"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.
Repan menetap di Kota Bogor.
Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.
Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.
Bagaimana kelanjutannya..?
"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Tut! Tuuut!
Getaran ponsel di atas meja nakas mendadak merusak ketenangan pagi. Repan melirik ke arah layar gawai miliknya.
"Bimo? Kenapa nih anak nekat menelepon sepagi ini?" gumamnya seraya meraih ponsel tersebut.
Tanpa menaruh curiga sedikit pun, ia langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Namun sebelum sempat ia mengutarakan salam sapaan, vokal panik dari seberang sambungan telepon langsung menyergap pendengarannya.
"PAN! TOLONGIN GUE! GENG BERANDALAN MOTOR ITU... MEREKA SEMUA PADA DATANG NYARIIN LO!!"
Repan seketika langsung berdiri tegak dari kursi tempat duduknya, raut wajahnya mendadak berubah menjadi teramat serius.
"Ada masalah apa sebenarnya, Bim?! Posisi lo lagi di mana sekarang?!" vokal Repan meninggi, ia bisa merasakan dengan jelas adanya kepanikan luar biasa di dalam nada suara sahabatnya itu.
Dari pengeras suara ponsel, mendadak terdengar keriuhan suara keributan yang sangat gaduh. Vokal kasar dari seorang pria asing mencuat merebut perhatian.
"Anjing! Siniin HP-nya ke gue! Biar gue yang bicara sama dia!"
Suara Bimo terdengar bergetar ketakutan. "Jangan, Bang! Jangan rampas HP gue!"
"Wah, berani-beraninya lo ngelawan gue, hah?!"
Buak! Duak! Buk!
Repan seketika membeku kaku di posisinya. Suara benturan hantaman fisik itu terdengar sangat jelas di telinganya, disusul jeritan Bimo yang memohon belas kasihan.
"BIMO! LO LAGI DI MANA?! APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI SANA?!" teriak Repan emosi, namun tidak ada respons balasan. Hanya terdengar deru keributan dan erangan kesakitan dari Bimo.
"Sini HP-nya! Biar gue yang ngomong langsung sama anak bajingan itu!" suara Bastian terdengar dengan sangat jelas.
Kemudian, dengan intonasi nada yang mengejek dan kasar, vokal asing itu menyapa di seberang telepon:
"Halo... lo yang namanya Repan? Anak sekolah sok jagoan yang udah bikin Drian sama Roni masuk rumah sakit, kan?"
Repan mengepalkan jemari tangannya kuat-kuat. Gerahamnya mengatup rapat menahan amarah.
'Berandalan ini pasti salah satu anggota dari Geng GBA... Jadi mereka akhirnya nekat bermunculan cuma buat balas dendam?' batin Repan murka, sepasang matanya menatap tajam ke arah dinding seolah-olah sosok Bastian sedang berdiri tepat di hadapannya.
"Siapa lo, Bangsat?!" tanya Repan dengan nada suara sedingin es yang sanggup menusuk mental.
"Gue Bastian. Salah satu petinggi Geng GBA cabang utara," kekeh Bastian meremehkan.
"Dengar baik-baik ya, kalau lo beneran punya nyali sebagai laki-laki! Mending lo buru-buru meluncur ke sini sekarang, sebelum sahabat dekat lo ini gue bikin masuk ruang ICU beneran."
Mendadak terdengar bentakan Bastian ke arah Bimo, "Woi, ngomong cepat, Tolol!"
Bimo berteriak parau dari seberang sambungan, meskipun vokalnya terdengar sudah sangat lemas.
"PAN! JANGAN KE SINI, PAN! JUMLAH MEREKA BANYAK BANGET! MENDINGAN LO SEMBUNYI SAJA!!"
"BANGSAT LO!" Bastian meledak dalam amarah.
Buak! Buak! Duak!
Repan mengatupkan rahangnya erat-erat. Jemari tangannya mengepal begitu kuat hingga seluruh ruas sendinya memutih.
"Berandalan brengsek... Di mana kalian semua sekarang?!" desisnya penuh dengan kobaran amarah.
"Di lapangan bola belakang SMA 09 Cimanggu. Di area belakang. Gue tunggu kehadiran lo di sini."
Intonasi vokal Bastian terdengar datar, namun menyimpan daya intimidasi yang berbahaya laksana mata pisau yang sudah menempel di urat leher.
Bip.
Repan langsung mematikan sambungan teleponnya. Rona wajahnya mengeras kaku, rahangnya mengetat, dan pancaran sorot matanya terkesan nggak main-main.
'Jadi kalian semua beneran berniat datang buat balas dendam sama gue... Bahkan sampai tega menyakiti sahabat gue cuma demi memancing gue keluar? Sialan...' batinnya murka, sementara dadanya bergemuruh hebat akibat diselimuti hawa amarah yang membakar.
