“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Rasanya tubuh Elowen remuk, ini pertama kalinya dia mendapat perlakuan yang begitu kasar. Sekujur tubuhnya seperti dihantam beribu-ribu palu.
Kata siapa malam pertama itu adalah malam sakral penuh kelembutan dan kasih sayang. Elowen tak percaya, setelah perlakuan Cassian yang menjamahnya tanpa belas kasihan.
Seperti serigala yang mengoyak mangsanya hingga ke tulang. Begitulah yang dirasakan Elowen.
Saat bangun dari tidurnya, Elowen mendapati matanya sudah sembab.
“Aku terlalu banyak menangis semalam,” ujarnya dalam hati.
Semalam dia meneteskan air mata, berusaha berontak. Ingin berteriak tapi tak bisa. Elowen hanya bisa pasrah saat Cassian mencium, menggigit, dan melakukan semuanya padanya.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah.
Di depan cermin yang ada di kamar pribadinya. Elowen melihat pantulan tubuhnya yang penuh dengan tanda merah.
Wajahnya memanas, entah kenapa ada perasaan marah yang memuncak di hati wanita itu.
“Kenapa aku seperti ini? Seharusnya aku sudah tahu hal ini akan terjadi padaku.”
Elowen menutup wajahnya. Apa yang diharapkannya dengan pernikahan ini? Sebuah cinta dan kasih sayang? Perlakuan lembut? Penghormatan?
Tidak akan ada, dan jangan pernah berharap.
Cinta? Mereka menikah karena sebuah aliansi, nama kehormatan, dan pastinya sebuah cara agar keluarga Whitmore tidak tersingkir dari daftar bangsawan akibat hutang.
Kasih sayang? Seorang Duke yang terkenal kejam, hampir tidak mungkin memberikan kasih sayang padanya yang bukan siapa-siapa.
Elowen hanya sekedar istri yang dibelinya seharga delapan puluh ribu pound. Tanpa sadar pipi Elowen kembali basah oleh air matanya sendiri.
Dengan tangan yang masih bergetar, ia menghapusnya.
“Aku harus kuat,” katanya dalam diam.
***
Berbeda dari Elowen yang bangun dengan perasaan sedih dan terhina. Pagi itu tubuh Cassian rasanya sangat ringan, seolah dia tertidur di atas awan.
Senyuman tak lepas dari wajahnya, meski dalam keadaan terpejam.
“Hehe…hehe…” tawa kecil lolos dari bibirnya, seperti sisa mimpi yang belum pergi.
Entah apa yang diimpikan pria itu. Cassian masih terbaring di atas ranjangnya tanpa sehelai baju yang menempel.
Selimutnya telah dibawa kabur oleh wanita yang ditidurinya semalam. Elowen bangun lebih awal, saat hendak mengambil bajunya. Tak ada satupun yang bisa dipakai karena Cassian melepaskan paksa darinya semalam.
Terpaksa, Elowen menutupi tubuhnya dengan selimut. Begitulah, yang membuat Cassian tertidur tanpa sehelai kain pun yang menutupinya.
Entah karena dingin atau cahaya matahari yang mulai merayap masuk ke dalam ruangan itu.
Cassian mengangkat kepalanya, mengernyitkan kening.
“Argh…” lenguhnya pelan.
Tangannya terangkat, menutupi mata dari silau. Cassian memalingkan wajah, berusaha menghindari cahaya yang mengganggu.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia membuka mata, perlahan. Pandangannya masih buram.
Cassian menarik napas dalam, lalu menghembuskannya panjang. Tubuhnya bergerak malas. Bahunya terangkat sedikit saat ia meregangkan diri, otot-ototnya menegang sejenak sebelum kembali rileks.
Cassian kemudian menumpukan siku ke kasur, mengangkat tubuhnya perlahan hingga setengah duduk.
Pria itu mengedarkan pandangannya, masih setengah sadar. Lalu, sedetik kemudian ia terdiam.
