Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menembus tirai kamar.
Karin membuka matanya dengan perasaan jauh lebih tenang dibanding hari sebelumnya. Setelah mandi dan mengenakan pakaian sederhana, ia membuka laci lemari brangkas nya.
Di dalamnya tersimpan beberapa kartu bank.
Tatapannya berhenti pada sebuah kartu berwarna hitam atas nama Dimas. Sudut bibir Karin terangkat membentuk senyum tipis.
"Dulu aku bahkan takut menggunakannya," gumamnya pelan. "Padahal semua uang di dalamnya juga berasal dari hasil jerih payah keluargaku."
Tanpa ragu, ia mengambil kartu itu lalu memasukkannya ke dalam tas tangan.
Hari ini... Ia akan mulai mengambil kembali apa yang memang menjadi haknya.
Di lantai bawah, Bi Darmi yang sedang menyapu ruang tamu langsung tersenyum saat melihat Karin turun.
"Selamat pagi, Nyonya."
"Selamat pagi, Bi."
"Mau sarapan dulu, Nyonya?"
"Nanti saja. Aku mau keluar sebentar."
"Baik, Nyonya. Saya panggilkan Arga."
Tak lama kemudian, Arga datang dari arah garasi.
Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana hitam. Penampilannya tetap rapi seperti biasa.
"Selamat pagi, Nyonya."
"Selamat pagi, Arga."
"Mau ke mana hari ini?"
Karin tersenyum tipis.
"Ke pusat perbelanjaan."
Arga sedikit terkejut, tetapi tetap mengangguk.
"Baik, Nyonya."
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Arga memasuki area parkir sebuah pusat perbelanjaan mewah.
Arga segera turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Karin.
"Silakan, Nyonya."
Karin mengangguk pelan. Begitu memasuki pusat perbelanjaan, langkahnya langsung terhenti di depan etalase sebuah butik ternama.
Melalui kaca, ia melihat deretan gaun elegan, blazer modern, tas kulit, dan sepatu yang selama ini hanya bisa ia lihat sekilas.
Di kehidupan sebelumnya...
Setiap kali ia ingin membeli pakaian, Dimas selalu berkata, "Untuk apa membeli yang mahal? Penampilanmu sederhana saja sudah cukup."
Karin tersenyum sinis mengingat perkataan itu. Sekarang ia baru sadar. Dimas bukan ingin hidup hemat. Pria itu hanya tidak ingin istrinya tampil lebih menarik.
Sementara Vina... Dimas tak pernah ragu membelikan pakaian, tas, hingga perhiasan mahal.
"Hari ini, semuanya akan berbeda," gumam Karin lagi.
Ia melangkah masuk ke dalam butik. Selama hampir dua jam, Karin memilih berbagai pakaian dengan potongan yang elegan dan berkelas. Gaun, blazer, kemeja, rok, sepatu hak tinggi, hingga beberapa tas kulit premium masuk ke dalam daftar belanjanya. Bahkan Karin mengganti pakaian lusuhnya dengan yang baru.
Setelah itu, ia juga membeli kosmetik dan produk perawatan kulit yang sudah lama tidak pernah ia gunakan.
Arga mengikuti dari belakang sambil membantu membawa kantong-kantong belanja.
Sesekali ia melirik jumlah barang yang terus bertambah. Namun, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Baginya, itu bukan urusannya.
Setelah semua selesai, Karin mengeluarkan kartu hitam milik Dimas.
"Bayar dengan ini."
Kasir menerima kartu tersebut, lalu beberapa detik kemudian menyerahkannya kembali bersama struk pembayaran.
"Transaksi berhasil, Bu."
Karin tersenyum puas. Ia membayangkan ekspresi Dimas saat menerima notifikasi pengeluaran dalam jumlah besar.
Baru memikirkannya saja sudah membuat suasana hatinya jauh lebih baik.
Keluar dari butik, Karin menoleh kepada Arga.
"Masih sanggup?"
Arga melihat belasan kantong belanja di kedua tangannya, lalu tersenyum tipis.
"Masih, Nyonya."
Karin terkekeh pelan.
"Bagus."
"Sekarang kita ke salon."
Arga mengangguk.
"Baik, Nyonya."
Tanpa mereka sadari, dari lantai dua pusat perbelanjaan, sepasang mata sedang memperhatikan Karin dengan tatapan penuh keterkejutan.