Ia segera berganti pakaian dengan gerakan cepat dan dipenuhi rasa kesal yang tertahan.
Di ruang tengah rumah baru mereka, Arinda menatap heran saat menyaksikan kakaknya berjalan tergesa-gesa menuju ke arah pintu keluar.
"Kak? Mau pergi ke mana pagi-pagi begini?" tanyanya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa ingin tahu.
Repan menghentikan langkah kakinya sejenak tepat di depan Arinda, menatap lekat-lekat ke arah adiknya dengan sorot mata yang teramat serius.
"Arinda... dengarkan pesan Kakak baik-baik. Hari ini kamu sama sekali nggak boleh melangkah keluar dari dalam rumah. Kondisi di luar lagi sangat berbahaya," ucap Repan dengan intonasi yang tegas.
Arinda langsung tercengang mendengarnya. Ekspresi wajah kakaknya pagi ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Repan biasanya selalu bersikap kalem dan santai.
Namun saat ini... sepasang matanya tampak berkilat menyalakan kobaran emosi yang nyaris nggak sanggup ia sembunyikan lagi.
'Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kak Repan... dia kelihatan marah banget,' batin Arinda panik.
"Baik, Kak... aku berjanji nggak bakal pergi ke mana-mana hari ini. Tapi Kakak harus berjanji bakal langsung pulang begitu urusannya selesai, ya," sahut Arinda lirih karena cemas.
Repan menganggukkan kepalanya pelan. "Kunci rapat semua akses pintu rumah. Jangan pernah membukakan pintu buat siapa pun."
Usai menyampaikan instruksi tersebut, Repan langsung mengayunkan kakinya melangkah keluar rumah dengan derap langkah yang berat namun mantap. Suasana pagi yang semula tenang kini resmi bertransformasi menjadi area medan tempur baginya.
Ia tahu persis konsekuensi apa yang bakal dihadapinya di sana. Namun yang jauh lebih krusial dari segalanya... keselamatan sahabatnya saat ini sedang terancam.
Dan ia... sama sekali nggak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Bimo tanpa adanya perlawanan!
Di area lapangan bola di belakang bangunan SMA 09 Cimanggu, atmosfer di lokasi tersebut terasa sangat mencekam. Lima orang siswa, termasuk Bimo di dalamnya, tampak tergeletak lemas di atas tanah bersimbah luka.
Deru napas mereka tersengal-sengal, dengan kondisi wajah yang dipenuhi lebam kebiruan serta tubuh yang penuh dengan luka memar akibat amukan brutal anggota Geng GBA.
Di posisi tengah kerumunan, Bastian berdiri dengan raut wajah yang dipenuhi kabut emosi. Deru napasnya memburu, dan sepasang matanya menatap liar memantau situasi area sekeliling.
"Lama banget itu anak bajingan datang ke sini! Cepat telepon nomornya sekali lagi!" bentaknya kasar, sembari menendang sebuah kaleng kosong di dekat kakinya hingga mencelat jauh.
Bimo, dengan kondisi tubuh yang gemetaran dan cairan darah yang merembes dari sudut bibirnya, berusaha keras menatap wajah Bastian dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.
"Dia... dia nggak bakal sudi datang ke sini. Percuma saja kalian semua menunggunya!" ucap Bimo, walau nada suaranya terdengar sangat lemas dan serak.
Bastian melotot murka. "Mulut lo masih berani berulah ya, hah?!" Ia memberikan kode aba-aba lewat anggukan kepala.
Empat orang anak buahnya langsung melangkah maju mendekati Bimo.
Buak! Buk! Duak!
Rentetan tendangan dan pukulan mentah kembali menghantam tubuh kelima siswa itu tanpa ampun. Suara jeritan kesakitan mereka menggema memecah keheningan di tengah area lapangan yang sepi.
Sementara itu...
Dari kejauhan, seorang remaja tampak melangkah perlahan di bawah pendar sinar matahari pagi.
Langkah kakinya stabil dan mantap, dengan sorot mata yang menajam menatap lurus ke arah kerumunan geng motor di depan. Dialah Repan.
Ia menghentikan pergerakannya di balik pagar besi, mengamati peta kekuatan lawan dari jarak yang cukup aman.
'Jumlah mereka... sekitar tiga puluh... bukan, mungkin malah lebih dari empat puluh orang. Nggak mungkin aku bisa menang melibas orang sebanyak itu cuma kalau mengandalkan teknik bertarung biasa,' batin Repan menganalisis situasi dengan kepala dingin.
Ia pun memanggil panel sistemnya di dalam pikiran.
'Sistem, apakah ada opsi pilihan seni bela diri yang efektif digunakan untuk menghadapi pertempuran satu lawan banyak?'
