berarti gue gebetan lo?" Ia lalu tersenyum penuh kemenangan setelah melihat wajah Kiara yang kemerahan karena kesal.

Kiara hanya mengerjapkan matanya lalu mendengus. Ibu penjaga mie ayam yang sedari tadi memperhatikan tertawa.

"Ini ya, Neng, pesanannya."

Kiara mengalihkan pandangannya, lalu mengambil dua mangkuk mie ayam itu "iya, makasih Ibu..." ucapnya sembari tersenyum manis.

Melihat Kiara yang akan melangkah melewati dirinya, Khafi kembali berucap. "Awas hati-hati. Perlu dibantu nggak, gebetanku?"

Kiara kembali menatap Khafi dengan muka sebalnya. "Nggak perlu, makasih! Nggak sudi." Ia lalu berjalan melewatinya.

Khafi hanya memperhatikan Kiara yang menjauh sambil terkekeh puas.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   "Nggak, nggak boleh." Dengan memasang kuda-kuda yang kuat, Kiara berdiri di tengah pintu keluar kelas dengan kedua lengan yang terbuka lebar untuk menghalangi jalan.

Khafi diam memperhatikan Kiara sambil menghela napas. "Ini beneran lho, kalau lo nggak awas, gue dorong."

Kiara menunjukkan wajah seriusnya sambil mempertahankan posisi. "Coba aja kalau berani."

Khafi mulai menatapnya dengan lelah, setelah 10 menit terjebak dikelas hanya dengan Kiara yang sedari tadi menahannya untuk piket.

"Mama gue aja nggak pernah nyuruh bersih-bersih rumah, kok lo enak banget main maksa gue."

Kiara tersulut emosi. "Ya beda dong, Khafi! Walaupun lo nggak piket, sama aja bohong lo nggak bayar denda juga. Enak banget, gaya lo kaya anak Mami."

Khafi jadi meradang karena perkataan Kiara. "Yaudah lah, mana? Gue ngapain di sini?" Ucapnya agak nyolot.

Dengan senang hati, Kiara menunjuk ember hitam yang di dalamnya sudah ada sebuah pel yang tersedia di pojok kelas. Khafi mengambilnya, lalu mulai mengerjakan dengan Kiara yang masih mengamati dengan sesekali membantu.

Setelah keheningan yang lama, suara Kiara menggema di kelas. "Kenapa sih, lo nggak pernah nimbrung di grup WhatsApp kelompok sosio?"

Khafi menyeka keringatnya menggunakan lengan seragam. "Nggak kebaca, banyak notif grup lain. Emang udah nyampe mana progresnya?" suara Khafi menimpali sembari lengannya terus bergerak mengepel lantai.

"Belum ada progres apa-apa.Gue sama yang lain nggak ada kenalan wirausaha,"

"Sedikit amat relasi lo pada."

Kiara mendelik, lalu menunjuk bagian yang kotor. Khafi mendengus, tapi nurut untuk membersihkannya.

"Ya mau gimana lagi. Lo ada saran nggak?"

Khafi berhenti sejenak. "Deadline kapan emang?"

"Semingguan lagi..."

"Ntar gue tanya Mama gue dulu lah, siapa tahu bisa. Kalau nyari yang lain mepet deadline soalnya,"

Mata Kiara membulat. "Emang Mama lo wirausaha?"

Khafi mengangguk, istirahat sejenak dengan duduk di hadapan Kiara. "Buka usaha donat kecil-kecilan, tapi lumayan, buat hobi katanya."

"Harusnya lo nimbrung diskusi dari kemarin-kemarin tahu! Kalau gitu kan paling tinggal editing ajaa,"

Melihat wajah Kiara yang kesal, Khafi hanya mengangkat kedua bahunya acuh lalu menunjuk botol Tupperware Kiara yang berada di pinggir tas. "Bagi minum dong, haus gue."

Kiara ikut melirik Tupperware-nya, lalu mengambil dan menyodorkan ke Khafi. Khafi mengambilnya lalu menatap Kiara sebelum membuka tutup botol itu untuk segera diteguknya. "Gratis kan ini? Nggak minta diganti kan?"

Kiara menggeleng seraya tertawa pelan, lalu mengambil kembali botolnya yang sudah kosong.

"Jadi, kapan kita wawancara nya?"

"Ya ntar gue tanya dulu. Tapi Mama selalu free sih, kalau bisa ya paling besok langsung gas."

Kiara menerawang. "Keren banget Mama lo, buka usaha tapi tetep bisa free..." sedangkan Mamanya bahkan tidak bisa untuk menemani dia bercerita walaupun sebentar.

Khafi yang masih duduk dihadapannya menatap dalam diam. "Kadang nggak keren juga sih, selalu tiba-tiba menyulut emosi soalnya."

Suasan yang awalnya terasa sendu seketika pecah, suara tawa pelan Kiara terasa bergema di suasana kelas yang sunyi itu. "Seru banget pasti," ujarnya kembali mengingat perdebatan antara ibu dan anak itu saat berada di minimarket.

Melihat Khafi yang masih menatapnya, Kiara kembali mengerjapkan matanya lalu bangkit dari duduk. "Ayo cepetan beresin! Udah mau jam setengah lima, sopir gue udah nunggu di depan nih." ucapnya sambil menatap ponsel.

Khafi ikut bangkit sembari mendengus lalu mulai melanjutkan mengepel. Setelah selesai, ia menutup pintu kelas lalu membawa ember dan pel tersebut ke kamar mandi untuk dibersihkan.

Kiara tetap mengekorinya sambil membawakan tas milik Khafi.

Setelah dirasa tangannya cukup bersih, Khafi mengambil alih tasnya dari tangan Kiara

"Udah sana, gue mau ke parkiran belakang ngambil motor."

Kiara hanya mengangguk setuju, kemudian berjalan ke arah gerbang depan. Saat akan menaiki mobilnya yang sudah menunggu sedari tadi, ia melihat Khafi membunyikan suara klakson motornya dengan alis yang dinaikkan dari balik helm full face-nya.

Kiara membalas dengan menganggukkan kepala sambil sedikit tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil untuk pulang kerumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!