Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Bab 6
“Wan... aku takut..."
"Takut kenapa? Kita kan saling sayang."
"Tapi... ini pertama kalinya aku..."
"Gue juga sayang sama lo. Gue janji, setelah ini nggak akan ada yang berubah. Kita malah bakal makin deket. Lo percaya sama gue, kan?"
Lo percaya sama gue, kan?
Lima kata yang akan menghantui Lusi seumur hidupnya.
Kamar kost nomor 17 itu remang-remang. Hanya diterangi lampu tidur berbentuk bulan sabit yang menempel di dinding. Di luar, hujan turun deras. Suara air menghantam atap seng menciptakan simfoni yang anehnya romantis. Atau mungkin Lusi yang menganggapnya romantis, karena otaknya sudah terlalu dipenuhi dopamin dan oksitosin.
Irawan berada diatasnya. Rambutnya sedikit basah karena habis kehujanan. Kaos putihnya menempel di tubuh, memperlihatkan bentuk bahunya yang bidang. Tangannya menggenggam tangan Lusi. Hangat. Meyakinkan. Menenangkan.
Dan Lusi Lusi yang naif, Lusi yang kesepian, Lusi yang tidak pernah diajari ibunya tentang cinta karena ibunya keburu meninggal menatap mata cokelat keemasan itu dan memberikan kepercayaannya sepenuhnya.
"Aku percaya sama Kakak."
Malam itu, Lusi menyerahkan keperawanannya.
Bukan karena paksaan. Bukan karena ancaman. Tapi karena cinta. Atau tepatnya, sesuatu yang ia kira cinta. Sesuatu yang dibungkus oleh perhatian, kebaikan, dan lesung pipi, tapi di dalamnya kosong. Hampa. Palsu.
Dan Irawan? Irawan mendapat apa yang ia inginkan.
Satu jam kemudian, saat Lusi tertidur lelap dan masih telanjang bulat dengan kepala di dadanya, Irawan mengambil ponselnya. Membuka grup WhatsApp. Mengetik pesan singkat. Mengirim foto.
"Done. Next step?"
Tiga centang biru. Tiga balasan.
Dimas: "Finally! Susah banget sih lo, Wan. Gue kira bakal ampe semester depan."
Rendy: "WKWKWK gila lo Wan. Oke, siapin buat next plan ya. Lo beneran gokil."
Bayu: "Kirim fotonya."
Irawan tersenyum. Lesung pipinya muncul. Tapi kali ini, tidak ada yang manis dari senyum itu. Hanya dingin. Hanya licik. Hanya bisnis.
Ia mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Lusi yang tertidur polos. Klik. Ia mengarahkan ke tubuh Lusi yang hanya ditutupi selimut tipis, membukanya sedikit menampilkan seluruh tubuhnya tanpa pakaian. Klik. Lalu ke seluruh ruangan.
Satu per satu foto itu masuk ke galeri.
Satu per satu foto itu diteruskan ke grup WhatsApp.
Dan Lusi? Lusi masih tertidur. Masih bermimpi tentang pernikahan dan rumah kecil di pinggir kota. Masih tersenyum dalam tidurnya. Masih tidak tahu bahwa ular yang ia peluk di ranjangnya sedang bersiap menancapkan taring.
Ia sudah resmi menjadi pacar Irawan. Pacar. Kata itu sendiri masih terasa asing di lidahnya, seperti pakaian mahal yang tiba-tiba diberikan padanya tanpa ia tahu harus dipakai ke mana. Setiap kali seseorang menyapanya dengan "Eh, itu pacarnya Irawan ya?", Lusi harus menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang, memastikan bahwa mereka benar-benar sedang membicarakan dirinya.
Hari-harinya kini penuh warna. Ia bukan lagi gadis penyendiri yang makan siang di sudut kantin sambil menunduk. Kini ia selalu bersama Irawan dan di mana ada Irawan, di situ ada geng-nya.
Dimas. Rendy. Bayu.
Tiga nama yang perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.