[Rekomendasi Keahlian Bela Diri: Pencak Silat & Wing Chun]
Sebaris tulisan bernuansa biru transparan mencuat di ruang pandang matanya.
Repan menganggukkan kepalanya pelan. 'Sistem, masukkan kompetensi Pencak Silat ke dalam daftar keahlian khususku.'
[Jumlah Poin Atribut Tidak Mencukupi! Diperlukan Konsumsi Sebesar 100 Poin untuk Menguasai Kompetensi Pencak Silat]
Repan mengepalkan tangannya jengkel. 'Sialan... harganya mahal banget, sisa poin yang kumiliki saat ini cuma tersisa 50 poin lagi,' gerutunya di dalam hati.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ia langsung beralih memilih opsi rekomendasi kedua. 'Kalau begitu, masukkan kompetensi Wing Chun ke dalam daftar keahlian khususku.'
[Apakah Anda Yakin Ingin Mengonfirmasi Penguasaan Kompetensi Bela Diri Wing Chun dengan Mengonsumsi 50 Poin Atribut?]
Repan sempat ragu selama satu ketukan. Itu adalah seluruh sisa poin atribut yang ia miliki saat ini. Namun ia sangat sadar, sudah tidak ada lagi opsi pilihan lain.
Nyawa Bimo saat ini sedang terancam bahaya besar. Teman-temannya yang lain bisa saja tewas kalau ia terlambat mengambil tindakan.
'Konfirmasi penguasaannya sekarang juga.'
Ting!
[Kompetensi Wing Chun Lv.1 Berhasil Ditambahkan!]
[Deskripsi: Anda Kini Memiliki Kapasitas Biomekanik dan Refleks Pertarungan Seni Bela Diri Wing Chun Setara Akumulasi Latihan Intensif Selama 10 Tahun]
Dalam sekejap mata, pemahaman mendalam mengenai taktik seni bela diri Wing Chun—mulai dari teknik tangkisan kilat, kombinasi pukulan beruntun yang cepat, hingga strategi pertahanan dan serangan jarak dekat—langsung merangsut dan membanjiri benaknya.
Struktur biologis tubuhnya seolah-olah sudah terbiasa mempraktikkan seluruh taktik pertarungan itu sepanjang hidupnya.
Repan membuka sepasang kelopak matanya. Sorot pandangannya kini terasa sangat berbeda dari sebelumnya—jauh lebih fokus, tajam, dan penuh dengan aura kewibawaan yang menekan.
'Wing Chun... pergerakannya sangat cepat, efisien, dan teramat mematikan untuk pertempuran jarak dekat. Ini adalah opsi kompetensi yang sangat sempurna,' pikirnya.
Ia menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan kondisi fisik, lalu mengayunkan kaki melangkah memasuki area lapangan bola.
Langkah kakinya memang terkesan pelan, namun membawa tekanan hawa intimidasi yang sangat pekat.
Atmosfer di sekitar area lapangan perlahan-lahan mulai berubah drastis. Beberapa personel geng motor tampak mulai mengalihkan pandangan mata mereka ke arah kedatangan Repan.
Bastian, yang saat itu baru saja hendak melayangkan pukulan susulan ke arah Bimo, mendadak menghentikan gerakannya dengan dahi berkerut heran.
"Hah? Itu kan..."
Kini Repan sudah berdiri tegak hanya berjarak beberapa meter dari kerumunan komplotan Geng GBA. Postur fisiknya tegap, dengan pancaran sorot mata yang dingin tanpa ada sedikit pun percikan rasa gentar.
"Sudah puas kalian semua memukuli anak-anak sekolah yang sama sekali nggak tahu apa-apa, hah?" panggil Repan dengan intonasi vokal yang teramat datar.
Bastian menyunggingkan senyuman miring yang penuh kemenangan. "Akhirnya lo sudi menampakkan batang hidung lo juga di sini, Bajingan kecil!"
Repan mengeratkan kepalan jemari tangannya, lalu secara perlahan menggeser poros kaki kanannya satu langkah ke depan, mengambil bentuk posisi kuda-kuda khas seni bela diri Wing Chun.
'Hari ini... aku bakal bikin kalian semua kapok untuk selama-lamanya.'
Bastian berdiri tegap di posisinya dengan raut wajah yang dipenuhi oleh keangkuhan mutlak. Sepasang matanya menatap tajam ke arah Repan, mirip laksana seekor pemangsa yang sedang mengunci pergerakan mangsanya yang sudah dipastikan bakal tewas.
"Pegang dan kunci pergerakan anak ini!" perintah Bastian santai, namun sarat akan tekanan.
Seketika itu juga, sepuluh orang anak buahnya langsung melesat maju ke depan, bergerak cepat mengepung posisi Repan dari berbagai penjuru arah.