Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pengantin, Lingerie Pink, dan Jenderal yang Hilang Kendali
Malam yang melelahkan namun dipenuhi gelak tawa di Grand Ballroom hotel bintang lima akhirnya mereda saat jarum jam menunjuk angka dua dini hari.
Setelah pesta usai, Ajo mengantar Elsa kembali ke rumahnya dengan mobil sedan hitamnya. Sepanjang jalan, Elsa tak henti-hentinya tersenyum, menyandarkan kepala di bahu Ajo sambil mengelus jemari pria itu. Hatinya melimpah oleh rasa bahagia yang tak terukur. Jimi dan Rina pun pulang ke kediaman mereka dengan dada yang penuh keheningan damai—melihat dua sahabat terbaik mereka kini telah menemukan pelabuhan hidup masing-masing.
Sementara itu, di lantai teratas hotel, drama konyol nan manis baru saja mau dimulai di dalam kamar Honeymoon Suite.
Adam sengaja masuk belakangan ke kamar. Pria itu sibuk mengurus sisa administrasi hotel, menyalami beberapa tamu VIP yang masih bertahan di lobi, dan yang paling penting: menenangkan gumpalan rasa gugup setengah mati di dadanya. Sebagai mantan bos besar distributor film yang biasa memimpin rapat ratusan miliar, malam ini Adam merasa hatinya bergetar lebih kencang daripada saat perusahaannya terancam bangkrut.
Dengan napas ditarik dalam-dalam dan senyum paling manis yang ia latih di depan kaca, Adam memutar gagang pintu kamar pengantin mereka secara perlahan.
"Jul? Maaf ya, aku agak lama di bawah, tadi ada sedikit—"
Kalimat Adam mendadak tercekat di tenggorokan. Suaranya menghilang entah ke mana. Matanya membelalak lebar hingga hampir keluar dari kelopaknya.
Di atas ranjang berukuran King Size yang ditaburi kelopak bunga mawar merah, Juli sedang berbaring miring. Kembang Desa Gunung Salak yang biasanya hanya mengenakan daster batik atau kebaya kain polos itu, kini terbalut lingerie sutra tipis berwarna merah muda lembut yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan kulit mulusnya yang merona.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai acak-acakan tapi sangat estetis. Dan yang membuat pertahanan mental Adam hancur berkeping-keping: Juli menyunggingkan senyum lesung pipit paling manis sekaligus jahil, sambil merebahkan kepala di bantal dan mengayun-ayunkan kedua kakinya secara manja di udara.
Pemandangan itu seperti pukulan telak menghantam ulu hati Adam.
SLURP.
Tanpa bisa dibendung, sebaris darah hangat menetes keluar dari hidung kanan Adam. Pria itu mimisan seketika akibat shock dan salah tingkah luar biasa melihat penampilan istrinya yang begitu berani namun tetap memancarkan kepolosan alami!
"Mas Adam? Kok malah berdiri saja di depan pintu kayak patung?" panggil Juli renyah. Suaranya halus mengalun, bagai racun manis yang membakar seluruh syaraf di kepala Adam.
Adam panik setengah mati. Dengan gerakan konyol yang sama sekali tidak terkontrol, ia buru-buru menutup hidungnya dengan lengan jas mewahnya, matanya mendelik liar ke kiri dan ke kanan, dan kedua kakinya mendadak mengentak-entak lantai karpet hotel bagai kuda liar yang hilang kendali di padang rumput!
"A-A-Astaga, Jul! Kau... kau pakai baju apa itu, hah?!" cerceh Adam dengan suara agak sengau karena hidungnya disumbat lengan jas. Wajahnya yang biasa klimis kini merah padam sampai ke ujung telinga.
Juli tak sanggup lagi menahan tawa. Tawa renyah yang amat riang meledak dari bibirnya melihat suaminya yang gagah mendadak bertingkah konyol seperti kuda panik. Juli bangkit berlutut di atas kasur, mengibaskan rambutnya, lalu memiringkan kepalanya dengan polos.
"Mbak Rina sama Mbak Elsa yang pilihkan baju ini waktu di mal kemarin, Mas," goda Juli dengan raut wajah memonyongkan bibir secara menggemaskan. "Katanya... Mas Adam bakal suka banget. Tapi kok Mas Adam malah mimisan terus mengentakkan kaki kayak kuda begitu? Nggak suka ya sama bajunya?"
"SUKA! Suka banget, Jul! Maksudku... Ya Tuhan, kepala aku mau pecah!" seru Adam panik sambil menyapu sisa darah di hidungnya menggunakan tisu dari meja sebelah.
Melihat kepolosan istrinya yang begitu manis, seluruh rasa canggung dan gengsi mantan miliarder itu menguap tanpa sisa. Adam melemparkan jas mewahnya sembarangan ke lantai, melepaskan dasinya dengan cepat, lalu melompat ke atas ranjang dengan senyuman lebar yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Aplikasi baju dari Mbak Rina dan Elsa memang luar biasa... tapi istrinya jauh lebih luar biasa!" pekik Adam geli.
Juli menjerit pelan sambil tertawa terbahak-bahak saat Adam menangkap tubuhnya, memeluknya erat, dan merebahkannya ke atas tumpukan bantal lembut. Di dalam kamar pengantin yang hangat dan temaram itu, gelak tawa konyol berubah menjadi bisikan penuh kelembutan. Dua jiwa dari dunia yang berbeda—seorang pengusaha kota dan gadis desa yang polos—menyatu dalam kehangatan malam pertama yang murni, indah, dan penuh rasa syukur atas takdir manis yang menyatukan mereka.