Awalnya Lusi merasa canggung. Mereka adalah anak-anak populer tipe yang dulu di SMA selalu duduk di kantin utama, tertawa paling keras, dan menentukan siapa yang "keren" dan siapa yang "cupu". Tapi Irawan terus meyakinkannya: "Mereka itu saudara gue, Lus. Temen gue ya temen lo."
Dan karena cinta, Lusi percaya.
Senin siang. Kantin Universitas Adiloka.
Meja bundar di sudut kantin sudah menjadi markas tetap mereka. Setiap istirahat siang, lima orang itu selalu berkumpul di sana: Irawan, Lusi, Dimas, Rendy, dan Bayu. Kadang ada tambahan pacar Dimas yang bernama Sinta, atau teman-teman dari fakultas lain. Tapi intinya tetap mereka berlima.
"Hari ini gue traktir!" seru Rendy sambil melempar dompetnya ke atas meja. Dompet kulit mahal merk terkenal yang mungkin harganya setara dengan uang makan Lusi sebulan. "Bokap gue baru transfer. Katanya, 'Buat beli buku.'" Ia membuat tanda kutip di udara dengan jari-jarinya yang gemuk. "Buku apa yang harganya dua juta?"
Semua tertawa. Lusi ikut tertawa, meski ada sedikit rasa tidak nyaman di perutnya. Ia tidak pernah terbiasa dengan cara mereka memamerkan uang.
"Lo sih enak, Ndy," komentar Dimas sambil menyeruput es kopinya. "Gue aja mesti ngemis-ngemis dulu buat dapet duit tambahan. Sinta boros banget anjir, tiap minggu minta dibeliin skincare."
"Lah, lo sendiri yang mau pacarin selebgram. Konsekuensi, bro." Irawan menyengir.
"Bener banget," timpal Rendy. "Coba lo kayak Irawan. Pacarnya simple. Nggak banyak nuntut."
Semua mata tiba-tiba tertuju pada Lusi.
Ia langsung menunduk, pura-pura sibuk mengaduk es tehnya yang sudah tidak bersisa. Pipinya merah padam. Simple. Apa itu pujian atau sindiran? Ia tidak pernah bisa membedakan.
"Eh, Lus," tiba-tiba Bayu bersuara. Suaranya pelan, dalam, dan seperti biasa membuat bulu kuduk Lusi berdiri. "Kost lo di Prawirotaman kan? Deket angkringan Lik Man?"
Lusi mendongak. "I...iya, Kak. Kenapa?"
Bayu tidak langsung menjawab. Ia menatap Lusi dengan mata tajamnya yang seperti sedang membongkar sesuatu di dalam kepala Lusi. Lalu, perlahan, ia tersenyum. "Nggak kenapa-kenapa. Cuma nanya."
Cuma nanya.
Tapi nada suaranya tidak seperti orang yang cuma nanya.
Dimas melirik Bayu sekilas, lalu mengalihkan topik dengan cepat. "Eh, ngomong-ngomong, Sabtu nanti ada acara. Ulang tahunnya Rendy. Lo semua harus datang, wajib!"
"Ulang tahun lo bukannya bulan depan, Ndy?" tanya Irawan.
"Bodo amat. Yang penting traktiran dulu. Lo semua dateng ya. Jam tujuh malem. Di hotel bintang empat, bukan hotel murahan kayak biasanya."
Mata Rendy melirik Lusi sekilas. Sangat sekilas. Tapi Lusi menangkapnya.
"Lusi juga dateng. Pasti dateng. Iya kan, Lus?"
Lusi ragu sejenak. Ada sesuatu dalam cara Rendy mengatakannya yang terasa... mendesak. "Aku... aku lihat nanti ya, Kak. Kalau nggak ada tugas..."
"Nggak ada tugas, nggak ada apa-apa! Lo harus datang. Pacarnya Irawan kan? Ya harus ikut dong!"
Irawan menggenggam tangan Lusi di bawah meja. Hangat. Meyakinkan. "Iya, Lus. Dateng aja. Gue jemput kok. Lo nggak usah khawatir."
Dan dengan genggaman tangan itu, semua keraguan Lusi lenyap.
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