Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : MEREKA TIDAK TAHU SIAPA VALDREN INTERNASIONAL
Keesokan harinya, suasana di kantor pusat Valdren International terlihat jauh lebih sibuk dari biasanya. Beberapa rapat bisnis sudah menunggu Hero sejak pagi, tetapi ada satu masalah yang membuat Valen merasa perlu menyampaikannya secara langsung.
Di dalam ruang kerja utama, Hero sedang duduk di balik meja dengan beberapa dokumen terbuka di hadapannya. Tatapannya fokus membaca laporan perusahaan ketika Valen masuk membawa sebuah map hitam.
“Tuan, ada masalah dengan kerja sama kita bersama Varell Corporation,” ujar Valen sambil meletakkan map tersebut di atas meja.
Hero mengangkat wajahnya. “Masalah apa?”
Valen membuka map dan menyerahkan beberapa laporan kepada Hero. “Kerja sama kita di bidang teknologi mengalami sedikit masalah. Pihak Varell Corporation ingin meminta penarikan saham mereka dari proyek yang sedang berjalan bersama kita.”
Hero membaca laporan itu dengan tenang. Namun, semakin beberapa halaman dibaca, ekspresinya mulai berubah.
“Kenapa mereka ingin menarik saham?” tanya Hero.
“Alasannya karena mereka mengatakan sudah menemukan perusahaan teknologi yang dianggap lebih baik daripada perusahaan yang selama ini bekerja sama dengan kita,” jawab Valen.
Hero berhenti membaca.“Perusahaan yang lebih baik?”
“Begitu yang mereka sampaikan, Tuan.”
Hero menyandarkan tubuhnya ke kursi. Wajahnya tetap tenang, tetapi jelas terlihat bahwa keputusan Varell Corporation cukup mengejutkannya. Selama ini kerja sama mereka berjalan dengan baik dan tidak pernah ada masalah besar yang membuat pihak Varell ingin mundur secara tiba-tiba.
“Perusahaan mana?” tanya Hero.
Valen menjawab tanpa ragu, “Exco.”
Hero menatap Valen beberapa detik.“Exco?”
“Benar, Tuan. Mereka sedang mengembangkan beberapa teknologi baru dan pihak Varell Corporation menganggap kerja sama dengan Exco bisa memberikan keuntungan yang lebih besar.”
Hero kembali melihat laporan di tangannya. Dia membolak-balik beberapa halaman sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja.
“Jadi mereka ingin meninggalkan kerja sama dengan kita hanya karena Exco menawarkan sesuatu yang mereka anggap lebih baik?”
“Kurang lebih seperti itu,” jawab Valen.
Hero menghela napas pendek. Dia sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan jika sebuah perusahaan ingin bekerja sama dengan pihak lain. Dunia bisnis memang penuh dengan keputusan seperti itu.
Namun, cara Varell Corporation mengambil keputusan tersebut membuat Hero merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Apakah mereka sudah mengirim permintaan resmi?” tanya Hero.
“Sudah. Mereka ingin menarik saham mereka dari proyek tersebut dan mengalihkan sebagian investasinya ke Exco.”
Hero terdiam cukup lama Kemudian dia menutup dokumen itu.“Tarik semua saham kita dari perusahaan Varell Corporation.”
Valen sempat terdiam.“Tuan?”
“Aku ingin seluruh saham dan investasi Valdren International yang ada di Varell Corporation ditarik,” ulang Hero dengan nada tegas. “Kalau mereka ingin mencari perusahaan yang menurut mereka lebih baik, biarkan mereka melakukannya tanpa kita.”
Valen masih berdiri di depan meja Hero. Dia sebenarnya sudah menduga Hero akan mengambil tindakan, tetapi keputusan untuk menarik seluruh saham tetap cukup besar.
“Tuan, kalau kita menarik semuanya sekaligus, kerja sama antara Valdren International dan Varell Corporation bisa berakhir sepenuhnya.”
Hero menatapnya.“Memangnya mereka masih menganggap kita sebagai mitra?”
Hero berdiri dari kursinya lalu berjalan menuju jendela besar di belakang meja. Dari sana, gedung-gedung tinggi di pusat kota terlihat memenuhi pandangan.
“Selama ini kita memberikan mereka akses, teknologi, investasi, dan jaringan bisnis yang cukup besar,” ujar Hero. “Sekarang ketika mereka menemukan perusahaan lain, mereka memilih meninggalkan kita.”
Hero menoleh kepada Valen.“Kalau itu keputusan mereka, aku tidak akan menahan mereka.”
Valen mengangguk pelan. Namun, sebelum berbalik, dia kembali membuka salah satu dokumen.“Tapi ada satu hal lagi, Tuan.”
“Apa?”
“Pihak Varell sepertinya cukup yakin kita tidak akan mengambil tindakan besar. Mereka menganggap penarikan saham hanya akan menjadi masalah kecil bagi Valdren International.”
Hero tersenyum tipis.“Mereka yakin begitu?”
“Ya.” jawab Valen.
Hero kembali berjalan menuju meja kerjanya. Dia mengambil dokumen tersebut dan membacanya sekali lagi.“Kalau begitu, biarkan mereka tetap berpikir seperti itu.”
Valen menatap Hero.
Hero kemudian menyerahkan kembali dokumen tersebut.“Tarik seluruh investasi kita. Setelah itu, hentikan sementara seluruh kerja sama baru dengan Varell Corporation.”
Valen mengangguk.“Baik, Tuan.”
Namun, sebelum Valen benar-benar pergi, Hero kembali memanggilnya.“Valen.”
Valen berhenti dan menoleh.
“Kalau mereka mau macam-macam dengan kita, lakukan apa yang perlu dilakukan. Mereka harus memahami dengan siapa mereka berurusan.”
Tatapan Hero berubah dingin.“Mereka mungkin mengira Valdren International hanya salah satu perusahaan besar yang bisa mereka tinggalkan begitu saja.”
Hero berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara rendah.“Padahal mereka tidak tahu siapa Valdren International.”
Valen tersenyum tipis. Dia sudah memahami maksud atasannya.“Kalau mereka mau macam-macam dengan kita, kita akan menunjukkan kepada mereka siapa kita sebenarnya.”
Hero mengangguk.“Pastikan semuanya dilakukan secara legal dan melalui jalur bisnis. Aku tidak ingin ada kesalahan.”
“Baik, Tuan.”
Valen mengambil kembali dokumen-dokumen tersebut. Namun, sebelum keluar dari ruangan, dia sempat menatap Hero dengan ekspresi yakin.
“Sepertinya pihak Varell Corporation akan menyesali keputusan mereka.”
Hero tidak menjawab. Dia hanya kembali duduk di kursinya dan membuka dokumen lain.
Bagi Hero, masalah ini belum layak disebut sebagai perang bisnis.
Tetapi jika Varell Corporation memang ingin menguji Valdren International, Hero tidak keberatan menunjukkan kepada mereka bahwa keputusan yang mereka ambil memiliki konsekuensi.
“Tarik semuanya,” ujar Hero sekali lagi.
Valen mengangguk.“Baik, Tuan. Saya akan mengurus semuanya.”
Setelah itu, Valen keluar dari ruangan Pintu tertutup perlahan.Hero kembali menatap laporan Varell Corporation yang masih berada di atas mejanya. Tatapannya dingin, tetapi pikirannya sudah mulai memikirkan langkah berikutnya.
Varell Corporation mungkin mengira mereka hanya kehilangan seorang mitra bisnis.
Mereka belum menyadari bahwa dengan keputusan itu, mereka baru saja membuat Valdren International berhenti bersikap lunak kepada mereka.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