Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wawancara
Malam harinya, ruang tengah griya tawang kembali sunyi setelah anak-anak terlelap. Adrian duduk di sofa kulit hitamnya, sementara Alya berdiri beberapa langkah di depannya, menuntut penjelasan dengan tatapan matanya.
"Kamu terlalu sensitif, Adrian. Tatapanmu pada Kevin tadi seolah-olah ingin membunuhnya," cetus Alya membuka percakapan.
Adrian mendongak, menatap Alya datar. "Aku hanya waspada. Jurnalis dan fotografer adalah makhluk paling bermuka dua di industri ini."
"Tapi dia hanya bertanya apakah kami pernah bertemu," balas Alya. "Apa yang kamu takuti? Masa laluku hanya berisi kerja paruh waktu dan koridor rumah sakit."
Adrian bangkit, berjalan mendekati Alya hingga bayangan tubuh tegapnya mengurung wanita itu. "Aku tidak takut pada masa lalumu, Alya. Aku takut pada media yang bisa memutarbalikkan fakta sekecil apa pun menjadi skandal yang menghancurkan saham Vasillo Group."
"Hanya karena saham?" Alya mendengus remeh. "Atau karena kamu takut 'wanita itu' melihat berita ini dan kembali?"
Rahang Adrian mengeras seketika. "Jangan pernah membawa-bawa dia ke dalam diskusi kita."
"Kenapa? Kamu selalu memperingatkanku untuk tidak menggantikan posisinya," tantang Alya, menatap langsung ke dalam manik mata elang Adrian. "Tapi setiap kali ada orang yang menyinggung masa lalu, kamu yang paling panik."
"Cukup, Alya," potong Adrian, suaranya merendah dan sarat akan ancaman. "Pergi ke kamarmu. Wawancara resmi akan dilakukan besok siang. Aku tidak butuh istrimu yang bermata panda di depan kamera."
Alya mundur selangkah, tersenyum sinis. "Baik, Tuan Vasillo. Saya akan memakai topeng terbaik saya besok."
Keesokan harinya, ruang tamu utama sudah dipenuhi oleh kru majalah Elite Society. Renata, sang jurnalis senior, sudah duduk manis dengan alat perekam suara di atas meja kaca. Di sampingnya, Kevin sedang sibuk mengatur pencahayaan lampu studio portabel.
"Selamat siang, Tuan Adrian, Nyonya Alya," sapa Renata dengan senyum profesionalnya yang merekah. "Terima kasih atas waktu eksklusif ini."
"Selamat siang, Renata," jawab Adrian dengan nada suara yang mendadak ramah—sebuah perubahan drastis yang membuat Alya harus menahan diri untuk tidak memutar bola matanya.
"Silakan duduk, Nyonya Alya," panggil Kevin sopan, memberikan senyuman tipis ke arah Alya.
Alya membalas senyuman itu dan duduk tepat di samping Adrian. Begitu mereka duduk, tangan Adrian langsung bergerak melingkar di atas pundak Alya, menarik wanita itu mendekat dalam rangkulan posesif yang terasa sangat meyakinkan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Baik, bisa kita mulai wawancaranya?" tanya Renata sambil menyalakan alat perekam.
"Tentu, silakan," sahut Adrian lancar.
"Pertanyaan pertama untuk Anda, Tuan Adrian. Publik selalu mengenal Anda sebagai pria yang dingin dan tidak tersentuh setelah sekian lama menduda. Apa yang membuat Anda begitu yakin bahwa Nyonya Alya adalah wanita yang tepat untuk menjadi ibu dari Leon dan Lulu?"
Adrian menoleh ke arah Alya, menatap wajah wanita itu dengan tatapan yang dibuat seolah-olah penuh dengan kehangatan dan cinta yang mendalam.
"Alya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh wanita lain di luar sana," jawab Adrian, suaranya mengalun lembut namun tegas. "Dia tidak melihatku sebagai CEO Vasillo Group. Dia melihatku sebagai seorang ayah yang membutuhkan pasangan, dan yang paling penting, ketulusannya pada Leon dan Lulu adalah hal yang langsung meluluhkan hati anak-anakku sejak detik pertama mereka bertemu."
Alya merasakan jantungnya berdesir aneh. Meskipun tahu ini hanya akting demi publisitas, cara Adrian mengucapkan kalimat itu terdengar begitu meyakinkan hingga ia sendiri hampir mempercayainya.
"Romantis sekali," puji Renata, jemarinya sibuk mencatat di buku kecilnya. "Lalu bagaimana dengan Anda, Nyonya Alya? Menikahi salah satu pria paling berpengaruh di negeri ini tentu membawa perubahan besar. Bagaimana Anda beradaptasi dengan peran baru ini?"
