NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bulan Purnama

Mereka berjalan berdampingan meninggalkan rumah. Jalanan desa yang biasanya lengang malam ini tampak hidup; di depan hampir setiap rumah, lentera kertas tergantung memancarkan cahaya kekuningan. Cahayanya tidak terlalu terang, namun cukup untuk menyelimuti jalan setapak dengan nuansa yang hangat.

Sesekali mereka berpapasan dengan warga.

"Konbanwa."

Sapaan itu selalu dibalas dengan senyum atau anggukan sopan. Awalnya, Keiko hanya mengikuti gestur Kyo yang membungkukkan badan setiap kali berpapasan dengan seseorang. Namun, lama-kelamaan ia mulai melakukannya secara alami, tanpa perlu berpikir lagi.

"Mulai terbiasa?" tanya Kyo.

"Sedikit."

"Bagus."

"Tapi, aku masih takut kalau caraku salah."

Kyo tertawa kecil. "Kalau salah, nanti juga ada yang membenarkan. Orang-orang di sini tidak ada yang galak, kok."

Keiko mengangguk dengan senyum tipis. Kalimat sederhana itu entah mengapa membuatnya merasa jauh lebih tenang.

Begitu melewati gerbang torii, pelataran kuil sudah dipadati warga. Berbeda dengan suasana festival yang riuh, malam ini tidak ada panggung, tidak ada musik, apalagi deretan kios makanan. Yang terdengar hanyalah bisik-bisik percakapan pelan dan suara langkah kaki yang bersahutan.

"Aku lebih suka suasana seperti ini," ujar Keiko sambil menatap sekeliling dengan kagum.

"Kenapa?"

"Entahlah. Rasanya... jauh lebih damai."

Kyo mengikuti arah pandang Keiko. "Mungkin karena malam ini semua orang datang bukan untuk mencari hiburan."

Belum sempat Keiko menanggapi, dentang lonceng besar bergema dari dalam aula. Suaranya yang dalam membuat halaman kuil seketika sunyi. Seorang pendeta keluar membawa lentera tua, berdiri sejenak di depan altar sebelum menyalakan api di dalamnya.

Cahaya kecil itu berpindah dari satu lentera ke lentera lain. Dalam hitungan detik, pelataran kuil telah dipenuhi pendar hangat.

Keiko tengah memperhatikan nyala api itu ketika sesuatu bergerak di sudut matanya. Seekor kucing putih melintas pelan. Ia pikir itu hanya kebetulan, namun beberapa detik kemudian muncul seekor kucing hitam, disusul dua ekor kucing belang dari arah yang berbeda.

"Ky..." Keiko bahkan belum sempat menyelesaikan panggilannya ketika puluhan kucing lain mulai bermunculan.

Satu. Tiga. Lima. Sepuluh.

Jumlahnya terus bertambah sampai Keiko menyerah untuk menghitung. Namun, yang membuatnya heran bukan jumlah kucingnya, melainkan tingkah laku mereka. Puluhan ekor kucing itu berjalan tenang melewati kaki warga, lalu duduk rapi menghadap ke arah aula tanpa suara sedikit pun.

"Setiap bulan purnama memang selalu seperti ini?" bisik Keiko nyaris tak terdengar.

Kyo tidak langsung menjawab. Pandangannya mengikuti barisan kucing yang masih terus berdatangan sebelum ia tersenyum kecil. "Masih lebih sedikit dibanding tahun lalu."

Keiko menoleh cepat. "Kamu serius?"

"Iya."

"Kok bisa?"

Kyo mengangkat bahu. "Kalau soal itu, aku juga tidak pernah mendapatkan jawabannya."

Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Keiko semakin membuncah. Pandangannya kembali menyapu barisan kucing, hingga akhirnya berhenti pada seekor kucing abu-abu yang duduk paling dekat dengan anak tangga. Ia mengenalinya.

"Itu... si kucing galak datang juga"

Kyo mengikuti arah tatapannya. "Pasti, dia selalu datang"

Pendeta mulai melafalkan doa. Warga pun benar-benar terdiam. Keiko ikut memejamkan mata sambil menggenggam lentera di depan dada, memanjatkan doa singkat agar ibunya selalu sehat dan hari-harinya di Tsukimori berjalan lancar.

Namun, saat ia membuka mata kembali, napasnya tertahan.

Beberapa langkah di belakang barisan warga, kini berdiri serombongan orang yang sama sekali tidak ia sadari kedatangannya. Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang, mengenakan kimono dan yukata dengan warna-warna sederhana—putih, hitam, abu-abu, cokelat, dan jingga. Mereka tidak terlihat mencolok, tetapi entah mengapa kehadiran mereka terasa begitu serasi di bawah cahaya lentera.

Seorang pria berkimono putih bahkan sempat membungkukkan badan kecil ke arah Keiko sebelum kembali menghadap altar. Tanpa sadar, Keiko membalas senyumnya.

"Kenapa?" bisik Kyo.

"Itu..." Keiko melirik rombongan tadi dengan ragu. "Mereka datang dari mana?"

