Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Pertama ke Kota Qingfeng
Di bawah naungan pohon bambu besar yang rindang itu, tangis anak laki-laki itu
perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian hutan yang hanya dipecahkan oleh
desau angin gunung.
Sambil menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, Luo Chen
berdiri tegak di hadapan batang bambu hijau yang kokoh. Tangan kecilnya mengepal
erat, lalu menghantam permukaan batang bambu tersebut dengan seluruh kekuatan
fisik yang ia miliki.
Hentakan pukulan pertama itu terasa menyakitkan bagi jemarinya yang masih lunak,
namun ia tidak berhenti dan kembali melayangkan pukulan kedua, ketiga, hingga
kulit buku jarinya mulai memerah. Hari demi hari, bulan demi bulan, ia terus
kembali ke tempat yang sama di dalam hutan, menjadikan setiap batang bambu
sebagai sasaran latihan fisiknya demi melatih kekuatan otot dan tulangnya secara
mandiri.
Dua belas tahun bergulir tanpa henti sejak hari pertamanya memukul batang bambu
di dalam hutan tersebut.
Kini, di tempat yang sama, seorang pemuda tampan berusia delapan belas tahun
berdiri tegak dengan postur tubuh yang tinggi dan liat hasil dari latihan fisik
ekstrem yang dijalaninya setiap hari. Kulitnya berwarna sawo matang yang sehat,
dan otot-otot di lengan serta dadanya tampak padat terdefinisi dengan jelas di
balik jubah katun abu-abu miliknya yang telah memudar.
Sambil menarik napas dalam-dalam, Luo Chen mengambil posisi kuda-kuda rendah dan
melancarkan "Tinju Dasar klan Luo" secara beruntun ke arah udara kosong. Setiap
pukulan yang dilepaskannya menghasilkan suara desau angin yang tajam akibat
kecepatan dan kekuatan murni dari otot lengannya, meskipun di dalam dantiannya
tetap kosong tanpa ada aliran energi Qi sedikit pun.
Dari balik rimbunnya pohon bambu yang berjarak sekitar lima puluh meter, sesosok
pria paruh baya bertubuh kurus memperhatikan gerakan pemuda tersebut dengan
pandangan mata yang redup. Luo Hao berdiri bersandar pada tongkat kayu
penyangganya, mengawasi setiap pukulan anaknya dengan perasaan bersalah yang
mendalam karena tidak bisa memberikan bimbingan kultivasi yang layak bagi
putranya.
Sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya menggunakan ujung lengan
jubah, Luo Chen menghentikan latihannya setelah melepaskan pukulan keseratus
hari itu. Ia berbalik arah untuk berjalan kembali menuju gubuk keluarganya di
pinggiran desa, namun langkah kakinya kembali terhenti saat mendengar suara
berisik dari arah semak-semak liar di depannya.
Langkah kaki yang berisik dan tergesa-gesa terdengar mendekat, disusul dengan
kemunculan tiga orang pemuda desa yang dipimpin oleh seorang pria bertubuh
gempal berwajah kasar. "Lihat siapa yang kita temukan di sini," ujar Hu San
melangkah menghalangi jalan setapak dengan seringai meremehkan di
wajahnya. "Si anak buangan yang masih saja berpura-pura menjadi praktisi hebat
di tengah hutan."
Dengan tatapan tenang yang dingin, Luo Chen menatap wajah pemuda gempal tersebut
tanpa menunjukkan ketakutan sedikit pun. "Permisi, aku harus lewat," ujarnya
dengan suara datar.
"Kenapa terburu-buru?" sahut salah satu teman Hu San yang bertubuh kurus
melangkah maju, mencoba menarik kerah jubah Luo Chen. "Kudengar ibumu hari ini
mendapatkan banyak upah dari mencuci pakaian warga. Bagaimana kalau kau membagi
sedikit uang itu kepada kami sebagai biaya lewat jalan setapak ini?"
Satu ayunan tangan Luo Chen bergerak cepat menepis cengkeraman pemuda kurus
tersebut, membuat tangan lawannya terlempar ke samping dengan suara hantaman
kulit yang cukup keras. "Jangan sentuh aku," ujarnya dengan nada suara yang
mulai mendingin.
