Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Arjun tetap berdiri diam di dekat pintu kafe, persis kayak yang dia bilang. Dia nggak pergi. Dia berdiri tegak dengan tubuh tingginya yang besar itu, matanya waspada menatap jalanan di luar, memastikan Raka beneran udah pergi dan nggak bakal balik lagi. Punggungnya yang lebar dan tegap itu kelihatan banget jadi benteng paling aman buat aku, tapi di balik itu, aku tau banget dia lagi sedih dan bingung luar biasa.
Aku masih berdiri di balik meja kasir, tempatku berdiri sejak kejadian tadi selesai. Kakiku rasanya lemas banget sisa ketakutan, dadaku masih berdebar kencang campur rasa lega dan rasa bingung yang makin jadi.
Mataku nggak sengaja terus melirik ke arah Arjun. Aku lihat bahunya yang kaku, aku lihat tangannya yang mengepal pelan di samping celana, aku lihat caranya menatap keluar dengan tatapan kosong tapi penuh kewaspadaan.
Dia selamatin aku. Dia berani banget ngelawan cowok yang lebih gede darinya cuma demi aku. Dia lari secepat mungkin pas denger aku teriak. Dia khawatir setengah mati sama aku.
Dan aku? Aku cuma bilang "makasih" dengan nada sedingin es. Aku cuma berdiri diam, nggak nyapa, nggak nanya, nggak ngucapin rasa lega sama sekali.
Hatiku nyeri. Sebenernya aku pengen banget jalan ke sana, pengen banget bilang makasih yang panjang, pengen banget bilang aku takut banget tadi, pengen banget bilang aku lega banget ada dia. Tapi mulutku terkunci mati. Rasa bingung itu lagi-lagi menahan aku.
Rasa cemburu yang masih ada gara-gara Diya, rasa takut kehilangan, rasa bingung kenapa aku bereaksi seaneh ini sama dia... semuanya bikin aku makin menutup diri, makin bersikap dingin, seolah-olah apa yang dia lakuin tadi itu hal biasa aja, hal yang nggak ada artinya.
Padahal dalem hati aku terharu banget. Padahal dalem hati aku tau banget, kalau nggak ada dia, aku nggak tau bakal jadi apa sekarang.
Waktu terus berjalan, suasana di dalam kafe hening banget. Nggak ada pelanggan lain, cuma ada suara detak jam dinding dan suara napas kami berdua.
Sekitar lima belas menit berlalu, Arjun perlahan berbalik badan menghadap aku. Wajahnya yang tadinya tegang dan waspada, sekarang berubah jadi lemah banget, penuh kebingungan dan kesedihan yang dalem banget.
Dia jalan pelan-pelan mendekat ke meja kasir, langkahnya berat banget, beda banget sama langkah lincahnya biasanya. Dia berdiri di seberangku, natap aku lekat-lekat. Matanya yang indah itu kelihatan basah dan lelah, seolah dia lagi mikirin ribuan pertanyaan yang nggak ada jawabannya.
"Udah aman kayaknya, Ra..." suaranya keluar pelan, rendah, dan berat banget.
"Dia beneran udah pergi, nggak bakal balik lagi deh kayaknya. Aku pastiin udah nggak ada orang mencurigakan di sekitar sini."
Aku cuma mengangguk pelan, mataku menunduk natap ujung sepatuku sendiri, nggak berani natap matanya.
"Iya. Makasih."
Lagi. Cuma itu. Dua kata itu lagi. Dingin. Jauh. Tanpa rasa.
Arjun menghela napas panjang, napas yang terdengar banget keputusasaannya. Dia mencondongkan badannya sedikit ke depan, berusaha natap wajahku yang terus aku hindari. Dia bingung, dia bener-bener nggak ngerti lagi.
"Ra..." panggilnya lembut, tapi nadanya penuh tanya yang makin nggak dia tahan lagi.
"Aku... aku beneran nggak ngerti lagi sama kamu. Jujur sama aku ya... apa yang salah? Apa yang udah aku lakuin sampai kamu berubah sejauh ini sama aku? Dulu kita deket banget, kita apa-apa bareng, kita ketawa bareng, kita cerita semuanya... sekarang? Kamu kayak orang asing buat aku. Bahkan pas tadi... pas aku lihat kamu hampir kenapa-napa, aku rasanya jantungku mau copot, aku lari sekuat tenaga, aku siap ngelakuin apa aja demi kamu... tapi pas semuanya aman... kamu malah makin jauh. Kenapa Ra? Kenapa?"
Suaranya makin lama makin terdengar sedih banget, hampir aja nangis. Dia garuk kepalanya yang nggak gatal, mukanya bingung setengah mati.
"Apa gara-gara hari itu? Pas ada Diya datang? Kamu marah ya aku respon dia? Tapi Ra... dia cuma pelanggan. Aku kan emang gitu sama semua orang, sopan, ramah. Kamu tau kan sifat aku kayak gitu? Apa gara-gara itu kamu marah dan berubah gini? Tapi kalau iya, kenapa nggak kamu bilang dari awal? Kenapa kamu diam aja dan nyiksa diri kamu sendiri, nyiksa aku juga sama sikap dingin gini?"
Dia udah mulai nebak-nebak, tapi dia masih nggak yakin. Dia masih bingung banget kenapa hal sekecil itu bisa bikin sahabatnya berubah drastis kayak gini. Dia sama sekali nggak nyangka kalau di balik itu ada rasa cemburu dan rasa bingung yang luar biasa di hatiku.
Dia cuma mikir aku marah, dia cuma mikir aku kecewa, dia nggak tau kalau aku sendiri aja nggak ngerti apa yang aku rasain.
Aku masih diam aja. Hatiku berteriak kencang banget pengen jawab, pengen bilang
"IYA! GARA-GARA ITU! AKU SAKIT HATI LIHAT KAMU SAMA DIA! AKU BINGUNG KENAPA AKU BISA SAKIT HATI! AKU BINGUNG SAMA DIRI AKU SENDIRI!"
Tapi bibirku terkunci mati. Aku malu. Aku bingung. Aku nggak punya jawaban yang masuk akal buat dia, karena aku aja nggak ngerti diri aku sendiri.
"Enggak..." jawabku pelan, suara datar dan dingin lagi.
"Bukan gara-gara itu. Kamu nggak salah apa-apa. Aku aja yang lagi banyak pikiran. Kamu jangan kepikiran deh. Maaf kalau bikin kamu nggak nyaman."
Arjun menatapku lama banget. Dia tau aku bohong. Dia tau ada sesuatu yang aku sembunyiin. Dia tau aku nggak jujur. Tapi dia nggak bisa maksa. Dia nggak bisa ngelawan tembok dingin yang aku bangun tinggi banget di antara kami.
Dia mundur selangkah, berdiri tegak lagi. Wajahnya pasrah, bingung, dan sedih banget. Dia natap aku lekat-lekat, seolah mau inget-inget wajahku yang sekarang kelihatan asing banget buat dia.
"Yaudah... kalau kamu emang nggak mau cerita, aku nggak bakal maksa. Aku cuma... aku cuma takut aja Ra. Aku takut aku kehilangan sahabat baik aku. Aku takut kita jadi jauh gini terus. Aku takut... kehadiran aku malah bikin kamu tertekan dan makin nggak nyaman."
Dia diam sebentar, nelen ludah susah payah, terus ngomong lagi dengan suara yang makin pelan.
"Tapi satu hal yang harus kamu tau... apa pun yang kamu rasain ke aku sekarang, apa pun alasannya... buat aku, kamu tetep orang paling penting. Kamu tetep sahabat aku. Kamu tetep orang yang bakal aku lindungin apa pun keadaannya. Mau kamu marah, mau kamu dingin, mau kamu benci aku sekalipun... kalau ada apa-apa sama kamu, aku bakal tetep dateng, aku bakal tetep nolongin kamu, kayak tadi. Karena itu kewajiban aku sebagai teman kamu."
Kalimat itu ngena banget tepat di jantungku. Rasanya mau nangis sejadi-jadinya denger itu. Dia tetep ada, tetep peduli, tetep nganggep aku penting... padahal aku jahat banget sama dia. Padahal aku dingin banget sama dia.
Aku nunduk makin dalem, nggak berani natap dia lagi. Mataku udah penuh air mata, tapi aku tahan mati-matian biar nggak jatuh. Aku malu. Aku bingung. Aku nggak tau harus gimana lagi.
"Terima kasih," jawabku lagi, itu aja yang bisa keluar dari mulutku. Singkat, kaku, dingin.
Arjun mengangguk pelan, senyum tipis yang sedih banget terukir di bibirnya. Dia tau dia nggak bakal dapet jawaban hari ini. Dia tau dia harus terima sikap dingin ini dulu.
"Yaudah... aku pulang dulu ya. Udah sore, kamu juga harus nutup kafe. Hati-hati ya nanti pulang. Nanti kalau ada apa-apa, panggil aku. Aku ada di toko, nggak jauh dari sini."
Dia berbalik badan, berjalan menuju pintu. Langkahnya berat, kelihatan banget dia sedih dan bingung. Sebelum keluar, dia sempat menoleh sebentar, natap punggungku yang diam membatu di balik meja, natap aku dengan tatapan penuh pertanyaan yang nggak bakal terjawab.
"Ra..." panggilnya terakhir kali, pelan banget.
"Jangan nanggung semuanya sendirian ya. Aku di sini. Aku bakal tetep di sini, nunggu kamu siap cerita. Nunggu kamu... balik lagi jadi Aira yang aku kenal dulu."
Pintu tertutup pelan. Suara langkah kakinya makin menjauh sampai hilang sama sekali.
Begitu sosoknya beneran hilang, kakiku langsung lemas. Aku jatuh terduduk di lantai di balik meja, menutup wajahku sama kedua tangan, dan air mata yang udah kutahan dari tadi akhirnya jatuh juga. Aku nangis diam-diam, sesenggukan nahan suara.
Aku bingung banget. Aku jahat banget sama dia. Dia baik banget, dia hebat banget, dia penyelamatku... tapi aku malah nyakitin dia dengan sikap dingin ini. Aku pengen dia deket, tapi aku ngusir dia. Aku pengen cerita, tapi aku tutup mulut. Aku sakit hati gara-gara dia sama cewek lain, tapi aku malah nyakitin dia yang sama sekali nggak salah apa-apa.
"Kenapa sih... kenapa aku harus begini? Kenapa aku nggak bisa biasa aja? Kenapa aku bingung banget sama diri aku sendiri?" bisikku pelan, dada rasanya sesak banget.
Di jalanan di luar sana, Arjun berjalan pelan pulang. Dia menunduk dalam, tangannya masuk ke saku celana, pikirannya penuh sama kejadian tadi, penuh sama sikapku yang dingin, penuh sama pertanyaan yang nggak ada jawabannya. Dia makin bingung parah. Dia makin sedih. Dia makin nggak ngerti apa yang sebenernya ada di hatiku, apa yang bikin aku berubah drastis jadi begini.
Yang dia tau cuma satu: dia bakal tetep nunggu. Dia bakal tetep ada. Dia bakal tetep jadi sahabat yang melindungin aku... walaupun dia sendiri sakit hati dan bingung setengah mati diperlakukan kayak orang asing sama aku.
Dan aku... masih di sini, tenggelam dalam kebingunganku sendiri, bergumul sama rasa yang aku sendiri nggak tau namanya, rasa yang bikin aku nyakitin satu-satunya orang yang paling berharga dan paling baik buat aku.