NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Pertama ke Kota Qingfeng

Di bawah naungan pohon bambu besar yang rindang itu, tangis anak laki-laki itu

perlahan mereda, digantikan oleh kesunyian hutan yang hanya dipecahkan oleh

desau angin gunung.

Sambil menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, Luo Chen

berdiri tegak di hadapan batang bambu hijau yang kokoh. Tangan kecilnya mengepal

erat, lalu menghantam permukaan batang bambu tersebut dengan seluruh kekuatan

fisik yang ia miliki.

Hentakan pukulan pertama itu terasa menyakitkan bagi jemarinya yang masih lunak,

namun ia tidak berhenti dan kembali melayangkan pukulan kedua, ketiga, hingga

kulit buku jarinya mulai memerah. Hari demi hari, bulan demi bulan, ia terus

kembali ke tempat yang sama di dalam hutan, menjadikan setiap batang bambu

sebagai sasaran latihan fisiknya demi melatih kekuatan otot dan tulangnya secara

mandiri.

Dua belas tahun bergulir tanpa henti sejak hari pertamanya memukul batang bambu

di dalam hutan tersebut.

Kini, di tempat yang sama, seorang pemuda tampan berusia delapan belas tahun

berdiri tegak dengan postur tubuh yang tinggi dan liat hasil dari latihan fisik

ekstrem yang dijalaninya setiap hari. Kulitnya berwarna sawo matang yang sehat,

dan otot-otot di lengan serta dadanya tampak padat terdefinisi dengan jelas di

balik jubah katun abu-abu miliknya yang telah memudar.

Sambil menarik napas dalam-dalam, Luo Chen mengambil posisi kuda-kuda rendah dan

melancarkan "Tinju Dasar klan Luo" secara beruntun ke arah udara kosong. Setiap

pukulan yang dilepaskannya menghasilkan suara desau angin yang tajam akibat

kecepatan dan kekuatan murni dari otot lengannya, meskipun di dalam dantiannya

tetap kosong tanpa ada aliran energi Qi sedikit pun.

Dari balik rimbunnya pohon bambu yang berjarak sekitar lima puluh meter, sesosok

pria paruh baya bertubuh kurus memperhatikan gerakan pemuda tersebut dengan

pandangan mata yang redup. Luo Hao berdiri bersandar pada tongkat kayu

penyangganya, mengawasi setiap pukulan anaknya dengan perasaan bersalah yang

mendalam karena tidak bisa memberikan bimbingan kultivasi yang layak bagi

putranya.

Sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya menggunakan ujung lengan

jubah, Luo Chen menghentikan latihannya setelah melepaskan pukulan keseratus

hari itu. Ia berbalik arah untuk berjalan kembali menuju gubuk keluarganya di

pinggiran desa, namun langkah kakinya kembali terhenti saat mendengar suara

berisik dari arah semak-semak liar di depannya.

Langkah kaki yang berisik dan tergesa-gesa terdengar mendekat, disusul dengan

kemunculan tiga orang pemuda desa yang dipimpin oleh seorang pria bertubuh

gempal berwajah kasar. "Lihat siapa yang kita temukan di sini," ujar Hu San

melangkah menghalangi jalan setapak dengan seringai meremehkan di

wajahnya. "Si anak buangan yang masih saja berpura-pura menjadi praktisi hebat

di tengah hutan."

Dengan tatapan tenang yang dingin, Luo Chen menatap wajah pemuda gempal tersebut

tanpa menunjukkan ketakutan sedikit pun. "Permisi, aku harus lewat," ujarnya

dengan suara datar.

"Kenapa terburu-buru?" sahut salah satu teman Hu San yang bertubuh kurus

melangkah maju, mencoba menarik kerah jubah Luo Chen. "Kudengar ibumu hari ini

mendapatkan banyak upah dari mencuci pakaian warga. Bagaimana kalau kau membagi

sedikit uang itu kepada kami sebagai biaya lewat jalan setapak ini?"

Satu ayunan tangan Luo Chen bergerak cepat menepis cengkeraman pemuda kurus

tersebut, membuat tangan lawannya terlempar ke samping dengan suara hantaman

kulit yang cukup keras. "Jangan sentuh aku," ujarnya dengan nada suara yang

mulai mendingin.

