Mengisahkan Perjalanan kisah cinta Adel Emanuella Sanjaya anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Max Sanjaya dan ibu Jenny Andreas. Kisah ini berawal ketika Adel berkenalan dengan seorang polisi yang identitasnya sengaja di rahasiakan karena tugas negaranya. Di pertemukan lagi ketika Adel sudah menjadi seorang dokter. Saat itu Adel Emanuella Sanjaya baru tahu bahwa Karel Imanuel Barnabas seorang perwira Kepolisian berpangkat Iptu. Apakah cinta mereka bisa bertahan menembus segala cobaan dengan profesi Karel yang adalah seorang intel??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Karel sudah sangat mencintai Adel. Dia mau menceritakan semua tentang dia kepada Adel. Sebelum dia membawa Adel kerumahnya karena mamanya mengundang untuk makan malam bersama.
"Mas... Aku pantas ngak gunakan dress ini."
"Kamu sangat cantik. Duduk sini, di rumah sakit mas berjanji untuk menjelaskan. Sekarang mas mau kamu tahu semua."
"Mas... Kalau terpaksa aku ngak mau??"
Karel tersenyum. Maka dia pun menceritakan semua tentang Evelin dan juga Jesika. Tanpa di sembunyikan.
"Kak Kaleb ngak tahu??"
"Ngak. Karena Jesika sendiri yang berjanji mau menceritakan kepada kakak."
"Kamu masih menyimpan perasaan cinta buat Jesika??"
"Mana bisa, jika aku sudah memilih kamu. Perasaan itu sudah aku kubur waktu aku di Australia. Hanya aku takut, apa pilihan kakak ku itu benar menikahinya."
"Jadi yang pas menikahi Jesika itu kamu maksudnya."
"Sayang, mas akan gigit bibir kamu. Jika sekali lagi otak kamu yang pintar itu hanya berpikir pendek."
"Maaf ya kalau soal ini aku tidak menggunakan otakku. Otakku terlalu berharga buat berpikir seperti itu."
"Terus kenapa ngomong begitu."
"Ya dengkulku yang mengerakkan mulutku." Karel langsung memeluk Adel. Dan menciumnya.
"Kamu buat mas tambah cinta."
"Memang itu niatku. Mas kan sudah berani cium bibir aku."
Pukul enam Karel membawa Adel ke rumah mereka. Adel meminta agar mampir sebentar di toko kue, karena dia akan membawa makanan pencuci mulut berupa berupa ice cream cake rasa vanila.
"Sayang... Ngak bawa begini juga ngak masalah. Ini mama sengaja undang kamu, karena kamu sudah berjasa menolong anak kesayangannya."
"Emang mas saja yang kesayangan, kalau mas Kaleb."
"Dia wajib menyayangi adeknya."
Tidak butuh waktu lama, karena jarak rumah Karel dengan markas besar polri sangat dekat. Dan kedatangan Adel sudah di nanti mama, papa dan kakaknya Kaleb. Sesuai dengan apa yang sudah di ceritakan oleh Karel, Adel tahu bahwa Jesika tidak akan menyambutnya atau rama dengannya karena dia masih belim bisa terima kenyataan bahwa Adel adalah pacar Karel.
Karel mengandeng tangan Adel saat keluar dari mobil dan memegang kue yang tadi Adel beli.
"Bawa apa nak??"
" Kue, tadi Dokter cantik ini beli."
"Ayo masuk. Karena sudah jam tujuh kita makan dulu ya. Ceritanya nanti setelah selesai makan malam."
Adel di layani oleh Karel. Dia membersihkan cangkang udang sebelum di makan oleh Adel. Kalau soal perhatian, Karel lebih unggul dari Kaleb kakaknya. Kaleb lebih terkesan cuek.
"Mas... Nanti aku aja."
"Iya jangan terlalu di manjai." Jesika langsung merespon.
"Tidak mengapa sayang, aku mau melakukan buat kamu."
"Ngak apalah Jess, Karel suka kok manjai pacarnya."
"Terima kasih kak."
"Kamu juga buat seperti itu sama istrimu kak."
"Jess ngak suka makan udang ma. Iya kan sayang."
"Iya mas."
Selesai makan bersama, kembali mereka bercerita di ruang keluarga sambil menikmati cake ice cream yang Adel bawa. Banyak hal yang di tanyai oleh orang tua Karel. Dengan maksud agar bisa kenal Adel lebih dekat.
"Mama dan papa saya pensiunan pegawai sipil. Sekarang usaha penginapan dan sekolah menyelam di Bali."
"Berarti sering pulang ke Bali dong??"
