TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control* *BAB 14: CANDU DAN LUKA
*Toxic and Control*
*BAB 14: CANDU DAN LUKA*
Sentuhan brutal pada bibirnya membuat seluruh pasokan oksigen di paru-paru Kinara Jose mendadak menguap.
Ciuman Rian malam ini sama sekali tidak memiliki kelembutan; itu murni sebuah agresi dari ego seorang tuan muda yang sedang frustrasi, terluka, dan kehilangan akal sehat di bawah kendali alkohol.
Rasa muak yang pekat bergejolak di dalam dada Kinara. Dia terus memukul dada bidang Rian sekuat tenaga dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mencoba mencakar bahu kekar cowok itu, namun tubuh tinggi Rian tetap bergeming mengunci pergerakannya di sudut sofa beludru.
Dalam kondisi terdesak dan kehabisan napas, insting bertahan hidup Kinara mengambil alih. Ketika Rian semakin dalam melumat bibirnya, Kinara mengumpulkan seluruh kekuatannya dan langsung menggigit bibir bawah Rian dengan teramat keras.
`Sret!`
Rasa anyir darah seketika menyeruak di antara tautan bibir mereka. Gigitan telak itu berhasil. Rian mengerang pendek menahan perih, perlahan menjauhkan wajah tampannya dan melepaskan ciuman brutal tersebut.
Begitu cengkeraman pada tengkuknya mengendur, Kinara tidak menyia-nyiakan kesempatan sedikit pun. Dengan napas yang memburu dan seluruh kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun, dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, lalu melayangkan sebuah hantaman keras ke pipi cowok itu.
`PLAK!`
Suara tamparan yang teramat nyaring itu bergema keras di dalam ruangan VIP 109, mengalahkan suara sayup dentuman musik dari luar. Kekuatan tamparan Kinara begitu besar hingga membuat wajah tampan Rian terenggang ke samping. Untuk kedua kalinya, Kinara melayangkan tamparan hebat pada wajah sang penguasa sekolah.
Rian mundur satu langkah dengan napas yang masih memburu. Dia mengangkat tangan kanannya, mengusap sudut bibir bawahnya sendiri yang kini robek dan meneteskan darah segar menggunakan ibu jari. Pipi kirinya yang baru saja ditampar kini perlahan memerah padam.
Cowok itu menatap noda merah di jarinya, lalu beralih menatap lurus ke sepasang mata jernih Kinara yang sedang menatapnya penuh amarah, dendam, dan napas yang terengah-engah.
Namun, skenario yang Kinara harapkan sama sekali tidak terjadi. Alih-alih tersadar dari mabuknya atau menjadi marah dan menjauh, kilat di dalam sepasang mata elang Rian justru semakin menggelap pekat. Luka, darah, dan tamparan fisik itu bukannya menghentikan Rian, melainkan justru memicu sisi keliaran, kegilaan, dan obsesi paling gelap di dalam otaknya yang gila kontrol.
Rian terkekeh rendah—sebuah suara bariton yang teramat dingin dan mengerikan di bawah temaram lampu emas VIP 109. Ruangan mewah itu sekarang hanya menyisakan dia dan Kinara. Kedua wanita penghibur yang sebelumnya menemani Rian sudah lama pergi melarikan diri karena ketakutan sejak mendengar teriakan frustrasi pertama Rian yang menggelegar tadi.
Sebelum Kinara sempat melompat turun dari sofa untuk melarikan diri, Rian sudah kembali bergerak maju dengan kecepatan yang tidak terduga. Tubuh tingginya kembali merangsek, memojokkan Kinara hingga punggung cewek itu membentur sandaran sofa dengan keras.
Kedua tangan kekar Rian mengunci bahu Kinara, dan tanpa memberikan jeda satu detik pun untuk gadis itu bersuara, Rian kembali menundukkan wajahnya dan meraup bibir Kinara untuk kedua kalinya.
Ciuman kali ini jauh lebih menuntut, kasar, dan posesif. Rian benar-benar telah hilang kendali sepenuhnya. Sebagai balasan atas rasa sakit dari gigitan dan tamparan yang dia terima, Rian membalikkan keadaan dengan kejam. Di tengah lumatan yang memburu, Rian justru balik menggigit bibir ranum Kinara dengan tekanan yang tajam.
