NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12_Boneka Anabel part5

Bab 5: Penjaga Segel yang Telah Mati

"Si... siapa di balik pintu itu?" tanya Alena dengan suara bergetar. Wajahnya memucat, bibirnya gemetar, sementara kedua matanya terus menatap pintu kayu tua yang dipenuhi ukiran aneh.

Suasana kembali sunyi. Hanya suara napas berat makhluk berjubah hitam yang terdengar dari belakang mereka.

"Hhhhhhh..."

Dug...Dug...Dug...

Setiap langkahnya membuat lantai lorong retak semakin lebar. Anabel menggenggam tangan Alena semakin erat.

"Jangan percaya siapa pun..." bisik Anabel lirih. Wajahnya dipenuhi ketakutan, air mata hitam kembali mengalir di kedua pipinya.

Tiba-tiba suara pria tua itu kembali terdengar dari balik pintu.

"Kalau kalian terlambat sedikit saja... semuanya akan berakhir..." ucap suara itu tenang. Nadanya datar, tetapi terdengar penuh kesedihan.

Alena menelan ludah.

"Siapa Anda? Tunjukkan diri!" teriak Alena. Wajahnya dipenuhi rasa takut sekaligus penasaran.

"Tidak ada waktu menjelaskan..." jawab suara itu.

"Kalau begitu bagaimana kami bisa mempercayaimu?" bentak Alena. Rahangnya mengeras, meski seluruh tubuhnya masih gemetar hebat.

Suara itu mengembuskan napas panjang.

"Aku adalah orang yang menyegel makhluk itu seratus tahun yang lalu..." katanya pelan.

Mata Anabel langsung membelalak.

"Tidak mungkin..." ucap Anabel lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

"Namaku Ki Brata..." lanjut suara itu.

Nama itu membuat Anabel seolah mengingat sesuatu.

"Aku pernah mendengarnya..." bisik Anabel. Dahinya berkerut dalam.

Alena menoleh cepat.

"Kamu tahu siapa dia?" tanya Alena. Sorot matanya dipenuhi harapan.

Anabel mengangguk perlahan.

"Nenek Ratih pernah bercerita..." jawab Anabel. Wajahnya tampak semakin pucat.

"Dulu... ada seorang penjaga desa yang mengorbankan nyawanya demi mengurung iblis di bawah rumah ini." lanjutnya.

Belum sempat Alena menjawab...

"HAAAAAAAAA...!!"

Raungan mengerikan mengguncang seluruh lorong. Makhluk berjubah hitam itu berhenti melangkah. Perlahan kepalanya menoleh ke arah pintu tua.

"Kau..." geramnya dengan suara yang dalam. Mata merahnya menyala semakin terang.

Suara Ki Brata terdengar lagi.

"Dia mulai mengenaliku..." ucapnya lirih.

Makhluk itu mengangkat topeng batu kuno lebih tinggi. Puluhan tangan yang keluar dari balik jubahnya bergerak liar.

"Keluar..." desisnya.

"KELUAR!"

Brak!

Puluhan tangan menghantam dinding lorong. Batu-batu besar runtuh berguguran.

Alena menjerit.

"Aaaah!" jerit Alena dengan suara ketakutan.

Anabel segera menarik tubuh Alena.

"Menunduk!" teriak Anabel. Wajahnya panik.

Bruak!

Sebuah batu besar menghantam lantai tepat di belakang mereka. Debunya memenuhi udara.

"Uhukkk....uhukkk..." Alena terbatuk hebat.

"Aku tidak bisa melihat..." ucapnya sambil memejamkan mata. Air matanya keluar karena debu yang memenuhi lorong.

Suara Ki Brata terdengar semakin keras.

"Di bawah ukiran pintu itu ada lubang kecil. Cari!" kata Ki Brata.

Alena segera meraba permukaan pintu. Tangannya menyentuh ukiran berbentuk lingkaran.

Lalu...

Klik...

Ia menemukan sebuah lubang sebesar ibu jari.

"Aku menemukannya!" teriak Alena. Wajahnya sedikit lega.

"Masukkan darahmu..." kata Ki Brata.

Alena membeku.

"Apa?" tanyanya kaget. Matanya membelalak.

"Segel itu hanya bisa dibuka oleh darah orang yang dipilih."

Anabel langsung menggenggam bahu Alena.

"Jangan!" teriak Anabel. Wajahnya dipenuhi kecemasan. "Kalau dia berbohong bagaimana?"

