NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Tanda di Bahu

Anindya menatap tangan terbuka Arkana, lalu pada darah yang menembus tisu.

“Hanya luka,” katanya.

“Saya perlu memastikan tidak ada serpihan tertinggal.”

Nada Arka tenang, tetapi urat di lehernya menegang. Ia tidak menyentuh Anindya sebelum mendapat jawaban.

“Baik,” ujar Anindya akhirnya. “Bantu saya sampai kamar. Setelah itu Anda pergi.”

Lift sudah dinyatakan aman. Mereka naik ke lantai lima tanpa bicara, ditemani suara hujan yang menembus dinding kaca di ujung koridor. Arka berjalan setengah langkah di belakang, cukup dekat untuk menangkapnya jika pusing, cukup jauh untuk tidak menyentuh.

Di kamar, Anindya meletakkan kartu akses di meja. Kotak pertolongan pertama tersedia di lemari dekat wastafel. Arka membawanya ke meja kecil di bawah lampu, lalu menarik kursi.

“Duduk.”

Anindya mengangkat alis.

“Tolong,” koreksinya.

Ia duduk dan membuka tisu dari telapak tangannya. Sayatan memanjang di sisi bawah jari kelingking. Darahnya cukup banyak untuk terlihat mengkhawatirkan, tetapi gerak jari masih utuh.

Arka mencuci tangan, memakai sarung tangan tipis dari kotak, lalu menyalakan senter ponselnya.

“Boleh saya pegang pergelanganmu?”

Anindya mengangguk sekali.

Sentuhannya hati-hati. Ia memeriksa warna kulit, meminta Anindya menggerakkan setiap jari, lalu menyinari luka dari beberapa sudut.

“Saya tidak melihat kaca. Tapi kalau mati rasa, nyeri bertambah, atau perdarahannya tidak berhenti, kita ke fasilitas medis.”

“Saya tahu.”

“Saya tahu kamu tahu.”

Arka membersihkan luka dengan cairan steril. Perihnya membuat bahu Anindya menegang.

“Sakit?”

“Lanjutkan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Empat dari sepuluh.”

Angka itu membawa mereka kembali ke ruang kokpit statis, saat Anindya mengakui nyeri tujuh dan menolak perlakuan khusus. Arka menunduk lagi, menempelkan perban penutup tanpa terlalu kencang.

“Jangan terbang sebelum dokter penerbangan menerima laporannya,” katanya.

“Besok saya tidak dijadwalkan. Saya akan melapor.”

“Foto lukanya sekarang, supaya ada catatan awal.”

Anindya mengambil ponsel dengan tangan kiri. Ketika ia membungkuk mencari sudut cahaya, kerah blusnya bergeser dari bahu kanan. Kain yang masih lembap menempel sebentar, lalu turun beberapa sentimeter.

Arka berhenti bernapas.

Di atas tulang belikat Anindya ada tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit yang tidak sempurna. Tiga tahun lalu, pada malam setelah akad sederhana mereka, Anindya pernah menertawakan caranya menatap tanda itu terlalu lama.

Laras menyebutnya sayap kecil, kata Anindya waktu itu. Bukti bahwa anaknya dilahirkan untuk terbang.

Pada malam itu, kamar mereka tidak mewah. Akad dilaksanakan sederhana, tanpa keluarga besar dan tanpa kamera. Anindya masih mengenakan kebaya pinjaman Ratih ketika ia menunjukkan tanda lahir tersebut. Arka mencium keningnya dan berjanji bahwa rumah kecil mereka tidak akan membutuhkan pengakuan orang lain selama mereka saling memilih.

Ia pernah percaya pada kalimatnya sendiri.

Kemudian ia membiarkan rumah itu menjadi tempat Anindya menunggu dalam diam. Ia membiarkan status rahasia yang katanya melindungi mereka berubah menjadi alat paling mudah untuk menghapus Anindya ketika keluarganya menuntut.

Kini, tidak jauh dari tanda yang sama, garis bekas luka Merapi memotong kulitnya.

Masa lalu dan akibat perbuatannya berdiri berdampingan di satu bahu.

Tangan Arka terangkat, gemetar. Ia ingin memastikan bentuk yang sudah ia kenal, ingin menyentuh satu-satunya bagian hidup mereka yang dulu terasa tidak mungkin dipalsukan.

