NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34: Siaran yang Mengubah Dunia

Jakarta belum benar-benar memahami bahwa peradaban sedang sekarat ketika seluruh layar di kota itu tiba-tiba kehilangan warna. Di tengah raungan sirene ambulans yang bersahutan dan kepulan asap dari kejauhan, televisi di etalase toko elektronik, videotron raksasa, monitor stasiun MRT, layar bandara, hingga ponsel orang-orang yang sedang menonton berita mendadak berubah menjadi hitam pekat. Tidak ada logo stasiun televisi, tidak ada suara penyiar, hanya kehampaan yang terasa jauh lebih mengerikan daripada segala bentuk kepanikan.

Bzzzt...

Arga yang sedang mengemudikan kendaraan taktisnya perlahan mengangkat pandangan ketika monitor navigasi di dashboard ikut berkedip sebelum berubah menjadi layar gelap. Pengalaman sepuluh tahun hidup di dunia kiamat membuat dadanya tidak lagi dipenuhi keterkejutan, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia mengurangi kecepatan kendaraan dan membiarkan mobil bergulir perlahan di tengah jalan raya yang mulai macet karena para pengendara sama-sama terpaku menatap layar di sekitar mereka.

Sesaat kemudian, sosok berpakaian hitam muncul memenuhi setiap layar yang masih menyala. Ia mengenakan topeng hitam polos tanpa ekspresi dan sepasang kacamata gelap yang menutupi matanya, sementara suaranya terdengar datar akibat dimodifikasi secara elektronik. Anehnya, justru suara tanpa emosi itu membuat setiap kalimat terdengar jauh lebih dingin, seolah-olah seorang hakim sedang membacakan vonis bagi seluruh umat manusia.

"Jika kalian melihat siaran ini," ujar sosok itu perlahan, "berarti proses yang telah dimulai tiga bulan lalu akhirnya mencapai tahap akhir. Dunia yang kalian kenal tidak sedang menghadapi wabah biasa."

Orang-orang di trotoar mulai saling berpandangan. Seorang ibu memeluk anaknya lebih erat, sementara seorang pria menjatuhkan kantong belanja yang dibawanya tanpa sadar. Bahkan kendaraan-kendaraan yang semula masih bergerak perlahan mulai berhenti satu per satu karena para pengemudi lebih memilih menatap layar daripada jalan di depan mereka.

Sosok bertopeng itu melanjutkan penjelasannya tanpa sedikit pun perubahan intonasi. "Penyebab bencana ini adalah Necrovirus Sapiens. Virus tersebut telah menyebar melalui udara selama tiga bulan terakhir. Hampir seluruh umat manusia telah terinfeksi, hanya saja teknologi medis modern tidak pernah mampu menemukannya."

Arga menggenggam setir sedikit lebih erat. Semua isi penjelasan itu bukanlah sesuatu yang baru baginya karena ia pernah hidup di dunia yang hancur oleh virus yang sama. Namun mendengar kebenaran itu diucapkan langsung pada hari pertama kiamat tetap membuat bulu kuduknya meremang, seolah dua kehidupan yang pernah ia jalani akhirnya bertemu pada satu titik yang sama.

Di berbagai rumah sakit, para dokter yang sedang menyaksikan siaran itu saling bertukar pandang dengan wajah pucat. Banyak dari mereka baru saja menangani pasien demam misterius beberapa jam sebelumnya, tetapi seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang nyaris normal. Kini, setiap potongan teka-teki perlahan tersusun menjadi gambaran yang jauh lebih mengerikan daripada dugaan siapa pun.

"Virus ini tidak dapat dideteksi," lanjut suara itu. "Ia bersembunyi di dalam kristal biologis yang terbentuk pada jaringan otak manusia. Satu-satunya cara membuktikan keberadaannya adalah membuka tengkorak dan mengambil kristal tersebut. Tentu saja... tidak ada manusia hidup yang dapat bertahan dari prosedur itu."

Hening menyelimuti kota selama beberapa detik. Bahkan suara klakson yang sejak tadi memenuhi jalan raya perlahan menghilang, tergantikan keheningan yang terasa begitu berat. Orang-orang mulai memahami bahwa mereka mungkin telah membawa bom waktu di dalam tubuh mereka sendiri selama berbulan-bulan tanpa pernah menyadarinya.

Sosok bertopeng itu sedikit menundukkan kepala sebelum mengucapkan kalimat terakhirnya. "Selamat datang di era baru. Mulai hari ini... manusia bukan lagi spesies dominan di bumi."

Klik.

Seluruh layar kembali mati secara bersamaan, seolah siaran itu tidak pernah ada.

Beberapa detik pertama berlalu tanpa suara. Lalu dunia seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Teriakan mulai terdengar dari berbagai arah ketika orang-orang sadar bahwa tidak ada lagi kepastian yang bisa mereka pegang selain rasa takut.

Brummm!

Puluhan kendaraan langsung memacu mesin mereka secara bersamaan. Jalan raya berubah menjadi lautan logam yang saling berebut ruang, sementara klakson bersahutan tanpa henti. Di kejauhan, sebuah mobil menabrak pembatas jalan karena pengemudinya terlalu panik untuk memperhatikan arah kemudi.

Arga tetap mengemudi dengan kecepatan stabil. Di kanan kirinya, orang-orang berlarian menuju supermarket, SPBU, apotek, dan ATM dengan wajah yang dipenuhi kecemasan. Sebagian membawa anak kecil, sebagian lagi hanya membawa tas seadanya, seolah barang apa pun yang berhasil mereka dapatkan mampu menyelamatkan mereka dari akhir dunia.

