NovelToon NovelToon
Obsesi Cinta Sang Bodyguard

Obsesi Cinta Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Penyelamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.

"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Perjanjian pernikahan kontrak

"Baiklah, kita mulai saja. Nona Nayla dan bang Ethan, silakan ikut penata rias untuk bersiap. Saya akan merapikan pakaian pengantin Tuan Ethan." Perancang busana tampak menyempurnakan kerah kemeja putih yang dikenakan Ethan. Tampil sederhana namun berkelas, berpadu indah dengan latar belakang kolam renang yang menghiasi kediaman mewah keluarganya.

"Baiklah, saya ke sana dulu..."

Sore itu, Nayla tampak anggun mengenakan gaun berwarna putih gading dengan aksen rok selutut bernuansa merah muda. Rambut panjangnya terurai indah, ujungnya bergelombang lembut. Pesonanya begitu memikat hingga Ethan tak kuasa menahan pandangannya sejak tadi, terpaku mematung.

"Kita akan memanfaatkan siluet matahari terbenam sebagai latar sore ini. Sesi pemotretan dalam ruangan akan kita lakukan besok di studio."

"Baik... haruskah saya duduk di sini?"

Ethan duduk di kursi santai berwarna putih, mengikuti arahan penata gaya. Ibunya, Yohana, tampak tak menyembunyikan antusiasmenya mengawasi proses pemotretan pra- wedding putra tunggalnya.

Setelah beberapa saat Ethan berfoto sendirian, kini giliran Nayla yang mendekat mengenakan gaun satin putih yang mengalir indah membalut tubuh rampingnya. Dua penata gaya menata posenya, sementara sang fotografer bersiap menangkap momen itu.

"Bagus... tenang saja, Nona. Pertahankan senyumnya!" Nayla mengangguk pelan, hatinya berdebar cemas di bawah tatapan tajam pria yang kelak menjadi suaminya — pria yang tak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya padanya.

Klik... Klik... Klik...

"Sempurna! Sekali lagi!" Seru fotografer antusias. Wajah Nayla ternyata sangat memikat di balik lensa kamera.

"Bagaimana hasilnya, pak?"

"Luar biasa cantik, Nyonya. Tinggal sesi berdua saja."

"Hahaha... bukankah menantuku cantik sekali?"

"Benar sekali. Mereka berdua tampak serasi luar biasa."

Sementara penata gaya memberi arahan kepada Ethan dan Nayla, tak jauh dari sana Yohana tampak sibuk memeriksa hasil foto yang baru saja tercetak.

"Matahari terbenamnya begitu indah... pertahankan posisinya!" Nayla semakin gugup. Rasanya waktu berjalan sangat lambat, dan jantungnya berdegup kencang luar biasa.

"Aduh... anak itu kenapa hanya melamun saja?" Yohana bergumam kesal melihat putranya yang diam terpaku saat fotografer memintanya mengecup kening Nayla.

"Ethan! Cium keningnya! Aduh... kalian berdua sejak tadi hanya diam saja!" Kini Yohana tampak sibuk menyeleksi hasil foto dengan wajah berseri-seri. Latar belakang matahari terbenam membuat foto mereka tampak begitu romantis dan sempurna.

"Ethan, menurutmu foto ini bagaimana? Cantik bukan? Bagaimana kalau kita pakai yang ini?"

"Buruk! Terlalu muram, aku tidak suka!" Ethan langsung menolak dengan ketus. Ia menatap tajam foto yang menampilkan dirinya mengecup kening Nayla. Jijik sekali rasanya.

"Ya ampun... berarti yang ini kurang pantas? Bagaimana kalau yang ini? Nayla, menurutmu bagus tidak?"

"Buruk!" Mereka berdua serentak menjawab sama, membuat fotografer tak kuasa menahan senyum kecil.

"Yang ini sangat indah. Pasti akan tampak romantis jika dicetak di kartu undangan atau dipajang di aula resepsi."

"Mom... untuk undangan tidak perlu ada foto kami. Itu memalukan."

"Apa katamu memalukan?! Di mana-mana undangan pernikahan pasti memuat foto kedua mempelai! Kamu saja yang terlalu berlebihan!" Ethan menggeleng kesal. Kalau foto seperti itu tercetak di undangan, sepupunya pasti akan menertawakan habis-habisan.

"Saya setuju... sebaiknya undangan tanpa foto saja," sahut Nayla lirih sambil menunduk. Rasa gugupnya memuncak di bawah tatapan tajam Ethan yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.

"Kalian berdua ini! Sudah... biar Mommy saja yang memilih. Pak Fotografer, yang ini saja ya."

"Siap, Nyonya. Hasilnya akan saya cetak dengan sebaik mungkin."

