NovelToon NovelToon
Menjalani Cinta Terlarang

Menjalani Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MCT 07

Aldri membuat keputusan yang mendadak karena mendapatkan pencerahan dari Pak Andri. Ia ingin memulai semua dari awal persamaan Tika di tempat yang baru.

Hari ini adalah hari terakhir sebelum Antika diperbolehkan pulang esuk hari. Ia ditemani oleh Indira di kamar rawatnya. Mereka berdua tertawa bersama karena Indira bercerita tentang hal lucu yang terjadi di rumah.

Aldri yang mendengarkan suara tawa mereka merasa sangat bahagia. Ia berharap kehidupannya akan dipenuhi tawa selamanya.

"Ibu."

"Hemmm?"

"Dimanakah keluarga ku? Apa aku nggak memiliki keluarga? Sejak aku sadar sampai sekarang hanya ibu dan suamiku yang datang. Jadi.... apa aku sebatang kara?"

Indira terdiam sejenak. Akan tetapi sebelum bibirnya mampu menjawab pertanyaan Antika, Aldri sudah datang mengetuk pintu dan masuk.

"Maaf apa kedatanganku mengganggu kalian?" Indira bersyukur kali ini ia selamat. Ia memandang Aldri seakan keduanya tahu apa yang sedang terjadi.

"Darling! Emm, enggak kok kami hanya ngobrol biasa saja. Ya, kan ,Bu?'

"Eh, iya iya."

"Nih, coba lihat Ay- eh aku bawakan udang bakar kesukaanmu. Apa kamu mau?"

" Ah, tentu saja aku mau, Darling. Siniin!" Antika dengan antusias menerima dan memakan makanan favoritnya itu. Aldri dan ibunya saling memberi kode untuk berbicara ketika Antika tertidur.

"Al, bagaimana Ibu menjelaskan tentang ayah Antika?"

"Mungkin sebaiknya kita jujur, Bu. Karena memang ibunya sudah tiada. Dan ayahnya kita anggap saja sudah meninggal. Saya tidak ingin Tika berpikir yang berat-berat."

"Ibu setuju denganmu, Al "

"Ibu maaf jika saya membuat keputusan mendadak dan sepihak. Ini semua saya lakukan demi kebaikan Antika."

"Memang ada apa, Nak?"

"Ibu, Saya memutuskan bahwa kita akan pindah ke Jakarta. Saya tidak ingin Antika mengingat hal-hal buruk di sini. Dan saya juga ingin memulai semua dari awal."

"Ibu mengerti, Nak. Ibu akan selalu support apapun keputusanmu. Tapi.... Ibu tetap akan tinggal di sini. Ibu tidak bisa meninggalkan rumah peninggalan ayah mu, Nak."

"Saya mengerti, Bu. Tapi setidaknya saya ingin Ibu menemani Antika selama sebulan di Jakarta. Bagaimana Ibu?' Indira mengangguk setuju. Aldri merasa senang ibunya selalu mendukungnya.

Hari kepindahan sekaligus merupakan hari keluarnya Antika dari rumah sakit. Gadis itu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Meskipun masih menggunakan kursi roda untuk keluar menuju gerbang rumah sakit setidaknya ia bisa menghirup udara kebebasan dari ruangan yang penuh aroma obat-obatan.

"Aaahhh senang nya. Udara nya sejuk banget." Antika menaikkan kedua tangannya lurus ke atas dan menggeliat. Rasanya tubuhnya sudah lebih baik. Ia berusaha sekuat tenaga berlatih berjalan selama sepekan sebelumnya. Kali ini ia setelah sampai di luar ia ingin berjalan tanpa bantuan kursi roda.

Baru sejengkal ia berjalan tubuhnya sedikit oleh karena matanya silau oleh cahaya matahari.

"Tika!" Aldri dengan sigap menangkap tubuhnya.

Antika berada dalam dekapan sang suami. Aroma maskulin mawar dari tubuh suaminya dan menghipnotisnya dalam-dalam wangi itu. Ia merasa bagai mencium aroma terapi yang membuat tubuhnya sangat rileks hingga terlupa saat ini ada dua orang yang sedang mencemaskannya.

"Tika!" panggilan Aldri dan Indira menyadarkan Antika dari negeri khayalan nya.

"Tika, sayang kamu tidak apa-apa kan? Apa masih pusing? Apa perlu kamu kugendong?"

"Eh, nggak. Nggak usah Darling aku bisa kok." Wajah Antika bersemu merah. Ia malu membayangkan dirinya digendong dan terlihat banyak orang. Akhirnya mereka masuk mobil dan memulai perjalanan.