Alya tersenyum manis ke arah kamera Kevin yang berkedip. "Bagi saya, status Adrian sebagai CEO adalah bonus. Fokus utama saya adalah anak-anak. Leon dan Lulu adalah anak-anak yang luar biasa cerdas dan menggemaskan. Menjadi ibu bagi mereka bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah anugerah yang sangat saya syukuri setiap hari."
"Dan bagaimana Tuan Adrian memperlakukan Anda di rumah? Apakah dia sama dinginnya seperti di berita-berita bisnis?" pancing Renata dengan nada bercanda.
Alya melirik Adrian dari samping, senyum jenakanya terukir di bibir. "Di luar rumah dia mungkin seperti balok es, Renata. Tapi di dalam rumah... dia adalah suami yang sangat protektif. Bahkan terkadang, sedikit terlalu cemburuan."
Uhuk!
Kevin yang sedang memegang kamera tiba-tiba terbatuk kecil mendengar ucapan Alya. Sementara Adrian hanya bisa tersenyum kaku, tangannya yang berada di pundak Alya memberikan remasan pelan di bahu wanita itu—sebuah cubitan peringatan tersembunyi agar Alya tidak melantur terlalu jauh.
"Oh, benarkah? Pria sedingin Adrian Vasillo bisa cemburu?" Renata tampak sangat antusias mendapatkan informasi eksklusif tersebut.
"Hanya bentuk perlindungan yang sewajarnya untuk istriku, Renata," sela Adrian cepat, mengalihkan pembicaraan sebelum Alya membongkar hal lain. "Aku hanya tidak suka jika ada orang lain yang menatap istriku terlalu lama."
Tatapan mata Adrian saat mengucapkan kalimat terakhir itu langsung tertuju lurus pada Kevin yang sedang menyesuaikan lensa kameranya. Kevin yang merasa ditatap langsung menundukkan kepalanya dengan canggung, merapikan kabel lampu studio dengan tergesa-gesa.
Sesi wawancara yang berlangsung selama dua jam itu akhirnya selesai dengan sukses besar. Renata tampak sangat puas dengan semua jawaban yang mereka berikan.
"Ini akan menjadi artikel utama yang luar biasa untuk edisi bulan depan, Tuan Adrian. Terima kasih banyak," ujar Renata sambil menjabat tangan Adrian dan Alya bergantian.
"Sama-sama. Malik akan mengurus semua kebutuhan administrasi dan draf artikel sebelum naik cetak," sahut Adrian formal.
Di sudut ruangan, Kevin sedang memasukkan kameranya ke dalam tas ransel besarnya. Saat Renata berjalan keluar terlebih dahulu bersama Malik untuk menuju lift, Kevin sempat tertinggal di ruang tamu. Ia mendekati Alya yang sedang merapikan bantal sofa.
"Nyonya Alya," panggil Kevin dengan suara rendah.
Alya menoleh. "Ya, Mas Kevin? Ada yang tertinggal?"
Kevin menoleh ke arah koridor memastikan Adrian tidak ada di sekitar sana. "Saya hanya ingin meminta maaf atas ucapan saya kemarin tentang masa lalu. Saya tidak bermaksud membuat Tuan Adrian tersinggung."
"Ah, tidak apa-apa, Mas Kevin. Suami saya memang... agak terlalu protektif jika menyangkut orang baru," jawab Alya berusaha ramah.
"Tapi, Nyonya Alya..." Kevin menjeda kalimatnya, matanya menatap Alya dengan pandangan yang sangat serius. "Saya benar-benar tidak salah orang. Setelah saya cek arsip foto lama saya semalam, saya menemukan foto Anda. Anda adalah wanita yang berada di pameran seni lukis milik mendiang pelukis handal... empat tahun lalu, bukan?"
Jantung Alya berdegup kencang. "Pameran seni? Empat tahun lalu?"
"Benar. Dan di foto itu, Anda tidak sendiri. Anda sedang berdiri bersama seorang wanita paruh baya yang sangat mirip dengan Anda—ibu Anda, dan... seorang pria berjas yang wajahnya sengaja disensor oleh agensi tempat saya bekerja dulu," lanjut Kevin dengan bisikan cepat. "Apakah pria itu—"
"Kevin."
Sebuah suara bariton yang dingin bagai malaikat maut tiba-tiba memotong ucapan Kevin dari arah belakang. Adrian sudah berdiri di ambang pintu ruang tamu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menatap Kevin dengan pandangan mata yang siap membunuh.
Kevin tersentak, tubuhnya kaku seketika. "T-Tuan Adrian."
"Asistenku sudah menunggumu di depan lift. Jangan membuat kru yang lain menunggumu hanya karena kamu suka bergosip dengan istri orang lain," ujar Adrian, nadanya sangat tenang namun mematikan.
"Baik, Tuan. Saya permisi. Selamat siang," cicit Kevin ketakutan. Ia langsung menyampirkan tas kameranya dan berlari setengah berjalan menuju arah lift.
