Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Kehadiran Sang Tiran Ketiadaan
Di dalam kabin Perahu Giok Naga yang melesat membelah kehampaan astral, suasana diselimuti oleh keputusasaan yang sunyi.
Zhao Ying terbaring lemah di atas ranjang giok. Darah biru keemasan terus merembes dari sudut bibirnya, menodai gaun putihnya. Di punggungnya, ilusi Roda Bintang yang selama ini memancarkan keagungan es abadi kini retak dan berkedip redup. Luka Dao akibat benturan dengan kekuatan Nirvana milik Kaisar Naga Primal sedang menggerogoti fondasinya.
Zeng Niu duduk bersimpuh di sampingnya, kedua telapak tangannya menempel di punggung Zhao Ying. Urat-urat emas kegelapan di lengannya berdenyut liar. Zeng Niu sedang memompa seluruh energi primordial dari Tulang Emas Asura dan Benih Dunia-nya untuk menahan agar retakan pada Roda Bintang itu tidak meluas.
Napas Zeng Niu memburu. Wajahnya dipenuhi keringat dingin. Ia, yang tidak pernah gentar menghadapi seratus ribu pasukan zirah emas atau kaisar purba, kini merasakan sebersit rasa takut yang nyata.
"Bertahanlah, Ying'er... Aku akan memeras seluruh darah di Langit Selatan jika itu yang kubutuhkan untuk menemukan obat bagimu," bisik Zeng Niu, suaranya parau.
Tiba-tiba, mata Zhao Ying terbuka lebar. Bukan warna biru jernih seperti biasanya, melainkan seputih salju. Tubuhnya menegang, dan suhu di dalam kabin perahu yang tadinya telah dihangatkan oleh Qi Zeng Niu anjlok tajam menembus batas beku!
WUUUUUUNG!
Sebuah fluktuasi yang sama sekali asing meledak dari dalam Roda Bintang Zhao Ying. Fluktuasi ini tidak memiliki elemen, tidak memiliki Qi, dan anehnya... tidak terasa berasal dari alam semesta ini!
Zeng Niu terlempar ke belakang oleh gelombang energi tersebut. Ia menghantam dinding kayu dewa perahu hingga retak, memuntahkan seteguk darah.
"Apa yang—"
Di dalam Lautan Kesadaran Zeng Niu, Lei Ling menjerit histeris dengan nada yang belum pernah Zeng Niu dengar sebelumnya. Itu bukan sekadar ketakutan; itu adalah teror dari seekor anjing yang melihat majikannya!
"Niu! T-Turunkan kepalamu! Jangan menatapnya! Demi Surga, itu... itu fluktuasi dari Sang Ketiadaan! Dewa Sejati dari semesta lamaku!" raung Lei Ling, tubuh roh petirnya menyusut sebesar kepalan tangan dan bersembunyi di sudut tergelap Lautan Kesadaran.
Sebelum Zeng Niu bisa mencerna ucapan roh pedangnya, ruang di dalam kabin perahu itu melengkung dan terdistorsi. Cahaya bintang dari luar jendela meredup, seolah seluruh cahaya di sekitarnya tersedot oleh sebuah singularitas yang baru saja lahir.
Dari atas tubuh Zhao Ying, perlahan bermanifestasi sesosok bayangan ilusi.
Bayangan itu berwujud seorang pria berambut panjang berwarna abu-abu perak. Ia mengenakan jubah hitam pekat dengan sulaman bintang perak yang menyerap cahaya. Namun, yang paling mengerikan adalah matanya sepenuhnya hitam legam tanpa bagian putih mata, mencerminkan jurang kosmik yang sanggup menelan segala hukum penciptaan.
Di belakang bayangan pria itu, samar-samar terlihat ilusi Sepuluh Roda Bintang! Roda kesepuluhnya berwarna hitam, memancarkan Otoritas Ketiadaan.
Ia adalah Zhao Xuan. Sang Tiran Ketiadaan, Pendiri Kekaisaran Asura, dan Dewa Sejati Tertinggi dari semesta lain tempat Zhao Ying berasal! Ini hanyalah serpihan jiwa pelindung yang ia tanamkan pada putrinya jika nyawanya terancam, namun tekanannya sudah cukup untuk membuat perahu tingkat kosmik ini berderit hancur.
Mata hitam legam Zhao Xuan menatap tajam ke arah Zeng Niu. Di wajahnya, terukir 'Seringai Asura' sebuah senyum tipis yang memancarkan dominasi kuat dan kedinginan sang penjemput ajal.
"Jadi... ini pemuda yang berani membawa putri kesayanganku?" suara Zhao Xuan tidak keras, namun menggema langsung di jiwa Zeng Niu, membuat Benih Dunia di Dantian Sang Algojo berhenti berputar seketika!
BAM!
Tanpa ada angin atau Qi yang menyentuhnya, tubuh Zeng Niu dipaksa berlutut dengan satu kaki. Tulang Emas Asuranya berderak hebat, mencoba menahan tekanan itu, namun gaya gravitasi dari Domain Ketiadaan milik Zhao Xuan berada di dimensi yang sepenuhnya berbeda.
