Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Bakar-Bakar di Taman
Karina membeku dengan tangan masih menempel pada gagang pintu.
Ia berbalik perlahan.
Sebastian berdiri bersandar pada bingkai pintu garasi. Satu tangan masuk ke saku celana, tangan lain memainkan kunci mobil. Kemeja kerjanya masih sama seperti saat sore, tetapi lengan telah digulung sampai siku.
Tak ada pengawal di belakangnya.
"Mau ke mana malam-malam bawa koper?" tanyanya.
Pikiran Karina kosong.
Ia bergerak setengah langkah, mencoba menutupi koper dengan tubuh meski benda itu tetap terlihat jelas.
"Cuma... cuma mau beresin barang lama."
"Di pintu keluar?"
"Garasinya lebih luas."
Sebastian melirik koper, lalu pintu yang masih dipegang Karina. "Luas untuk apa?"
Karina tidak punya kebohongan ketiga.
Ia melepaskan gagang pintu dan berdiri tegak. Jika Sebastian hendak memanggil petugas, mengambil HP, atau menguncinya di kamar, setidaknya ia akan menghadapinya tanpa memohon.
"Saya cuma mau keluar sebentar."
"Dengan dokumen dan pakaian anak-anak."
Berarti ia sudah tahu isi koper.
Karina mencengkeram pegangannya. "Anda memeriksa barang saya?"
"Tidak perlu. Bungkusan perban Nathan terlihat dari saku samping."
Karina melihat ujung kertas kecil yang memang menyembul dari ritsleting. Ia mendorongnya masuk, terlambat untuk menyangkal.
Sebastian diam beberapa detik. Tatapannya tidak marah, justru terlalu tenang. Itu membuat Karina bersiap menghadapi sesuatu yang lebih buruk daripada bentakan.
Namun lelaki itu mengangkat kunci mobil dan menangkapnya dengan telapak.
"Anak-anak ingin makan sate malam-malam," katanya. "Bantu bakar, bagaimana?"
Karina berkedip. "Apa?"
"Sate. Di taman."
"Mereka sedang tidur."
"Bisa dibangunkan. Besok tidak ada kelas pagi."
"Anda menemukan saya membawa koper ke pintu belakang, lalu ingin bakar sate?"
"Kamu tadi bilang sedang membereskan barang lama. Jadi tidak ada masalah lain yang perlu dibahas, kan?"
Karina menatapnya. Sebastian jelas tidak percaya alasannya. Ia hanya memilih membiarkan kebohongan itu berdiri.
"Pak Darto," panggil Sebastian.
Sopir yang berjaga di sisi luar garasi muncul dari dekat pos, cukup jauh untuk tidak mendengar percakapan sebelumnya.
"Tolong minta Bi Asih bangunkan Nathan dan Lucas. Siapkan pemanggang kecil di taman samping, bukan bagian belakang."
"Baik, Pak Sebastian."
Pak Darto pergi tanpa melirik koper.
Sebastian berjalan melewati Karina. Langkah kirinya masih sedikit hati-hati, tetapi tidak lagi kaku seperti sore tadi.
"Kopernya?" tanya Karina.
"Biarkan di situ. Tidak akan lari sendiri."
"Yang ingin lari bukan kopernya," gumam Karina.
Sebastian berhenti, tetapi tidak menoleh. "Saya tahu."
Taman samping segera diterangi dua lampu portabel. Pemanggang arang kecil diletakkan jauh dari semak dan jalur menuju taman khusus. Bi Asih membawa daging ayam yang sudah dibumbui ringan, lontong, irisan timun, dan dua mangkuk sambal dengan tingkat pedas berbeda.
Nathan datang sambil mengucek mata. Begitu melihat tusuk sate, kantuknya hilang setengah.
"Kita masak sendiri?"
"Dengan bantuan," kata Karina. "Jangan dekat arang tanpa Mama atau Papa."
Lucas masih mengenakan piyama dan langsung meminta duduk di pangkuan Karina. Ia mencoba meniup bara dari dekat, tetapi Karina menarik wajahnya menjauh.
"Nggak boleh tiup langsung. Abunya bisa masuk mata."
Sebastian memberinya kipas kecil. "Dari sini. Pelan."
Lucas menggerakkan kipas terlalu cepat. Asap berbalik ke wajah Sebastian, membuat Nathan tertawa.
"Bukan ke Papa," kata Lucas panik.