Perjalanan yang jauh membuat Antika lelap apalagi masih ada pengaruh obat. Antika sempat mempertanyakan jauhnya jarak yang ditempuh. Namun Aldri menyampaikan untuk pengobatan yang lebih baik dan ia pun ingin suasana baru di Jakarta. Antika pun hanya bisa mengiyakan saja.

Antika terpesona karena kekaguman yang menatap rumah megah dengan interior mewah tepat berada di hadapannya. Ia takjub dengan pilihan warna dan keasrian rumah itu. Meskipun lokasinya berada di wilayah padat penduduk, tapi tempat itu didesain dengan nuansa adem pedesaan.

"Tuan mari saya bantu bawa kopernya." Pak Maus sopir pribadi Aldri menawarkan diri membantu. Sementara satpam membantu membawakan semua barang sisanya. Bi Minah istri Pak Maus menyambut kedatangan mereka dengan antusias. Mereka tinggal dan merawat rumah itu sejak Aldri memutuskan kembali ke kampung halamannya di Surabaya.

"Terima kasih, Pak."

"Sayang ayo masuk! Kenapa masih bengong di situ?" Indira mengulurkan tangan menggandeng Antika. Aldri tersenyum melihat tingkah gadisnya itu.

"ini beneran rumah kita, Darling?"

"Iya, kenapa? Kamu tidak percaya?"

"Percaya, kok, cuma aku heran aja. Memang pekerjaanmu apa, Darling?"

"Ayo coba tebak?"

"Ogah mikir, ah! Apa kok tinggal jawab aja susah amat?"

"Hahaha, iya - iya Ay- eh aku hanya pemilik salah satu perusahaan swasta."

"Hah, Apa? Maksud kamu, kamu direktur begitu?" Aldri hanya menjawab dengan kedikan bahu. Ia mencubit lengan Aldri.

"Aduh, sakit, Tika."

"Biarin weeek! Siapa suruh nggak mau jawab. Huh!" Tika melenggang melihat ruangan sekitar

Aldri dan Indira hanya menggelengkan kepala.

"Loh, Al kenapa kalian beda kamar?" tanya Indira.

Aldri terdiam tak mampu menjawab pertanyaan ibunya. Sejujurnya hatinya masih galau memikirkan keputusan yang ia ambil. Terkadang dirinya merasa seolah mengambil keuntungan dari Antika yang amnesia. "Maaf, Bu, sementara biarlah seperti ini sampai Antika benar-benar pulih."

Indira memahami bukan itu alasan utamanya. Tetapi untuk saat ini ia memilih diam. Ia tidak ingin menekan putranya.

"Jadi di mana kamar kita?" pertanyaan Antika mengagetkan keduanya.

"Ini kamar mu, Tika."

Antika memasuki kamar yang luas dengan desain yang indah. Ia sangat menyukai warnanya. Udara dalam ruangan juga sangat lega. Antika duduk di tepi tempat tidur yang berukuran big size dan membelai spreinya. Terasa dingin di tangannya. Ia membayangkan tidur bersama dengan Aldri di tempat itu, membuat telinganya memerah seperti kepiting rebus.

"Tika ini kamar kamu dan kamarku ada di sebelah ruangan ini."

Antika terkejut mendengar penuturan Aldri. Ia merasa kecewa karena kamarnya terpisah dengan Aldri. Bayangan yang indah dalam benaknya langsung mengeluarkan.

"Tapi.... kenapa kita harus tidur terpisah?"

Aldri terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia dapat melihat gurat kesedihan di wajah Antika. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Antika akan sekecewa ini. Yang ada dalam pikirannya hanya fokus pada perasaannya sendiri. Aldri tak dapat memungkiri hatinya masih gampang dengan pernikahan ini.

"Antika untuk sementara kamar kita terpisah karena kamu harus benar-benar pulih, sayang. Aku tidak ingin nanti melewati batas jika kita tidur bersama karena badanmu masih lemah."

Mendengar jawaban Aldri Antika menjadi malu, tapi di sisi lain Indira merasa sedih. Semua kekacauan ini menjadi semakin kacau menurutnya. Ia menghelan nafas berat menyayangkan keputusannya menyetujui keinginan putranya. Kini j5 yang dirasakan putranya seolah menjadi tanggung jawabnya.

"Baiklah kalau begitu." Antika akhirnya menyetujui. Aldri tersenyum getir.

"

1
Ar-Rasyid Fikri
semangat berkarya Thor 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!