NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Makan Malam

Ruang makan keluarga Wijaya selalu terasa terlalu luas bagi siapa pun yang tidak terbiasa dengan kemewahan yang dingin. Meja panjang dari kayu mahoni yang dipoles mengilap itu dikelilingi oleh kursi-kursi berukir tinggi, menciptakan jarak fisik yang seolah menegaskan strata sosial di antara mereka. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan bayangan tajam, membuat setiap gerakan sekecil apa pun terasa seperti sedang dipantau.

Malam ini, suasana terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik yang mengisi ruangan, diselingi oleh obrolan ringan yang terdengar dipaksakan.

Nadira duduk di samping Arga, merasa seperti seekor burung kecil yang terjebak di tengah kawanan elang. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem, namun di bawah meja, jemarinya tidak berhenti meremas ujung kain gaunnya. Pikirannya masih tertinggal pada halaman buku catatan ayahnya—pada nama yang dicoret tinta hitam itu.

"Jadi, gimana toko bukumu, Nad? Masih ramai?" tanya Aditya, ayah Arga, dengan nada suara yang hangat. Beliau adalah satu-satunya orang di meja itu yang membuat Nadira merasa benar-benar diterima.

Nadira mendongak dan tersenyum tipis. "Lumayan, Om. Pelan-pelan mulai ramai lagi setelah renovasi. Banyak anak sekolah yang datang buat cari referensi tugas."

"Baguslah. Membaca itu investasi terbaik," sahut Aditya tulus.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Ratih yang duduk di seberang mereka, meletakkan gelas kristalnya dengan bunyi yang cukup keras. Ia menatap Nadira dengan tatapan menilai, seolah sedang mengaudit setiap inci penampilan menantu keponakannya itu.

"Investasi itu bagus, tapi kalau cuma mengandalkan hobi, ya hasilnya gitu-gitu saja," ujar Ratih dengan nada bicara yang halus namun tajam. "Zaman sekarang itu zamannya digital, Nad. Kalau cuma jual buku fisik, apa nggak sayang waktunya? Maksud Tante, mungkin kamu harus pikirkan cara yang lebih... menguntungkan. Bukan cuma sekadar 'menjalankan warisan'."

Nadira terdiam. Ia bisa merasakan wajahnya memanas. "Saya hanya ingin menjaga apa yang sudah Ayah bangun, Tante."

"Menjaga itu bagus, tapi jangan sampai jadi beban," balas Ratih cepat. Ia kemudian melirik Arga. "Arga, kamu jangan terlalu memanjakan Nadira. Dia harus tahu kalau hidup di keluarga Wijaya itu butuh mental yang kuat, bukan cuma sekadar senyum sopan."

Arga meletakkan garpunya. Tatapannya mengeras, namun suaranya tetap terkontrol. "Tante, Nadira sudah mengelola tokonya dengan sangat baik. Aku tidak melihat itu sebagai beban, tapi sebagai dedikasi. Dan soal mental, aku yakin Nadira jauh lebih kuat dari yang Tante bayangkan."

Ratih hanya mengangkat bahu, tampak tidak terkesan. Ia kemudian beralih kepada Kevin. "Vin, gimana proyek yang kamu pegang di divisi pemasaran? Sudah ada progres?"

Kevin, yang sejak tadi hanya sibuk dengan ponselnya, mendongak malas. "Ya, gitu-gitu aja, Ma. Masih dalam proses. Jangan terlalu ditekan, nanti ideku malah hilang."

"Kamu itu terlalu santai! Kalau bukan karena nama keluarga, mungkin kamu sudah dipecat oleh Arga," omel Ratih.

"Halah, Mama ini," gumam Kevin sambil memutar bola matanya. "Lagian Kak Arga juga nggak pernah komplain soal kerjaku."

Di tengah ketegangan itu, Bram, yang duduk di ujung meja, tiba-tiba tertawa kecil. Suaranya yang berat dan menenangkan seketika memecah suasana kaku.

"Sudahlah, Bu Ratih. Ini kan waktu makan malam, jangan dijadikan rapat direksi. Kasihan Nadira, nanti makanannya jadi terasa pahit," ujar Bram dengan senyum ramah yang khas.

Nadira menatap Bram. Laki-laki itu memberikan tatapan simpatik, seolah berkata bahwa ia mengerti apa yang Nadira rasakan. Namun, justru keramahan itulah yang kini membuat Nadira merasa tidak nyaman. Setelah semua kejadian belakangan ini, keramahan yang terlalu sempurna justru terasa seperti topeng yang sangat tebal.

"Kamu benar, Pak Bram. Kamu memang selalu bisa menenangkan suasana," sahut Aditya sambil tersenyum.

