Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Yang Menyakitkan
Di balik pagar rumah mewah milik Kasandra sebuah mobil hitam berhenti perlahan.
Seseorang duduk di balik kaca gelap, menatap ke arah rumah Kasandra tanpa berkedip.
Tatapannya penuh kemarahan saat samar-samar mendengar tangisan seorang gadis dari dalam rumah.
Ia mengepalkan tangan begitu erat.
"Kasandra..."
"Kasihan sekali kamu, sebentar lagi kamu akan menyesal karena telah menyiksa gadis itu selama ini"
"Ayo Jalan Sebastian" perintah Fisya
"Baik bu" jawab Sebastian
Mobil hitam mewah milik keluarga Alexander melaju tenang membelah jalanan
Di balik kaca jendela, Fisya duduk diam sambil memandang keluar, tatapannya kosong, tetapi pikirannya dipenuhi begitu banyak kenangan yang selama delapan belas tahun tak pernah benar-benar hilang.
"Bu... apakah Ibu mau langsung saya antar ke bandara?" tanya Sebastian dengan sopan, memecah keheningan.
Suara itu menyadarkan Fisya dari lamunannya.
Ia mengalihkan pandangan ke arah Sebastian, lalu menganggukkan kepala pelan.
"Ya... tolong antar aku ke bandara."
Fisya berhenti sejenak sebelum kembali berkata dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Sudah waktunya aku membawa Tina kembali ke sini."
"Baik, Bu." Jawabnya
Sebastian kembali fokus menyetir.
Suasana mobil kembali sunyi hanya terdengar suara mesin mobil dan hembusan pendingin udara.
Namun, di balik kesunyian itu...
Pikiran Fisya kembali berputar pada laporan yang pernah diberikan oleh orang kepercayaannya, Witan, beberapa tahun lalu saat ia diam-diam menyelidiki kejadian yang menimpa dirinya pada malam pesta ulang tahun Kasandra.
**Flashback On**
"Bu Fisya, kami sudah selesai menyelidiki kejadian pada malam pesta ulang tahun bu Kasandra dua tahun yang lalu,"> lapor Witan dengan wajah serius.
Fisya yang sejak tadi duduk termenung langsung mengangkat kepalanya.
"Bagaimana hasilnya?" tanyanya penuh harap.
Witan menarik napas pelan sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Pada malam itu, pak Jason sebenarnya tidak berada di hotel. Beliau sedang menghadiri jamuan makan yang diadakan oleh atasannya."
Kedua alis Fisya langsung berkerut.
"Apa maksudmu?"
"Setelah kami mengumpulkan berbagai bukti dan keterangan saksi, kami menemukan fakta bahwa saat Ibu mulai kehilangan kesadaran, bu Kasandra lah yang diam-diam mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman Ibu."
Mata Fisya membelalak. Tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal erat.
"Lalu setelah Ibu pingsan, Nona Kasandra membawa Ibu ke sebuah kamar hotel."
Witan berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Tak lama kemudian, seorang pria memasuki kamar tersebut."
"Namun sayangnya, kami tidak dapat mengidentifikasi wajah pria itu karena seluruh kamera pengawas di lorong menuju kamar telah dirusak dengan sengaja."
"Kami menduga semua itu sudah direncanakan sejak awal"
Jantung Fisya berdegup semakin cepat.
"Jadi... pria itu bukan Jason?" tanyanya dengan suara bergetar.
Witan menggeleng pelan.
"Bukan, Bu"
Mendengar jawaban itu, Fisya mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Selama beberapa tahun ini dia hidup dengan kebohongan karena ia meyakini bahwa Jason adalah pria yang telah menodai dirinya pada malam itu.
Namun ternyata...
Kebenaran yang ia dengar jauh lebih mengejutkan.
Witan kembali melanjutkan laporannya.
"Beberapa jam kemudian, Nona Kasandra kembali masuk ke kamar tempat Ibu berada."
"Ia kemudian membawa Ibu ke kamar lain yang di dalamnya sudah ada pak Jason."
"Mereka berdua dengan sengaja merekayasa seluruh kejadian itu agar Ibu percaya bahwa pak Jason lah pria yang telah tidur bersama Ibu malam itu."
Suasana ruangan seketika berubah sunyi.
Wajah Fisya perlahan memucat, matanya dipenuhi amarah yang selama ini tertahan.
"Oh... jadi begitu... Pandai sekali mereka memainkan sandiwara."
"Mereka benar-benar berhasil membuatku mempercayai kebohongan itu selama Dua tahun belakangan ini"
Suara Fisya terdengar lirih, tetapi sarat dengan kemarahan.
Ia menundukkan kepala sambil mengepalkan kedua tangannya semakin erat.
"Apakah Ibu ingin saya melanjutkan penyelidikan untuk mencari identitas pria asing tersebut?" tanya Witan hati-hati.
Fisya terdiam cukup lama, ia perlahan memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Tidak..."
Suara Fisya terdengar tenang, tetapi penuh ketegasan.
"Aku sudah tidak ingin mencari tahu siapa pria itu."
"Siapa pun dia... sekarang sudah tidak lagi penting bagiku, musuhku sejak awal hanya dua orang"
"Jason... Dan Kasandra mereka berdua yang telah menghancurkan hidupku."
"Mereka merampas kebahagiaanku."
"Mereka mempermainkan hidupku dengan kebohongan yang begitu keji."
"Tidak ada lagi yang lebih penting selain membuat mereka mempertanggungjawabkan semua dosa yang telah mereka lakukan."
Witan mengangguk hormat.
"Baik, Bu. Saya mengerti."
**Flashback Off**
Tanpa sadar, sudut bibir Fisya terangkat, senyum kecil yang begitu dingin.
"Saatnya kalian menerima kehancuran kalian."
"Selama delapan belas tahun ini aku berpura-pura tidak mengetahui apapun"
"Dan selama delapan belas tahun itu pula... Aku mengumpulkan satu demi satu bukti kejahatan kalian."
"Kalian pikir aku kalah?"
"Tidak..."
"Aku hanya sedang menyiapkan hukuman yang pantas."
"Tunggu saja Jason dan Kasandra, kalian akan membayar mahal atas perbuatan kalian dan kalian juga akan kehilangan segalanya"
"Kekuasaan, harta, nama baik bahkan harga diri kalian"
Sebastian yang duduk di kursi depan sesekali melirik ke kaca spion, ia melihat senyum kecil di wajah Fisya.
Namun, entah mengapa...
Senyum itu justru membuatnya merasakan kesedihan yang begitu dalam.
Sebastian mengepalkan jemarinya di atas setir dalam hati ia bergumam.
"Kamu benar-benar perempuan yang luar biasa, tidak pernah mengeluh, tidak pernah menunjukkan air mata di depan siapa pun."
"Padahal luka yang kamu simpan jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan orang lain."
Tatapannya kembali mengarah ke kaca spion, wajah Fisya masih tampak tenang padahal ia tahu...
Di balik ketenangan itu tersimpan badai yang siap menghancurkan siapa saja.