Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelaliman yang Nyata
Namun, di tengah kesunyian itu, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari balik saku seragam suster yang dikenakannya—ponsel pribadinya yang ia simpan di balik seragam curian tersebut. Zaskia tersentak. Ia dengan cepat menekan tombol bisu, namun matanya yang tajam sempat menangkap sebuah pesan masuk dari Nena.
“Ada polisi di sekitar rumah sakit, mereka sedang mencari van hitam yang digunakan tadi. Cepat selesaikan dan segera pergi!”
Zaskia mendesis marah. Waktu tidak berpihak padanya. Ia kembali fokus pada Pak Pamuji. Ia menarik napas dalam, memantapkan jarum suntik tersebut tepat di lubang injeksi infus.
"Selamat tinggal," bisik Zaskia dingin.
Tepat saat ibu jarinya akan menekan pendorong jarum suntik, pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras.
BRAK!
Seorang perawat pria asli masuk dengan wajah bingung. "Maaf, Suster, saya tidak mengenali Anda di shift malam ini. Apa yang Anda lakukan di sini?"
Zaskia membeku. Detik berikutnya, insting pembunuhnya mengambil alih. Ia tidak lagi peduli pada penyamarannya. Ia membalikkan badan dengan cepat, lalu menghujamkan jarum suntik berisi racun itu ke arah lengan perawat yang baru saja masuk.
"Argh!" perawat itu menjerit kesakitan, tangannya mencengkeram lengan yang tertusuk jarum. Zaskia tidak membuang waktu, ia mendorong tubuh perawat itu hingga menghantam troli obat dengan suara gaduh yang memecah keheningan rumah sakit.
"Siapa pun yang menghalangi rencanaku, akan mati!" teriak Zaskia histeris. Ia tidak lagi peduli pada penyamarannya. Ia melemparkan nampan ke lantai, membuat peralatan medis berhamburan ke mana-mana.
Suara alarm bahaya di ruang ICU mulai berbunyi nyaring. Perawat-perawat lain mulai berlarian menuju sumber suara. Zaskia tahu ia harus segera keluar dari sana. Ia menatap Pak Pamuji yang masih terbaring, lalu menatap jarum suntik yang kini kosong karena isi racunnya sudah masuk ke lengan perawat yang malang tadi.
****
"Kamu beruntung, Pak Tua," desis Zaskia sambil melangkah mundur menuju jendela ruangan yang terbuka. Ia menatap lantai tiga dengan sorot mata yang penuh kegilaan. Tanpa rasa takut, ia memanjat bingkai jendela dan melompat keluar menuju balkon darurat di luar gedung, melarikan diri ke kegelapan malam.
Di kejauhan, sirine mobil polisi mendekat. Zaskia berlari sekuat tenaga menuju mobil pribadinya yang terparkir di area gelap. Di dalam mobil, ia menatap cermin spion, merobek masker medis yang menempel di wajahnya dengan kasar.
"Rafa Sasmita..." suaranya terdengar bergetar hebat. Ia tahu, setelah malam ini, ia bukan lagi hanya seorang buronan dalam pikirannya, melainkan seorang pembunuh yang diburu oleh hukum. "Kamu akan membayar ini semua! Aku akan membuatmu merasakan neraka yang sebenarnya, meskipun aku harus membakar seluruh kota ini bersamamu!"
Sementara itu, di ruang perawatan, perawat yang terkena racun tadi sedang kejang-kejang di lantai, sementara Pak Pamuji perlahan mulai membuka matanya. Ia tidak melihat wajah pelakunya, namun ia merasakan aura kematian yang baru saja lewat di sisinya.
Di tempat lain, di sebuah bangsal gawat darurat yang berbeda, Rafa Sasmita baru saja sadar dari pingsannya akibat kecelakaan di jalan tol. Luka di kepalanya dibalut tebal, namun saat ia melihat ke arah Sean yang juga terbaring di ranjang sebelah, air mata Rafa jatuh. Ia merasa seolah ditarik paksa ke dalam pusaran penderitaan yang tak ada habisnya.
Namun, saat perawat masuk memberitahunya tentang kegaduhan di ruang ICU tempat ayahnya dirawat, Rafa merasakan ada sesuatu yang terbakar di dalam dadanya. Ia mencabut paksa selang infus di tangannya, mengabaikan teriakan perawat yang melarangnya.