Gedung-gedung pertokoan mendadak dipenuhi antrean panjang. Rak air mineral dikosongkan dalam hitungan menit, makanan instan disapu bersih, dan tabung gas diperebutkan tanpa memedulikan siapa yang lebih dulu datang. Polisi berusaha mengatur keadaan, tetapi jumlah warga yang panik jauh melampaui kemampuan mereka.

Dorr!

Suara letusan terdengar dari kejauhan. Entah berasal dari ban kendaraan yang pecah atau tembakan peringatan, tak seorang pun lagi peduli. Kepanikan memiliki cara sendiri untuk berkembang biak, lebih cepat daripada virus yang baru saja dijelaskan dalam siaran misterius itu.

Arga melewati seluruh kekacauan tersebut tanpa sedikit pun keinginan untuk berhenti. Gudang logistiknya telah penuh, bunker keluarganya telah siap, dan setiap persediaan yang dibutuhkan telah ia kumpulkan jauh sebelum Hari Nol tiba. Apa yang kini dilakukan jutaan orang hanyalah mengulang kesalahan yang pernah ia saksikan sepuluh tahun lalu.

Di sisi lain kota, Raven berdiri di depan layar besar markas darurat Organisasi Hitam. Para analis sibuk berbicara bersamaan, mencoba menghubungkan siaran misterius dengan laporan mutasi yang mulai bermunculan dari berbagai rumah sakit. Namun Raven tidak memperhatikan kekacauan itu. Tatapannya justru tertuju pada wajah bertopeng yang sempat membeku di layar sebelum siaran berakhir.

"Kalau Ghost Collector benar-benar mengetahui masa depan..." gumamnya lirih, "...sekarang dia pasti sudah bergerak."

Tak seorang pun menjawab. Semua orang di ruangan itu terlalu sibuk menerima laporan yang masuk tanpa henti dari berbagai kota.

Sementara itu, Arga telah memasuki jalan yang lebih lengang di pinggiran Jakarta. Ia menekan sebuah tombol pada dashboard, lalu sistem komputer di mobilnya mulai memutar ulang rekaman siaran yang berhasil direkam secara otomatis beberapa menit sebelumnya. Alih-alih memikirkan isi pidato tersebut, ia justru memperhatikan setiap detail kecil yang mungkin luput dari perhatian dunia.

Video diputar sekali.

Lalu dua kali.

Kemudian tiga kali.

Tatapan Arga semakin tajam. Ia memperbesar tinggi badan pembicara berdasarkan perbandingan dengan kursi di belakangnya, menghitung ritme napas dari jeda antar kalimat, menganalisis pilihan diksi yang digunakan, hingga memperhatikan logat yang sengaja disamarkan oleh perangkat pengubah suara. Semua itu pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya, tetapi saat itu dunia terlalu sibuk bertahan hidup untuk memedulikan identitas sang pembawa kabar.

Kini ia memiliki waktu.

Dan kesempatan kedua.

Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard laptop yang terhubung dengan sistem kendaraan. Program analisis citra mulai memisahkan setiap frame video menjadi ribuan potongan gambar beresolusi tinggi. Arga memperbesar pantulan cahaya pada lensa kacamata hitam sang pembicara, sesuatu yang bahkan hampir tidak terlihat oleh mata manusia.

Klik.

Satu gambar berhenti.

Arga memperbesar lagi.

Lalu sekali lagi.

Di balik pantulan samar pada lensa hitam itu, tampak sekilas sebuah lambang berbentuk heliks ganda yang mengelilingi kristal bersegi enam. Lambang tersebut begitu kecil hingga nyaris menyatu dengan pantulan cahaya monitor, tetapi Arga mengenalinya dalam sekejap.

Dadanya berdegup lebih keras.

Itu bukan simbol umum Organisasi Hitam.

Itu adalah logo divisi ilmiah yang pernah ia lihat di server rahasia Kompleks Omega beberapa hari sebelum fasilitas tersebut hancur. Seluruh arsip mengenai divisi itu telah dihapus secara sistematis, seolah seseorang ingin menghapus keberadaannya dari sejarah.

Arga menginjak rem hingga kendaraan berhenti di bahu jalan.

Ciiit...

Ia menatap layar tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ada bagian dari masa depan yang ternyata masih tersembunyi bahkan dari ingatannya sendiri.

"Jadi..." bisiknya nyaris tak terdengar, "selama ini kau memang masih hidup."

Program analisis belum selesai bekerja. Baris demi baris data digital terus mengalir memenuhi layar, membandingkan pola kompresi video, jejak enkripsi, dan metadata yang tersisa. Sebagian besar telah dihapus dengan sangat rapi, tetapi selalu ada serpihan kecil yang gagal disembunyikan sepenuhnya.

Beberapa detik kemudian, layar berhenti memproses.

Satu baris tulisan muncul perlahan di tengah monitor.

AUTHORIZATION ORIGIN:

GENESIS – DIRECTOR LEVEL

Arga memandangi tulisan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di luar kendaraan, sirene masih meraung, asap masih membubung dari pusat kota, dan dunia terus runtuh sedikit demi sedikit. Namun di dalam mobil itu, sebuah misteri yang bahkan tidak pernah berhasil dipecahkan selama sepuluh tahun kehidupan sebelumnya akhirnya mulai membuka celah pertamanya.

1
adib
plot twist baru nih. tnyata kakeknya
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!