"Baranya di bawah," ujar Sebastian sambil menggeser posisi kipas. "Arahkan ke sini."
Nathan mendapat penjepit panjang. Karina berdiri di sampingnya, membantu membalik satu tusuk demi satu. Anak itu berkonsentrasi begitu keras seolah sedang mengurus makan malam satu desa.
"Yang ini gosong?"
"Belum. Pinggirnya saja yang kecokelatan. Balik sekali lagi."
"Kalau gosong, Papa makan," kata Lucas.
Sebastian menatapnya. "Kenapa saya?"
"Papa besar."
Tawa Karina lepas sebelum sempat ditahan. Sebastian hanya menggeleng, tetapi ia benar-benar mengambil tusuk yang paling gelap ketika sate matang.
Udara malam dipenuhi aroma daging bakar dan suara anak-anak. Ketegangan di garasi terasa semakin jauh, meski Karina masih tahu koper menunggunya di dekat pintu.
Sebastian menyerahkan sebuah piring kepadanya. "Ini."
Sate di atasnya dilapisi sambal merah pekat. Karina refleks menarik kepala.
"Yang nggak pedas ada?"
Tangan Sebastian berhenti.
Dalam kehidupan sebelumnya, Karina lama selalu meminta sambal paling pedas. Ia pernah menghabiskan semangkuk sambal hanya untuk membuktikan dirinya tidak kalah dari siapa pun di meja. Perempuan di hadapannya bahkan mundur sebelum mencicipi.
Perbedaan kecil. Satu lagi.
Sebastian tidak menunjukkan apa yang dipikirkannya. Ia menukar piring itu dengan sate tanpa sambal dan memakan bagian pedas sendiri.
"Terima kasih," kata Karina.
"Hm."
Lucas mencuri sepotong timun dari piring Karina. Nathan duduk di sisi lain, bangga pada tiga tusuk sate yang menurutnya ia masak sendiri. Untuk sesaat mereka benar-benar tampak seperti keluarga yang keluar malam hanya karena ingin makan bersama, bukan orang-orang yang dipertemukan oleh ketakutan, rahasia, dan kehidupan kedua.
Sebastian mengamati dari balik asap tipis. Dalam ingatan kehidupan pertama, Nathan selalu diam ketika Karina berada di dekat makanan, sementara Lucas menyembunyikan tangan di bawah meja. Tidak pernah ada tawa seperti ini. Tidak pernah ada Karina yang memeriksa arah angin agar abu tidak mengenai anak, menahan pinggang Lucas jauh dari bara, atau membiarkan Nathan merasa hebat hanya karena berhasil membalik tiga tusuk sate.
Ia masih belum tahu siapa perempuan ini sebenarnya.
Namun menghukumnya malam ini berarti mengembalikan rasa takut yang baru mulai hilang dari wajah kedua anak.
Sebastian memilih membiarkan malam itu tetap hangat.
Setelah makanan habis, Bi Asih membawa kedua anak kembali tidur. Nathan masih bercerita tentang sate yang tidak gosong. Lucas tertidur di bahunya sebelum mencapai pintu.
Karina membantu merapikan piring. Sebastian berdiri di sisi pemanggang yang mulai padam.
"Kopernya akan saya bawa kembali," kata Karina.
"Baik."
"Anda nggak mau bertanya?"
"Kalau saya bertanya, kamu akan menjawab jujur?"
Karina terdiam.
Sebastian menatap bara merah yang mengecil. Ketika berbicara lagi, suaranya lebih lunak.
"Kalau mau pergi, bilang saja. Nggak usah kabur-kaburan seperti maling."
Karina menatapnya. Tidak ada ancaman pada kalimat itu. Hanya kelelahan dan sesuatu yang hampir terdengar seperti keberatan karena tidak dipercaya.
"Kalau saya bilang, Anda akan membiarkan saya pergi?"
"Coba bicara dulu sebelum memutuskan jawabannya sendiri."
Sebastian berjalan masuk, meninggalkan Karina bersama pemanggang yang mulai dingin.
Malam itu koper kembali ke bawah lemari. Karina berbaring di samping anak-anak, tetapi tidak dapat tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia mengingat Sebastian berdiri di garasi dan memilih sate daripada hukuman.
Ia menyentuh pipinya yang terasa panas.
"Kenapa dia nggak marah sama sekali?"
HP di meja samping menyala.
Pesan dari Tuti muncul di layar.
Jadi kabur nggak, Bu?