"Aduh, gatal sekali!" teriak Hu San tiba-tiba melompat-lompat liar dan

menggaruk leher belakangnya dengan panik. "Sialan! Apa yang jatuh di leherku?"

Dari atas cabang pohon bambu yang bergoyang pelan di atas kepala mereka, sesosok

pemuda berpakaian berantakan tampak sedang duduk santai sambil mengunyah buah

liar berwarna merah. "Aduh, maaf sekali," ujar Ye Feng seraya melemparkan

sebatang ranting kecil yang dipenuhi oleh ulat bulu hijau beracun ke arah wajah

Hu San. "Tanganku tidak sengaja terpeleset saat sedang memanen ulat-ulat lucu

ini."

"Ye Feng!" teriak Hu San dengan wajah yang mulai memerah dan membengkak akibat

rasa gatal yang luar biasa dari racun ulat bulu tersebut. "Kau selalu saja ikut

campur urusan kami!"

Dengan tawa lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang putih, pemuda jenaka

itu melompat turun dari cabang pohon setinggi tiga meter dengan sangat ringan,

mendarat tepat di antara Luo Chen dan kelompok Hu San. "Bagaimana bisa kau

menyebut ini ikut campur? Aku hanya sedang berbagi keindahan alam liar dengan

kalian semua," sahutnya mengibaskan seikat daun gatal ke arah wajah kedua

teman Hu San.

"Sialan! Gatal sekali! Ayo pergi dari sini!" teriak salah satu teman Hu San

sambil berlari menjauh menuju arah desa, diikuti oleh rekan-rekannya yang terus

menggaruk seluruh bagian tubuh mereka dengan panik.

Sambil melompat turun dan membersihkan sisa daun kering di pundaknya, Ye Feng

menepuk bahu Luo Chen dengan akrab. "Kau terlalu lembut pada mereka, Chen'er.

Jika aku jadi kau, aku sudah memberikan mereka satu pukulan di hidung agar

mereka tahu bagaimana rasanya menghirup tanah berlumpur."

"Mereka hanya pengganggu tidak berguna, Feng'er," jawab Luo Chen kembali

berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke arah gubuk mereka yang berjarak

delapan puluh meter dari tempat tinggal Ye Feng. "Tidak ada gunanya membuang

energi fisik untuk meladeni mereka."

Dengan kening berkerut, Ye Feng menatap wajah sahabatnya dengan pandangan heran dan

mengeluarkan sepotong pancake kering dari balik jubahnya. "Kau selalu

saja terlalu tenang. Apakah latihan fisikmu hari ini membuatmu lapar? Aku punya

sisa sarapan yang sangat lezat di sini."

"Tentu saja lapar," sahut Luo Chen menerima potongan pancake tersebut dan

menggigitnya dengan cepat. "Terima kasih."

"Bagaimana kalau kita berkunjung ke Kota Qingfeng hari ini?" tanya Ye Feng

tiba-tiba menyikut lengan Luo Chen dengan senyum lebar penuh rencana.

"Kota itu hanya berjarak sekitar lima ratus meter dari sini. Di sana ada pasar

besar yang menjual berbagai macam sumber daya kultivasi, tanaman obat langka,

dan tentu saja... kedai makanan yang sangat lezat."

Sambil merapikan jubah abu-abunya yang sedikit kotor, Luo Chen tampak menimbang

usulan tersebut dengan ragu. "Aku tidak memiliki uang untuk membeli apa pun di

kota, Feng'er. Untuk apa kita pergi ke sana?"

"Jangan khawatir tentang uang, Chen'er," balas Ye Feng mengedipkan satu

matanya dengan jenaka. "Pergi ke sana bukan hanya tentang membeli barang. Kita

perlu memperluas wawasan kita dan melihat bagaimana para praktisi di luar sana

berlatih. Siapa tahu kau bisa menemukan cara baru untuk mengaktifkan energi Qi

di dalam tubuhmu setelah melihat pasar kota."

Setelah beberapa saat terdiam, Luo Chen akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.

"Baiklah. Mari kita pergi ke Kota Qingfeng."

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!