NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXVIII - Memilih Sisi

Jam dinding menunjukkan pukul 07.15, ketika Radit membaca artikel ketiga yang membahas rumor Cipta Prada Land pagi itu, layar tabletnya penuh judul berita yang semakin tajam dalam mengkritik Kirana dibandingkan kemarin. Farrel masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk, membawa dua cangkir kopi, salah satunya diletakkan begitu saja di depan Radit.

"Udah baca yang ini?" Farrel bertanya, menunjukkan artikel dari media ekonomi nasional di layer ponselnya sendiri. "Judulnya 'Cipta Prada Land Diguncang Isu Ketidakstabilan, Proyek Gabungan Wibowo Group Terancam'. Ini bukan cuma gosip kantoran lagi, Dit. Ini udah masuk media besar."

"Gua tau," Radit menjawab, suaranya berat. Ia meletakkan tabletnya, menatap keluar dari jendela ruang kerjanya ke arah Jakarta yang masih diselimuti kabut pagi. "Gua coba telepon Kirana dari semalam. Nggak diangkat sama sekali."

"Lu denger kabar soal Dimas?" Farrel bertanya, duduk di kursi seberang meja.

Radit menoleh cepat. "Kabar apa?"

"Infonya si Dimas yang bocorin data internal Cipta Prada Land," Farrel berkata pelan. "Salah satu kenalan gua di sana bilang, kemarin sore Dimas dipanggil Kirana, terus keluar dari gedung dengan wajah yang nggak enak dilihat. Kayaknya kerja sama mereka putus, deh."

Radit terdiam sebentar, mencerna informasi itu. "Dimas? Gua kira dia orang paling setia yang ada di samping Kirana sekarang."

"Makanya," Farrel menjawab. "Kayaknya itu sebabnya Kirana nggak bisa diganggu sekarang. Dia lagi ngurus dua masalah sekaligus… rumor ini, sama pengkhianatan orang yang paling dia percaya."

Radit mengambil ponselnya, mengetik pesan panjang ke Kirana, lalu menghapusnya, dan menggantinya dengan pesan yang lebih singkat.

Aku udah denger soal Dimas. Aku ada di sini kalau kamu butuh apa-apa.

Pesan itu terkirim, centang biru muncul, tapi tidak ada balasan.

"Gua nggak bisa cuma diem sambil nunggu dia bales chat," Radit berkata, berdiri dari kursinya, berjalan mondar-mandir di depan jendela. "Cipta Prada Land itu mitra resmi Wibowo Group di proyek pesisir. Kalau reputasi mereka jatuh, proyek ini ikut jatuh. Ini bukan cuma soal Kirana, ini juga soal perusahaan gua sendiri."

"Lu mau ngapain?" Farrel bertanya, menatapnya waspada.

"Gua mau bikin pernyataan resmi," Radit menjawab. "Di depan media, di depan investor. Gua mau pastiin semua orang tau, Wibowo Group berdiri di belakang Cipta Prada Land."

Farrel menghela napas panjang. "Dit, lu sadar nggak, itu artinya lu milih pihak secara terang-terangan? Ayah lu bakal marah banget. Belum lagi Valerie sama keluarganya, mereka pasti nganggep ini penghinaan."

"Gua tau risikonya," Radit menjawab tegas. "Tapi udah cukup gua diem di belakang layar, Cuma berani ngasih bantuan lewat jalur yang nggak keliatan. Udah waktunya gua nunjukin ke semua orang, termasuk ke ayah gua sendiri, kalau gua nggak akan biarin sejarah tujuh tahun lalu terulang lagi."

"Lu udah siapin apa yang mau lu omongin?" Farrel bertanya, nadanya lebih tenang, mulai ikut serius.

"Belum, sih," Radit mengaku. "Tapi gua tau intinya. Gua mau semua orang denger langsung dari gua, bukan dari rumor atau spekulasi media."

