Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Riyan mendorong pintu kaca kantor agen properti bertuliskan "Bumi Pasundan Propertindo" itu dengan ragu.
Bunyi gemerincing bel di atas pintu menyambut langkahnya, disusul oleh hembusan pendingin ruangan (AC) yang langsung menerpa kaus oblongnya yang dekil.
Di dalam ruangan yang bersih dan wangi aromaterapi itu, seorang pria muda berkemeja rapi lengkap dengan papan nama "Dedi - Marketing Senior" sedang asyik memainkan ponselnya.
Begitu melihat Riyan masuk dengan setelan kuli proyek lengkap dengan sandal jepit tipis sebelah, senyum profesional Dedi langsung lenyap. Wajahnya berubah menjadi datar, khas orang kantoran yang merasa kedatangan pengemis atau salah alamat.
"Maaf, Mas. Kalau mau cari sumbangan atau nawarin jasa bersih-bersih, bisa ke pintu belakang ya," kata Dedi dengan nada ketus tanpa beranjak dari kursinya.
Riyan sudah terbiasa diremehkan orang, jadi dia tidak ambil pusing. Dia langsung melangkah maju dan menggebrak meja kerja Dedi secara spontan.
BRAKK!
"Siapa yang mau cari sumbangan? Gua ke sini mau beli tanah!" seru Riyan mantap.
Dedi hampir saja melompat dari kursinya. Dia menatap Riyan dari atas ke bawah, lalu terkekeh sinis.
"Beli tanah? Mas, sadar diri dong. Ini kantor agen properti, bukan tempat jual beli kavling kuburan murah. Tanah paling murah di katalog kami harganya ratusan juta. Mas punya duitnya?"
Riyan tidak banyak cengkerama. Dia langsung membuka aplikasi Mobile Banking di ponselnya yang layarnya retak seribu, lalu menyodorkannya tepat di depan hidung Dedi. "Nih, mata lo pake buat ngelihat ini. Cukup gak buat beli seisi kantor lo?"
Dedi awalnya mencibir, namun begitu matanya menangkap deretan angka di layar ponsel Riyan, pupil matanya langsung membesar seketika.
Wajahnya mendadak pucat pasi. Dia mengucek matanya berkali-kali, mengira dirinya sedang berhalusinasi di siang bolong. Angka ratusan miliar tertera dengan jelas di sana, lengkap dengan logo centang biru verifikasi bank prioritas.
Gila! Ini orang kaya menyamar jadi gembel! batin Dedi menjerit panik.
Dalam waktu satu detik, sikap Dedi langsung berubah 180 derajat. Dia berdiri dari kursinya, membungkuk hormat hampir sembilan puluh derajat, dan memasang senyum paling manis yang pernah dia miliki.
"A-Aduh, mohon maaf sebesar-besarnya, Bapak! Saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak adalah seorang konglomerat terhormat yang sedang... melakukan riset lapangan!" suara Dedi mendadak bergetar ramah.
"Silakan duduk, Pak! Mau minum apa? Kopi premium? Teh manis hangat? Atau air mineral impor? Biar saya ambilkan sekarang juga!"
"Gak usah basa-basi, gua gak butuh minum," potong Riyan sambil mendudukkan pantatnya di kursi empuk.
"Gua cuma punya satu permintaan. Gua mau beli tanah di Bandung ini. Tapi, gua gak mau tanah yang bagus."
Dedi mengernyitkan dahi, bingung.
"Maksudnya... tanah yang posisinya agak masuk gang, Pak?"
"Bukan. Gua mau tanah yang paling bermasalah di seluruh katalog lo. Tanah sengketa yang sertifikatnya tumpang tindih sampai sepuluh lapis, tanah yang lagi dituntut di pengadilan, atau tanah yang kalau gua beli, gua bakal rugi bandar karena gak bisa dibangun apa-apa sampai kiamat! Ada gak?"
Dedi melongo. Seumur hidupnya menjadi marketing properti, dia selalu bertemu dengan konsumen yang cerewet mencari tanah bebas sengketa, strategis, dan bebas banjir. Baru kali ini ada orang aneh yang datang membawa uang ratusan miliar rupiah hanya untuk mencari tanah yang legalitasnya hancur lebur.
Apakah orang kaya ini sedang melakukan ritual pesugihan buang sial? pikir Dedi heran. Namun, dia tidak peduli. Selama komisi penjualannya cair, dia siap menjual apa saja.
Dedi segera membuka laptopnya dengan cepat, jemarinya menari di atas keyboard mencari arsip paling bawah yang sudah lama tidak pernah disentuh.
"Kebetulan... kebetulan sekali ada, Pak! Kami memiliki satu lahan seluas tiga hektar di daerah pinggiran Bandung Timur. Tanah itu adalah tanah kutukan bagi perusahaan kami."
Riyan langsung menegakkan posisi duduknya. Matanya berbinar penuh minat.
"Kutukan gimana? Coba jelasin, gua suka yang horor-horor finansial begini."
"Jadi begini, Pak Riyan," Dedi memutar layar laptopnya ke arah Riyan, menampilkan peta digital sebuah lahan kosong yang dipenuhi ilalang.