Kyo menoleh, memperhatikan mereka sejenak."Entah lah "

"Banyak juga, ya."

"Iya, terkadang memang begitu kalau malam purnama."

Keiko tetap merasa ada sesuatu yang janggal. Ia sangat yakin, beberapa menit yang lalu, area tepat di belakang mereka itu masih kosong.

 

Doa berakhir ketika pendeta membungkukkan badan ke arah seluruh warga. Orang-orang yang sejak tadi berdiri khidmat mulai bergerak. Suasana yang sempat hening perlahan kembali hidup, dipenuhi percakapan pelan dan tawa anak-anak yang berlarian di halaman kuil.

Di sisi aula, dua meja kayu telah disiapkan. Di atasnya tersusun rapi bingkisan-bingkisan kecil yang dibungkus kain bermotif sederhana.

Keiko tidak langsung ikut mengantre. Matanya masih tertuju pada rombongan berkimono yang tadi berdiri di belakang warga. Mereka berjalan satu per satu menghampiri pendeta, membungkukkan badan dengan hormat, lalu berpamitan mengambil bingkisan dari meja.

Baru setelah rombongan itu benar-benar menghilang menuruni tangga, ia mendekati meja kayu tersebut. Namun, saat tangannya hampir meraih salah satu bingkisan, Kyo menahan pergelangan tangannya pelan.

"Bukan yang itu."

Keiko menoleh bingung. "Kenapa?"

"Yang ini untuk tamu," Kyo menunjuk meja lain yang letaknya tepat di samping pendeta.

Keiko mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tertawa kecil. "Aku pikir aku juga tamu di sini.."

Pendeta yang kebetulan mendengar ucapan itu ikut terkekeh

Keiko ikut tertawa, tetapi matanya kembali melirik meja di sampingnya yang masih penuh. "Tapi sayang sekali. Tamunya sudah pulang, tapi bingkisannya masih banyak yang tersisa."

Pendeta menggeleng pelan. "Belum semuanya."

"Maksudnya?"

"Masih ada tamu yang belum datang."

Keiko spontan menoleh ke arah jalan setapak yang mengarah ke kaki gunung. "Jam segini masih ada?"

Pendeta tidak langsung menjawab. Senyumnya tetap tenang saat merapikan susunan bingkisan. "Dulu orang-orang tua sering bercerita," ujarnya pelan, "Tamu yang datang belakangan biasanya adalah Tetua dari yang baru pulang barusan."

" Keiko, namun ia memilih untuk tidak bertanya lagi. Setelah menerima bingkisan, ia dan Kyo membungkukkan badan kepada pendeta sebelum berpamitan.

Langkah mereka menuruni anak tangga batu terasa santai. Beberapa warga yang berjalan lebih dulu masih sempat berhenti mengobrol di bawah pohon sakura, sementara yang lain memilih langsung pulang bersama keluarga. Keiko baru saja hendak membuka bungkus bingkisannya ketika langkah Kyo mendadak melambat.

"Dari bawah ada rombongan lagi."

Keiko ikut mendongak. Belasan orang sedang menaiki tangga menuju kuil. Mereka mengenakan kimono dan yukata dengan warna-warna yang sama—putih, cokelat, abu-abu, jingga, dan hitam. Langkah mereka sangat tenang, tanpa percakapan, seolah setiap orang sudah tahu persis ke mana harus melangkah.

Satu per satu mereka melewati Keiko dan Kyo. Seorang pria berkimono putih membungkukkan kepala kecil sebagai salam. Keiko membalas dengan senyum tipis. Di belakangnya, seorang perempuan berkimono cokelat melakukan hal yang sama kepada Kyo.

Namun, saat orang terakhir hampir melewati mereka, napas Keiko seolah tertahan.

Kimono hitam yang warnanya mulai pudar. Rambut perak yang jatuh menyentuh bahu.

Pria itu.

Tanpa sadar, Keiko berbalik. "Tunggu!"

Langkah pria itu berhenti. Beberapa orang di depannya terus berjalan menaiki tangga, seolah sudah terbiasa menunggu. Perlahan, pria itu menoleh. Tatapan mereka bertemu.

Keiko baru saja membuka mulut. Niatnya sederhana—hanya ingin mengucapkan terima kasih atas jimat yang pernah ditemukan pria itu. Namun sebelum satu kata pun keluar, pria tersebut mengangkat telunjuknya ke depan bibir. Isyarat agar ia diam.

"Pulang."

Hanya satu kata. Diucapkan pelan, nyaris tenggelam oleh desir angin yang melewati pepohonan. Sesudahnya, ia menurunkan tangan, membalikkan badan, lalu kembali melangkah menyusul rombongannya menuju aula utama.

Keiko terpaku di tempat. Ia bahkan lupa bahwa sejak tadi ia masih menggenggam bingkisan kecil di tangannya.

"Kamu kenal?" suara Kyo membuyarkan lamunannya.

Keiko menggeleng pelan. "Belum."

"Lalu kenapa kamu panggil?"

