Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Kebaikan yang Mengubah Segalanya
Hari Minggu itu berlalu dengan perlahan. Setelah Sarah merawat Samudra sepanjang pagi, demam pria itu akhirnya turun menjelang sore. Samudra terbangun dengan kondisi yang jauh lebih baik, meskipun badannya masih terasa sedikit lemas.
Sarah masih duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Matanya sudah sayu, tapi ia tetap bertahan, sesekali mengganti handuk dingin di dahi Samudra. Yola sudah beberapa kali datang menawarkan makanan, tapi Sarah selalu menolak, ia ingin tetap menjaga Samudra.
"Sarah, kamu harus makan," ujar Samudra, melihat Sarah yang mulai terlihat lelah.
"Saya bisa nanti, Pak. Yang penting Bapak pulih dulu," jawab Sarah.
Samudra menghela napas, kemudian mencoba bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa berat, tapi ia berusaha. Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi, dan saat kembali, ia melihat Sarah sudah tertidur di kursi, kepalanya bersandar pada pinggiran ranjang.
Samudra menatap Sarah. Wajahnya tampak tenang, sedikit lelah, tapi ada aurora kedamaian di sana. Ia mengambil selimut tipis yang ada di sudut ranjang, lalu menutupkannya perlahan ke bahu Sarah.
Sarah bergerak sedikit, tapi tidak terbangun. Samudra tersenyum tipis, lalu duduk kembali di tempat tidurnya. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, bukan karena demam, tapi karena perhatian Sarah.
"Wanita ini," batin Samudra. "Dia merawatku sepenuh hati, bahkan tanpa diminta. Padahal dia hanya asisten kontrak."
Beberapa jam kemudian, Sarah terbangun. Ia melihat selimut yang menutupi tubuhnya, dan Samudra yang sudah duduk tegak di tempat tidur.
"Pak, Bapak sudah bangun?" tanya Sarah, masih setengah mengantuk.
"Sudah. Demamku sudah turun," jawab Samudra.
Sarah menghela napas lega. "Syukurlah."
Samudra menatap Sarah. "Kamu harus makan. Yola sudah menyiapkan sup ayam. Aku juga akan makan."
Sarah mengangguk. Ia bangkit, merapikan rambutnya, lalu berjalan keluar kamar untuk mengambil makanan. Yola sudah menunggu di luar dengan dua nampan berisi sup ayam hangat dan roti panggang.
Sarah membawa nampan itu masuk, dan mereka berdua makan bersama di kamar Samudra. Suasana terasa hangat, meskipun ada sedikit keheningan.
Saat makan selesai, Samudra menatap Sarah dengan tatapan serius. "Sarah, aku ingin kamu tahu bahwa apa yang kamu lakukan hari ini sangat berarti bagiku."
Sarah tersenyum tipis. "Saya hanya melakukan apa yang seharusnya, Pak."
"Tidak, Sarah. Kamu bukan hanya melakukan kewajiban. Kamu melakukannya dengan tulus. Dan aku menghargai itu," ujar Samudra.
Sarah menatap Samudra. Ada perasaan yang menggelitik di hatinya. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Pak, saya hanya ingin Bapak sehat. Karena Bapak sudah banyak membantu saya," jawab Sarah.
Samudra tersenyum, lalu menatap Sarah dalam-dalam. "Sarah, aku ingin bicara jujur padamu."
Sarah mengerutkan kening. "Ada apa, Pak?"
Samudra menghela napas. "Aku tahu ini hanya kontrak. Aku tahu kita hanya terikat perjanjian. Tapi selama beberapa minggu terakhir, aku mulai merasa ada yang berubah."
Sarah membelalak. "Pak..."
"Aku tidak bilang ini cinta. Aku tidak tahu ini apa. Tapi aku tidak ingin berpura-pura bahwa kita hanya atasan dan bawahan," lanjut Samudra.
Sarah menatap Samudra, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak pernah mendengar Samudra berbicara seperti ini sebelumnya. Pria yang selalu dingin dan tegas itu, kini membuka hatinya.
"Pak, saya juga merasa hal yang sama," ujar Sarah pelan. "Tapi saya takut. Takut kalau ini hanya perasaan sesaat, atau karena kehamilan ini."
Samudra menggeleng. "Aku tidak akan membiarkan ini hanya perasaan sesaat. Sarah, aku bukan tipe pria yang suka bermain-main. Jika aku mulai peduli padamu, itu berarti aku serius."
Sarah menatap Samudra, air matanya mulai menggenang. "Pak..."
"Tapi kamu tidak harus menjawab sekarang," potong Samudra cepat. "Kamu masih punya waktu. Kita masih punya waktu. Yang penting, kita jujur satu sama lain."
Sarah mengangguk, mengusap matanya. "Baik, Pak. Saya akan mencoba."
Mereka pun terdiam, menikmati keheningan yang nyaman. Sarah merasakan ada beban yang perlahan lepas dari pundaknya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, apa yang terjadi di antara mereka adalah sebuah takdir.
Malam itu, Sarah kembali ke kamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, dan tersenyum.
"Mungkin ini bukan lagi sekadar kontrak," bisiknya. "Mungkin ini awal dari sesuatu yang lebih besar."
Hari Minggu itu berakhir dengan cara yang tak terduga. Samudra yang biasanya dingin, kini mulai membuka hatinya. Dan Sarah, yang biasanya hanya menjalani kontrak, kini mulai merasakan ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.