Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : BUSUR DAN PISAU PENUNGGU GOA
Cahaya api dari goa utama menerobos masuk samar-samar.
Debu yang mengendap selama ratusan tahun terangkat. Berterbangan di udara seperti salju keemasan. Berputar bersama angin segar yang masuk dari celah pintu.
Pandangan mereka semakin terbiasa, dan apa yang mereka lihat membuat napas Bayu dan Karta tertahan.
Ruangannya sempit namun terasa luas. Dindingnya halus dan bersih tanpa retakan tidak seperti di goa bagian luar.
Ukiran daun dan sulur yang terlihat pudar seolah di makan waktu menghiasi setiap sudut ruangan. Setiap guratannya menampakan jejak tangan pengrajin dari zaman yang telah lama berlalu.
Di tengah ruangan terdapat meja batu datar berwarna lebih gelap daripada dinding dan memantulkan sinar api dari luar.
Sebuah kotak kayu coklat tua berbentuk persegi panjang permukaannya halus dan terawat. Berada di tengah meja batu seolah belum lama diletakan.
Langkah kaki Bayu terasa ringan, rasa sakit di bahu berganti dengan getaran halus. Semakin mendekat getarannya semakin terasa seakan ada jantung yang berdetak mengikuti setiap langkahnya.
Karta mengikutinya dari belakang. Tangannya menarik ujung baju Bayu. Matanya melebar, tidak berkedip.
“Kang… Naon ieu?” bisiknya. Suaranya gemetar, antara takut dan penasaran.
Bayu berhenti tepat di depan kotak. Ia menarik napas dalam-dalam.
“Aku tidak tahu,” jawabnya pelan. “Tapi rasanya… seperti menunggu kita.”
Tangannya masih gemetar ketika menyentuh sisi kotak kayu.Terasa hangat seolah masih menyimpan sisa kehangatan dari pemilik pertama.
Ia membuka tutupnya perlahan. Tidak ada suara. Hanya bunyi halus seperti napas yang tertahan.
KREET...
Tutupnya terbuka sendiri, seolah menyambut kedatangan mereka.
Di dalamnya berisi dua buah senjata yang berjajar rapi di atas sehelai kain pudar.
Benda pertama adalah busur.
Sebuah busur dari kayu cendana. Tingginya sebadan Bayu. Lengkungannya indah. Berukir sulur indah dari ujung ke ujung.
Tali busurnya dari serat pandan yang dipintal kuat. Terlihat halus dan kuat mengkilap seperti benang perak. Di sampingnya berjajar tujuh anak panah berujung tumpul.
Di sebelah busur terdapat pisau pendek.
Bergagangnya sama dengan busur berhias batu hitam kecil mengkilap ujung gagang. Berbilah kusam yang memancarkan aura ketenangan.
Bayu terdiam. Tenggorokannya terasa kering.
Tanpa sadar tangannya menyentuh gagang busur itu.
Seketika dunia berubah.
Rasanya seperti ribuan jarum yang menusuk pembuluh darah. Dari telapak tangan menyebar ke seluruh tubuh.
Seakan terbangun dari tidur panjang. Semua otot dan sarafnya kembali hidup.
Pandangannya menjadi tajam. Ia bisa melihat dengan jelas serat kayu, Bisa mendengar detak jantung Karta. Bisa merasakan angin yang bergerak pelan di dalam ruangan.
Pengetahuan itu masuk perlahan ke dalam kepalanya.
Cara membaca arah angin.
"Cara menentukan jarak dan sasaran.
Cara menjaga keseimbangan tubuh ketika menarik busur.
Cara membuat obat dari daun.
Cara mencari akar yang bisa mengusir racun.
Semua hal yang tidak pernah ia pelajari. Kini ada di dalam kepalanya. Seolah ia telah hidup selama ratusan tahun.
Namun kehangatan itu tidak bertahan lama.
Hanya beberapa detik dan rasa lemas datang dengan cepat.
Dadanya bergetar. Ia terbatuk dua kali, terlihat darah merah di telapak tangan. Tubuhnya terhuyung mundur dan busur yang ia genggam semakin terasa berat, seperti mengangkat sebongkah batu.
“Kang Bayu! Kamu kenapa?” Karta panik. Ia langsung menyangga bahu kakaknya.
Bayu menggeleng sambil menelan ludah agar rasa pahit di mulutnya hilang.
“Tidak apa-apa…” suaranya serak. “Hanya merasa lemas. Tenaganya keluar masuk terlalu cepat.”
Karta mengangguk cepat. Tetapi matanya masih tertuju pada kotak itu.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.
Perlahan ia mengulurkan tangannya. Memegang gagang pisau pendek itu dengan kedua tangan. Rasanya berbeda seakan tak ada rasa. Hanya getaran halus yang turun ke kaki menembus ke tanah.
Gundukan, Retakan. Bahkan makhluk yang bergerak di dalam tanah. Semut. Cacing. Akar pohon yang menjalar bisa ia rasakan.
Gagang pisau berdenyut pelan di tangannya. Memberi tahu jika ada bahaya mendekat, getarannya akan semakin kuat.
Lalu pengetahuan itu datang lagi.
Cara berjalan seperti angin.
Cara membaca jejak di tanah dan di daun.
Cara membedakan daun yang bisa dimakan dan beracun hanya dengan sentuhan.
Namun semua ada bayarannya.
Kepalanya terasa berputar. Seperti berada di atas pohon, pandangan kabur dan telinga berdenging.
“Karta!”
Ia segera melepaskan genggamannya. Dan jatuh terduduk. Wajahnya pucat dengan nafas yang tersengal sengal.
Bayu segera mengembalikan busur ke dalam kotak. Ia berjongkok dan menyangga adiknya.
“Jangan dipaksa,” katanya tegas. “Ini bukan mainan.”
Karta mengusap matanya yang berkunang-kunang dan mengangguk pelan.
“Aku… aku bisa mendengar tanah berbicara, Kang. Tapi kepalaku mau pecah.”
Mereka terdiam.
Mereka menatap dua benda di dalam kotak. Bukan hanya kagum,tapi ada rasa yang berbeda
Baru sekarang mereka sadar. Semua ada bayarannya.
Dengan tenaga.
Dengan darah.
Dengan tubuh yang memiliki batas.
Kekuatan busur itu bisa membuat Bayu melihat jauh dan menembak tepat sasaran. Tetapi jika terlalu lama digunakan, akan membuatnya batuk darah.
Pisau itu membuat Karta bisa merasakan bahaya dan berjalan tanpa suara. Tetapi jika terlalu lama digenggam, kepalanya terasa mau pecah dan tubuhnya menjadi lemas.
Bayu menarik napas panjang. Dadanya masih terasa sesak.
Ia menutup kotak itu perlahan. Seolah tahu bahwa mereka akan membutuhkannya lagi.
Ia menatap Karta yang mulai membaik. Wajahnya masih terlihat pucat tetapi napasnya sudah mulai teratur.
Lalu ia menoleh ke pintu batu yang masih terbuka. Cahaya dari luar masuk membelah kegelapan.
Di luar sana, masih ada ketidakadilan yang belum selesai.
Di dalam diri mereka ada kekuatan yang tidak pernah mereka bayangkan.
Namun ada batas yang harus dijaga.
Mereka belum tahu cara mengendalikannya.
Tetapi satu hal yang pasti.
Sejak mereka menyentuh busur dan pisau itu, hidup mereka tidak akan sama lagi.
Dan jauh di dalam gelapnya hutan, di balik dinding gua yang tertutup itu...
Ada kekuatan kuno yang baru terbangun.
Menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan jalan.
Entah itu jalan keadilan.
Atau jalan yang penuh bahaya dan pengorbanan yang tidak terduga.
---