Makan malam berlanjut dengan percakapan yang berpindah-pindah topik. Namun, bagi Arga, makan malam ini terasa seperti sesi pengintaian. Ia memperhatikan setiap detail. Ia melihat bagaimana Kevin beberapa kali melirik Nadira dengan tatapan aneh, dan bagaimana Bram dengan sigap mengalihkan pembicaraan setiap kali topik mulai mengarah pada masa lalu perusahaan.

Tiba-tiba, Nadira merasa perutnya mual. Ia teringat pesan singkat yang dikirimkan Arga sore tadi tentang nama yang dicoret. Ia ingin bertanya pada Arga, tetapi situasi tidak memungkinkan.

"Om Aditya," panggil Nadira tiba-tiba, mencoba mengalihkan perhatian dari rasa cemasnya. "Boleh saya tanya sesuatu? Tentang sejarah Wijaya Group?"

Meja makan mendadak hening. Arga menatap Nadira dengan heran. Ia tahu Nadira sedang mencoba menggali sesuatu.

"Tentu, Nad. Apa yang ingin kamu tahu?" jawab Aditya.

"Saya hanya penasaran... apakah dulu ada proyek besar yang namanya tidak tercatat di arsip resmi? Semacam... proyek rahasia?"

Tangan Ratih yang sedang memegang sendok berhenti di udara. Kevin terdiam, dan Bram... Bram tidak berhenti tersenyum, namun matanya berkilat tajam.

"Proyek rahasia?" Aditya mengernyit, tampak berpikir. "Seingat Papa, semua proyek besar tercatat rapi. Kenapa kamu bertanya begitu?"

"Hanya merasa ada yang kurang saat saya membaca beberapa catatan lama Ayah," jawab Nadira hati-hati.

Ratih tertawa kecil, namun terdengar sinis. "Catatan lama? Nad, kamu harus paham kalau tidak semua hal dari masa lalu perlu digali kembali. Terkadang, ada hal-hal yang sengaja dikubur karena memang sudah tidak berguna. Jangan sampai kamu menghabiskan waktu mencari sesuatu yang tidak ada."

"Tapi kalau itu penting bagi Ayah, saya rasa itu layak dicari," balas Nadira dengan nada yang lebih tegas.

"Sudah, sudah," potong Arga, merasakan suasana semakin memanas. "Kita bahas ini lain waktu. Sekarang nikmati saja hidangannya."

Makan malam itu akhirnya selesai, namun rasa tidak nyaman tetap tertinggal. Saat mereka bangkit dari meja makan, Bram menghampiri Nadira dan menepuk bahunya pelan.

"Jangan terlalu dipikirkan kata-kata Bu Ratih, Nad. Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan mencintai toko bukumu," bisik Bram dengan suara yang begitu lembut.

Nadira hanya mengangguk kaku. Saat ia berbalik, ia melihat Arga menatapnya dengan tatapan khawatir. Namun, perhatian Nadira teralihkan oleh Kevin yang sedang berdiri di sudut ruangan, menatapnya dengan seringai tipis yang sulit diartikan.

Begitu mereka kembali ke kamar, Nadira langsung mengeluarkan buku catatan ayahnya. Ia menatap kembali nama yang dicoret itu. Dengan bantuan cahaya lampu meja, ia mencoba melihat lekukan huruf yang tersisa di bawah coretan tinta hitam itu.

Satu huruf... dua huruf...

Nadira terengah. Jantungnya berdegup kencang. Meskipun tidak terbaca sepenuhnya, ada satu pola huruf yang sangat familiar. Nama itu bukan nama asing. Nama itu adalah seseorang yang baru saja makan malam bersamanya.

Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki di koridor. Seseorang berhenti tepat di depan pintu kamar mereka. Nadira menahan napas, sementara Arga yang baru saja masuk ke kamar langsung mengunci pintu.

Dari balik pintu, terdengar suara bisikan yang sangat pelan, namun cukup jelas untuk membuat bulu kuduk Nadira berdiri.

"Jangan terlalu jauh mencari, Nadira. Atau kamu akan menemukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kamu tahu."

Suara itu menghilang seiring dengan langkah kaki yang menjauh. Nadira menatap Arga dengan wajah pucat pasi.

"Mas... ada orang di depan pintu," bisik Nadira dengan suara bergetar.

Arga segera mendekati pintu dan membukanya dengan cepat, namun koridor itu sudah kosong melompong. Hanya ada keheningan malam yang mencekam, dan perasaan bahwa mereka sedang diawasi oleh seseorang yang tahu persis setiap langkah mereka. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!