"Oke," Farrel berkata, berdiri dan menepuk bahu Radit sekali. "Gua bantu siapin tim humas buat konferensi persnya. Mau jam berapa?"

"Jam tiga sore ini," Radit menjawab. "Gua nggak mau nunggu lebih lama lagi."

Farrel berhenti sejenak di depan pintu, menoleh ke belakang. "Satu hal, Dit. Lu udah pikirin gimana reaksi ayah lu kalau lu bikin pernyataan ini tanpa persetujuan dia?"

"Udah," Radit menjawab pendek. "Gua mau ketemu dia dulu sebelum konferensi pers, ngasih tau langsung. Gua juga nggak mau dia denger ini dari berita."

"Lu yakin itu ide bagus?" Farrel bertanya, alisnya terangkat.

"Nggak," Radit menjawab jujur, senyum tipis muncul di wajahnya yang masih menyimpan kekhawatiran. "Tapi gua tetep harus ngomong langsung sama dia. Kalau gua nggak berani hadapin dia secara langsung sekarang, gua nggak akan pernah bisa hadapin apa pun yang lebih besar setelahnya."

Farrel mengangguk sekali, lalu keluar dari ruang kerja Radit untuk mulai menghubungi tim humas dan menyiapkan segala kebutuhan konferensi pers sore itu.

...****************...

Radit menemui Hartono di kediamannya siang itu, sebelum konferensi pers yang sudah ia jadwalkan pukul 15.00. Hartono duduk di ruang kerja pribadinya, masih mengenakan pakaian rumahnya meski sudah lewat tengah hari, bekas sakit yang ia alami beberapa waktu lalu masih terlihat di wajahnya yang lebih kurus dari biasanya.

"Ayah dengar kau mau bikin pernyataan pers soal Cipta Prada Land," Hartono berkata begitu Radit duduk di depannya, tanpa basa-basi. "Siapa yang kasih izin?"

"Aku nggak butuh izin, Ayah," Radit menjawab tenang. "Aku CEO Wibowo Group sekarang. Ini keputusan bisnis, dan aku yakin ini keputusan yang benar."

"Keputusan bodoh," Hartono membalas, suaranya tajam. "Kau mau taruh reputasi Wibowo Group demi perempuan yang bahkan nggak jelas hubungannya sama kamu? Biarkan saja rumor itu berjalan. Biar Cipta Prada Land jatuh sendiri, kita bisa ambil alih proyek pesisir itu sepenuhnya begitu mereka nggak sanggup lagi bertahan."

"Itu yang selalu Ayah lakuin," Radit berkata, suaranya mulai bergetar menahan amarah. "Manfaatin kejatuhan orang lain buat keuntungan sendiri. Persis kayak yang Ayah lakuin ke Ayahnya Kirana tujuh tahun lalu."

Hartono terdiam, rahangnya mengeras, tapi matanya tidak berkedip menatap putranya.

"Kau berani membandingkan aku dengan skenario tujuh tahun lalu itu, di depan mukaku sendiri?" Hartono berkata pelan, nadanya terdengar jauh lebih berbahaya. "Kau tau apa soal keputusan bisnis yang harus aku ambil waktu itu?"

"Aku tau cukup banyak," Radit menjawab. "Aku baca semua dokumen yang Kirana temukan. Aku tau persis apa yang Ayah lakuin ke Bambang Pradipta, dan sekarang Ayah mau ulangin pola yang sama ke anaknya."

Hartono menatap putranya lama.

"Kau pikir kau lebih baik dariku dengan berdiri di sana? Dengan membela seorang perempuan yang keluarganya sudah lama jadi musuh keluarga ini?" Hartono bertanya, suaranya lebih pelan tapi tidak kalah tajam.

"Aku nggak akan ulangin kesalahan yang sama," Radit melanjutkan, berdiri dari kursinya, tidak menjawab pertanyaan terakhir Hartono. "Kirana dan perusahaannya nggak punya salah apa-apa. Kalau Ayah nggak setuju, itu hak Ayah. Tapi keputusan ini tetap bakal aku jalanin."