"Aduh, gatal sekali!" teriak Hu San tiba-tiba melompat-lompat liar dan
menggaruk leher belakangnya dengan panik. "Sialan! Apa yang jatuh di leherku?"
Dari atas cabang pohon bambu yang bergoyang pelan di atas kepala mereka, sesosok
pemuda berpakaian berantakan tampak sedang duduk santai sambil mengunyah buah
liar berwarna merah. "Aduh, maaf sekali," ujar Ye Feng seraya melemparkan
sebatang ranting kecil yang dipenuhi oleh ulat bulu hijau beracun ke arah wajah
Hu San. "Tanganku tidak sengaja terpeleset saat sedang memanen ulat-ulat lucu
ini."
"Ye Feng!" teriak Hu San dengan wajah yang mulai memerah dan membengkak akibat
rasa gatal yang luar biasa dari racun ulat bulu tersebut. "Kau selalu saja ikut
campur urusan kami!"
Dengan tawa lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang putih, pemuda jenaka
itu melompat turun dari cabang pohon setinggi tiga meter dengan sangat ringan,
mendarat tepat di antara Luo Chen dan kelompok Hu San. "Bagaimana bisa kau
menyebut ini ikut campur? Aku hanya sedang berbagi keindahan alam liar dengan
kalian semua," sahutnya mengibaskan seikat daun gatal ke arah wajah kedua
teman Hu San.
"Sialan! Gatal sekali! Ayo pergi dari sini!" teriak salah satu teman Hu San
sambil berlari menjauh menuju arah desa, diikuti oleh rekan-rekannya yang terus
menggaruk seluruh bagian tubuh mereka dengan panik.
Sambil melompat turun dan membersihkan sisa daun kering di pundaknya, Ye Feng
menepuk bahu Luo Chen dengan akrab. "Kau terlalu lembut pada mereka, Chen'er.
Jika aku jadi kau, aku sudah memberikan mereka satu pukulan di hidung agar
mereka tahu bagaimana rasanya menghirup tanah berlumpur."
"Mereka hanya pengganggu tidak berguna, Feng'er," jawab Luo Chen kembali
berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke arah gubuk mereka yang berjarak
delapan puluh meter dari tempat tinggal Ye Feng. "Tidak ada gunanya membuang
energi fisik untuk meladeni mereka."
Dengan kening berkerut, Ye Feng menatap wajah sahabatnya dengan pandangan heran dan
mengeluarkan sepotong pancake kering dari balik jubahnya. "Kau selalu
saja terlalu tenang. Apakah latihan fisikmu hari ini membuatmu lapar? Aku punya
sisa sarapan yang sangat lezat di sini."
"Tentu saja lapar," sahut Luo Chen menerima potongan pancake tersebut dan
menggigitnya dengan cepat. "Terima kasih."
"Bagaimana kalau kita berkunjung ke Kota Qingfeng hari ini?" tanya Ye Feng
tiba-tiba menyikut lengan Luo Chen dengan senyum lebar penuh rencana.
"Kota itu hanya berjarak sekitar lima ratus meter dari sini. Di sana ada pasar
besar yang menjual berbagai macam sumber daya kultivasi, tanaman obat langka,
dan tentu saja... kedai makanan yang sangat lezat."
Sambil merapikan jubah abu-abunya yang sedikit kotor, Luo Chen tampak menimbang
usulan tersebut dengan ragu. "Aku tidak memiliki uang untuk membeli apa pun di
kota, Feng'er. Untuk apa kita pergi ke sana?"
"Jangan khawatir tentang uang, Chen'er," balas Ye Feng mengedipkan satu
matanya dengan jenaka. "Pergi ke sana bukan hanya tentang membeli barang. Kita
perlu memperluas wawasan kita dan melihat bagaimana para praktisi di luar sana
berlatih. Siapa tahu kau bisa menemukan cara baru untuk mengaktifkan energi Qi
di dalam tubuhmu setelah melihat pasar kota."
Setelah beberapa saat terdiam, Luo Chen akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.
"Baiklah. Mari kita pergi ke Kota Qingfeng."