Alisnya berkerut saat menyadari sesuatu yang janggal.
Selimutnya menghilang.
Pandangan Cassian turun, mencari keberadaan kain tebal dan hangat itu. Kemudian ia membeku seketika.
“... Hmm?”
Cassian langsung meraih sisi ranjang, seolah berharap menemukan kain yang hilang begitu saja. Tangannya hanya menyentuh kain sprei yang sudah kusut.
Beberapa detik Cassian terdiam, mencoba mencerna.
Lalu, potongan-potongan ingatan semalam mulai muncul.
Tubuh Elowen yang menegang di bawahnya, jari wanita itu mencengkram sprei dengan kuat seolah mencari pegangan. Bahu yang mulus bergetar, dengan napas tersengal tanpa suara.
Elowen berontak, berusaha melepaskan diri dari… Cassian.
Tidak ada teriakan. Tentu saja.
Hanya isak tangis yang tertahan di tenggorokan wanita itu, pecah menjadi napas yang berantakan.
Makin mengingatnya, Cassian semakin merasa bersalah. Apalagi saat menyadari kalau Elowen tadi malam…
“Gila! Apa yang kulakukan?” umpat Cassian pada dirinya sendiri.
Ingatan lain muncul kembali. Malam itu jelas sekali air mata Elowen mengalir tanpa henti. Membasahi pelipis hingga rambutnya yang berantakan.
Elowen menggeleng pelan, berulang kali. Penolakan demi penolakan yang wanita itu lakukan seolah terputar jelas di ingatan Cassian.
Tangan mungilnya yang sempat terangkat, mendorong tubuh Cassian, tapi perlahan kehilangan tenaga.
Kemudian, wanita mulai diam. Cassian mulai sadar kalau ia telah menghancurkan Elowen malam itu.
Cassian menutup mata sejenak, menghela napas panjang.
“Brengsek kau Cassian!” umpatan yang ditujukan ke dirinya sendiri itu sungguh memalukan.
Pria itu menoleh ke samping. “Dia pasti sudah kembali ke kamarnya,” kata Cassian mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
“Dia pasti sangat ketakutan, sampai kabur dariku.”
***
Nyonya Wilson menyadari ada yang janggal dari sang Duchess. Wajahnya murung, matanya sembab.
“Anda baik-baik saja, Your Grace?” tanya Nyonya Wilson hati-hati.
Tidak ada tanggapan dari Elowen, wanita itu menatap cermin dengan tatapan kosong.
“Your Grace?” panggil Nyonya Wilson lagi sambil menyentuh bahu Elowen.
Elowen tersentak kecil, menoleh ke arah Nyonya Wilson. Matanya yang bulat berkedip cepat. Elowen membuka mulut ingin berkata ‘ada apa?’ tapi dia baru tersadar tidak ada suara yang keluar.
Buru-buru Elowen mencari catatan kecilnya. Tidak ketemu.
Sampai Nyonya Wilson memberikan catatan kecil milik Elowen. “Anda mencari ini?”
Elowen langsung mengangguk dan menerima catatan itu. Dia menulis di sana kemudian memperlihatkannya pada Nyonya Wilson.
“Maaf, tadi kamu bilang apa padaku?” tulisnya.
Nyonya Wilson tersenyum ramah, seperti biasa. Meski di dalam hatinya merasa ada yang tidak beres dari sikap sang Duchess.
“Anda baik-baik saja? Saya melihat anda begitu murung. Anda sedang sakit?” tanya Nyonya Wilson.
Elowen menelan ludah, terpaku sesaat. “Aku tidak baik-baik saja Nyonya Wilson,” katanya dalam hati.
Nyonya Wilson masih menunggu jawaban dari Elowen.
Elowen hanya tersenyum getir. Lalu menulis di catatannya.
“Aku tidak apa-apa Nyonya Wilson.”
Setelah selesai membacanya, Nyonya Wilson langsung menatap lurus ke mata Elowen. Mengedip pelan dan bertanya, “Anda yakin?”
***
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer