NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Mas Razka

Pengantin Pengganti Mas Razka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Dwi Febriana

Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.

"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."

Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Tanggung Jawab Suami

Di balik pintu kamar yang tertutup, Atharazka kembali berkutat dengan pekerjaannya. Meja kerja di dekat jendela dipenuhi berkas, sementara layar laptop menampilkan laporan keuangan dan beberapa surel yang belum sempat ia balas. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, sesekali berhenti ketika ponselnya berdering menandakan pesan baru dari kantor.

Padahal, secara resmi ia sedang mengambil cuti selama satu minggu setelah pernikahannya. Namun, bagi seorang Wakil Direktur Askara Group, cuti hanyalah status di atas kertas. Nyatanya, berbagai urusan perusahaan tetap mengalir tanpa mengenal waktu.

Atharazka menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja. Ia melepas kacamatanya sejenak lalu mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.

"Percuma juga cuti kalau ujung-ujungnya tetap buka laporan," gumamnya pelan. Tatapannya beralih ke kalender digital di layar laptop. "Mending besok masuk kantor aja."

Keputusan itu terasa jauh lebih masuk akal dibanding menghabiskan waktu di apartemen yang kini terasa asing baginya. Sejak pagi, pikirannya justru semakin penuh setiap kali mengingat perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya.

Ia memutar kursinya menghadap jendela. Langit sore mulai berubah jingga, sementara deretan gedung tinggi terlihat memantulkan cahaya matahari yang perlahan tenggelam.

Tanpa sengaja bayangan Amora muncul di benaknya. Perempuan itu kini tinggal beberapa meter dari kamarnya. Hanya dipisahkan sebuah tembok dan dua pintu.

Aneh. Sangat aneh. Kini, keadaan memaksa mereka menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri.

Atharazka mengembuskan napas pelan.

"Kita bahkan enggak saling kenal sebelumnya."

Kalimat itu keluar begitu saja. Ia sadar, selama ini seluruh perhatiannya tertuju pada pekerjaan. Pernikahan bukan sesuatu yang pernah ia prioritaskan.

Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikirannya.

"Mulai bulan ini berarti ada orang yang jadi tanggung jawabku."

Ucapan itu membuatnya kembali terdiam. Terlepas dari bagaimana awal pernikahan mereka terjadi, status Amora tetaplah istrinya secara sah. Artinya, segala kebutuhan perempuan itu kini menjadi kewajibannya.

Atharazka membuka ponselnya. Bukan untuk bekerja, melainkan membuka aplikasi perbankan miliknya. Ia memandangi angka saldo beberapa saat.

"Nanti sekalian tanya rekeningnya."

Baginya, urusan itu lebih penting daripada membicarakan hubungan mereka yang masih canggung. Tapi soal tanggung jawab tidak boleh ditunda.

Tidak lama kemudian ia kembali menutup ponselnya. Jarum jam menunjukkan waktu menjelang magrib.

"Besok selesai."

Ia mengambil keputusan untuk kembali bekerja lebih cepat daripada rencana semula. Berdiam diri di apartemen hanya membuat pikirannya semakin kacau.

Sementara itu, di kamar sebelah kanan, Amora baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Seluruh pakaian sudah tersusun rapi di dalam lemari. Dokumen-dokumen kantor tersimpan di laci meja belajar, sedangkan perlengkapan mandi telah memenuhi rak kecil di kamar mandi. Kini ruangan yang semula terasa kosong mulai memperlihatkan sentuhan penghuninya.

Amora memandang sekeliling kamar dengan senyum puas.

"Nggak nyangka bisa selesai secepat ini."

Ia merapikan bantal yang sedikit bergeser, lalu duduk di tepi ranjang sambil meregangkan kedua bahunya yang pegal.

"Cukup capek juga."

Setelah beristirahat beberapa menit, ia berdiri menuju lemari pakaian. Tangannya mengambil satu set pakaian rumah dan handuk bersih.

Rencananya ia akan mandi, salat magrib, lalu pergi ke supermarket untuk membeli berbagai kebutuhan apartemen yang menurutnya masih sangat kurang.

Sebelum masuk ke kamar mandi, pandangannya sempat mengarah ke pintu kamar Atharazka. Sejak pria itu pulang, tidak terdengar lagi aktivitas dari dalam sana. Tapi ya sudahlah, bukan urusannya juga kan?

Ia memilih menutup pintu kamar mandi dan membiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya. Perlahan rasa lelah akibat mengangkat barang sejak siang mulai berkurang.

Di balik guyuran air itu, Amora berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah beradaptasi dengan kehidupan barunya, menjalankan perannya sebaik mungkin, dan berharap waktu perlahan mampu mencairkan jarak yang masih terbentang di antara dirinya dan Atharazka

.

Usai mandi dan bersiap, Amora keluar dari kamarnya dengan penampilan yang cukup sederhana. Kaus putih berlengan pendek dipadukannya dengan celana kulot hitam, sementara sebuah jaket berwarna merah muda menggantung di lengannya, siap dipakai jika udara di luar terasa dingin. Tas selempang kecil sudah bertengger di bahunya, berisi dompet dan ponsel.

Malam ini ia berencana pergi ke supermarket yang berada di lantai dasar apartemen. Ia ingin membeli beberapa kebutuhan dapur agar besok pagi bisa mulai memasak sendiri.

Baru beberapa langkah keluar dari kamar, Amora menghentikan langkahnya.

Di ruang keluarga, Atharazka ternyata berada di sana. Pria itu duduk di sofa cokelat menghadap televisi yang menayangkan berita ekonomi. Sebuah cangkir kopi hangat berada di atas meja, sementara tablet di pangkuannya masih menampilkan beberapa grafik perusahaan.