Ki Brata terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata pelan.

"Kalau aku ingin mencelakakan kalian... sejak tadi aku tidak akan berbicara." katanya dengan suara meyakinkan.

Belum sempat mereka memutuskan... Makhluk berjubah hitam kembali tertawa.

"Hahaha..."

Tawanya kini berubah semakin mengerikan. Seluruh lorong dipenuhi gema suara anak-anak yang menangis.

"Ibu..."

"Tolong aku..."

"Aku takut..."

Suara-suara kecil itu membuat jantung Alena serasa diremas. Anabel menutup kedua telinganya.

"Jangan dengarkan!" teriaknya sambil menangis histeris.

Namun suara itu semakin keras.

"Ibu..."

"Jangan tinggalkan kami..."

Air mata Alena menetes tanpa sadar.

"Ya Allah..." bisiknya lirih. Bahunya bergetar hebat.

Makhluk berjubah hitam perlahan memakai topeng batu itu.

Krak...

Topeng itu menempel di wajahnya.

Dalam sekejap...

Mata merahnya berubah menjadi puluhan mata yang terbuka bersamaan. Semuanya menatap lurus ke arah Alena.

"Aaaaaaaaa..." Jeritan ratusan anak memenuhi lorong.

Darah mulai mengalir dari sela-sela topeng. Anabel menjerit ketakutan.

"Itu wajah mereka!" teriaknya. Tubuhnya gemetar hebat.

Alena tanpa sadar mendongak.

Sedetik kemudian... Kepalanya langsung berdenyut hebat.

"Aaaarggh!" jerit Alena, Ia memegangi kepalanya.

Bayangan-bayangan mengerikan memenuhi pikirannya. Ia melihat puluhan anak kecil dirantai. Mereka menangis. Mereka memohon. Namun satu per satu dilemparkan ke sebuah sumur hitam yang sangat dalam.

"Tidak..."

"Tolong..."

"Ibu..."

Jeritan mereka menggema tanpa henti. Alena berlutut.

"Aku... aku melihat semuanya..." ucapnya sambil menangis. Wajahnya dipenuhi rasa ngeri.

Anabel segera mengguncang tubuh Alena.

"Bangun! Itu hanya ilusi!" teriak Anabel. Napasnya memburu.

Makhluk berjubah itu mengangkat salah satu tangannya.Puluhan tangan lain ikut terangkat.

Lalu...

Sret...Sret...Sret...

Semua tangan itu menunjuk ke arah Alena.

"Kau... akan menjadi tumbal berikutnya..." bisik ratusan suara secara bersamaan.

Mendengar kalimat itu, Alena langsung menggigit ujung jarinya.

"Cepat buka pintunya!" teriaknya. Wajahnya dipenuhi tekad.

Darah segar menetes ke lubang kecil.

Tetes...Tetes...Tetes...

Seluruh ukiran di pintu tiba-tiba memancarkan cahaya merah tua.

Grrrkkk...

Pintu kayu tua itu mulai bergetar. Anabel tersenyum penuh harapan.

"Berhasil!" serunya. Matanya berkaca-kaca.

Namun senyum itu hanya bertahan sesaat.

Karena dari balik pintu... Terdengar suara rantai yang jauh lebih besar.

Srak...Srak...Srak...

Alena dan Anabel saling berpandangan. Wajah mereka kembali pucat.

"A... apa lagi itu?" tanya Alena lirih. Bibirnya bergetar.

Suara Ki Brata mendadak berubah panik.

"Tidak...Itu tidak mungkin...Ada dua..." bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.

Alena membeku.

"Dua?" tanyanya. Matanya membelalak penuh ketakutan.

Ki Brata menarik napas panjang.

"Dulu...Aku tidak hanya menyegel satu makhluk..." Kalimat itu belum selesai.

BRAAAAK!

Pintu kayu tua terbuka sendiri.

Dari balik kegelapan, muncul sebuah tangan keriput yang penuh paku berkarat. Perlahan tangan itu meraih kusen pintu. Lalu terdengar tawa seorang perempuan tua yang serak dan mengerikan.

"Hehehehe...Kalian... akhirnya datang juga..." ucap Sosok perempuan tua yang terdengar mengerikan.

Bersamaan dengan itu, seluruh obor di lorong padam. Gelap, sangat gelap.

Dan di dalam kegelapan itu...

Terdengar dua pasang langkah kaki yang berjalan bersamaan, mendekati Alena dan Anabel.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!