Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31.Gelagat aneh
Bunyi gemericik air dari kamar mandi lantai bawah akhirnya terhenti. Pintu kamar mandi terbuka pelan, memperlihatkan Kaivan yang keluar dengan pakaian santai—kaos hitam polos dan celana kain abu-abu. Rambutnya yang masih setengah basah diusap asal menggunakan handuk putih kecil di tangannya.
Di depan area tangga lantai dua, Aruna tampak berdiri ragu dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Wajahnya yang pucat masih menyisakan raut lelah, namun matanya yang jernih mengikuti setiap pergerakan pria tinggi tegap yang baru saja menaiki tangga tersebut.
Kaivan menghentikan langkahnya tepat di pijakan tangga teratas. Tatapan matanya tidak sengaja berpapasan dengan manik mata Aruna.
DEG.
Pria itu mendadak tersentak kaku. Rasa gengsi yang berusaha ia bangun kembali setelah insiden basah kuyup di tempat sampah tadi mendadak runtuh lagi. Kaivan buru-buru memalingkan wajahnya ke arah dinding lorong, pura-pura menyisir rambut dengan jemari tangannya secara asal.
"Kenapa... belum masuk ke kamarmu?" tanya Kaivan kaku, mengelak dari tatapan Aruna. Suaranya diusahakan terdengar berat dan berwibawa, meski ada nada gugup yang amat tipis terselip di sana.
"Saya tunggu Pak Kaivan selesai mandi. Tadi sweater peninggalan nenek saya yang Pak Kaivan bawa... sudah saya jemur sementara di ruang angin," jawab Aruna polos.
Kaivan berdehem pelan. Ehem. Pria itu merapikan posisi berdirinya. Biasanya, ia akan langsung berjalan masuk ke kamarnya sendiri di ujung lorong atau memberikan perintah dingin. Namun malam ini, ada sesuatu yang menahannya untuk tidak segera berpisah dari gadis itu.
Kaivan melangkah canggung mendekati area ruang santai di lantai dua yang terletak di antara kamar mereka. Pria itu mengambil tablet kerja yang tergeletak di atas meja kaca. Namun bukannya membuka dokumen keuangan perusahaan, matanya justru secara sembunyi-sembunyi melirik ke arah Aruna yang masih berdiri dekat tangga.
Gadis itu membenarkan posisi cardigan tipisnya. Ada semburat rasa lega yang sangat tipis di wajah Aruna saat memandangi sweater tua yang kini aman tergantung di lorong.
Kaivan yang memperhatikan hal tersebut dari balik tabletnya mendadak merasa dadanya berdesir hangat. Namun, ketika Aruna tiba-tiba menoleh ke arahnya, Kaivan dengan panik mengangkat tabletnya tinggi-tinggi hingga menutup seluruh wajahnya.
Brak.
Karena terlalu panik dan terburu-buru, sudut tablet aluminium itu justru menghantam dahi Kaivan sendiri cukup keras.
"Aww..." Kaivan merintih pelan, refleks mengusap dahinya seraya meringis.
Aruna membelalakkan matanya tipis. "Pak Kaivan... kenapa?"
Wajah Kaivan langsung memerah padat hingga ke leher. Pria bernilai triliunan rupiah itu menurunkan tabletnya dengan kaku, berusaha memasang raut wajah sedatar mungkin seolah-olah tidak ada hal konyol yang baru saja terjadi.
"T-tidak ada apa-apa," sahut Kaivan cepat, suaranya agak tinggi. "Tablet ini... respon sentuhannya terlalu sensitif. Hampir saja jatuh."
Aruna menatap dahi Kaivan yang sedikit memerah akibat hantaman tablet, lalu menatap layar tablet tersebut yang sebenarnya masih dalam kondisi mati. Gadis itu tidak memprotes alasan absurd Kaivan, tetapi sudut bibirnya terangkat sangat tipis—sebuah senyuman kecil yang teramat langka, namun berhasil membuat jantung Kaivan berdegup kencang seperti dikejar binatang buas.
Dia... baru saja tersenyum? Gara-gara aku? batin Kaivan heboh. Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, meremas pinggiran tablet kencang-kencang untuk menutupi rasa letup bahagia yang mendadak menyeruak di dadanya.
Untuk menutupi rasa malu dan kecanggungannya yang makin menjadi-jadi, Kaivan meletakkan tabletnya di meja, lalu berdiri kaku.
"Kutengok pintu balkon dulu. Takut angin hujan masuk," kata Kaivan mencari alasan konyol baru.
Pria itu melangkah cepat menuju arah balkon lantai dua. Namun, baru dua langkah berjalan, kakinya tidak sengaja menyenggol ujung karpet tebal di tengah ruang santai.
"Woah!"
Kaivan tersandung. Tubuh tingginya limbung ke depan. Dalam upaya refleks untuk menyelamatkan diri dari jatuh tersungkup secara memalukan di depan Aruna, kedua tangannya menggapai-gapai udara sebelum akhirnya berhasil bertumpu kencang pada pinggiran meja konsol. Pot bunga plastik di atas meja bergetar hebat dan berdentang nyaring.
Keheningan kembali melanda lorong lantai dua itu.
Kaivan membeku dalam posisi setengah menungging dengan kedua tangan memegang meja, napasnya tersendah-sendah karena kaget. Di dekat tangga, Aruna menahan napasnya, matanya membelalak lebar memandangi posisi konyol sang presdir yang biasanya selalu tampil sempurna dan elegan itu.
Secara perlahan, Kaivan menegakkan kembali tubuhnya. Pria itu merapikan kaos hitamnya yang agak melintir, memutar tubuhnya kaku menghadap Aruna. Wajahnya kini tidak lagi sekadar merah, melainkan sudah seperti udang rebus.
"Karpet ini... daya cengkeramnya kurang bagus," desis Kaivan berusaha membela diri dengan nada sangat serius. "Besok akan suruh orang ganti dengan karpet berbahan anti-selip."
Aruna menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya yang kecil tampak berguncang-guncang pelan. Bukan karena menangis, melainkan karena gadis itu sedang berusaha mati-matian menahan tawa agar tidak meledak di depan pria angkuh yang mendadak jadi sangat ceroboh ini.
Melihat bahu Aruna yang berguncang pelan, Kaivan menyipitkan matanya. "Kau... tertawa?"
Aruna dengan cepat menggelengkan kepala, masih menunduk. "N-nggak, Pak. Cuma... batuk sedikit."
"Jangan bohong. Bahumu bergerak-gerak," cetus Kaivan, melangkah mendekati Aruna. Kali ini, rasa malu yang menyelimutinya terkalahkan oleh rasa penasaran dan keinginan untuk melihat wajah gadis itu lebih dekat.
Kaivan menghentikan langkahnya sekitar satu meter di depan Aruna. Pria itu melipat kedua tangannya di dada, menatap puncak kepala Aruna. "Tengadah, Aruna. Jangan menunduk begitu."
Aruna menghela napas pelan, berusaha menetralkan wajahnya sebelum perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Sisa-sisa binar keusilan dan lengkungan tipis di bibirnya masih terlihat jelas, membuat wajahnya yang biasanya redup kini tampak jauh lebih hidup dan manis.
Kaivan tertegun. Manik mata hitamnya terkunci pada senyuman tipis Aruna. Ada perasaan lega yang amat sangat luar biasa yang membunchah di dalam dada Kaivan. Hukuman rasa bersalah yang mencengkeramnya sejak tadi sore seolah sedikit terangkat hanya karena melihat gurat kebahagiaan kecil di wajah gadis ini.
"Mata Pak Kaivan merah," kata Aruna tiba-tiba, memecah pandangan terpesona Kaivan. "Kena air hujan tadi ya?"
Kaivan tersentak kecil dari lamunannya. "A-apa? Ah, tidak. Cuma kemasukan sabun mandi sedikit tadi."
Aruna menyipitkan matanya ragu. Gadis itu lalu teringat sesuatu, melangkah pelan menuju kamar mandi luar yang ada di dekat mereka, lalu kembali membawa botol kecil obat tetes mata yang tersimpan di sana.
"Sini, saya teteskan dulu sebelum Pak Kaivan masuk kamar," ujar Aruna seraya membuka tutup botol tersebut.
Kaivan membelalakkan matanya. "T-tidak usah. Aku bisa sendiri di kamarku."
"Pak Kaivan jangankan meneteskan obat mata, jalan saja tadi tersandung karpet," sahut Aruna polos tanpa beban.
Kalimat polos Aruna bagai petir yang menyambar gengsi Kaivan untuk kesekian kalinya malam ini. Pria itu menatap Aruna tidak percaya. "Kau... baru saja mengejekku?"
Aruna tidak menjawab. Gadis itu justru mengisyaratkan dengan tangannya agar Kaivan menundukkan tubuh tingginya sedikit. "Sedikit saja, Pak. Nanti matanya makin merah dan perih."
