NovelToon NovelToon
Istri Bayangan Tuan Adhitama

Istri Bayangan Tuan Adhitama

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.

Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.

Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.

Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.

"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pagi masih begitu gelap. Cahaya bulan yang semalam menyelinap melalui celah tirai kini mulai memudar, berganti dengan semburat kebiruan yang perlahan muncul di ufuk timur. Suasana di dalam kamar pengantin itu masih sunyi, hanya suara dengungan pelan pendingin ruangan dan detak jarum jam yang terdengar samar memecah keheningan. Di atas sofa kecil dekat jendela, Aisyah perlahan membuka kedua matanya. Untuk beberapa saat ia hanya memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Tubuhnya terasa pegal karena semalaman tidur di sofa yang ukurannya jauh lebih sempit daripada ranjang. Bahunya sedikit kaku, begitu pula lehernya yang terasa nyeri akibat posisi tidur yang tidak nyaman.Namun rasa tidak nyaman itu tidak membuatnya mengeluh.

Perlahan Aisyah bangkit hingga duduk. Jemarinya merapikan ujung hijab dan cadarnya yang sedikit bergeser ketika tidur, lalu mengusap wajahnya pelan yang kemudian pandangannya beralih ke arah jam dinding yang menggantung di atas pintu kamar. Pukul empat lewat beberapa menit.

"Sudah masuk waktu Subuh." Bisiknya lirih.

Aisyah menarik napas panjang. Meskipun malam tadi dipenuhi tangis dan rasa sesak, kebiasaannya sejak kecil untuk bangun sebelum Subuh tidak pernah berubah. Ayahnya selalu mengajarkan bahwa awal hari seorang muslim dimulai dengan memenuhi panggilan Allah sebelum memenuhi urusan dunia. Perlahan ia menurunkan kedua kakinya dari sofa. Begitu telapak kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, tubuhnya sedikit menggigil. Ia berdiri dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

Tatapannya tanpa sadar kembali mengarah ke ranjang besar di tengah kamar. Ammar masih tertidur dengan tubuh laki-laki itu yang masih membelakanginya. Selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas bahu. Wajahnya terlihat tenang seolah semalam tidak terjadi apa pun. Aisyah memandangnya beberapa detik. Entah mengapa, pemandangan itu membuat dadanya kembali terasa sesak.

Semalam laki-laki itu mengucapkan begitu banyak kalimat yang merobek harga dirinya. Namun pagi ini, saat melihat Ammar masih terlelap sementara azan Subuh sebentar lagi akan berkumandang, hati kecil Aisyah justru dipenuhi kegelisahan yang berbeda. Selama mengenal Ammar sebagai kakak iparnya dahulu, ia memang jarang sekali melihat laki-laki itu melaksanakan salat lima waktu. Awalnya Aisyah mengira hanya kebetulan, namun semakin lama, ia mulai menyadari bahwa Ammar memang sering melewatkannya.

Hal itu selalu membuat Aisyah sedih. Bukan karena ingin menghakimi, melainkan karena ia tahu betapa besar kedudukan salat di sisi Allah. Kini, Status mereka telah berubah. Ammar bukan lagi sekadar suami kakaknya. Ia adalah suaminya dan sebagai seorang istri, bukankah sudah menjadi kewajibannya untuk saling mengingatkan dalam kebaikan?Pandangan Aisyah kembali tertuju kepada laki-laki itu. Bibirnya sedikit terbuka.

"Mas..."

Suara itu hanya keluar sebagai bisikan yang bahkan nyaris tidak terdengar. Ia ingin membangunkan Ammar, ingin berkata dengan sopan bahwa waktu Subuh hampir tiba. Ingin mengingatkan bahwa salat adalah kewajiban setiap muslim, namun bayangan kejadian semalam tiba-tiba muncul memenuhi pikirannya. Tatapan dingin Ammar, nada suaranya yang tajam dan kalimat-kalimat yang dengan mudah melukai harga dirinya.