Namun ia berhenti di udara.

Anindya melihat gerakan itu dan segera menarik kerahnya kembali.

“Jangan.”

Tangan Arka jatuh ke sisinya.

“Maaf.” Suaranya pecah pada satu kata. “Saya tidak akan menyentuh.”

Anindya berdiri. “Lukanya sudah dibersihkan. Anda bisa pergi.”

Arka tidak bergerak. Wajahnya kehilangan warna, seolah tanda kecil itu baru saja membuka pintu yang selama ini ia paksa tetap tertutup.

“Ibumu menyebutnya sayap kecil,” katanya.

Jari Anindya membeku di kerah.

“Saya ingat kamu mengatakan itu setelah akad.” Napas Arka berat. “Saya ingat kamu bertanya apakah saya akan tetap mencintai tanda itu kalau suatu hari tubuhmu penuh bekas luka.”

“Dan sekarang Anda sudah melihat jawabannya.”

“Bukan.” Arka menggeleng keras. “Jangan ubah itu menjadi seolah saya terganggu oleh lukamu.”

“Saya tidak bicara soal kulit.”

Keheningan yang jatuh lebih tajam daripada pecahan gelas.

Arka memandang bekas darah pada tisu, lalu bahu yang sudah tertutup. “Saya tahu kamu Anindya. Saya tidak pernah meragukan siapa yang selamat dari Merapi atau siapa yang kembali ke kokpit. Tapi malam ini saya sadar ada perempuan yang pernah tidur di sisi saya selama tiga tahun, dan saya tetap tidak mengenalnya.”

“Itu bukan kesadaran baru. Itu akibat lama.”

“Saya melihatmu setiap pagi dan mengira itu cukup.” Arka tertawa pendek, suaranya kosong. “Saya tahu kamu minum kopi tanpa gula sebelum penerbangan pagi. Saya tahu kamu selalu memeriksa pintu dua kali dan menyimpan buku di bawah bantal kalau tertidur saat membaca. Saya menghafal tanda di bahumu, tapi tidak pernah bertanya mengapa kamu menerima telepon di balkon atau dari mana kamu belajar membaca laporan keuangan.”

“Karena kebiasaan saya nyaman untuk Anda. Pikiran saya tidak.”

“Karena saya sombong.”

“Karena Anda yakin perempuan yang mencintai Anda akan tetap berada di tempat yang sama, berapa pun bagian dirinya yang Anda abaikan.”

Arka menunduk. Tidak ada bantahan yang bisa bertahan di hadapan kebenaran sesederhana itu.

“Nindya.”

“Jangan panggil saya seperti satu nama bisa mengembalikan semuanya.”

Arka mendekat satu langkah. Anindya langsung mengangkat tangan yang tidak terluka.

Ia berhenti.

“Saya tidak mengerti bagaimana saya bisa hidup denganmu dan tidak tahu tentang Klub Enggar, tentang pekerjaanmu, tentang semua orang yang mempercayaimu.”

“Karena Anda tidak ingin istri. Anda ingin tempat pulang yang tidak menuntut apa pun.”

“Itu tidak benar.”

“Benarkah?” Anindya tertawa tanpa kegembiraan. “Nama saya tidak ada di dokumen keluarga. Saya tidak boleh berdiri di sebelah Anda di acara resmi. Ketika keluarga Anda memilih Amara, Anda mengambil cincin saya sebelum berangkat bekerja dan mengirim pengacara untuk menjatuhkan talak.”

Setiap kalimat mendorong Arka mundur tanpa ia bergerak.

“Saya pengecut,” katanya. “Saya membiarkan kebencian lama dan tekanan keluarga menjadi alasan. Tidak ada pembenaran.”

“Lalu kenapa Anda bertanya seolah saya yang menyembunyikan pernikahan kita?”

“Karena saya terlambat dan saya panik.”

“Kepanikan Anda bukan tanggung jawab saya.”

“Saya tahu.”

“Tidak, Anda belum tahu.” Suara Anindya meninggi untuk pertama kalinya. “Kalau saya tidak bangun setelah Merapi, apakah baru saat itu Anda akan membatalkan rencana keluarga itu? Apakah saya harus nyaris mati dulu supaya Anda berani mengatakan kepada media bahwa tidak ada tanggal pernikahan?”

Arka menutup mata. Gambaran tubuh Anindya di bawah batu, tangan dingin di dalam helikopter, dan monitor yang turun di rumah sakit menyerangnya sekaligus.

“Saya membatalkannya di dalam hati jauh sebelum Merapi,” ujarnya lirih.

“Di dalam hati tidak melindungi siapa pun.”

“Saya sudah meminta keluarga menghentikan pembicaraan setelah kamu masuk rumah sakit.”

“Setelah saya masuk rumah sakit,” ulang Anindya. “Bukan ketika Amara mengambil apartemen. Bukan ketika dia membawa lencana terbang saya. Bukan ketika pengacara Anda duduk di meja sarapan dan menghitung harga tiga tahun pernikahan.”

“Saya mengambil kembali lencana itu.”

“Dan menyimpannya, seperti cincin saya? Benda-benda itu bukan pengganti permintaan maaf yang Anda ucapkan di depan orang yang ikut mempermalukan saya.”

“Kamu benar.”

Jawaban tanpa pembelaan itu membuat kemarahan Anindya kehilangan sasaran sesaat, tetapi tidak menghilangkan luka.

Arka menarik napas. “Saya akan mengatakan kepada keluarga dan publik bahwa rencana itu selesai. Bukan karena Merapi. Bukan untuk menukar keputusan itu dengan kesempatan darimu. Karena seharusnya saya melakukannya sejak awal.”

“Lakukan kalau itu memang keputusan Anda. Jangan jadikan saya hadiah setelah Anda akhirnya melakukan hal yang benar.”

“Saya tidak akan.”

Arka membuka mata.

“Saya tidak pernah menetapkan tanggal akad dengan Amara.”

“Tapi Anda membiarkannya memakai nama Anda, apartemen Anda, dan keyakinan bahwa saya bisa disingkirkan. Perbedaan itu hanya penting bagi Anda karena membuat Anda merasa tidak sepenuhnya bersalah.”

Ia tidak bisa menyangkalnya.

Anindya mengambil kotak pertolongan pertama dan menutupnya dengan satu tangan. Gerakannya kaku. Selama berbulan-bulan ia berhasil membicarakan semua ini tanpa suara bergetar. Kini satu tanda lahir, satu kenangan Laras, dan cara Arka meminta izin sebelum menyentuh telah meretakkan lapisan yang ia bangun.

Ia membenci bahwa bagian dirinya masih mengingat kelembutan tangan laki-laki itu.

Lebih dari itu, ia membenci betapa sedikit kelembutan tersebut berarti ketika diuji di depan keluarga.

“Pergi,” katanya.

Arka tetap berdiri di antara meja dan pintu, bukan tepat menghalangi jalan, tetapi cukup dekat untuk membuat kamar terasa sempit.

“Beri saya satu jawaban.”

“Anda tidak berhak menuntutnya.”

“Saya tidak menuntut.” Ia menelan napas. “Saya memohon.”

Anindya menatapnya.

Arka menunjuk bahunya sendiri, seolah bekas luka Anindya terasa di tubuhnya. “Tanda itu bukan bukti siapa kamu. Saya sudah tahu. Tapi itu mengingatkan saya bahwa pernah ada masa ketika kamu membiarkan saya sedekat itu. Apakah tiga tahun kita pernah berarti sesuatu bagimu?”

Pertanyaan itu menghancurkan sisa ketenangan yang masih dimilikinya.

“Tentu saja berarti,” jawab Anindya, napasnya tidak rata. “Kalau tidak, Anda tidak akan bisa menyakiti saya sedalam ini.”

Arka bergerak seolah hendak mendekat, lalu memaksa dirinya berhenti.

Anindya berjalan menuju pintu dan membukanya untuknya. “Sekarang pergi.”

Ia seharusnya melangkah keluar. Sebaliknya, Arka berdiri di ambang pintu dengan mata merah dan kedua tangan mengepal di sisi tubuh, menahan diri untuk tidak meraih apa pun.

“Apa yang harus saya lakukan agar kamu mau melihat saya sebagai seseorang yang bisa memperbaiki kesalahannya?”

Dada Anindya naik turun. Di koridor, lampu darurat masih menyala, dan hujan belum berhenti.

Ia menatap laki-laki yang pernah menjadi rumah sekaligus luka terbesarnya.

“Aku membencimu, Arka.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!