Amora sempat ragu. Apa sebaiknya langsung pergi saja?

Atau berpamitan terlebih dahulu?

Setelah menimbang beberapa saat, ia memilih mendekat.

"Mas Razka..." panggilnya pelan.

Pria itu mengalihkan pandangan dari layar televisi.

"Aku mau keluar sebentar. Mau belanja kebutuhan dapur."

Atharazka tidak langsung menjawab. Ia mematikan layar tabletnya, lalu meletakkannya di atas meja.

"Duduk sebentar."

Nada bicaranya datar, tetapi tidak terdengar dingin seperti biasanya.

Amora menurut. Ia memilih duduk di sofa tunggal yang berada tepat berhadapan dengan Mas Razka sehingga jarak mereka tetap terjaga.

Beberapa saat suasana kembali hening. Atharazka tampak berpikir sebelum akhirnya membuka percakapan.

"Kamu masih kerja, kan?"

Amora mengangguk.

"Iya. Besok lusa aku juga mulai masuk lagi di kantor."

"Mulai sekarang gaji kamu buat ditabung saja."

Kalimat itu membuat Amora mengernyit.

"Gimana? Aku kurang paham, Mas."

Atharazka membuka dompet miliknya. Kemudian mengeluarkan sebuah kartu.

"Mulai bulan ini, biaya hidup kamu saya tanggung."

Amora menatap kartu itu tanpa menyentuhnya.

"Mas, enggak perlu sampai begitu."

"Kenapa?"

"Aku masih punya penghasilan sendiri. Aku bis biayain kebutuhanku sendiri kok." Amora jelas merasa tidak enak dengan tawaran Atharazka

"Sekarang saya suami kamu."

Jawaban singkat itu membuat Amora terdiam. Atharazka melanjutkan dengan suara tenang.

"Pernikahan kita memang bukan karena keinginan kita berdua. Tapi selama status itu masih ada, saya tetap akan menjalankan bagian saya."

Amora menggeleng pelan.

"Aku enggak enak kalau harus menerima uang dari Mas. Apalagi... kita juga sepakat menjalani kehidupan masing-masing."

"Itu dua hal yang berbeda."

Tatapan Atharazka tetap lurus.

"Saya enggak pernah mencampur urusan pribadi dengan tanggung jawab."

Amora menarik napas pelan.

"Kalau begitu... kartu Mas simpan saja dulu. Kalau suatu saat aku benar-benar membutuhkan bantuan, aku pasti bilang."

Atharazka memperhatikan wajah perempuan itu beberapa saat. Ia bisa melihat bahwa penolakan Amora bukan karena gengsi, melainkan memang merasa tidak pantas menerima sesuatu yang menurutnya belum menjadi hak.

Namun pada akhirnya ia tetap memaksa Amora untuk menerima kartu miliknya. Tidak mungkin Atharazka membiarkan Amora menghidupi dirinya sendiri setelah berstatuskan sebagai istrinya.

Dan melihat itu, Amora tidak ada pilihan lain selain menerimanya. Ia tidak ingin membuat Atharazka marah atau tersinggung dengan penolakannya..

"Jangan pulang terlalu malam," ujar Atharazka kepada Amora.

"Iya."

Amora berdiri sambil membenarkan tali tas di bahunya.

"Aku pergi dulu ya, Mas."

"Hm."

Meskipun hanya dibalas dengan anggukan singkat, entah mengapa hati Amora terasa sedikit lebih lega. Setidaknya, malam itu mereka berhasil berbicara lebih banyak dibanding kemarin.

Sesaat kemudian, Amora melangkah keluar dari unit apartemen. Pintu tertutup perlahan di belakangnya.

Sementara Atharazka masih tetap duduk di tempatnya, menatap pintu yang baru saja tertutup itu beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.

"Perempuan itu... ternyata lebih keras kepala dari yang aku kira," gumamnya lirih, lalu kembali mengalihkan perhatian pada layar televisi yang masih menayangkan berita malam.

1
Ariany Sudjana
semangat yah Amora, jangan takut dan ragu, sepertinya kedua mertua kamu juga baik orangnya. semoga hubungan kamu dengan razka dan juga mertua semakin membaik
Lusi Hariyani
amora ank yg baik pasti mau diundang mkn mlm
Lusi Hariyani
semangat amora km bisa💪
Valen Angelina
kulkas masih mode dingin...
Ariany Sudjana
puji Tuhan, semoga hubungan Amora dan razka semakin membaik
Lusi Hariyani
awal jd teman lm2 persaan saling suka muncul😄
Yuyun Irmawati
ka semngat nukis nya ya,cerita kaka bagus🥰
Lusi Hariyani
santai amora manjakan lidah suami mu lambat laun hati y akn meleleh sendiri ke kamu
Opi Sofiyanti
sprt pepatah mengatakan "manjakan lah suami mu dgn perut nya"... dr perut naik k hati y Ka... 🤭🤭🤭
Ariany Sudjana
awalnya makanan dulu, lama-lama kamu jatuh cinta sama Amora 😄
Lusi Hariyani
razka gengsi...
Lusi Hariyani
smg sblm 6 bln razka dh mlai tertatik sm amora
Valen Angelina
bucin pasti nnti
Opi Sofiyanti
Ampir smua para lelaki nya kak anggi tuh emng pd spek kulkas 10 pintu smua y.... 🤭🤭🤭
partini
plus tebal perasaan jangan gampang mewek atau myek"
Eva Karmita
❤️❤️❤️❤️❤️
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
bimawati
semoga berlanjut ya kk ak selalu nunggu karya mu
Opi Sofiyanti
kaakkk jgn di gantung lg ya???????
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰
Fitri Dheanova Al-Ghauzan
semangat thor,sukses selalu buat karya karya nya ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!