Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajarlah
Keheningan kembali merayap di dalam ruangan. Alina merasa seluruh darahnya surut dari wajahnya. Makan malam di Rumah Utama? Bertemu dengan Kakek dan Nenek Leon yang terdengar seperti penguasa kejam di dalam dongeng?
"Tuan Leon..." suara Alina bergetar murni karena panik.
"Besok malam? Saya... saya belum siap. Bagaimana kalau mereka tahu saya hanya seorang figuran? Bagaimana kalau mereka tahu tentang kontrak kita dan pengobatan Agra?" seru Alina dengan ketakutan nya sendiri.
Leon menegakkan tubuhnya, menatap Alina dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kilatan kecemasan yang sama di mata pria itu, namun keangkuhannya dengan cepat menutupi segalanya.
"Mereka tidak akan tahu jika kamu tidak membuka mulutmu, Alina." kata Leon, suaranya tajam namun ada nada frustrasi di dalamnya.
"Kakek dan Nenekku adalah orang-orang yang paling jeli di negara ini. Mereka bisa mencium kebohongan dari jarak satu mil. Itulah kenapa aku menyuruh Jefri membacakan pasal-pasal kontrak itu berulang kali kepadamu. Mulai detik ini, aktingmu harus naik ke level tertinggi." ucap Leon dengan dinginnya.
Leon berdiri, berjalan mendekati Alina hingga bayangannya yang tinggi kembali mengurung tubuh gadis itu.
"Besok malam, di depan mereka, kamu bukan lagi Alina Savina sang pengantar makanan atau figuran rendahan yang malang. Kamu adalah putri dari keluarga Savina yang bermartabat, wanita yang aku cintai dengan penuh gairah hingga aku nekat menikahimu tanpa menunggu restu mereka. Kamu harus bisa membuat mereka percaya bahwa kita adalah sepasang kekasih yang saling memuja." ujarnya lagi.
Alina mendongak, menatap mata elang Leon yang kini berada sangat dekat dengannya.
"Saling memuja? Tuan, kita bahkan baru saling mengenal kurang dari empat puluh delapan jam. Bagaimana saya bisa berakting seperti itu di depan orang-orang sekelas kakek dan nenek Anda?"
Leon tiba-tiba mengulurkan tangannya, jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh dagu Alina, mengangkatnya sedikit agar pandangan mereka mengunci satu sama lain.
Sentuhan mendadak itu membuat Alina tersentak, jantungnya berdegup tak beraturan. Bau parfum mahal Leon kembali menyerbu indra penciumannya.
"Belajarlah, Alina. Kamu bilang kamu seorang figuran, kan? Anggap ini adalah peran terbesar dalam hidupmu yang bayarannya adalah nyawa adikmu." bisik Leon, suaranya terdengar sangat rendah dan intens, mengirimkan sensasi aneh yang menggelitik di tengkuk Alina.
"Jika kamu gagal besok malam, kontrak kita batal. Pembiayaan adikmu dihentikan, dan kita berdua akan hancur bersama. Kamu paham?" tegasnya.
Alina menelan ludahnya yang terasa getir, mencoba mengabaikan kehangatan dari jemari Leon yang masih berada di dagunya. Dia memaksakan dirinya untuk mengangguk.
"Saya... saya paham, Tuan Leon." ucap Alina dengan takut.
Leon melepaskan tangannya dari dagu Alina dengan gerakan cepat, seolah dia sendiri juga tersengat oleh kontak fisik yang tidak direncanakan itu. Dia berbalik memunggungi Alina, merapikan kembali kerah kemejanya yang berantakan.
"Besok pagi, Jefri dan tim desainer akan datang lagi ke sini. Mereka akan melatihmu bagaimana cara berjalan, cara makan, dan protokol dasar di Rumah Utama. Pakaianmu untuk besok malam juga akan disiapkan khusus agar tidak terlihat terlalu mencolok namun tetap memancarkan kelas seorang Alexander." ujar Leon tanpa menoleh lagi.
"Malam ini, istirahatlah yang cukup. Jangan biarkan wajahmu terlihat kuyu besok malam. Aku tidak suka melihat istriku walau hanya di atas kertas terlihat seperti orang yang tertindas." utasnya.
