NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Balik Jendela Vihara

Sabtu pagi disambut oleh langit cerah yang dibalut kehangatan sinar matahari. Udara kota terasa segar, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Di sepanjang pelataran Vihara, dedaunan hijau membias sinar keemasan yang menenangkan.

Callista melangkah menyusuri lorong berlantai marmer bersih. Langkah kakinya pelan, menyelaraskan ritme dengan ketenangan di sekelilingnya. Di tangannya, seikat bunga sedap malam dan kantong kain berisi beberapa lilin doa tergenggam erat.

Di depan altar utama yang megah, aroma wangi hio menyapa indra penciumannya. Callista melangkah mendekat, lalu bersimpuh di atas bantalan doa yang terhampar di lantai.

Di sebelahnya, Sean sudah lebih dulu bersimpuh. Cowok itu mengenakan kemeja kain santai berwarna krem. Tangan Sean terkatup rapi di depan dada, matanya terpejam khusyuk dalam doa yang dalam. Tidak ada riak canda atau celotehan usil; di depan altar ini, Sean selalu menjadi sosok yang begitu tenang dan dewasa.

Callista menyalakan sebatang hio, menyatukan kedua telapak tangannya, lalu memejamkan mata.

Dalam hening doa pagi itu, pikiran Callista melayang pada perjalanan beberapa bulan terakhir. Tentang rasa cemas yang pernah menghimpitnya, tentang keputusan dewasa yang diambil Kenzo di perpustakaan kota, dan tentang hari-hari padat menjelang keberangkatannya ke Singapura.

“Terima kasih untuk kedamaian ini,” bisik Callista dalam hatinya. “Terima kasih telah menuntun langkahku kembali ke tempat di mana hatiku merasa aman.”

Ketika Callista membuka mata, Sean sudah menoleh padanya. Cowok itu menyunggingkan senyum tipis yang hangat—senyuman tulus yang memancarkan rasa sayang dan keikhlasan yang teramat sangat.

"Udah selesainya doanya, Cal?" tanya Sean pelan, memperhalus intonasi suaranya agar tidak mengganggu keheningan Vihara.

Callista mengangguk pelan. "Udah, Sean."

Keduanya berdiri perlahan, melangkah menuju halaman samping Vihara yang ditumbuhi pohon bodhi rindang. Angin sepoi-sepoi memainkan ujung rambut Callista saat mereka duduk di bangku batu di bawah naungan pohon.

Sean meraih dua botol air mineral dari dalam tasnya, menyerahkan satu pada Callista. "Tinggal dua minggu lagi ya sebelum lo berangkat ke Singapura?"

"Iya," jawab Callista seraya memutar tutup botolnya. "Bapak bilang, minggu depan udah masuk tahap karantina akhir di Jakarta sebelum penerbangan."

Sean menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku batu, menatap dedaunan yang bergoyang ditiup angin sore. "Tiga bulan itu bakal berasa cepet banget, Cal. Lo di sana fokus belajar aja, gak usah kepikiran hal-hal di sini. Gue udah janji sama Tante Yuli buat tetep sering mampir ke rumah lo, bantu-bantu kalau ada apa-apa."

Callista menatap profil wajah Sean dari samping. Kehangatan yang dipancarkan sahabatnya itu selalu berhasil meluluhkan seluruh keraguan di dalam dadanya.

"Sean," panggil Callista pelan.

"Hm?" Sean menoleh.

"Makasih ya... karena lo gak pernah lelah buat berdiri di samping gue. Bahkan pas gue sempat bingung dan tersesat kemarin."

Sean tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan menenangkan. Tangannya terulur, menepuk pelan puncak kepala Callista. "Cal, kita itu udah tumbuh bareng dari kecil. Gue udah paham luar dalam sifat lo. Lagian, buat orang yang kita sayangi... nunggu dan bertahan itu bukan hal yang berat."

Mata Callista berbinar hangat. Kata-kata Sean yang sederhana namun jujur terasa begitu meresap di relung hatinya.

Sementara itu, di sebuah sudut cafe tak jauh dari kompleks Vihara, Kenzo duduk sendirian di dekat jendela kaca besar. Di depannya, sebuah laptop terbuka menampilkan lembar kerja analisis data untuk persiapan keberangkatan mereka.

Namun, perhatian Kenzo tidak sepenuhnya tertuju pada layar monitor. Matanya menatap lurus ke luar jendela—ke arah gerbang Vihara yang terlihat samar di ujung jalan.

Dari tempatnya duduk, Kenzo bisa melihat dua sosok yang baru saja melangkah keluar dari area Vihara. Callista berjalan beriringan dengan Sean, keduanya tampak tertawa kecil sambil menikmati es krim di tangan masing-masing.

Kenzo menyesap kopi hitamnya yang mulai dingin. Tidak ada rasa sesal atau sakit hati dalam dadanya. Sebaliknya, ada kepuasan yang sunyi saat melihat senyuman lepas yang terpancar dari wajah Callista.

Layar ponsel Kenzo di samping laptop bergetar menyala. Sebuah pesan masuk dari ayahnya.

Papa: Jadwal penerbangan kamu ke Australia untuk seleksi lanjutan sudah dikonfirmasi untuk bulan depan. Pastikan seluruh tugas OSIS dan kewajiban kamu di sekolah sudah selesai sebelum keberangkatan.

Kenzo membaca pesan itu dengan mata yang tenang. Ia menarik napas panjang, meremas ponselnya sebentar, lalu mengetik balasan singkat.

Kenzo: Baik, Pa. Semuanya sudah saya kondisikan.

Kenzo meletakkan kembali ponselnya, lalu menatap kembali ke arah luar jendela. Punggung Callista dan Sean perlahan menghilang di balik tikungan jalan kota.

Kenzo menyunggingkan senyum tipis—senyuman paling dewasa yang pernah ia miliki. Ia sadar, takdir telah membawa mereka bertiga ke persimpangan jalan yang berbeda. Namun, di atas garis batas iman, cita-cita, dan masa depan, mereka semua telah belajar satu hal penting: bahwa mencintai tidak harus selalu memiliki, dan melepaskan dengan rela adalah bentuk tertinggi dari sebuah keikhlasan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!