Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Kenapa Dengan ... Eru
Bab 8
Setengah 8 meninggalkan gedung Yess TV, tiba hampir tengah hari. Seharusnya perjalanan bisa lebih pendek, di rest area cukup lama rehat. Selain sebagian belum sarapan, para pria cukup lama untuk merokok. Memasuki desa Sedong Lor, Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon.
Cinta merapikan rambut yang agak berantakan dan kembali dikuncir ekor kuda. Memakai lagi name tag dan menyimpan bantal leher.
“Udah dekat nih, pasar Sedong berarti nggak jauh,” seru Asep.
“Aman mbak?” tanya Eru mendapati Cinta tidak berkicau seperti biasanya, bahkan sempat mengoles minyak angin di pelipisnya.
“Pusing aku, masuk angin kali.”
“Makanya minum antim0 sebelum berangkat,” seru Bang Umar. “Mabuk perjalanan itu.”
“Biasanya juga enggak bang. Kalau pulang kampung nggak pernah begini,” sahut Cinta.
“Elo pulkam pake kereta, markonah. Ini naik mobil.”
“Diem deh, makin pusing aku,” keluh Cinta pada Asep.
“Mau dipijitin mbak,” bisik Eru dan Cinta melirik sinis. Eru terkekeh dan bergeser saat gadis itu memukuli lengannya.
Umar menginstruksikan mencari rumah makan untuk rehat dan makan siang sebelum ke lokasi. Pilihannya rumah makan dengan konsep lesehan dalam gubukan. Abil mengambil alih tugas pelayan dengan menuliskan pesanan seluruh tim.
“Ta, apa pesananmu? Udah komplit ini.”
Cinta baru saja dari toilet, menerima buku menu dari Abil. Umar duduk di agak sudut, merokok sambil fokus dengan ponsel. Asep menjauh sedang telponan dengan calon istrinya.
“Kamu pesan apa?” tanya Cinta pada Eru sambil membuka lembaran menu.
“Ayam kremes sama es jeruk.”
“Hm, kayaknya enak kremesannya ya, ada empal juga. Enak pastinya. Mas Abil, aku sup iga aja sama es teh manis.”
Eru menoleh lalu berdecak pelan. Perempuan memang sulit dimengerti, yang disebut enak yang mana yang di pesan yang mana. Rupanya kondisi Cinta sudah lebih baik, mulai aktif dan kembali berkicau mania bersama Asep.
“Heran gue, nggak dimana ribut aja kalian ini.” Abil menggeleng pelan.
“Ya gitu, sampe empet gue,” sahut Umar.
“Awas berjodoh,” cetus driver sambil terkekeh.
“Ogah, bocah kayak dia bukan selera gue.”
“Dih, siapa juga mau sama kang Asep. Udah tuir, aku sukanya yang ….”
“Macho,” sela Asep. “Cowok macho nggak suka cewek.”
“Minum mbak,” seru Eru langsung mengambil minuman pesanan Cinta dari nampan yang dibawa pelayan. “Ngoceh terus pasti haus.”
“Ih, Eru perhatian banget. Aku memang haus loh. Haus cacih cayang.”
“Cewek stress,” ejek Asep.
***
Memasuki area setu melewati gerbang sederhana. Bukan tempat wisata dengan gerbang kokoh dan petugas tiket. Masih konvensional pelayanan tempat itu.
“Urus perizinannya dulu,” seru Umar pada Asep.
“Siap. Ru, ikut gue ya.”
“Oke.”
Asep membuka pintu bagasi mencari map berisi perizinan dan surat yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut.
“Ta, di mana mapnya?”
“Di bawah tas aku.”
“Yang hitam ya, ada gantungan hello kitty ‘kan?” Menarik tas yang dimaksud dari tumpukan ransel lainnya.
“Eh. Bukan tas yang itu. Yang coklat,” sahut Cinta menghampiri. “Yang itu!”
“Busyet lo bawa tas banyak banget. Segala dosa sama masalah hidup lo angkut semua, menuhin bagasi aja.”
“Ck, bawel dah. Tadinya mau koper, nggak jadi.”
Asep dan Eru menghampiri petugas di lokasi Setu, Umar memperhatikan area dan sekeliling. Memperhitungkan di mana mereka harus shooting. Begitu pula dengan Cinta.
Tidak lama Asep dan Eru kembali, izin sudah di tangan. Mereka akan shooting dua hari termasuk besok.
“Bos, alat gue turunin ya?” Teriak Ambil, Umar mengangguk.
Masih termasuk tengah hari, pengunjung setu tidak banyak. Hanya ada beberapa di pinggiran untuk memancing. Tempat itu akan ramai menjelang sore apalagi weekend. Selain memancing, pengunjung bisa menikmati matahari terbenam. Danau indah dengan latar gunung Ceremai. Bisa juga bersepeda, disewakan pula perahu dan bebek kayuh. Abil sudah menurunkan perangkat, Eru membawakan perangkat drone.
“Sebelah sini dulu!” titah Umar dan Abil memasang kamera di tempat yang dikehendaki oleh pria itu. Asep mengeluarkan mic serta perangkat untuk wawancara. Cinta mengeluarkan perangkat drone dari tempatnya, dibantu Eru.
Kala senggang Cinta dan Asep mirip tom and jerry, tapi saat bekerja dan dibutuhkan konsentrasi tinggi. Mereka cukup serius.
