NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara di Depan Gedung

Sidang pertama Sari digelar tiga minggu setelah penahanannya, di sebuah ruang sidang kecil yang jauh dari kesan megah seperti yang biasa kulihat di televisi. Aku datang bersama Yanto, Ujang, Pak Rusdi, dan sekitar dua puluh warga dari empat kawasan yang sudah tergabung dalam jaringan kami—jumlah yang kecil kalau dibandingkan besarnya masalah, tapi terasa seperti pasukan bagiku waktu itu.

Pak Wisnu, pengacara yang kami sewa, terlihat lelah tapi tidak gentar. Sebelum sidang dimulai, ia sempat berbisik padaku, "Bukti yang mereka pakai lemah, Rangga. Tapi di sini, bukti kuat aja kadang nggak cukup kalau lawannya punya koneksi. Kita butuh lebih dari sekadar hukum yang benar. Kita butuh mata yang banyak nonton."

Kata-kata itu yang mendorongku menyusun rencana berikutnya.

---

Aku menghubungi semua kontak yang bisa dijangkau jaringan kami—wartawan lokal yang dulu menulis soal penggusuran tapi jarang dimuat, mahasiswa yang aktif di kampus dekat kota yang concern soal isu tanah, bahkan beberapa akun media sosial kecil yang selama ini rutin menyuarakan isu-isu warga miskin kota. Kami tidak punya uang untuk membayar publikasi besar. Yang kami punya hanya cerita nyata, dan cukup banyak orang yang mulai lelah pura-pura tidak tahu.

Hari sidang kedua, kami mengorganisir sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya: aksi diam di depan gedung pengadilan. Bukan demo besar dengan orasi dan spanduk provokatif—aku sengaja menghindari itu, karena tahu itu bisa jadi alasan mudah untuk membubarkan kami secara paksa. Sebagai gantinya, warga dari empat kawasan datang membawa lentera kecil—lampu minyak sederhana, sebagian dari bahan seadanya—dan berdiri diam di sepanjang trotoar depan gedung pengadilan, menyalakan lentera mereka meski hari masih siang.

Simbolis, mungkin terlihat sepele. Tapi waktu aku berdiri di tengah barisan itu, melihat puluhan titik api kecil menyala berjajar di bawah terik matahari, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sejak malam aku pertama mengucapkan nama "Lentera" setengah bercanda di depan Ujang dan Yanto.

Wartawan yang kuhubungi datang. Beberapa mahasiswa merekam dengan ponsel mereka. Dalam hitungan jam, foto barisan lentera kecil di depan gedung pengadilan itu mulai beredar di media sosial, dengan keterangan singkat soal kasus Sari dan proyek penggusuran yang jadi latar belakangnya.

---

Aku tidak naif berpikir keramaian di media sosial bisa langsung mengubah keputusan pengadilan. Tapi efeknya nyata: sidang berikutnya dihadiri lebih banyak wartawan dari biasanya, dan untuk pertama kalinya, jaksa yang menangani kasus Sari terlihat kurang percaya diri dibanding sidang-sidang sebelumnya, seperti orang yang baru sadar sedang diperhatikan lebih banyak mata daripada yang ia kira.

Pak Wisnu memanfaatkan momentum itu sepenuhnya, menunjukkan kejanggalan dalam proses penahanan Sari, termasuk fakta bahwa dokumen yang katanya "dicuri" sebenarnya adalah dokumen yang seharusnya bisa diakses publik berdasarkan aturan keterbukaan informasi, hanya saja pihak kelurahan selama ini menahannya secara tidak sah.

Butuh dua sidang lagi, tapi akhirnya, di luar dugaan banyak orang, Sari dibebaskan dengan status "penangguhan penahanan", meski kasusnya secara resmi belum ditutup sepenuhnya.

Waktu Sari keluar dari ruang tahanan sementara, wajahnya kurus dan pucat, tapi matanya masih menyala seperti waktu ia bicara di gudang kosong dulu. Ia memelukku singkat, lalu berbisik, "Ini baru awal, Rangga. Kalau mereka bisa segampang itu nahan aku, mereka bisa lakuin itu ke siapa aja dari kita."

---

Kabar soal aksi lentera di depan pengadilan sampai juga, tentu saja, ke telinga yang lebih berbahaya dari sekadar wartawan lokal.

Beberapa hari setelah Sari dibebaskan, aku dipanggil lagi—kali ini bukan lewat petugas berseragam yang datang sopan ke rumah, tapi lewat pesan singkat dari nomor tak dikenal, hanya berisi satu kalimat pendek:

*"Kamu pikir lentera kecil bisa bikin api besar takut? Hati-hati, api besar juga bisa matiin lentera dengan satu tiupan."*

Aku menatap pesan itu lama, lalu menunjukkannya ke Yanto dan Ujang. Yanto membacanya dengan wajah tegang, sementara Ujang justru tersenyum tipis—senyum yang sama seperti waktu ia pertama kali menyeringai mendengar nama "Lentera" diucapkan.

"Kalau mereka udah mulai ngirim ancaman langsung," kata Ujang, "berarti mereka mulai takut beneran, Bang."

Aku tidak langsung menjawab. Karena di balik rasa bangga sesaat itu, ada sesuatu yang lebih berat menekan dadaku—kesadaran bahwa kami baru saja melewati satu ambang batas lagi. Sebelumnya, kami cuma dianggap gangguan kecil yang bisa diawasi dari kejauhan. Sekarang, kami resmi dianggap ancaman yang cukup besar untuk diberi peringatan langsung.

Dan aku tahu, cepat atau lambat, peringatan itu tidak akan berhenti di kata-kata saja.

---

*(Bersambung ke Bab 11)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!