Zeng Niu menggertakkan giginya hingga berdarah. Matanya yang sebelah emas dan sebelah hitam memancarkan penolakan keras. Ia adalah algojo, ia tidak pernah berlutut pada siapa pun! Ia mencoba meraih gagang Nisan Petir Asura di punggungnya.
"Menarik. Semut fana dari semesta rendah ini memiliki sepercik Niat Ketiadaan dan Tulang Emas yang tidak sempurna," Zhao Xuan tersenyum dingin. Ia hanya melentikkan satu jarinya.
KRAAAK!
Lantai giok di bawah kaki Zeng Niu hancur. Kedua lututnya menghantam lantai dengan keras. Tubuhnya terpaku ke tanah, tidak bisa menggerakkan satu otot pun! Pedang Nisan Petir Asura di punggungnya bergetar hebat, namun tidak berani keluar dari sarungnya.
"Niu! Berhenti melawan! Dia adalah Zhao Xuan! Sang Penguasa Kehampaan! Jika dia mau, sisa jiwanya ini bisa menghapus konsep eksistensimu dari alam semesta ini!" jerit Lei Ling panik.
"Aku... tidak peduli dia siapa..." geram Zeng Niu dengan darah mengalir dari sudut bibirnya, menatap lurus ke mata hitam legam calon ayah mertuanya itu. "Dia mungkin dewa di semestanya... tapi di sini... dia hanya bayangan yang menumpang di tubuh istriku!"
Mendengar kata 'istriku', mata Zhao Xuan menyipit mematikan. Hawa pembunuhan yang telah menghancurkan ribuan dewa di semestanya meledak sesaat.
"Keberanianmu melampaui kebodohanmu, Bocah," ucap Zhao Xuan. Tiba-tiba, bayangannya menghilang dari atas tubuh Zhao Ying dan muncul tepat di hadapan Zeng Niu.
BUGH!
Sebuah tendangan tak kasat mata menghantam perut Zeng Niu. Sang Algojo terpental menabrak dinding kabin, memuntahkan seteguk darah besar.
BAM!
Belum sempat ia jatuh, Zhao Xuan muncul di atasnya, menginjak dada Zeng Niu. Tulang Emas Asuranya mengerang menahan tekanan yang mencoba meremukkannya.
"Kau berjanji akan menjaganya," Zhao Xuan berbisik dingin, matanya menatap tajam. "Namun saat ini, fondasi putri kesayanganku retak akibat kau membawanya masuk ke makam kadal berbau tanah. Jika bukan karena hukum alam semestamu menolak tubuh asliku, aku akan membelah langit ini dan mengubah planetmu menjadi lautan abu."
Zeng Niu terbatuk, darah menyembur. Namun, Sang Algojo justru tertawa biadab.
"Hehe... hahahaha! Bapak Tua... pukulanmu lumayan juga untuk ukuran jiwa," ejek Zeng Niu, matanya berkilat liar menantang sang tiran. "Aku yang membawanya kemari. Karma ini milikku. Jika kau ingin membunuhku, lakukan saja! Tapi sebelum itu, obati Luka Dao-nya!"
Mendengar Zeng Niu berani mengumpat dan memanggilnya 'Bapak Tua', alis Zhao Xuan sedikit terangkat. Dalam sejarah semestanya, bahkan Kaisar Naga Sejati Long Chen (saudara angkatnya) akan berpikir dua kali sebelum memanggilnya dengan nada seperti itu.
Zhao Xuan menarik kakinya dari dada Zeng Niu. Ia berbalik, melangkah mendekati ranjang giok tempat Zhao Ying terbaring.
Seringai asura di wajah Zhao Xuan menghilang, digantikan oleh kelembutan yang hanya ia tunjukkan pada keluarganya. Ia menyentuh kening putrinya. Dari Roda Bintang 10 ilusi di punggungnya, mengalir Qi Ketiadaan Primordial yang murni. Energi itu tidak menyembuhkan dengan elemen, melainkan menghapus konsep 'luka' dari Roda Bintang 7 Zhao Ying.
Hanya dalam sepuluh tarikan napas, retakan pada Roda Bintang Zhao Ying menutup sempurna. Napasnya kembali teratur, dan rona merah kembali menghiasi wajah pucatnya.
Zeng Niu, yang masih bersandar di dinding dengan napas tersengal, melihat hal itu dan menghela napas lega yang luar biasa panjang.
Saat Zhao Xuan menarik tangannya, bulu mata Zhao Ying bergetar pelan. Mata biru jernihnya perlahan terbuka.
Begitu ia melihat sosok pria berambut perak dengan jubah hitam bintang di hadapannya, mata Dewi Es itu melebar. Benteng pertahanan sedingin es yang selalu ia tunjukkan pada dunia seketika runtuh.
"A-Ayah...?" suara Zhao Ying bergetar.
Air mata menetes dari sudut mata birunya. Selama ini, ia selalu tampil kuat dan dingin di samping Zeng Niu, namun jauh di lubuk hatinya, ia adalah seorang putri yang terdampar sendirian di dimensi yang asing.