`"Ahg—"`
Sebuah lenguhan kesakitan tertahan lolos dari tenggorokan Kinara saat rasa perih yang luar biasa menghantam bibirnya. Gigitan Rian yang sengaja membalas itu seketika merobek permukaan bibir tipis Kinara hingga mengeluarkan darah segar, mencampurkan rasa anyir di antara kecupan mereka yang pekat.
Rian terus mengunci bibir gadis itu, menikmati rasa candu dan kepemilikan mutlak yang selama ini menyiksa batinnya, membiarkan darah mereka menyatu di dalam ruangan yang bising.
Malam itu, di bawah pengaruh alkohol yang membakar tubuhnya, Rian benar-benar telah kehilangan kontrol diri. Ciumannya semakin dalam dan menuntut, sementara tenaganya yang besar membuat tubuh kecil Kinara perlahan lemas kehabisan pasokan udara.
Kinara sudah tidak bertenaga lagi untuk memberontak atau memukul dada bidang di depannya. Tangannya terkulai pasrah di sisi tubuhnya.
Di tengah pangutan mereka yang pekat, dominasi gelap Rian semakin merayap liar. Tangan kekar Rian yang satunya perlahan naik ke dada Kinara. Dengan gerakan impulsif yang dipacu alkohol, jarinya bergerak melepas kancing pakaian Kinara.
Kancing pertama terbuka.
Kancing kedua lolos.
Tepat saat jemari Rian hendak membuka kancing yang ketiga, Kinara memejamkan matanya erat-erat. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes deras, membasahi pipinya yang memucat pasrah.
Di sela-sela ciuman brutal itu, Kinara mengumpulkan sisa napasnya dan mengeluarkan sebuah gumaman lirih yang gemetar, namun sarat akan keputusasaan yang mendalam.
`"Kak Rian... kalau kamu benar-benar melanjutkannya... aku... benar-benar akan membencimu."`
`Deg.`
Kata 'membenci' yang diucapkan dengan isakan rapuh itu seketika menghantam pusat kesadaran Rian seperti siraman air es. Kalimat itu menembus kabut alkohol yang menguasai otaknya. Memori tentang tatapan ketakutan dan kebencian Kinara di lorong rumah sakit kemarin mendadak berputar hebat di kepalanya.
Rian langsung menghentikannya.
Gerakan tangannya pada kancing ketiga Kinara membeku seketika. Rian menarik perlahan wajah tampannya menjauh, memutus tautan bibir mereka yang berlumuran darah. Sepasang mata elangnya yang sayu dan merah menatap lekat-lekat ke arah wajah polos Kinara yang kini basah oleh air mata, dengan bibir bawah yang robek mengeluarkan sisa darah segar.
Napas Rian memburu berat. Denyut nyeri yang luar biasa kembali menghantam dadanya, berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada tamparan atau gigitan Kinara tadi. Ancaman kebencian murni dari gadis ini terbukti menjadi satu-satunya hal di dunia ini yang sanggup melumpuhkan ego dan kendali mutlak dari seorang Rian Pradifta.
Dengan sisa kekuatan emosi yang mengguncang tubuhnya, Rian melangkah mundur. Dia menjauhkan seluruh tubuh tingginya dari kukungannya pada Kinara, memberikan jarak yang cukup lebar di antara mereka.
Rian membalikkan badannya membelakangi Kinara, menyugar rambut hitamnya dengan kasar, lalu menopangkan kedua tangannya pada tepi meja kaca sembari menunduk dalam. Napasnya terdengar sangat frustrasi dan memburu di tengah keheningan malam yang pekat.
Melihat kuncian Rian terlepas sepenuhnya, Kinara tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang masih mengalir di pipi, dia buru-buru membenarkan pakaiannya. Jarinya bergerak panik mengancingkan kembali kancing pertama dan kedua kemejanya yang sempat terbuka.
Tanpa sudi melirik ke arah punggung tegap Rian yang masih bergeming menahan gejolak emosi, Kinara langsung menyambar nampan besinya yang kosong. Dengan langkah terhuyung-huyung dan napas yang sesak, dia berlari kencang keluar dari ruangan VIP 109, meninggalkan sang tuan muda sendirian dalam kehancuran egonya yang malam itu runtuh total oleh air mata seorang gadis beasiswa.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk