NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelicikan yang Nyata

Oliver masuk ke kursi pengemudi, lalu memutar kemudi mobil dengan tenang. "Tenang, Anjani. Aku sudah memperkirakan ini. Mereka pikir mereka menang karena mereka berhasil membeli hakim tingkat pertama. Tapi mereka lupa satu hal: sistem peradilan punya tingkat banding, dan media massa punya kekuatan yang jauh lebih besar daripada uang saku seorang hakim rendahan."

Anjani menatap Oliver dengan bingung. "Maksudmu?"

"Aku sudah memerintahkan timku untuk merekam jalannya persidangan melalui kamera tersembunyi yang diselipkan di kancing baju pengacaramu," jelas Oliver. "Tindakan hakim yang menolak bukti-bukti otentik tanpa alasan hukum yang sah adalah pelanggaran berat. Aku akan membawa rekaman ini ke Komisi Yudisial dan juga ke media nasional terbesar besok pagi."

Anjani terdiam. Ia menyadari bahwa Oliver Jones tidak pernah bermain setengah-setengah. Pria ini telah menyiapkan jaring untuk menangkap mereka bahkan sebelum sidang dimulai.

"Malik pikir dia bisa memenangkan permainan ini dengan cara kotor," lanjut Oliver dengan senyum tipis yang dingin. "Tapi dia tidak sadar bahwa dia baru saja memberikan kita alasan untuk menghancurkannya secara publik. Besok, seluruh Jakarta akan tahu betapa busuknya keluarga Wiratama dan betapa tidak adilnya hakim yang mereka bayar itu."

Anjani menatap Oliver dengan perasaan kagum dan takut secara bersamaan. Ia menyadari bahwa ia kini berada di dalam permainan kelas tinggi, di mana hukum hanyalah salah satu instrumen, dan ia harus menjadi pion yang cukup kuat agar tidak ikut hancur saat perang ini meletus.

"Apa kau siap untuk menjadi berita utama besok?" tanya Oliver sambil menjalankan mobilnya, meninggalkan gedung pengadilan yang kini menjadi simbol kepahitan bagi Anjani.

Anjani menatap jalanan di depannya. Keputusasaan di ruang sidang tadi kini perlahan digantikan oleh tekad yang baru. Jika mereka ingin bermain kotor, maka dia akan memastikan mereka tersungkur di tengah lumpur yang mereka buat sendiri.

"Aku siap," jawab Anjani dengan suara tegas. "Mari kita hancurkan mereka."

Sementara itu, di belakang mereka, Malik dan Bu Anne masih bersuka ria di dalam mobil mewah mereka, merayakan kemenangan semu yang mereka beli dengan harga mahal, tidak menyadari bahwa badai yang jauh lebih besar sedang bersiap untuk meluluhlantakkan hidup mereka dalam hitungan jam.

****

Pagi hari di Jakarta tidak dimulai dengan kicauan burung, melainkan dengan dentuman berita yang mengguncang jagat media sosial dan layar kaca. Judul-judul berita utama tampil dengan font merah mencolok: "Skandal Ruang Sidang: Hakim Terindikasi Suap dalam Kasus Perceraian Konglomerat Wiratama," hingga "Ketidakadilan Nyata, Bukti Otentik Ditolak Demi Melindungi Kepentingan Penguasa."

Anjani berdiri di balik jendela kantor lantai atas Jones Group, menatap ke arah kerumunan massa yang mulai berkumpul di depan gedung pengadilan, menuntut transparansi. Di tangannya, sebuah cangkir teh hangat terasa tidak mampu meredam gemetar halus di jemarinya. Ia tidak menyangka Oliver akan bertindak secepat dan sebrutal ini.

Oliver berdiri tepat di belakangnya, menatap layar televisi yang menampilkan cuplikan rekaman sidang yang ia bocorkan. Suara hakim yang menolak bukti-bukti Anjani terdengar begitu jelas, begitu pun dengan ekspresi angkuh Malik dan Bu Anne yang terekam kamera tersembunyi.

"Ini baru permulaan, Anjani," suara Oliver terdengar tenang namun mengandung otoritas yang mematikan. "Begitu publik mencium aroma busuk uang di balik palu hakim itu, karier mereka tamat. Komisi Yudisial tidak akan punya pilihan lain selain melakukan investigasi mendalam."

Di sisi lain kota, kediaman keluarga Wiratama telah berubah menjadi medan perang. Bu Anne melemparkan vas bunga porselen mahalnya ke dinding hingga pecah berkeping-keping. Wajahnya yang tebal dengan makeup tampak berantakan, matanya melotot tajam ke arah televisi.