"Kalau kau lakuin ini," Hartono berkata, suaranya melunak jadi ancaman yang dingin, "jangan salahkan aku kalau Valerie dan keluarganya narik semua dukungan mereka dari Wibowo Group. Pertunangan kalian juga bisa batal, dan itu bakal jadi skandal yang lebih besar dari rumor yang sedang kau coba padamkan."

"Itu risiko yang siap aku tanggung," Radit menjawab, sudah berjalan ke arah pintu. "Aku lelah hidup dengan cara Ayah, yang selalu ngorbanin orang lain demi kepentingan sendiri. Kali ini, aku pilih jalan yang beda, dan aku nggak akan minta maaf soal itu."

Hartono tidak menjawab lagi. Ia hanya menatap punggung putranya yang menjauh menuju pintu, tangannya mengepal di atas selimut yang menutupi kakinya.

...****************...

Pukul 15.00, ruang konferensi di lantai dasar gedung Wibowo Group sudah dipenuhi wartawan dan beberapa perwakilan investor yang diundang secara eksklusif. Kursi-kursi terisi penuh, sebagian wartawan bahkan berdiri di bagian belakang ruangan sambil memegang kamera dan mikrofon berlogo stasiun televisi masing-masing. Radit berdiri di podium, mengenakan setelan jas berwarna gelap, wajahnya terlihat tenang meski di dalam dadanya, ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Farrel berdiri di sisi ruangan, memberi anggukan kecil sebagai tanda semua siap.

"Terima kasih kepada semua investor dan wartawan yang sudah hadir hari ini," Radit membuka pernyataannya, suaranya jelas terdengar sampai ke barisan belakang ruangan. "Saya ingin memberikan klarifikasi resmi terkait rumor yang beredar mengenai Cipta Prada Land dan proyek revitalisasi kawasan pesisir yang sedang kami kerjakan bersama."

Kamera-kamera mulai berkedip, wartawan mencatat cepat di ponsel dan buku catatan mereka.

"Saya sudah meninjau langsung kondisi keuangan dan operasional Cipta Prada Land," Radit melanjutkan. "Tidak ada dasar apa pun untuk rumor yang beredar soal ketidakstabilan perusahaan itu. Kerja sama kami dengan Cipta Prada Land tetap berjalan sesuai rencana, dan akan terus berjalan sampai proyek ini selesai."

Seorang wartawan dari barisan depan mengangkat tangan lebih dulu. "Pak Radit, banyak yang menyebut hubungan pribadi Anda dengan CEO Cipta Prada Land memengaruhi keputusan bisnis ini. Apa tanggapan Anda?"

"Hubungan profesional antara dua perusahaan berdiri di atas data dan kinerja, bukan spekulasi pribadi," Radit menjawab tegas, tanpa berkedip. "Angka-angka dari Cipta Prada Land yang berbicara. Bisa dillihat dari sana bahwa perusahaan itu dalam kondisi yang sehat, dan proyek pesisir ini akan tetap menjadi salah satu prioritas utama Wibowo Group."

Wartawan lain di baris tengah mengangkat tangan. "Pak Radit, ada dugaan bahwa rumor ini sengaja disebarkan oleh pihak tertentu untuk merusak reputasi Cipta Prada Land. Apa komentar Anda soal itu?"

Radit menatap lurus ke arah kamera, rahangnya mengeras sesaat sebelum ia menjawab. Ruangan itu hening, semua mata tertuju padanya, menunggu kalimat yang akan menjadi kutipan utama di setiap pemberitaan sore itu.

"Cipta Prada Land adalah mitra terpercaya kami. Siapa pun yang menyebar rumor ini akan berurusan langsung dengan saya."

1
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
Wawan
Clue nya menarik 👍
Cilia: Terimakasih, kak! Bab-bab berikutnya akan lebih menarik! Ditunggu, ya😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!