SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panah Pemburu Naga
Bab 14: Panah Pemburu Naga
Gerimis turun semakin deras, mengubah jalanan kota menjadi lautan pantulan cahaya lampu. Udara dipenuhi aroma aspal basah dan besi. Ethan Mahendra berdiri tanpa mengubah ekspresi. Namun, kesadarannya telah mengunci satu titik di atap gedung seberang.
Niat membunuh.
Dingin.
Terlatih.
Bukan pembunuh jalanan seperti Riko, melainkan seseorang yang terbiasa menghabisi target dari kejauhan.
Dalam sepersekian detik, Ethan menghitung sudut tembakan, arah angin, jarak, serta waktu yang dibutuhkan anak panah untuk mencapai sasaran.
Targetnya bukan dirinya.
Melainkan Shen Yueling.
"Tunduk."
Suara Ethan terdengar datar.
Shen Yueling mengernyit.
"Apa?"
Tanpa menjelaskan, Ethan melangkah cepat dan menarik lengan wanita itu ke samping.
"Hm!"
Shen Yueling kehilangan keseimbangan.
Pada saat bersamaan...
Wuusss!
Sebuah anak panah hitam melesat menembus hujan dengan suara melengking.
Craaak!
Panah itu menembus tiang lampu tepat di belakang tempat Shen Yueling berdiri beberapa saat sebelumnya. Logam setebal lengan manusia retak seperti kayu lapuk.
Beberapa tetes cairan hijau menetes dari mata panah.
Aspal yang terkena racun langsung berasap.
Mata Shen Yueling membelalak.
"Racun..."
"Racun Pembusuk Meridian," kata Ethan tenang.
"Itu akan menghancurkan jalur Qi dalam hitungan napas."
Tatapan Shen Yueling berubah.
Bagaimana pria ini bisa mengenali racun yang bahkan hanya diketahui keluarga kultivator?
Belum sempat ia bertanya, Ethan sudah menoleh ke arah gedung.
"Dia akan kabur."
Benar saja.
Sosok berjubah abu-abu melompat ke gedung berikutnya.
Gerakannya ringan.
Setidaknya Alam Pengumpulan Qi Bintang 2.
Ethan menghela napas pelan.
"Jangan bergerak."
Lalu tubuhnya melesat.
Di atas atap.
Pembunuh itu berlari cepat melintasi deretan gedung.
"Kena atau tidak, aku harus pergi."
Itulah pikirannya.
Namun tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.
Seseorang...
Mengejarnya.
Mustahil.
Ia menoleh sekilas.
Jarak mereka justru semakin dekat.
"Bagaimana mungkin?"
Padahal aura Ethan jauh lebih lemah.
Pembunuh itu tidak tahu bahwa lima ratus tahun pengalaman bertarung jauh lebih berharga daripada selisih satu atau dua tingkat kultivasi.
Ethan tidak mengejar dengan kecepatan.
Ia memotong jalur.
Menggunakan sudut gedung, pipa air, dan struktur atap sebagai pijakan.
Setiap langkahnya hemat tenaga.
Setiap lompatan sudah diperhitungkan.
Pembunuh itu akhirnya berhenti di atas gudang tua.
Ia mencabut dua belati pendek.
"Kalau begitu..."
"Aku bunuh saja."
Begitu Ethan mendarat, dua belati langsung melesat.
Kilatan dingin membelah hujan.
Ethan sedikit memiringkan tubuh.
Belati pertama lewat di samping pipinya.
Belati kedua diarahkan ke rusuk.
Ethan memutar pergelangan tangan lawan.
Krak!
Sendi pembunuh itu bergeser.
Namun lawannya sama sekali tidak panik.
Ia justru melepaskan belati.
Telapak tangannya memancarkan kabut hijau.
Racun.
Ethan segera mundur.
Kabut itu mengenai dinding beton.
Beton langsung meleleh.
"Teknik yang menarik."
Ethan mengamati tanpa emosi.
Pembunuh itu tertawa pendek.
"Kau memang berbeda."
"Tapi kau tetap akan mati."
Ia mengeluarkan tiga jarum hitam.
Jarum itu bukan diarahkan ke Ethan.
Melainkan ke tanah.
Tak! Tak! Tak!
Formasi kecil langsung menyala.
Kabut hijau memenuhi seluruh atap.
Pandangan menjadi buram.
Namun Ethan justru menutup mata.
Mendengar.
Merasakan.
Menghitung.
Langkah.
Napas.
Detak jantung.
Dalam dunia kultivasi dahulu, banyak musuh mampu menyembunyikan diri jauh lebih sempurna daripada ini.
"Terlalu kasar."
gumam Ethan.
Tiba-tiba ia mengangkat tangan kanan.
Dua jari menusuk ke samping.
"Ugh!"
Suara tertahan terdengar.
Jari Ethan tepat menghantam titik meridian di bahu lawan yang baru muncul dari balik kabut.
Seluruh lengan kanan pembunuh itu langsung mati rasa.
Belati terakhir jatuh.
Namun lawan masih berpengalaman.
Ia menendang lutut Ethan.
Buk!
Ethan terdorong setengah langkah.
Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Tubuhnya memang masih berada di Alam Pemurnian Tubuh.
Meski tekniknya unggul, kekuatan fisiknya tetap terbatas.
Pembunuh itu menyeringai.
"Kau terluka."
Ethan mengusap darah itu.
"Lumayan."
Ia sengaja menerima tendangan itu.
Selama benturan tadi...
Ia berhasil menempelkan selembar kertas kuning kecil di balik pakaian lawan.
Jimat sederhana yang ia buat beberapa hari lalu.