"Mommy... foto itu jelek sekali!"

"Diamlah! Kalian sejak tadi hanya menolak terus! Ikut saja pilihan Ibu. Cukup berfoto dengan baik dan jangan banyak protes!"

"Aduh... baiklah, terserah Mommy saja!" Wajah Ethan memerah padam menahan amarah. Ia mengacak rambutnya frustrasi lalu berdiri kasar dari kursi.

"Ini semua karena kau!" Nayla hanya menunduk meremas tangannya erat, berusaha bersabar demi kebaikan keluarganya.

Setelah sesi pemotretan dan makan malam bersama keluarga calon mertuanya selesai, Yohana meminta Ethan mengantar tunangannya pulang. Tak ada pilihan lain selain menurut, daripada harus berhadapan dengan kemarahan ibunya.

"Antarkan calon menantu Ibu dengan selamat. Pastikan Nayla sampai rumah dengan baik."

"Baik, mommy... ayo, berangkat!"

Ethan berjalan lebih dulu menuju mobil BMW merahnya. Dari balik jendela, dia memperhatikan ibunya yang masih memeluk dan membujuk Nayla saat berpamitan.

"Maafkan sikap Ethan... dia memang agak keras, tapi sebenarnya anak baik," bisik Yohana lembut.

"Baik, Tante. terima kasih atas jamuan makan malamnya."

"Sampaikan salamku kepada kedua kakakmu. Hati-hati di jalan, Nak." Nayla mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan kepada Yohana saat mobil mewah itu melaju meninggalkan kediaman mewah itu.

"Kita harus bicara serius," ujar Ethan tanpa menoleh, matanya tetap menatap jalan. Ia melirik sekilas ke arah Nayla yang tampak lebih asyik memandang pemandangan malam di luar jendela daripada menatapnya.

"Silakan saja. Sebaiknya memang diluruskan dari awal, karena aku pun tak menyukai keadaan ini."

"Bagus!" Ethan membelokkan mobilnya dengan kasar menuju kawasan pertokoan yang masih ramai malam itu. Dia memarkirkan kendaraannya lalu membuka pintu mobil dengan keras.

"Turun. Kita bicarakan di kafe itu!" Nada bicaranya terdengar dingin dan memerintah. Saat pintu mobil dibanting keras, Nayla menatapnya ngeri. Pria itu sama sekali tak menyisakan sedikit pun kelembutan padanya.

"Sudah sangat jelas bukan? Aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi sebaiknya kita akhiri saja. Aku akan menemui keluargaku dan keluargamu untuk membatalkan rencana ini."

Nayla menunduk memandang lantai marmer kafe, tangannya meremas erat di pangkuan. Jika pernikahan batal, keluarganya bisa terancam kesulitan hidup dalam waktu dekat.

"Katakan sesuatu, Nayla! Jangan hanya diam! aku sungguh-sungguh tidak ingin menikah denganmu!"

"Aku pun tidak ingin. Yang paling aku takutkan hanyalah mengecewakan ibu kamu... beliau sudah menaruh harapan begitu besar pada kita."

"Apa katamu?!" Ethan mengusap tengkuknya frustrasi. Dia lupa satu hal — kekecewaan kedua orang tuanya, terutama ibunya. Tak sanggup rasanya menyakiti hati wanita yang melahirkannya itu.

"Lalu apa yang harus kulakukan? Sial... kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini!"

"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian pernikahan saja?"

"Kamu bilang apa?" Mata Ethan melotot tak percaya.

"Kita menikah dengan perjanjian di antara kita. Dengan begitu, kedua orang tua dan keluarga kita tidak akan kecewa."

"Sial... aku harus membuat perjanjian dengan wanita asing yang tak kukenal!"

"Diamlah! Aku melakukan ini karena kasihan padamu!"

"Apa?! Aku tidak butuh dikasihani, apalagi olehmu! Sialan kau!"

"Pelayan!" Nayla tiba-tiba memanggil pelayan kafe sambil menyodorkan selembar uang. "Bisa tolong belikan kami kertas tulis dan pulpen? Uangnya lebih, ambil saja kembaliannya."

"Baik, sebentar ya." Ethan masih berkerut bingung saat pelayan kembali membawa empat lembar kertas dan sebatang pulpen.

"Ini silakan."

"Terima kasih." Nayla menyodorkan selembar kertas kepada Ethan lalu memberi isyarat agar dia mulai menulis.

"Tuliskan hak dan kewajiban masing-masing. Apa yang kau minta dan apa yang ku minta. Kita sepakati sekarang juga." Ethan terdiam. Pernikahan dengan perjanjian... berarti dia akan terikat pada gadis ini dalam waktu tertentu.

1
Ananda Boy
lanjutin kak, wahhhh buku baru😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!