"Zaskia..." bisik Rafa dengan suara yang sangat rendah, sebuah sumpah yang diucapkan dengan jiwa yang sudah hancur. "Aku tidak akan membiarkanmu melihat matahari besok pagi."
****
Rumah Sakit Sentral Jakarta malam itu diselimuti suasana dingin yang mencekam. Di balik kegelapan lorong-lorong rumah sakit, dua sosok dengan penyamaran sempurna tengah bergerak bak predator yang mengintai mangsanya. Nena Apriandini, yang biasanya tampil glamor dengan perhiasan berlian, kini mengenakan daster lusuh, selendang batik tua, dan wig rambut putih berantakan. Ia membungkukkan punggungnya, berjalan tertatih-tatih dengan tongkat kayu, berpura-pura menjadi seorang nenek tua yang tersesat dan bingung.
Di sisinya, Zaskia Mulandari kembali beraksi dengan seragam suster yang ia curi dari lemari penyimpanan di lantai basement. Masker medis, penutup kepala, dan kartu identitas curian membuatnya tampak seperti petugas medis yang bekerja lembur. Mata Zaskia berkilat tajam di balik masker; obsesinya untuk menghabisi Sean Andrew Lee telah mencapai titik nadir kegilaan.
"Ingat," bisik Nena dengan suara parau yang dibuat-buat, "alihkan perhatian mereka ke arah bangsal radiologi. Aku akan membuat keributan di sana. Kamu punya waktu kurang dari lima menit sebelum keamanan menyadari ada yang tidak beres."
Zaskia mengangguk mantap. "Serahkan padaku, Tante."
Nena mulai menjalankan perannya. Ia berjalan menuju meja perawat utama, lalu tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai sambil meraung-raung histeris, berteriak bahwa ia telah kehilangan tasnya yang berisi uang pensiunan. Suster-suster yang sedang bertugas langsung panik dan bergegas mengerumuni Nena. Kekacauan kecil itu tercipta sempurna.
****
Di saat itulah, Zaskia bergerak. Ia melangkah cepat menuju ruang ICU tempat Sean Andrew Lee dirawat. Begitu sampai di depan pintu, ia tidak langsung masuk. Dengan keahlian yang ia pelajari dari dunia hitam, Zaskia menyemprotkan cairan khusus ke lensa CCTV yang terpasang di langit-langit, membuat pandangan kamera itu buram dan tidak berfungsi.
Klik. Pintu terbuka.
Di dalam, Sean terbaring tidak berdaya. Tubuhnya penuh dengan perban dan peralatan medis yang menopang hidupnya. Zaskia mendekat dengan seringai dingin. Ia tidak ingin Sean mati dengan mudah lewat suntikan racun; ia ingin pria itu menderita dengan cara yang lebih brutal.
Zaskia melepaskan semua kabel monitor dan selang infus dengan kasar. Ia kemudian mengunci roda tempat tidur dorong itu dan mulai mendorongnya keluar dari ruangan dengan gerakan yang terburu-buru. Sean yang masih koma tampak seperti boneka yang tak bernyawa di atas ranjang besi tersebut.
"Selamat jalan, pria Singapura," desis Zaskia saat ia membelokkan ranjang menuju tangga darurat di ujung lorong yang sepi.
****
Tepat saat Zaskia hendak mencapai pintu tangga darurat, sebuah sosok muncul dari balik pilar. Itu adalah Rafa Sasmita. Wajah Rafa masih terlihat pucat, dahinya terbalut perban, namun matanya yang memerah karena amarah memancarkan keberanian yang luar biasa. Rafa baru saja keluar dari rumah sakit tempat ayahnya dirawat dan secara tidak sengaja melihat pergerakan mencurigakan 'suster' tersebut.
"Zaskia?!" teriak Rafa, suaranya pecah namun penuh penekanan.
Zaskia tersentak. Ia menghentikan dorongannya, lalu menoleh dengan seringai lebar yang mengerikan. Ia tidak lagi berusaha menyembunyikan identitasnya. "Ah, Rafa! Kamu datang di waktu yang sangat tepat untuk menyaksikan akhir dari pahlawanmu!"
Rafa berlari kencang, berusaha mendekat untuk menyelamatkan Sean. "Berhenti! Apa yang kamu lakukan?! Kamu sudah gila, Zaskia!"
Namun, Zaskia dengan sigap melepaskan rem ranjang dan mendorongnya dengan sekuat tenaga ke arah pintu tangga darurat yang terbuka. Ranjang itu meluncur deras, memotong jalan Rafa.
BRAKK!