"Iya. Rencananya natal tahun ini, mau ke Bali."
"Berarti Karel di tinggali natal sendiri??"
"Siapa bilang, aku akan kesaba bersama Adel. Sekalian mau kenalan dengan orangtuanya."
Tak teresa sudah malam, sudah pukul sepuluh malam. Karel dan Adel pamit mau kembali ke kompleks polisi.
"Mas... Benar kamu mau natal sama aku di Bali."
"Iya. Bolehkan."
"Baru mama dan papa disini??"
"Kan ada kakak dan istrinya."
"Aku lihat tadi Jesika cemburu??"
"Biarin aja. Bukan urusan aku."
"Mas, sebenarnya tidak menggunakan saya untuk membalas dendam kepada Jesika kan??" Karel tidak menyangka Adel akan berbicara seperti itu. Spontan dia merasa kaget. Dan mobilnya dia tepikan. Karena Adel sudah tidak melihat ke arahnya lagi. Tetapi terus menatap ke luar jendela yang berada disisinya.
"Hey .... lihat mas dong. Adel." Adel masih tetap stay dengan posisinya. Sebagai orang yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta, dia takut Karel hanya menggunakannya sebagai alat agar Jesika cemburu.
"Sayang....... Tidak ada niat jahat mas, untuk menyakiti kamu. Aku Karel Imanuel Barnabas sungguh - sungguh mencintaimu." Air mata Adel sudah mengalir membasahi pipinya. Dan Karel paling tidak bisa melihat orang yang dia cintai terluka. Langsung di peluk Adel.
"Mas sungguh - sungguh mencintaimu. Mas berani bersumpah. Lihat mas sayang." Adel memberanikan diri menatap Karel. Langsung air mata itu di hapus dengan lembut oleh tanganya.
"Kamu itu sama berharganya dengan mamaku. Mas mohon maaf membuat lagi kamu terluka. Semua tindakan mas di rumah tadi di ruang makan tadi, murni karena cinta mas kepadamu."
Akhirnya Karel tidak membawa Adel pulang ke rumahnya. Dia sengaja membawa Adel ke apartemennya dan bermalam disana.
"Mas kenapa ke sini??"
"Malam ini, mas masih mau bersamamu."
"Mas..... Apa kata orang nanti."
"Mas tidak akan menyentuh organ intim kamu, tanpa seijin kamu. Mas berjanji hanya ciuman dan memeluk kamu."
Dan malam itu, benar - benar Adel hanya tidur dipeluk oleh Karel paling jauh dari kebersamaan mereka adalah berciuman. Karena tidak membawa baju, malam ini Adel tidur menggunakan baju kaos punya Karel, dan dibadan Adel seperti drees.
Malam ini, mereka mencurahkan isi hati mereka. Dan Karel baru tahu, bahwa Dia adalah cinta pertama Adel. Semua hal tentang Adel di ketahui oleh Karel. Dan akhirnya dia tahu selain introvert, Adel juga seorang yang mandiri, kuat, dan sabar.
Sebenarnya Karel bisa saja bermalam di rumah dinasnya Adel, tetapi dia mau menjaga perasaan Adel. Takut perbuatan Karel bisa menjadi buah bibir buat satu kompleks dan Adel bisa malu. Maka apartemen solusi jika mereka mau bersama.
Adel dibangunkan dengan aroma masakan di pagi hari. Karel sudah menyiapkan sarapan buat mereka berdua. Karel tersenyum melihat perempuan yang dia cintai bangun tidur dengan baju kaosnya. Karel sudah memesan baju casual di butik langganan mamanya. Karel mendekati perempuan itu mengucapkan salam dan mencium kening dan bibir Adel.
"Ade, ada dinas pagi??"
"Ngak mas."
"Asik, kita berdua bisa seharian disini."
Siang hari pukul sebelas, Karel di kagetkan dengan pintu apartemennya yang terbuka.
"Mas, siapa yang datang??"
Karel sadar, bahwa yang tahu akses masuk apartemen ini adalah Jesika. Terdengar suara perempuan dan Adel kenal suara siapa itu yang memanggil nama Karel. Namun Jesika tidak bisa masuk ke kamar. Karena kodenya hanya dia yang tahu.
Adel sudah pucat pasih. Karel memeluknya dan berbisik kata - kata yang menenangkan.
"Aku tahu kamu di dalam kamarmu. Aku akan menunggu sampai kamu kelaur."
Kembali Karel menenagkan Adel. Dia memeluk dan kemudian memberi kecupan.
"It's oke. Mas akan selesaikan."