Keiko mengembuskan napas panjang sebelum menjawab. "Dia orang yang menemukan jimatku waktu pertama kali datang ke desa ini." langkah keiko mulai menuruni anak tangga batu dengan langkah santai. Disusul kyo disampingnya.

Di belakang, cahaya lentera kuil masih berpendar redup di balik pepohonan, sementara suara percakapan warga perlahan memudar, ditelan sunyi malam yang kini hanya diisi oleh suara serangga.

Beberapa saat mereka berjalan dalam diam. Keiko masih menggenggam bingkisan kecil pemberian kuil. Sesekali matanya melirik ke belakang, seolah berharap bisa melihat kembali sosok pria berkimono hitam yang tadi menyuruhnya pulang. Entah mengapa, satu kata itu terus saja terngiang di kepalanya.

Kyo yang berjalan di sampingnya rupanya menyadari gelagat itu. "Masih kepikiran?" Keiko tersenyum tipis lalu mengangguk kecil. "Iya." Keiko menarik napas panjang.

"Oh iya, Kyo-san, Di Tsukimori ini apa orang-orang masih percaya dengan makhluk legenda?"

Kyo tidak langsung menjawab. Ia menendang kerikil kecil hingga menggelinding ke semak-semak. "Kalau orang-orang tua, tentu saja iya."

Kyo mengangguk. "Waktu kecil, aku sering sekali mendengar cerita tentang mahluk legenda bakeneko dari Ayah."

Kyo tampak berpikir sejenak "Katanya, bakeneko bisa hidup sangat lama. Semakin tua usianya, semakin kuat pula kekuatannya."

"Lalu?"

"Mereka ada yang datang untuk membalas dendam, ada yang berdampingan dengan manusia sebagai penjaga, dan juga bisa berubah wujud menjadi manusia."

Keiko mengangkat sebelah alis. "manusia?"

"iyah Kata Ayah begitu." Kyo meliriknya sambil tersenyum tipis. " Konon, kalau mereka memilih wujud manusia, parasnya selalu enak dipandang. Entah laki-laki atau perempuan, mereka selalu memiliki daya tarik yang sulit ditolak."

Keiko spontan teringat sesuatu. Wajahnya memanas, lalu ia menepuk dahinya pelan.

"Kenapa?" tanya Kyo penasaran.

Keiko menahan tawa yang tiba-tiba muncul. "Nggak apa-apa, aku cuma jadi malu sendiri."

"Malu kenapa?" Keiko menutup wajahnya sebentar dengan telapak tangan. "Waktu pertama kali naik kereta ke sini, aku sempat asal bicara."

"Memangnya kamu bilang apa?"

"Kalau bakeneko ternyata tampan..." Keiko berhenti sejenak, suaranya kini nyaris berbisik, "...aku mau menikah sama mereka."

Kyo terdiam. Sedetik. Dua detik. Kemudian, tawanya pecah begitu saja. "Hahaha!"

"Jangan ketawa!" keiko menepuk bahu kyo cukup keras

Kyo sampai harus mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu keras tertawa. "Bagaimana bisa tidak tertawa? Itu kan konyol!"

Keiko mendengus sebal. "Itu kan cuma bercanda."

"Itu bahaya, tahu." Kyo sengaja mendekat, lalu merendahkan suaranya seolah sedang membocorkan rahasia negara. Ia menoleh sebentar ke arah hutan yang tampak gelap di sisi jalan. "Ayahku pernah bilang, pendengaran bakeneko itu sangat tajam."

Keiko memutar bola matanya. "Ih, apa sih."

"Serius," Kyo berusaha menahan senyum. "Mau kamu berbisik sekalipun, katanya mereka bisa mendengar."

Keiko terkekeh. "Mana mungkin."

Kyo mengangkat bahu santai. "Kalau dipikir-pikir, ucapanmu tadi bukan sekadar bercanda. Itu sudah seperti membuka sayembara."

"Sayembara?"Kyo berdeham, lalu mengubah suaranya seolah sedang membacakan pengumuman resmi. "'Dicari satu bakeneko tampan untuk dinikahi seorang gadis bernama Keiko'."

"Kyo-san!" Keiko spontan menyikut lengan pemuda itu lagi "Aduh, sakit!" Kyo meringis sambil mengusap lengannya.

"Rasain." Keiko memalingkan wajah, meski sudut bibirnya tak kuasa menahan senyum geli.

"Makanya," Kyo melanjutkan dengan nada yang lebih tenang, "dulu waktu kami masih kecil, Ayah selalu melarang kami bicara sembarangan di luar rumah saat malam hari seperti ini."

"Takut didengar bakeneko?" bisik gadis itu melirik ke pria disebelah nya. Kyo mengangguk. "Ya, namanya juga anak kecil..kami jadi tidak berani bicara macam-macam."

Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa beberapa puluh langkah di belakang, sesosok pria berkimono hitam berhenti di bawah bayangan pohon. Tatapannya mengikuti kedua anak muda itu hingga perlahan menghilang di tikungan jalan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik arah dan melangkah pergi ke dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!