Aktif.
Buzz!
Cahaya tipis menyala.
Pembunuh itu tiba-tiba membeku.
Qi di dalam tubuhnya menjadi kacau.
"Apa ini?!"
"Segel Penekan Meridian."
Suara Ethan tetap datar.
"Aku membuatnya untuk berjaga-jaga."
Wajah lawan berubah pucat.
Ia mencoba menghancurkan segel.
Terlambat.
Ethan melangkah.
Satu pukulan.
Buk!
Perut.
Pukulan kedua.
Dagu.
Pukulan ketiga.
Leher.
Pembunuh itu roboh.
Namun sebelum Ethan sempat menginterogasinya...
Pria itu justru tertawa.
"Kalian..."
"...sudah terlambat."
Mulutnya mengeluarkan darah hitam.
Racun bunuh diri.
Tubuhnya bergetar hebat.
Lalu diam.
Ethan segera memeriksa tubuhnya.
Tidak ada identitas.
Tidak ada dokumen.
Hanya sebuah cincin besi kusam.
Ketika energi Qi Ethan menyentuh cincin itu...
Permukaannya memunculkan lambang.
Seekor naga yang dibelit sembilan rantai.
Mata Ethan sedikit menyipit.
"Lagi-lagi simbol baru."
Bukan Sekte Matahari Langit.
Bukan Keluarga Shen.
Berarti ada organisasi ketiga yang bergerak.
Di bawah.
Shen Yueling bersama pria tua bertongkat akhirnya tiba.
Melihat mayat pembunuh itu, pria tua menghela napas.
"Dia memilih mati."
Ethan tidak menjawab.
Pria tua memperhatikan cincin di tangan Ethan.
Wajahnya berubah.
"Kau menemukan itu?"
"Apa kau mengenalnya?"
Pria tua tampak ragu.
Namun akhirnya mengangguk pelan.
"Itu milik..."
"...Pemburu Naga."
Shen Yueling ikut terkejut.
"Mereka benar-benar masih ada?"
Pria tua menarik napas panjang.
"Organisasi bayaran."
"Mereka menerima misi membunuh kultivator."
"Sudah menghilang puluhan tahun."
Tatapan Ethan tetap tenang.
"Berarti seseorang membayar mereka."
Pria tua mengangguk.
"Dan biayanya sangat mahal."
"Itu berarti targetnya sangat penting."
Hening.
Lalu Ethan bertanya pelan.
"Apakah targetnya Shen Yueling?"
Pria tua menggeleng.
"Tidak."
"Kami baru menyadarinya."
"Panah pertama memang diarahkan pada Nona."
"Tapi..."
"...itu hanya umpan."
Ethan langsung memahami.
"Mereka ingin menarikku keluar."
Pria tua menatap Ethan dalam.
"Benar."
Kini suasana menjadi jauh lebih berat.
Berarti sejak awal...
Ada seseorang yang mengetahui keberadaan Ethan.
Dan sengaja memancingnya.
Beberapa saat kemudian mereka berpisah.
Sebelum pergi, Shen Yueling menghentikan langkah Ethan.
"Terima kasih."
Ethan hanya mengangguk.
"Aku tidak menyelamatkanmu."
"Aku hanya tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaanku."
Shen Yueling tersenyum tipis.
"Setidaknya itu lebih jujur."
Ia mengeluarkan sebuah kartu hitam.
"Jika suatu hari kau membutuhkan bantuan Keluarga Shen..."
"Tunjukkan kartu ini."
Ethan menerima kartu itu tanpa berkata apa-apa.
Namun jauh di dalam pikirannya, ia tetap tidak berniat mempercayai siapa pun.
Malam semakin larut.
Ethan kembali ke tempat persembunyiannya.
Ia meletakkan cincin Pemburu Naga di atas meja.
Di sebelahnya terdapat salinan peta Gerbang Bintang.
Serta simbol Sekte Matahari Langit.
Tiga petunjuk.
Tiga organisasi.
Namun semuanya mengarah pada satu titik yang sama.
Fragmen Gerbang Bintang.
Saat Ethan sedang menyusun hubungan di antara semuanya...
Tiba-tiba cincin itu bergetar sendiri.
Deng...
Suara logam menggema pelan.
Lambang naga yang semula kusam tiba-tiba memancarkan cahaya merah tua.
Di atas permukaannya perlahan muncul sebuah peta tiga dimensi.
Hanya berlangsung beberapa detik.
Namun cukup bagi Ethan untuk melihat koordinat sebuah tempat.
Terowongan bawah tanah...
di kawasan pelabuhan tua.
Lalu cahaya itu padam.
Ethan memandang cincin tersebut cukup lama.
"Itu bukan alat identitas..."
"Itu kunci."
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ponsel tua di sakunya tiba-tiba berdering.
Nomor tak dikenal.
Ethan mengangkatnya.
Suara perempuan terdengar pelan.
"Aku dari Departemen Investigasi Khusus."
"Kami tahu kau menemukan cincin Pemburu Naga."
"Kami juga tahu kau sedang menuju pelabuhan."
Ethan tidak mengatakan apa pun.
Suara itu melanjutkan dengan nada serius.
"Kalau kau tetap pergi malam ini..."
"...kau tidak akan menghadapi manusia."
Sambungan telepon terputus.
Di saat yang sama, jauh di bawah pelabuhan tua yang gelap, sebuah segel kuno mulai retak.
Dari balik celahnya, sepasang mata merah perlahan terbuka.
Dan sesuatu yang telah tertidur selama ratusan tahun...
akhirnya mulai bernapas kembali.
Bersambung...