“Ru, nanti siapkan orang yang akan diwawancara. Agak sorean kayaknya, tunggu ramai pengunjung,” titah Umar diangguki oleh Eru.
“Tes, tes, oke bang,” ucap Asep.
“Gue mulai duluan. Ru, pegang itu!” titah Umar menunjuk reflektor.
Cinta mulai menggerakkan remot nya sedangkan Umar mengambil gambar dengan kameranya, memfokuskan arah dan bergerak pelan untuk mendapatkan hasil sesuai yang direncanakan.
"Bang Umar, geser kanan dikit dong! Frame nya bocor, nih. Moncong perahu sebelah sana masuk ke layar aku!" seru Cinta tanpa mengalihkan pandangan dari remote drone-nya.
Umar berdecak, tangannya memutar pan handle tripod dengan perasaan gemas. "Cinta, kalau gue geser kanan, si Eru yang lagi pegangin reflector bakal ikutan masuk frame. Lu mau ada scene penampakan cowok ganteng megang aluminium foil? Yang ada bukan tempatnya yang heboh, tapi sosok si Eru.”
Eru, yang merasa namanya disebut, langsung menurunkan reflektor perak raksasa yang dipegangnya. “Mbak Cinta, terbangin drone-nya jangan rendah banget? Suara baling-balingnya bisa masuk ke audio.”
Asep tiba-masing berteriak panik dari balik headphone besarnya. "Woy, woy! Asli, ini suaranya masuk?! Cinta, drone lu dekat kuping gue banget ini.”
CInta terkekeh lalu menjauh. “Sorry, gue di sebelah sana dah.”
Cukup lama mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Semakin sore hembusan angin lumayan agak kencang. Umar melihat hasil rekamannya dengan Asep. Eru menghampiri Cinta, di waktu yang tepat ia menjaga keseimbangan remote di tangan Cinta.
“Mbak anginnya makin kencang. Mau gantian pegangin remote-nya?," bisik Eru, mencoba menurunkan oktaf suaranya. Cinta melirik Eru dari sudut matanya, lalu tersenyum manis. Sangat manis, sampai Eru merasa danau di depan mereka mendadak berubah jadi kolam madu.
“Boleh deh, udah pegel banget.”
Saat mengambil alih remote, tangan mereka bersentuhan. Sempat saling tatap meski hanya beberapa detik, tapi cukup membuat situasi canggung. Mengarahkan kemana Eru harus menggerakkan remotenya.
“Agak nukik,” titah Cinta. “Turun pelan di sana.”
“Ru, udah mulai rame. Kita wawancara,” teriak Asep dan Umar kembali siap dengan kameranya.
“Okeh, bang.”
Di tempat berbeda, Langit mengangguk menunjuk pintu ruangan di depannya. Wanita yang bertugas di meja depan dengan jabatan sekretaris itu mengangguk dengan senyum.
“Silahkan, Pak Akbar ada di dalam.”
Mengetuk dua kali lalu mendorong pelan pintu ruang kerja Akbar -- ayah sekaligus pemimpin di Digital Corp atau atasannya langsung di perusahaan.
“Tumben, nggak kasih kabar,” seru Akbar melepas kaca mata dan beranjak dari kursi kebesarannya menghampiri sang putra di sofa. “Ada masalah?”
“Cinta Kirana, dia pegawai titipan ayah bukan?” Langit menunjukan identitas Cinta dari ponselnya.
“Ah, iya. Kenapa dia, berulah?”
“Tidak ada masalah, yang aku dengar kerjanya selama ini bagus. Boleh aku tahu, kenapa Ayah rekomendasikan gadis ini?”
Akbar menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya menatap langit-langit. “Dia korban kecelakaan. Kecelakaan yang disebabkan paman kalian, Papinya Eru.”
“Kecelakaan?”
Akbar mengangguk. “Entah sudah berapa lama, mungkin dua puluh tahun berlalu. Motor yang ditumpangi keluarga itu ditabrak oleh pamanmu, meski mobil pun berakhir menabrak pohon. Artha Arkatama, pamanmu meningg4l di tempat, Maura terluka dan orangtua gadis itu juga tidak selamat.”
Langit menyimak penjelasan ayahnya. Baru tahu masalah ini, kalau benar kejadian itu dua puluh tahun lalu berarti saat ia masih remaja.
“Beruntung keluarganya bisa diberikan pemahaman. Semua diselesaikan tanpa campur tangan pihak berwajib. Ayah memastikan pendidikan Cinta aman sampai dia sarjana dan peluang pekerjaan, tanpa gadis itu tahu keterlibatan kita.” Akbar beralih menatap putranya. “Ada masalah apa sampai kamu tanya siapa Cinta ?”
“Kalau dia tahu peran keluarga Arkatama dibalik kecelakaan itu, bagaimana dengan Eru?”
“Kenapa dengan Eru?” tanya Akbar heran.
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya
harusnya kamu dukung dan restuin agar cinta dapet keluarga baru dari pihak keluarga laki². lah ini aneh² aja 😏
takut nama keluarga tercoreng,takut ini takut itu..
Takut saham hancur dan turun lebih pastinya..
tapi nggak mikir gimana cinta tidak mendapat keadilan untuk orang tuanya...
Perselisihan dan perpisahan pasti ada,tapi aku yakin cinta Eru itu tulus dan kuat.
lama lama Cinta juga akan luluh dan memaafkan Eru..
lagian bukan eru yang menabrak,mereka sama sama korban juga