Kaivan menelan ludahnya kaku. Dipandangi oleh Aruna dari jarak sedekat ini membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Namun, gengsi dan rasa "cari perhatian" yang mendadak muncul membuat pria itu akhirnya menyerah.
Kaivan memajukan tubuhnya, menundukkan kepala dan mendekatkan wajahnya pada Aruna.
Aruna mengangkat tangan kirinya yang tidak terluka, secara perlahan menahan dahi Kaivan agar posisinya stabil. Jemari Aruna yang halus dan agak dingin menyentuh kulit dahi Kaivan, membuat pria tegap itu menahan napasnya seketika.
"Buka matanya lebar-lebar, Pak," bisik Aruna sangat pelan.
Kaivan mendongak tipis, mematuhi perintah Aruna. Dari jarak yang hanya berkisar belasan sentimeter, Kaivan bisa melihat dengan sangat jelas setiap detail wajah Aruna—bulu matanya yang lentik, aroma lembut khas minyak kayu putih dan sabun bayi yang tercium dari tubuhnya, serta gurat kelembutan di matanya.
Tetes.
Cairan dingin obat mata menetes tepat di mata kanan Kaivan.
"Awh!" Kaivan terpejam kencang secara refleks, kepalanya agak tersentak mundur.
"Jangan diucek, Pak," cegah Aruna cepat, tangannya menahan pipi Kaivan agar tidak bergerak.
Sentuhan lembut jemari Aruna di pipinya membuat tubuh Kaivan membeku sepenuhnya. Pria itu membuka mata kirinya yang tidak ditetesi obat, menatap Aruna yang sedang sibuk mengusap sisa cairan obat mata di sudut matanya menggunakan tisu bersih.
Jarak mereka begitu dekat di tengah lorong yang sepi. Kaivan bisa merasakan hembusan napas halus Aruna yang menerpa kulit wajahnya. Tatapan mata Kaivan terkunci sepenuhnya pada bibir pucat Aruna yang agak terbuka, sebelum berpindah menatap manik mata gadis itu yang fokus merawatnya.
Ada dorongan aneh di dalam dada Kaivan untuk meraih tangan Aruna yang ada di pipinya dan menggenggamnya erat. Ia ingin mengucapkan terima kasih, ingin meminta maaf atas segalanya, dan ingin berjanji bahwa ia tidak akan pernah biarkan siapa pun—termasuk dirinya sendiri—menyakiti gadis ini lagi.
"Sudah selesai, Pak," ujar Aruna seraya menarik kembali tangannya dan mundur satu langkah.
Kehilangan hangatnya sentuhan Aruna membuat Kaivan merasa ada kehampaan mendadak di pipinya. Pria itu berdehem canggung, mengerjap-erjakkan matanya yang kini terasa lebih segar meski sedikit perih.
"Ehem... Terima kasih," gumam Kaivan pelan, suaranya kini terdengar sangat tulus tanpa sedikit pun nada angkuh.
Aruna mengangguk kecil. "Pak Kaivan sebaiknya masuk kamar dan istirahat. Ini sudah malam."
Aruna membalikkan badan dan melangkah perlahan menuju pintu kamarnya sendiri di sebelah kiri lorong.
Sebelum Aruna memutar gagang pintu kamarnya, Kaivan melangkah maju satu langkah. Tangannya terulur secara refleks—kali ini tanpa ragu atau gengsi berlebihan—mengusap pelan puncak kepala Aruna.
Sentuhan itu begitu singkat dan lembut, namun berhasil membuat Aruna tertegun di ambang pintu, menoleh memandangnya.
"Tidurlah yang nyenyak di kamarmu," kata Kaivan lirih dengan tatapan hangat. "Kalau butuh apa-apa malam ini, panggil aku. Kamarku tepat di sebelah."
Aruna menatap mata Kaivan sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baik, Pak Kaivan. Selamat malam."
"Selamat malam, Aruna."
Aruna masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu perlahan. Kaivan berdiri mematung di lorong selama beberapa detik, menatap pintu kamar Aruna yang sudah tertutup.
Sebuah lengkungan senyum tipis yang sangat tulus akhirnya terukir di bibir Kaivan Adikara sebuah senyuman hangat yang sudah lama hilang dari wajahnya, sebelum akhirnya pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju kamarnya sendiri di sebelah, dengan hati yang dipenuhi rasa hangat yang membuncah.
_Bersambung