"Jangan pernah berharap aku mencintaimu. Kau hanya istri di atas kertas. Jangan mencoba mengambil tempat Salsa."

Jantung Aisyah berdegup lebih cepat. Tangannya perlahan mengepal di balik gamis yang dikenakannya.

"Bagaimana kalau Mas Ammar marah lagi?" Batin Aisyah lirih. "Bagaimana kalau dia menganggap aku ikut campur?"

Aisyah menundukkan kepalanya. Ia benar-benar ingin mengingatkan namun ia juga tidak ingin keberadaannya kembali menjadi alasan munculnya pertengkaran di rumah ini. Akhirnya Aisyah menghela napas pelan.

"Ya Allah," Bisik Aisyah dalam hati. "Ampunilah aku jika aku belum mampu mengingatkannya. Aku hanya takut perkataanku justru membuat keadaan semakin buruk."

Perlahan Aisyah mengalihkan pandangannya dari ranjang. Ia memilih diam bukan karena tidak peduli, melainkan karena belum mengetahui bagaimana cara mendekati laki-laki yang bahkan enggan menganggapnya sebagai seorang istri. Tanpa membuang waktu lagi, Aisyah membungkuk merapikan sofa yang semalam menjadi tempat tidurnya. Ia melipat selimut dengan rapi hingga membentuk persegi. Bantal yang tadi dipeluknya diletakkan kembali pada tempatnya. Tangannya beberapa kali merapikan bagian sofa yang sedikit berantakan hingga kembali tampak bersih seperti semula.

Aisyah tidak ingin siapa pun melihat kesan bahwa sofa itu telah dipakai tidur semalaman.

Setelah semuanya selesai, Aisyah mengambil pakaian ganti yang telah disiapkannya sejak malam. Dengan langkah sangat pelan ia berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk, Aisyah kembali menoleh sekilas ke arah Ammar. Laki-laki itu masih tidak bergerak. Dadanya naik turun dengan napas yang teratur.

Aisyah menghela napas pelan.

Semoga suatu hari nanti, Mas Ammar kembali menemukan jalan menuju-Mu, ya Rabb.

Doa itu hanya berani ia ucapkan di dalam hati lalu perlahan Aisyah membuka pintu kamar mandi dan menutupnya rapat.

Suara gemericik air mulai memenuhi ruangan kecil itu. Berbeda dengan semalam yang dipenuhi isak tangis, pagi ini kamar mandi terasa jauh lebih tenang. Aisyah menggantung pakaian gantinya, lalu mulai membersihkan dirinya. Air dingin yang mengalir membasahi tubuhnya yang perlahan mengusir rasa pegal akibat tidur di sofa. Sesekali ia memejamkan mata, membiarkan air membasuh wajahnya yang semalam sembab karena terlalu banyak menangis. Entah mengapa, setelah menangis panjang di hadapan Allah semalam, hatinya terasa sedikit lebih lapang.

Lukanya memang belum hilang, namun ia mulai belajar menerima bahwa tidak semua takdir bisa dipahami sejak awal. Beberapa luka memang harus dijalani sebelum akhirnya menemukan hikmahnya. Selesai mandi, Aisyah mengenakan gamis bersih berwarna krem muda. Hijabnya dirapikan hingga menutupi dada. Setelah itu Aisyah kembali berwudhu dengan perlahan. Setiap basuhan air membuat bibirnya tak henti berzikir.

"Astaghfirullah..."

"Subhanallah..."

"Alhamdulillah..."

Hatinya terasa semakin tenang. Begitu wudunya selesai, Aisyah mengusap wajahnya pelan lalu mengambil mukena putih yang sedari tadi dibawanya. Beberapa menit kemudian, Aisyah kembali keluar dari kamar mandi. Langkahnya tetap pelan agar tidak membangunkan Ammar. Pandangannya kembali tertuju pada ranjang. Posisinya tidak berubah, laki-laki itu masih tertidur. Untuk sesaat Aisyah kembali diliputi keraguan.

Haruskah ia membangunkan Ammar?Haruskah ia mencoba sekali saja? Namun sebelum sempat melangkah, bayangan dinginnya tatapan Ammar semalam kembali muncul. Aisyah menggigit bibir bawahnya pelan.

"Tidak sekarang." Bisiknya lirih. "Mungkin suatu hari nanti kalau hubungan kami sudah tidak seburuk ini."

Aisyah pun mengurungkan niatnya. Perlahan ia mengambil sajadah dari lemari kecil lalu menggelarnya di sudut kamar yang menghadap kiblat sembari mengenakan mukenanya. Begitu semua siap, Aisyah memulai sholat subuh nya.

"Allahu Akbar..."

Suara takbir itu kembali memenuhi kamar yang masih diselimuti keheningan. Di tengah luka yang belum sembuh. Di tengah rumah yang masih terasa asing. Di tengah status baru yang belum mampu diterimanya sepenuhnya. Aisyah kembali berdiri menghadap Rabb-nya karena ia yakin, saat seluruh dunia terasa menjauh, masih ada satu tempat yang tidak pernah menolaknya. Yaitu bersujud di hadapan Allah.

1
Marini Suhendar
Melihat Aisyah bikin nangis😭😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sama kak/Sob/
total 1 replies
Marini Suhendar
Itu konsekwensinya..coba bukan adik kmu yg jd madunya .sakitnya g terlalu kan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: padahal Ammar udah terima salsa apa adanya, tapi salsanya yang repot sendiri /Slight/
total 1 replies
Lembang Azam
klw kamu takut Aisyah mencuri perhatian mertua dan suamimu, harusnya dr awal kamu tuh sadar salsa jgn memaksa suamimu untk menikah lagi, disini kamu yg egois, menyakiti hati suami dan adikmu sndiri,, amar ja GPP kamu enggak punya anak, knpa kamu justru yg repot sih,,sebellll tau enggak sih thor😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sabar kak sabar, jangan emosi 🙏🤭
total 1 replies
Nda
novelmu luar biasa thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak🙏😍
total 1 replies
Marini Suhendar
d mata amar & salsa pasti salah. d kira cari perhatian
Ical Habib
boleh ta dlm hukum Islam 2 saudara sekaligus...yg boleh t KL DA meninggal satu trs pindah k adiknya.othor in ad2 aj
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hmmmm 🙄, sudahlah yah jejak di sini.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Pret ah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ngaran Weh Wira tapi kalakuan TeusaWira 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hemmm iya gitulah ya 🤷
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh tua juga kelakuan kayak gitu bukannya nikmati masa tua aja Ama bini malah ngurusin rumah tangga anak Lo 🙄🫤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
nggak tahu ah
Lembang Azam
ini neh yg plg bikin sebelll dan bingung,,,klw smw pemeran utamanya baik😭 knpa enggak pak wira ja sih yg punya anak thor🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: udah tua kak pak Wira nya🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Marini Suhendar
kamu dengar kan amar doa yg d panjatkan Aisyah...Sabar aisyah 🥰
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dasar kampret semua 😩 sudahlah pusing, jejak aja dulu yeh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Lo memang bodoh, kelak kmu salsa dgn suamimu akan lebih parah menyakiti Aisyah. kalian pasti jadi villain berakhlak binatang berbentuk manusia.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh gw pusing.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya Aisyah tidak akan menyakitimu sal, tapi kamu sendiri yg akan menyakitinya kelak bahkan setelah mendapatkan anak kau akan merebutnya. bahkan bisa saja amar pun akan sama sepertimu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya siapa lagi si mar, kok di tanya 🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ini bininya sumpah demi apa oon nggak tahu di untung suaminya di pihak Lo.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!