Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.
Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng yang Terbongkar
"Aduh, Mama, mending selimutnya ditaruh di sini dulu aja, nanti biar Freya yang bawa ke atas sendiri," cegat Freya cepat, suaranya naik satu oktav dengan nada manja yang dibuat-buat.
Jari-jemarinya yang bermandikan manikur pink langsung meraih ujung kotak beludru di tangan Diana, mencoba menahan langkah sang mertua. Rambut poninya bergoyang seiring dengan gerakan tubuhnya yang mendadak tegang.
"Nggak apa-apa, Freya sayang. Mama sekalian mau lihat dekorasi kamar pengantin baru kalian," tolak Diana lembut namun tegas.
Langkah kaki anggun Diana yang mengenakan sepatu hak tinggi berbahan kulit premium tidak terhentikan. Rossa ikut melangkah mendampingi besannya menaiki tangga. "Iya, Frey. Mami juga penasaran, kamu kan seleranya high-fashion banget. Pasti kamarnya estetik."
Freya hanya bisa menelan ludah gugup di belakang mereka. Di sofa bawah, Arsen menghentikan permainan game di tabletnya, menegakkan punggung dengan cengiran jahil yang mendadak luntur saat menyadari atmosfer bahaya yang mengintai kakak iparnya.
Diana membuka pintu ganda kamar utama di koridor sebelah kanan. Aroma manis nan segar dari kombinasi blackcurrant dan peony langsung menyergap indra penciuman kedua wanita paruh baya itu.
Ruangan luas tersebut tampak luar biasa rapi. Seprei sutra bernuansa merah muda lembut terbentang tanpa cela, serasi dengan gorden dan vas kristal berisi bunga segar di sudut meja rias.
"Wah, wangi sekali, Jeng Diana. Penataan cahayanya juga sangat berkelas," puji Rossa sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
Diana tersenyum puas, melangkah menuju ranjang untuk menaruh kotak selimut. Namun, langkah kaki sang Nyonya Besar Valerick mendadak terhenti secara instan. Matanya yang tajam langsung menangkap kejanggalan di atas karpet bulu premium di sisi kanan tempat tidur.
Di sana, hanya tergeletak sepasang sandal rumah wanita berbahan bulu halus warna merah muda. Sisi kiri ranjang kosong melompong, bersih tanpa ada tanda-tanda sandal pria maupun jejak pemakaian harian seorang suami.
Alis Diana yang terukir rapi bertaut tajam. Dia membalikkan badan, berjalan cepat menuju walk-in closet raksasa yang berada di sisi kiri kamar. Pintu geser berlapis kaca itu didorong kasar. SRET!
Mata Diana membelalak lebar, sementara Rossa menangkup mulutnya dengan tangan, terkejut. Di dalam lemari pakaian yang super luas itu, berderet ratusan gaun desainer ternama, tas-tas mewah, dan jajaran sepatu Christian Louboutin milik Freya yang tertata rapi. Sama sekali tidak ada satu pun setelan jas formal, kemeja, atau dasi sutra milik Adrian. Tempat itu murni hanya berisi barang-barang milik seorang wanita.
"Freya... di mana pakaian Adrian? Kenapa di kamar ini sama sekali tidak ada jejak suamimu?" tanya Diana, berbalik dengan raut wajah yang menegang sempurna. Tatapan matanya lurus menghujam menantunya.
"Itu... anu, Ma... baju Mas Adrian kan banyak jadi langsung ditaruh di tempat laundry khusus kantor biar praktis," kilah Freya, mencoba menggunakan kemampuan retorikanya yang cerdas untuk membangun alibi instan.
"Jangan berbohong, Freya. Mama tahu persis kebiasaan anak sulung Mama," potong Diana mutlak.
Diana melangkah keluar kamar dengan tergesa, memotong koridor tengah menuju pintu kamar di sisi sebelah kiri yang selama ini menjadi wilayah terlarang milik Adrian. Freya tidak sempat mencegah saat Diana mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar.
Aroma kopi hitam pekat dan lilin aromaterapi salted caramel yang dipasang Freya menyeruak keluar. Di dalam ruangan yang serba hitam abu-abu itu, tampak sebuah tempat tidur sutra warna champagne yang hanya menyisakan satu bantal. Dan di balik lemari kaca yang terbuka, jajaran jas desainer ternama milik Adrian tergantung dengan keangkuhan yang kaku. Di bawahnya, berbaris rapi sandal rumah khusus pria berwarna hitam milik Adrian.
"Papa! Ke atas sekarang!" teriak Diana, suaranya yang melengking tinggi meruntuhkan seluruh keheningan mansion mewah itu.
Pak Hadi di ujung koridor langsung menunduk dalam-dalam dengan tubuh gemetar, sementara seisi mansion mendadak merinding merasakan badai besar yang siap meledak. Rahasia pembagian wilayah privat yang dijaga ketat oleh Adrian selama tiga bulan ini akhirnya runtuh dan terbongkar tanpa sisa.