Zhao Xuan tersenyum hangat, mengusap air mata putrinya. "Gadis bodoh. Kenapa kau menangis? Ibumu (Xiao Mei) akan memarahiku jika dia melihat putrinya meneteskan air mata."
"Aku rindu Ayah... rindu Ibu... rindu Kakek dan semuanya," isak Zhao Ying, memeluk lengan ilusi ayahnya.
"Kami juga merindukanmu, Ying'er. Kakekmu (Patriark Xin Cang) bahkan nyaris menghancurkan formasi dimensi semesta kita karena marah saat tahu kau terlempar kemari. Namun, kami tidak bisa memaksa masuk. Pemimpin alam semesta ini, serta para dewa penjaga dari dimensimu ini, akan menganggap kedatangan kami sebagai invasi invasi dewa tingkat atas. Perang antar semesta akan menghancurkan tempat ini menjadi ketiadaan, dan kau bisa ikut musnah di dalamnya."
Zhao Ying mengangguk pelan, memahami beban dan batasan yang harus ditanggung ayahnya sebagai Dewa Sejati Tertinggi. Ia mengusap air matanya.
"Kau telah tumbuh kuat," puji Zhao Xuan, menatap Roda Bintang 7 di punggung putrinya. "Mewarisi darah Taiyin ibumu dan darah Asura-ku. Aku bangga padamu. Mungkin, suatu hari nanti, kau akan memadatkan Roda Kesepuluh seperti milikku."
Zhao Xuan menepuk kepala Zhao Ying, lalu perlahan bangkit berdiri. Matanya yang hangat kembali berubah menjadi hitam saat menatap Zeng Niu di sudut ruangan.
Zeng Niu baru saja berdiri dengan susah payah, menyeka sisa darah di bibirnya.
"Hei, Bapak Mertua," Zeng Niu menyeringai menantang. "Terima kasih sudah mengobati wanitaku. Dan pukulan tadi, anggap saja kita impas. Tapi jangan harap aku akan menundukkan kepalaku lagi padamu."
Zhao Xuan mendengus pelan, sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya. "Bocah arogan yang keras kepala. Jika kau lahir di semestaku, aku mungkin sudah melemparmu ke dalam Tungku Pemusnah Dewa milik Chen Nan untuk dimasak."
Namun, di balik kata-katanya, Zhao Xuan menyadari sesuatu. Pemuda ini berani menantang tekanan dari Dewa Sejati demi meminta kesembuhan untuk putrinya. Kekejamannya terhadap musuh dan keteguhannya... mengingatkan Zhao Xuan pada dirinya sendiri di masa lalu, saat ia masih membangun Kekaisaran Asura.
Zhao Xuan mengangkat jarinya, dan seberkas cahaya hitam melesat lurus menembus dahi Zeng Niu!
Zeng Niu terkejut, namun ia tidak merasakan sakit. Sebaliknya, Lautan Kesadarannya dibanjiri oleh aliran informasi raksasa. Itu adalah sebuah teknik!
"Aku menanamkan sisa jiwaku padanya, bukan pada semut sepertimu," ucap Zhao Xuan dingin, bayangannya mulai memudar karena hukum alam semesta ini mulai menekannya. "Namun, aku memberikanmu sebagian dari pemahaman [Otoritas Ketiadaan: Penghapusan Konsep Dasar]. Kau telah menelan Sumsum Emas dan membentuk Dantian Singularitas, tapi kau masih menggunakan kekuatanmu seperti kera yang memegang gada."
Zeng Niu terdiam, matanya terbelalak merasakan kedalaman Dao Ketiadaan yang jauh melampaui apa yang ia pelajari sendiri.
"Dengarkan baik-baik, Bocah," suara Zhao Xuan mulai bergema samar. "Jika kau ingin mengantarkan putriku pulang dengan selamat melintasi celah semesta, kau tidak bisa melakukannya dengan ranah menyedihkan ini. Tingkatkan kultivasimu! Temui aku di batas akhir alam semestamu saat kau mencapai Dewa Abadi. Jika saat itu kau masih terlalu lemah... aku sendiri yang akan mencabut nyawamu."
Bayangan Sang Tiran Ketiadaan akhirnya memudar sepenuhnya menjadi butiran cahaya perak, meninggalkan kabin Perahu Giok Naga dalam keheningan.
Zhao Ying menyeka sisa air matanya, ekspresinya kembali tenang dan kuat. Ia menatap Zeng Niu yang masih berdiri mematung memproses teknik dewa di kepalanya.
"Kau baru saja dimarahi dan dipukuli oleh ayahku," ucap Zhao Ying datar, namun dengan kilatan geli di matanya.
Zeng Niu mengusap rahangnya yang masih berdenyut. Ia menyeringai biadab, matanya kini memancarkan tekad yang jauh lebih gila dari sebelumnya.
"Keluargamu benar-benar sekumpulan monster, Ying'er," kekeh Zeng Niu, melirik keluar jendela ke arah lautan bintang. "Dewa Abadi, ya?"