Setelah Kevin pergi, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruangan. Alya berdiri terpaku di dekat sofa, otaknya masih mencerna informasi dari Kevin tadi. Pameran seni? Empat tahun lalu? Pria berjas? Siapa pria itu? Mengapa ia tidak mengingatnya sama sekali?
Adrian berjalan mendekati Alya, langkah kakinya terdengar lambat namun menekan. Ia berhenti tepat di depan Alya, menatap wajah wanita itu yang tampak kebingungan.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Adrian dingin.
"Dia... dia bilang dia punya foto saya empat tahun lalu di sebuah pameran seni," jawab Alya jujur, menatap Adrian dengan mata bulatnya yang mencari tahu. "Dia bilang saya bersama ibu saya dan seorang pria berjas yang wajahnya disensor. Adrian... apakah kamu tahu sesuatu tentang ini?"
Adrian terdiam selama beberapa detik. Guratan di wajah tampannya mengeras, seolah-olah ada sebuah rahasia besar yang sedang ia coba sembunyikan di balik topeng esnya.
"Jangan dengarkan omong kosong fotografer amatir seperti dia, Alya," sahut Adrian ketus, berbalik memunggungi Alya. "Dia hanya mencoba mencari perhatian atau ingin memeras uang dari kita menggunakan cerita karangan."
"Tapi dia menyebut ibu saya!" seru Alya, menahan lengan jas Adrian agar pria itu kembali menghadapnya. "Bagaimana dia bisa tahu tentang ibu saya jika dia hanya mengarang cerita? Adrian, katakan yang sebenarnya padaku! Kontrak ini... apakah ini benar-benar murni karena anak-anakmu memilihku secara kebetulan? Atau ada alasan lain mengapa kamu dan Malik memilihku dari sekian banyak wanita di Jakarta?!"
Adrian membalikkan badannya dengan cepat, mencengkeram kedua bahu Alya dengan erat, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang kini memancarkan kilat amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang mendalam.
"Cukup, Alya!" bentak Adrian rendah, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Jangan pernah melompati batasan kontrak kita! Tugasmu di rumah ini hanya menjadi ibu pengganti untuk anak-anakku dan menjadi istri pajangan di depan media! Kamu tidak berhak mempertanyakan keputusanku atau menggali hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pengobatan ibumu!"
Air mata Alya merebak di pelupuk matanya karena cengkeraman Adrian di bahunya terasa cukup menyakitkan, namun ia menolak untuk terlihat lemah. Ia menepis tangan Adrian dari bahunya dengan sentakan kasar.
"Persetan dengan kontrakmu, Adrian!" balas Alya dengan suara yang tidak kalah sengit, air matanya menetes melewati pipinya. "Jika pernikahan kontrak ini ternyata melibatkan rahasia yang membahayakan ibu saya atau masa lalu saya, saya berhak tahu! Saya bukan boneka pajangan yang bisa kamu kendalikan sesuka hatimu hanya karena kamu memiliki banyak uang!"
Alya membalikkan badannya dan berlari menuju tangga, naik ke lantai atas menuju kamarnya dengan isak tangis yang tertahan, meninggalkan Adrian yang kini berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang megah.
Adrian mengepalkan tangannya di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap ke arah tangga tempat Alya menghilang, lalu mengumpat pelan dengan suara yang sarat akan rasa bersalah dan kemarahan yang membakar dada.
"Malik!" panggil Adrian dengan teriakan tegas yang menggema di seluruh ruangan.
Malik yang baru saja kembali dari arah lift langsung berlari kecil menghampiri tuannya dengan wajah tegap. "Ya, Tuan Adrian? Ada perintah?"
"Pecat Kevin dari agensi majalah itu hari ini juga. Pastikan dia tidak pernah bisa menggunakan kameranya lagi di industri media mana pun di negara ini," perintah Adrian dengan desisan rendah yang sangat kejam.
Malik tertegun sejenak, namun ia segera mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Segera saya laksanakan. Lalu... bagaimana dengan Nyonya Alya?"
Adrian memejamkan matanya sekejap, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian tak menentu sejak kehadiran Alya di rumah ini. "Biarkan dia sendiri untuk sementara waktu. Dan pastikan pengawasan di rumah sakit ibunya diperketat dua kali lipat. Jangan biarkan siapa pun dari masa lalu... mendekati mereka."
"Dimengerti, Tuan."
Di bawah temaram lampu ruang tamu, Adrian Vasillo berdiri mematung. Rahasia besar yang selama empat tahun ini ia kubur dengan rapat-rapat bersama luka pengkhianatan istrinya, kini perlahan-lahan mulai memunculkan retakan akibat kehadiran sang ibu pengganti yang ternyata memiliki benang merah yang jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan. Dan perang dingin di antara keduanya baru saja resmi dimulai.