"Tanah ini aslinya milik seorang ahli waris tua, tapi ternyata suratnya digandakan oleh mafia tanah. Sekarang, tanah itu sedang digugat oleh tiga ormas berbeda, diklaim sebagai tanah ulayat oleh warga lokal, dan secara hukum negara, legalitasnya sedang dibekukan oleh pengadilan negeri."
"Siapa pun yang menyentuh tanah ini pasti akan terseret kasus hukum dan uangnya akan hangus begitu saja karena tidak bisa dijual atau dibangun."
"Berapa harga pasaran normalnya kalau tanah itu bersih?" tanya Riyan.
"Kalau tanah itu tidak bermasalah, harganya sekitar lima miliar rupiah, Pak."
"Tapi karena kondisinya hancur lebur seperti ini, pemilik aslinya frustrasi dan mau melepasnya di angka lima ratus juta saja, itu pun gak ada yang mau beli sejak lima tahun lalu."
Riyan tersenyum sangat lebar. Ini dia! Ini adalah instrumen investasi paling busuk yang pernah ada di dunia. Dia akan membeli tanah ini dengan harga sepuluh kali lipat dari harga aslinya, alias lima miliar rupiah. Dengan begitu, dia bisa langsung membuang uang dalam jumlah besar, dan karena tanahnya bersengketa, nilai ekonomisnya adalah nol besar!
"Gua beli tanah itu sekarang juga. Tapi gua gak mau bayar lima ratus juta," kata Riyan dengan nada sombong.
Dedi bingung. "Lho, mau ditawar lebih murah lagi, Pak?"
"Ngapain ditawar murah? Gua bayar lima miliar rupiah! Sepuluh kali lipat dari harga minta!" seru Riyan lantang.
Dedi hampir saja terjungkal dari kursinya untuk kedua kali.
"H-Hah?! Lima miliar?! Tapi Pak, tanah itu tidak bernilai sama sekali! Bapak bakal rugi total!"
"Gua justru cari yang rugi total! Buruan buatin surat perjanjiannya, transfer sekarang juga!" desak Riyan sambil melirik jam digital di matanya yang kini menunjukkan sisa waktu kurang dari delapan belas jam.
Proses transaksi kilat pun terjadi. Pemilik tanah asli yang dihubungi lewat telepon hampir terkena serangan jantung karena senang tanah sengketanya dibeli dengan harga tak masuk akal. Dalam waktu setengah jam, uang sebesar lima miliar rupiah resmi berpindah tangan dari rekening Riyan.
Riyan berjalan keluar dari kantor properti itu dengan perasaan yang luar biasa riang. Dia melompat kecil di trotoar sambil mengepalkan tangannya ke udara.
Yes! Lima miliar lenyap untuk tanah sampah! Sistem sialan, kali ini lu gak bakal bisa ngakalin gua lagi! Gua resmi rugi lima miliar!
Namun, kegembiraan Riyan yang baru seumur jagung itu mendadak sirna ketika suara mekanis yang paling dia benci kembali bergema di dalam kepalanya, diiringi oleh suara terompet kemenangan yang sangat nyaring.
[Denting Sistem! Misi Utama Mengalami Perubahan Tak Terduga!]
[Deteksi Tindakan Inang: Pembelian lahan sengketa seluas 3 hektar dengan harga inflasi 1000%.]
[Analisis Berita Terbaru: Tiga menit yang lalu, Kementerian secara resmi mengumumkan peta jalur pembangunan mega proyek Tol Trans-Jawa terbaru. Lahan sengketa yang baru saja dibeli oleh Inang secara mutlak terpilih sebagai titik simpang susun *Flyover* utama dan kawasan *Rest Area* tipe A!]
[Efek Hukum: Pemerintah mengambil alih lahan tersebut secara sepihak dan memutuskan untuk menyelesaikan seluruh sengketa hukum lewat jalur ganti rugi kilat negara. Nilai kompensasi ganti rugi yang ditetapkan untuk pemilik lahan (Inang) adalah sebesar 300% dari nilai pasar strategis!]
Riyan menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya mendadak kaku bak patung semen di tengah jalan.
[Kalkulasi Keuntungan: Selamat kepada Inang! Uang lima miliar yang Anda keluarkan akan segera diganti oleh negara sebesar lima puluh miliar rupiah dalam waktu tiga hari ke depan! Karena Inang berhasil melakukan 'spekulasi tanah negara' tingkat jenius, Sistem memberikan bonus kelipatan penalti sebesar seratus miliar rupiah lagi ke rekening Anda!]
"TIDAAAAKKKK!!!"
Teriakan histeris Riyan menggema memecah keheningan jalan raya. Pemuda itu jatuh berlutut di atas trotoar, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Uangnya bukannya habis, sekarang malah beranak pinak menjadi ratusan miliar lagi hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
Di saat yang sama, sebuah mobil sedan mewah hitam yang dia kenal sejak tadi perlahan berhenti kembali di samping trotoar tempat dia berlutut. Kaca mobil turun, menampilkan wajah dingin Kezia Zevan yang menatapnya dengan tatapan penuh kejutan dan rasa hormat yang mendalam.