"Baik, Tuan."
Leon melangkah pergi menuju kamarnya di sayap kanan, meninggalkan Alina yang masih terduduk lemas di sofa. Gadis itu menyentuh dagunya sendiri yang masih menyisakan kehangatan dari bekas sentuhan jemari Leon tadi.
Tantangan yang sesungguhnya ternyata datang jauh lebih cepat dari yang dia duga. Besok malam, dia harus melangkah masuk ke dalam sarang serigala tua keluarga Alexander, memainkan peran sebagai seorang istri yang dicintai oleh sang tiran.
Alina memejamkan mata, mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang dia miliki demi hari esok yang akan menentukan segalanya.
...****************...
Matahari baru saja naik ketika griya tawang di atas awan itu mendadak riuh. Tepat pukul delapan pagi, Jefri datang tidak sendirian.
Di belakangnya, mengekor empat orang kru penata busana dan desainer terkemuka dari Alexander Media, lengkap dengan tiga gantungan baju beroda yang dipenuhi gaun-gaun malam kelas tinggi.
"Nona Alina, mohon maaf atas ketidaknyamanannya sepagi ini," sapa Jefri dengan bungkukan hormat.
"Namun, seperti instruksi Tuan Leon semalam, hari ini kita harus memastikan penampilan Anda tanpa cela untuk makan malam di Rumah Utama." ucap Jefri.
Alina, yang masih mengenakan kaos oblong longgar, hanya bisa mengangguk pasrah. Selama lima jam berikutnya, tubuhnya seolah menjadi milik para desainer tersebut. Dia diminta mencoba berbagai gaun, diukur ulang, dipijat, hingga rambut dan wajahnya dirawat dengan produk-produk terbaik.
"Kulitnya sangat bagus dan bersih, Pak Jefri. Hanya perlu sedikit hidrasi karena tampaknya kurang tidur," komentar sang desainer utama sembari mencocokkan sebuah gaun dengan warna kulit Alina.
Pilihan terakhir jatuh pada sebuah gaun sutra premium berwarna emerald green (hijau zamrud) dengan potongan A-line yang elegan namun tertutup. Gaun itu tidak memiliki belahan dada rendah atau payet yang berlebihan, namun setiap lipatan kainnya memancarkan kemewahan yang tenang dan bersahaja.
Rambut hitam Alina disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang kini tampak segar dan bersinar, menyembunyikan sepenuhnya identitas dirinya yang merupakan seorang figuran lelah dua hari lalu.
Pukul enam sore, Leon keluar dari kamarnya. Dia mengenakan setelan jas navy gelap yang dipotong sempurna oleh penjahit terbaik di London. Begitu matanya menangkap sosok Alina yang berdiri di dekat jendela kaca besar, langkah kaki Leon sempat tertahan selama dua detik.
Mata elangnya menatap Alina dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis yang biasanya lusuh dengan jaket ojek hijau itu kini bertransformasi menjadi sesosok wanita anggun yang memikat. Namun, dengan cepat Leon menguasai ekspresinya kembali menjadi datar.
"Tidak buruk," ucap Leon dingin sambil berjalan mendekat. Dia mengulurkan siku tangan kanannya ke arah Alina.
"Ingat apa yang kukatakan semalam. Begitu kita keluar dari pintu ini, sandiwara dimulai. Gandeng tanganku." perintahnya.
Alina menarik napas dalam-dalam, mengusir rasa gugup yang membuat telapak tangannya dingin. Dia melingkarkan jemarinya pada lengan kekar Leon.
"Baik, Tuan Leon." ucap Alina dengan hormat.
"Panggil aku Leon. Di depan Kakek dan Nenek, tidak ada kata 'Tuan'." koreksi Leon tajam saat mereka melangkah menuju lift pribadi.
Dan Alina hanya menganggukkan kepalanya paham, dia hanya diam namun rasa gugup terus menghantuinya. Alina merasa bahwa sandiwara ini sudah terlalu jauh tetapi dia melakukan ini demi sang adik.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