****

"Siapa yang melakukan ini?!" teriak Bu Anne, suaranya melengking tinggi, memekakkan telinga para pelayan yang gemetar di sudut ruangan. "Bagaimana rekaman itu bisa bocor? Siapa yang berani mempermalukan keluarga Wiratama di mata publik seperti ini?!"

Malik duduk di kursi kerjanya dengan kepala tertunduk, tangannya memegang kening yang berdenyut hebat. Saham perusahaannya anjlok sepuluh persen dalam hitungan jam sejak berita itu tayang. Telepon di mejanya berdering tanpa henti—dari para investor yang panik, dari rekan bisnis yang menarik diri, dan dari pengacara-pengacara yang mulai ketakutan.

"Ini pasti ulah si wanita miskin itu, Ma," geram Malik dengan suara parau. "Anjani punya akses ke data perusahaan. Dia pasti yang bekerja sama dengan pihak lain untuk menghancurkan kita."

"Jangan hanya duduk diam, Malik!" teriak Bu Anne. "Lakukan sesuatu! Kalau kita tidak membungkam mereka, kita akan kehilangan segalanya!"

Di tengah amarah yang meluap-luap itu, Dara Mitha Dahayu berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan tatapan yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi keceriaan manja. Matanya kini menyiratkan ketajaman yang berbahaya. Ia tahu bahwa jika reputasi keluarga Wiratama hancur, posisinya sebagai calon nyonya besar juga akan lenyap. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Dara menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia tahu bahwa menyerang Anjani secara langsung di depan publik sekarang adalah bunuh diri. Maka, ia akan menggunakan kelemahan terbesar wanita itu: orang tuanya.

"Tante, Malik," suara Dara terdengar tenang, kontras dengan kekacauan di ruangan itu. "Anjani memang keras kepala, tapi dia punya satu titik lemah yang tidak bisa dia abaikan. Orang tuanya. Pak Santo dan Bu Purwati."

Malik mendongak, matanya yang merah menatap Dara. "Maksudmu?"

Dara tersenyum, sebuah senyum yang lebih mirip seringai pemangsa. "Jika kita tidak bisa menyerang Anjani secara hukum, kita serang ketenangannya. Biarkan dia tahu bahwa setiap tindakannya memiliki konsekuensi yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kehilangan harta. Kita buat orang tua Anjani merasakan konsekuensi atas keras kepalanya sang putri."

****

Malam itu, di rumah petak Pak Santo, suasana sangat tenang. Pak Santo baru saja pulang dari warung dengan sebungkus mi instan. Bu Purwati sedang menyiapkan air panas untuk teh mereka. Mereka tidak tahu bahwa di balik kegelapan jalanan kampung yang sempit, sebuah mobil hitam dengan plat nomor yang ditutupi tampak mengintai.

Tiga orang pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam keluar dari mobil tersebut. Mereka tidak membawa senjata tajam, namun sorot mata mereka menunjukkan niat yang sangat jelas. Mereka adalah orang-orang bayaran yang disewa Dara melalui koneksi gelap yang selama ini ia gunakan untuk menyingkirkan siapa pun yang mengganggu jalannya.

"Pastikan mereka tahu pesan dari keluarga Wiratama," ujar salah satu pria itu dengan nada rendah.

BRAKK!

Pintu rumah Pak Santo didobrak dengan keras. Pak Santo yang sedang duduk di kursi kayu langsung berdiri, tubuhnya yang renta gemetar saat melihat tiga sosok asing yang masuk dengan aura kekerasan yang pekat.

"Si-siapa kalian?" tanya Pak Santo dengan suara terbata-bata.

"Kami hanya kurir," jawab pria itu dengan senyum sinis. Ia mendekati Pak Santo, lalu dengan kasar mencengkeram kerah baju pria tua itu hingga terangkat dari kursinya. "Pesan untuk putri kesayanganmu: berhenti bermain-main dengan keluarga Wiratama, atau rumah ini bukan lagi tempat yang aman bagi kalian."

Bu Purwati menjerit histeris saat melihat suaminya didorong hingga jatuh tersungkur di lantai. "Tolong! Tolong!"

"Diam kau, wanita tua!" salah satu pria itu menendang meja kayu hingga hancur berkeping-keping. "Ini baru peringatan. Jika besok Anjani tidak menarik semua laporan dan mengundurkan diri dari tuntutan hukum, kami tidak akan datang hanya untuk berbicara."

1
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!